
“Kapan datang?” tanya Kinara.
Keduanya sudah duduk di kursi tamu. Sementara Ken memilih untuk bergegas mandi, mumpung kamar mandi sedang kosong. Dan Amanda kembali ke dapur untuk membantu ibunya.
“Semalam.” Dika menundukan kepalanya. “Ketika aku datang kau sudah tidur. Aku tidak tega membangunkanmu. Padahal ...,”
“Padahal apa?”
Ayolah Dika, jangan jadi laki-laki pengecut. Kau ingin menaklukan hatinya, bukan? Maka jujur saja, apa susahnya berkata jujur, batin Dika.
“Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu.”
Kinara nampak mengigit bibir bawahnya. Kedua jemarinya saling meremas.
“Kenapa kau datang?”
“Itu ...,” ucap Dika terputus. Dia belum sempat menjawab pertanyaan Kinara karena Mirna memanggil namanya. Kinara bangun dari kursi, segera menemui ibunya.
🍃Dapur🍃
“Kenapa, Bu. Masih belum selesai? Ibu istirahat saja, sisanya biar aku dan Manda yang lanjutkan.” Kinara memandangi beberapa menu masakan yang belum siap. Padahal sudah masak sejak jam tiga pagi dengan dua tungku pula.
“Sttt ... bukan itu. Kau tidak perlu bantu Ibu, sebentar lagi juga selesai.”
“Lah, terus kenapa Ibu manggil Kinar?”
“Kamu itu bagaiamana sih Kinar?”
Kinara mengernyitkan dahinya. “Bagaimana apanya?”
Jika bukan untuk membantu lalu untuk apa Ibu memanggilku? batin Kinara.
“Semalam suamimu itu ...,”
“Mantan, Bu. Mantan suami,” ucap Kinara tegas.
“Ya Allah, anak satu ini keras kepalanya bukan main. Iya ... iya, mantan suami kamu datang dengan bermandikan keringat, mobilnya macet karena kehabisan bensin di tikungan sana. Berutung mereka ketemu Pak RT.”
“Tikungan yang jauh itu?” Kinara membuka matanya. Tuan Muda sepertinya rela bermandikan keringat demi diriku?
Mirna mengangguk. “Dia dorong mobil sejauh itu hanya untuk bertemua kamu.”
Kinara diam, kakinya bermain di atas lantai. Mirna paham tabiat anaknya, jika melakukan gerakan seperti itu artinya Kinara sedang bimbang. Antara perasaan kasihan dan kebencian yang saling beradu. “Terus, kenapa?”
Mirna nampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu tidak kasihan padanya? Tanya hati kamu, Kinar. Yakin kamu tidak kasihan melihatnya seperti itu? Tuhan menilai seseorang bukan dari masa lalunya, tetapi dari masa sekarangnya. Berilah sedikit kesempatan untuknya.”
Kinara diam. Sepersekian detik dia berpikir, akhirnya dia berjalan mendekati rak makanan, meraih gelas dan membuat teh manis hangat.
“Ya Allah, kenapa malah buat teh? Itu temani suami ... mantan suami kamu.”
“Ini teh untuknya, Bu,” lirihnya.
__ADS_1
Mirna tersenyum lebar manakala mengetahui ternyata teh itu untuk Dika.
🍃Ruang tamu🍃
“Katanya semalam dorong mobil, yah?” tanya Kinara sembari meletakan secangkir teh hangat.
“Iya.” Dika tersipu malu.
Seharusnya biar saja Kinara tidak tahu, lagi pula itu bukan hal yang membanggakan. Justru memalukan, terbukti karena sekarang Kinara sedang memalingkan wajahnya sembari tersenyum tipis. Mungkin sedang membayangkan betapa melelahkannya mendorong mobil dengan jarak yang sangat jauh.
“Minumlah. Setelah itu mandi dan bersiap ke masjid.”
Dika terperanjat begitu mendengar ucapan Kinara. Dia tidak banyak bertanya, Dika segera meraih cangkir teh dan meneguknya cepat. Kedua matanya berkaca-kaca. Nyaris saja dia menangis. Diperlakukan seperti itu saja sudah membuat jantungnya berdebar hebat.
“Kau ke sini tidak bawa baju ganti?” tanya Kinara yang melihat Dika dengan kaos kebesaran milik Ayahnya dan sarung itu terlihat tidak rapi.
Apa dia tidak bisa pakai sarung? Di tarik sedikit saja pasti langsung terlepas, batin Kinara.
Amanda datang dari belakang. “Iya, Kak. Kata Ibu mereka kejebak macet, ada demo di PT. Angin Ribut, jadi mereka tidak sempat bawa pakaian.” Amanda menimpali sembari tertawa kecil. Sejak Mirna bercerita tentang kedatangan Dika dan Ken, Amanda sampai tidak bisa berhenti tertawa.
Dika hanya duduk, diam seribu bahasa. Malu bukan main dengan alasan konyolnya, bahkan Amanda yang kecil saja bisa tahu jika itu hanya alasan yang mengada-ada.
