Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Perjanjian Lisan


__ADS_3

“Apa?” Kinar mengernyitkan alisnya, mencoba menebak-nebak syarat yang akan diajukan Dika.


“Masih sama, pertama tutupi status pernikahan kita. Jangan sampai orang lain, selain keluarga mengetahui tentang pernikahan kita. Kedua kau tidak boleh jatuh cinta padaku, jangan berharap aku bisa memberimu perhatian dan kasih sayang, dan ketiga kau tidak boleh melarang aku dekat dengan Carissa.” Kata-kata Dika memang selalu tajam, menusuk siapa saja yang menjadi lawan bicaranya. Satu nama yang terucap dari mulutnya bak cambukan yang menghujani tubuh Kinara.


Sungguh ironi bukan? Seorang istri yang dinikahi sah secara agama dan negara tapi berakhir pada larangan untuk mencintai suaminya sendiri. Aku akan selalu berdoa kepada Tuhan, semoga Tuhan tidak membalikkan hatimu kepadaku dan membuat dirimu jatuh cinta padaku, Dika. Karena aku takut kebencian yang aku miliki untukmu sudah mendarah daging sampai tidak ada sisa untuk sekadar mencintaimu. Kinar membatin.


“Carissa....” Kinar terdiam, bagaimana mungkin suaminya bisa mnyebut nama wanita lain dengan begitu mesra. sementara selalu berteriak ketika memanggil namanya. “Apakah dia adalah perempuan yang fotonya bertebaran di kamarmu?” Kinar menebak.


“Iya.” Jawab Dika tegas.


“Haaah...” Kinar melenguh, “Baiklah, aku setuju. Tapi tolong pastikan ibu dan adikku tidak mengetahuinya jika kau menjalin kasih dengan wanita lain.”


“Kau tidak perlu khawatir soal itu, aku akan membungkam mulut siapa pun yang berani mengusik diriku dan Carissa.” Kata Dika.


“Tentu saja, tidak ada yang meragukan kekuasaanmu. Apa lagi kemampuan beraktingmu yang bisa disejajarkan dengan aktor kelas dunia.” Kinar tersenyum sinis.


“Baguslah jika kau menyadarinya.” Kata Dika.


“Ya, aku menyesal karena terlambat menyadarinya. Hahaha...” Kinar mentertawakan dirinya sendiri.


Tidak apa-apa, Kinar. Asalkan kau bisa dekat dengan ibu dan adikmu itu sudah lebih dari cukup. Kinar membatin menyemangati dirinya sendiri.


“Ah, kapan handphone ku bisa dikembalikan?” Kinar bangkit dari tempat duduknya. Merapikan gaun mahal yang dikenakannya.


“Nanti malam, Ken akan mengembalikan handphone mu.” Kata Dika.

__ADS_1


“Baiklah.” Kinar memutar tubuhnya. Bersiap untuk melangkah meninggalkan Dika.


“Nanti bersihkan kamarku, kau bisa istirahat dan makan terlebih dahulu. Ingat jangan menyentuh apa pun yang tidak perlu di sentuh, sebelum jam delapan malam kamarku harus sudah rapi dan bersih. Mengerti?!” Dika bangkit dari tempat duduknya.


“Aku mengerti.” Kinar membungkuk, meraih dua kantung kresek dan menentengnya.


“Ah, apa kau punya permintaan? Katakan saja, aku bisa memberikan apa pun yang kau minta kecuali hatiku.” Dika masih dalam posisi berdiri, tubuh keduanya saling membelakangi.


“Tidak ada. Aku tidak akan meminta apa pun darimu setelah kau memberikan hak sebagai manusia kepadaku, apa lagi yang bisa aku minta setelah kau memberikan kesempatan untukku bisa dekat dengan keluargaku.” Kinar tertunduk, baginya saat ini yang terpenting hanyalah keberadaan Ibu dan adiknya, perihal sakit di hatinya biarlah menjadi beban yang di pikul dirinya sendiri.


“Baiklah.” Dika mengambil langkah pertama, lalu berhenti ketika Kinar kembali berucap.


