Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Laura


__ADS_3

Kinara menelan ludah, hampir saja hatinya tergoda dan berlari menghampiri Agra, melepas beban derita yang mengungkung dirinya. Jika bukan karena kesadaran Kinara tentang statusnya saat ini, juga tentang amanat ayahnya dan nasihat ibunya.


Setidaknya Kinara masih bisa menggunakan otaknya untuk berpikir.


“Aku, aku minta maaf, Agra.” Kinara menunduk, hanya itu yang bisa dia ucapkan.


Agra meletakkan tangannya di dagu Kinara dan mengangkat kepala Kinara. “Jangan katakan itu lagi.”


Kinara memalingkan wajahnya, mendorong pelan tangan Agra. “Aku....”


“Hey, sudahlah. Aku tidak sedang melamarmu, Kinar. Aku hanya sedang berbicara apa adanya padamu. Tidak menutupi sedikit pun darimu. Sekarang ayo kita kembali ke kampus, kau harus bertemu Alisa, bukan?” Agra mengangguk pelan, meyakinkan Kinara jika dirinya baik-baik saja.


Setelah membayar makanan, Agra kembali memacu motornya.


Kampus.


“Kita tunggu Alisa di sini?” Agra menggeser tubuhnya. “Haruskah kita sembunyi-sembunyi seperti ini? memangnya kita berdua ini maling?” Agra mencabut rumput yang menyelinap ke dalan celananya, membuat kakinya gatal.


Keduanya sedang berjongkok bersembunyi di balik pepohonan dan semak-semak di samping kampus.


“Sudahlah, aku kan sudah memintamu untuk pergi. Tetapi kau tetap memaksa ingin menemani aku, yasudah ini tempat paling aman, sembunyi di balik pepohonan dan semak.” Kinara melirik ke kiri dan kanan, melihat kalau-kalau Alisa datang.


“Memangnya kenapa jika aku menemanimu, dan kita tidak perlu sembunyi, bukan?” Agra menepak nyamuk yang menggigit tangannya.


“Kau tidak mengerti, Agra. Aku malas berurusan dengan pemuja-pemuja gilamu itu, apa jadinya jika mereka melihat kita berduaan. Dan kau bolos kuliah pula, hanya demi aku? Si anak beasiswa.” Kinara menjelaskan alasannya, mengapa dirinya harus repot-repot bersembunyi. Ya, apa lagi jika bukan karena kecemburuan wanita seisi kampus karena mengetahui kedekatan Kinara dan Agra.


Agra mengerti dan tidak ingin mendebat Kinara.


“Lihat.” Agra memperlihatkan nyamuk yang sudah terkapar di telapak tangannya. “Jika kita terus di sini, cepat atau lambat aku akan masuk ke rumah sakit karena demam berdarah.”


Kinara menoleh. “Ini hanya nyamuk biasa, lihatlah di tubuhnya tidak ada belang-belangnya.” Kinara menyentil nyamuk itu sampai terbang jauh entah ke mana. “Kau jangan terlalu pelit untuk berbagi, Agra.”


“Apa maksudmu?” Agra mengernyitkan alisnya.


“Perut nyamuk itu kan kecil, hidupnya juga tidak akan lama. Jadi biarkan saja nyamuk-nyamuk itu menghisap sedikit darahmu. Anggap saja amal.” Jawab Kinara enteng.


Agra menaikkan alisnya, tidak mengerti dengan pola pikir Kinara. “Jika semua orang di dunia ini memiliki pemikiran seperti dirimu, percaya tidak cepat atau lambat dunia ini akan segera musnah, mungkin saja semua penduduk bumi akan mati karena deman berdarah.”

__ADS_1


“Kau berpikir terlalu jauh, sudahlah jangan berisik. Aku belum melihat Alisa, nih.” Kinara kembali memperhatikan.


“Lihatlah.” Agra menepuk-nepuk pundak Kinara.


“Sekarang apa lagi?” Kinara menoleh malas.


“Ini.” Agra menunjukkan semut yang lagi-lagi sudah terkapar di telapak tangannya. “Semut ini menggitku, barusan.”


“Ya ampun, Agra...!!” Kinara berteriak, bangkit dari persembunyiannya. “Ini sih semut api. Bangun, ayo bangun.”


Agra bangun. “Memangnya kenapa?” Agra meringis, kakinya mulai terasa panas.


“Ahhh... aduh, dia menggigit tanganku.” Kinara mengibaskan punggung tangannya yang terkena gigitan semut. "Coba periksa, apa ada semut di tubuhku?" Kinara memutar tubuhnya di depan Agra.


Agra tersenyum, "Tidak ada."


"Ah, syukurlah." Kinara meniup punggung tangannya yang kemerahan terkena gigitan semut api.


“Kemarikan tanganmu.” Agra meraih tangan Kinara dan mendapati bintik merah di punggung tangannya. “Apa ini sakit? Apa harus di obati?”