Sementara Kinara memalingkan wajahnya lagi begitu mendengar alasan itu. Dia berusaha menahan tawa. “Pusat perbelanjaan terlalu jauh dari sini, pagi ini pakai baju bapak saja dulu.”
“Iya, ini juga lumayan nyaman.”
“Setelah saraapn mau lansung pulang atau menginap lagi?”
Dika diam, sejujurnya dia tidak ingin pulang. Jika dia pulang maka usahanya untuk menyusul Kinara sampai ke kampung akan sia-sia. Dan keinginannya untuk mendapatkan hati Kinara lagi tidak akan terwujud. Dika memantapkan hatinya, dia harus berusaha. Semampu yang dia bisa, tidak peduli harus ditolak berapa kalipun.
“Boleh dong.” Amanda mengacungkan jempolnya.
“Kamu itu dari tadi bolak-balik terus. Tidak bantu, Ibu?” Kinara tersenyum ke arah Manda, tetapi bola matanya membulat sempurna. Amanda tahu itu adalah ancaman.
“Ok, Manda mau bantuin Ibu dulu.” Tersenyum lebar. “Mas Dika, fighting.” Mengangkat tangannya. Dika mengangguk senang, sepertinya Amanda dan Mirna merespon baik niatnya. Seridaknya Dika bisa bernapas lega. Tinggal meluluhkan hati Kinara yang lebih keras dari batu dan lebih angker dari gunung Salak.
“Jadi, apa aku boleh menginap di sini?” tanya Dika untuk yang kedua kalinya. Dia benar-benar berharap Kinara setuju.
Tolonglah Kinara ... berikan aku kesempatan untuk membuktikan padamu, aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki semuanya, batin Dika.
“Tergantung.”
“Tergantung apa?” tanya Dika.
“Kalau Ibu mengijinkan kau menginap, aku ...,”
Aku apa? Ayolah, jangan terputus-putus begitu, batin Diaka.
“Aku juga mengijinkannya.”
Dika tersenyum bahagia. Bukankah jawaban Kinara seperti memberinya kesempatan? Jelas-jelas Mirna mendukungnya, sudah pasti Mirna setuju.
“Ibu sih setuju.” Mirna muncul dari belakang.
__ADS_1
“Loh, Bu. Nguping, yah?” tanya Kinara.
“Sembarangan! wong Ibu kebetulan lewat kok.” Mirna tersenyum licik.
Kebetulan lewat apanya, jelas-jelas masih megang spatulla begitu, batin Kinara.
“Nanti siang anter Mas Dika ke pasar. Kasihan pakai baju Bapak, kebesaran begeitu.”
“Aku ‘kan sekolah, Buuuu!” Amanda berteriak dari dapur.
“Yang nyuruh kamu itu siapa?”
“Terus? ‘kan yang manggil Mas Dika itu cuma aku.” Masih berteriak.
“Ibu nyuruh Kakak kamu buat nganter Mas Dika.” Mirna tersenyum. “Kakak kamu harus belajar sopan santun, masa manggilnya ‘kau kau’. Seperti dengan orang lain saja.” Mirna berlalu pergi, kembali ke dapur.
Kinara nampak mengembuskan napas berat. Kelakuan Ibu dan Adiknya membuat kepala Kinara pusing. “Mau aku antar ke pasar atau pusat perbelanjaan?”
“Seberapa jauh pusat perbelanjaannya?”
Kinara nampak berpikir.
“Jika ditempuh dengan motor sekitar tiga jam.”
“Kalau ke pasar?”
“Pakai motor?” tanya Kinara.
Ayo jawab iya Dika, bukankah lebih mesra ketika menggunakan motor, batin Dika menyemangati diirnya sendiri.
“Iya.” Dika mengangguk.
“Paling 30 menit.”
“Nanti malam saja, Mas. Nanti malam ‘kan ada pasar malam.”
“Pasar malam?” kening Dika berkerut.
“Iya, rame loh. Kita bisa pergi sama-sama, kan jaraknya tidak terlalu jauh. Kak Kinar suka loh kalau diajak ke pasar malam.”
Dika mangangguk. “Baiklah, nanti malam kita ke pasar malam.”
“Hore.” Amanda menjulurkan lidahnya ke arah Kinara. Meledek Kakaknya yang sedang mengerucutkan bibir.
Ken sudah selesai mandi dan berdiri di belakang Amanda. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Apakah aku harus bertanya? Boleh aku ikut ke pasar malam? Atau bilang, aku ikut, yah? Iiish, memalukan. Tidak usah ijin saja bagaimana? Langsung ikut bagaiamana? Ah, terserahlah.
Percayalah, saat ini terjadi perang batin di hati Ken.
Bersambung...
.
__ADS_1
.
Tolong Like, Komentar, dan Votenya yang kenceng. Ini lagi nggak enak badan aja bela-belain update. 😑🤣🙄