“Aku hanya minta satu hal darimu, sama seperti yang kau katakan padaku. Aku harap kau tidak pernah menumbuhkan perasaan cinta di hatimu untukku, jangan menjatuhkan hatimu padaku.” Kata Kinar.


“Itu jekas tidak akan mungkin.” Dika tersenyum merendahkan.


“Kau memang pintar dalam berkata-kata, Kinar.” Dika menggerutu, ikut memacu langkah dan pergi meninggalkan ruang keluarga.


“Dia bilang apa tadi? Aku pintar dalam berkata-kata, tentu saja aku pintar karena aku mempelajarinya darimu. Ah, aku lapar sekali. Sebaiknya aku makan dahulu, baru setelah itu membersihkan kamarnya.” Tak kalah dari Dika, Kinar terus menggerutu sepanjang perjalanan menuju kamarnya.


“Dia pikir dia itu siapa? Bahkan ketika terjadi hujan salju di negaraku ini, aku juga tidak akan jatuh cinta padanya.” Dika terus menggerutu, dia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan handphone lalu melakukan panggilan telepon. Begitu telepon tersambung seperti petasan menyambar Dika langsung bicara.


“Ke ruang kerjaku.”


Hanya sebatas itu, dia menutup panggilan telepon dan memasukkan kembali handphone itu ke dalam kantung celananya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Dika sudah sampai di ruang kerja. Sudah duduk di atas kursi di depan meja dengan tumpukkan berkas-berkas yang menggunung, layar laptop sudah menyala menampilkan wajah seorang gadis cantik pada bagian layar depan. Seketika senyum simpul tersungging di wajah Dika.


Tok tok tok....


“Tuan, ini saya, Ken.” Suara Ken dari balik pintu.


“Masuklah.”


Klak...


Begitu pintu terbuka Ken segera menghampiri Dika. Membungkukkan tubuhnya dan bertanya sopan. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”


Krekk..


Dika membuka salah satu laci yang ada di meja kerjanya, tergesa tangannya meraih handphone milik Kinar dan melemparkannya ke atas meja. “Periksa apa masih bisa digunakan, jika tidak bisa digunakan segera perbaiki. Setelah itu retas handphone nya dan sambungkan dengan handphone ku lalu berikan pada, Nyonya.”


Ken terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Hanphone yang sudah di lempar oleh Dika hari itu mengalami kerusakkan cukup parah, lalu untuk apa Dika harus repot-repot memperbaiki handphone yang sudah ketinggalan jaman itu. mengapa tidak membeli yang baru saja, bukan hal yang sulit untuk Dika membeli ratusan handphone keluaran terbaru. Pikir Ken.


“Kau masih belum pergi, Ken?” Tanya Dika. Pertanyaan Dika membuyarkan lamunan Ken, dia kembali membungkuk.


“Baiklah, Tuan.” kata Ken, dia cepat-cepat melangkah menutup rapat pintu dan meninggalkan ruang kerja Dika.


Ceklak...


Kinar membuka pintu kamar, lagi-lagi dia menggerutu. “Kau kejam sekali, Dika. Dari pintu depan sampai ke kamarku jaraknya sangat jauh, apakah sampai harus sekejam ini kau memperlakukan istrimu? Ah, aku hanya istrinya di mata agama dan negara. Tetapi hanya orang asing di mata dan hatinnya. hikss.. Oh... ibu aku ingin memelukmu, rasanya terlalu berat untuk melewati hidup di tempat ini. Aku ingin berhambur dalam dekapan tangan lembutmu, sekadar menumpahkan derita yang ku rasakan, aku di sini sendirian. Tidak ada tempat untuk berbagi, bahkan sekadar bercerita aku pun tidak bisa melakukannya.” Kinar terisak, tangannya mengepal membuat kukunya menancap di telapak tangannya.

__ADS_1


\=\=\=> Bersambung 💕💕


Please Klik Like 🖒, Klik Favorite❤, Tinggalkan Komentar 💬 dan bagi Vote yang banyak biar Author semangat nulisnya.


__ADS_2