“Sakitlah, memangnya kakimu tidak sakit? Kau juga kan kena gigit semut.” Kinara mendengus, menarik tangannya.


“Kau pikir aku digigit ular? Lebay, ah. Ini hanya semut api, kau tidak perlu berlebihan seperti itu?” Kinara mengelus tangannya, meniup perlahan.


“Agra....!!!" dari belakang terdengar suara perempuan berteriak.


“Apa yang sedang kau lakukan? Ah... jadi benar gosip yang aku dengar itu.” wanita itu berjalan mendekati Kinara, rambutnya lurus sampai bahu, wajahnya full make up, dan bajunya, ya... baju mahal yang kekurangan bahan.


Wanita itu adalah Laura, seorang model. Dia adalah salah satu korban rayuan Agra.


Plaaak...!!


Sebuah tamparan jatuh di pipi kiri Kinara.


“Lauraaaa... Beraninya kau menjatuhkan tanganmu di wajahnya.” Agra mengangkat tinggi-tanggi tanganya, hendak membalas tamparan yang dilakukan Laura pada Kinara.


“Jangan, Agra.” cepat-cept Kinara menarik lengan baju Agra.

__ADS_1


Agra menoleh, menatap kesal ke arah Kinara. “Dia sudah menamparmu, Kinara!” Dengusnya.


Jangan gunakan kebaikkan hatimu pada orang seperti Laura. Aku tahu betul watak gadis manja itu, kebaikkanmu tidak akan berarti apa-apa untuknya.


Batin Agra.


“Begini." Kinara mendekati Laura. "Kita tidak saling mengenal sebelumnya. Ada masalah apa sampai nona menampar saya?” Kinara berdiri tegak, saling berhadapan. Tinggi Kinara dan Laura hampir sama, sehingga tatapan mata keduanya saling beradu.


“Cih... wanita murahan. Kau tahu, Agra mencampakan aku dua hari yang lalu? Kabarnya kau adalah wanita yang sedang Agra dekati.” Laura menatap sinis.


Dia bahkan memakai jaket milik Agra.


Batin Laura.


“Jaga bicaramu, Laura. Kau sudah bosan kuliah di Kampus Royal? Aku bisa mengabulkannya, besok kau tidak perlu datang lagi.” Agra serius, tidak ada yang meragukan keseriusan Agra ketika berkaitan dengan Kinara. Terakhir kali Agra bahkan hampir meninju salah satu teman sekelasnya.


“Bukan begitu, sayang. Aku benar-benar tidak rela kau tergoda oleh wanita rendahan seperti dia.” Laura merajuk, mencoba meraih simpati dari Agra. Tangannya bergerilya di dada Agra. Tak lupa nada suaranya dibuat selembut mungkin.


Agra mendorong Laura. Hampir saja Luara terjatuh. “Wanita ini bahkan lebih baik ribuan kali dari dirimu, Laura. Jadi tutup mulutmu, dan pergi dari sini.” Agra mengancam.


Kinara terdiam, hari ini benar-benar hari yang buruk baginya. Selain bolos kuliah ternyata sekarang ini dia harus menjadi bahan tontonan, beberapa mahasiswa sudah berkumpul. Berkerumun seperti koloni semut yang sedang menjilati manisnya gula, mungkin besok pagi gosip tentang dirinya akan tersebar seperti virus yang tidak bisa dihentikan.


Kinara melenguh panjang, meski demikian tidak ada sedikit pun perasaan menyesal karena dirinya sudah menjalin kedekatan dengan Agra. Semakin mengenalnya, Kinara semakin mengerti jika pada dasarnya Agra adalah laki-laki yang baik.


“Cih, wanita sialan. Apa ibumu yang memintamu merayu laki-laki kaya?” Laura bergumam, namun cukup jelas terdengar di telinga Kinara.


Kinara terkesiap. Bukan karena harga dirinya yang terluka, tetapi karena tidak ingin ibunya yang sebaik malaikat dilibatkan dalam masalah seperti ini.


“Katakan sekali lagi.” Kinara mencengkram kuat tangan kiri Laura.


“Lepaskan.” Laura kembali mengayunkan tangan kanannya untuk menampar Kinara. Namun sigap, Kinara menangkap tangan Luara lalu menghempaskan kasar, dan plak. Kinara mendaratkan tamparan di pipi Luara.


“Jika kau masih memiliki rasa malu sebagai seorang wanita, tidak seharusnya dirimu menjadi segila ini hanya karena laki-laki. Kau tahu, Laura? Kau hanya membuat dirimu semakin tidak berharga di mata Agra.” Kinara menaikkan alisnya, mendekati telinga Luara dan berbisik lirih.


\=\=\=\=> Bersambung .......


MANA VOTE NYA? KALIN MINTA UP TAPI GAK MAU VOTE.

__ADS_1


NOVEL INI AKAN LANJUT KALAU LIKE NYA BANYAK DAN RANK VOTE NAIK.


__ADS_2