
Ken terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya memandang lurus ke depan, fokus menyetir. Ini kali pertama Ken bertemu dengan wanita yang sangat keras kepala, Kinar tidak hanya memiliki keberanian yang menggunung, bagaimana mungkin ada seorang wanita yang berani berdebat dengan Dika. Bahkan dengan mudahnya Kinar memanggil nama Dika. Sepertinya Kinar adalah hadiah khusus, yang dikirim Tuhan untuk melunnakan kerasnya hati Dika.
Selama ini Dika dikenal seperti laki-laki gunung es. Kokoh, tinggi, indah namun mematikan. Dika memang menjalin kedekatan dengan beberapa wanita, namun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membuat Dika jatuh hati. Hatinya hanya terpaut untuk satu nama, cinta pertamanya.
Sementara Ken bergulat dengan pikirannya, Kinar hanya membisu. Mengunci rapat mulutnya.
Perlahan Kinar mulai memejamkan mata sembari menyandarkan tubuhnya di punggung kursi mobil. Perasaanya carut marut, tidak bisa di gambarkan dengan apa pun.
Tuhan, tidak pernah terpikirkan olehku bisa menjalani sisa hidup dengan laki-laki arogan sepertinya. Bagaimana aku bisa bertahan hidup satu atap dengannya, dengan laki-laki yang bahkan masih menyimpan foto wanita lain di dalam kamarnya. Mungkin saja, bukan hanya di dalam kamarnya. Tetapi juga di dalam hatinya. Lalu di mana tempatku yang sesungguhnya? Di hatinya, di rumahnya atau di dalam kebenciannya karena telah menjadi penghalang kisah mereka. Di mana Kau menempatkan posisiku, Tuhan? Batin Kinar.
“Ken, bisa sedikit dibuka kaca mobilnya?” Tanya Kinar memecah keheningan.
“Tentu, Nyonya.” Jawab Ken diiringi senyuman.
Setelah kaca mobil sedikit terbuka, udara segar mulai menyeruak masuk ke dalam mobil. Kinar kembali memejamkan mata, menarik napas panjang.
Alangkah indahnya hidup ini jika kita bisa bergerak bebas ke mana saja. Tidak terkurung dalam sangkar emas yang hanya membuat perasaan tertekan, bahkan untuk sekadar menarik napas pun rasanya terlalu sakit. Batin Kinar.
“Ken, bisakah kita berhenti di pom bensin?” Tanya Kinar, tangannya bergerak untuk membuka ritsleting tas yang menggembung sempurna. Kinar bergumam seperti sedang memastikan semua yang dibutuhkannya sudah ada di dalam tas itu. sepersekian detik senyum mulai mengembang di sudut bibirnya.
Ken terdiam, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengernyitkan alis, nampak jelas rona kebingungan terlihat di raut wajah Ken.
“Ken?” Sekali lagi Kinar memanggil namanya.
“Ah.... Maafkan saya, Nyonya.” Ken tersadar dari lamunannya.
“Maaf jika saya terkesan lancang, tetapi ada keperluan apa Nyonya meminta saya menghentikan mobil di pom bensin?” Tanya Ken.
__ADS_1
“Aku ingin mengganti pakaianku.” Jawab Kinar singkat, ia melirikan pandangan matanya ke arah Ken. Masih sama, Ken tetap tidak mengerti maksud dari perkataan Kinar. “Aku tidak mungkin ke kampus dengan baju seperti ini, Ken. Aku tidak nyaman mengenakan gaun yang setengah jadi ini. Di mana-mana terbuka, seperti belum selesai di jahit saja.” Kata Kinar.
Ken membisu, diam seribu bahasa, setengah mati Ken menahan tawanya agar tidak keluar. Bagaimana mungkin gaun dengan harga puluhan juta bisa disamakan dengan gaun setengah jadi. Pikir Ken.
“Tapi, bagaimana jika tuan sampai tahu?” Tanya Ken.
“Ya, jangan sampai dia tahu. Jika kau dan aku sama-sama tutup mulut, maka tuanmu itu tidak akan pernah mengetahuinya.” Jawab Kinar enteng, seperti tidak mengetahuai kekuasaan suaminya.
Bahkan jika aku menutup rapat mulutku sekalipun, bukan berarti tuan tidak akan tahu. Sepertinya nyonya masih belum tahu seperti apa laki-laki yang dinikahinya. Batin Ken.
“Itu, baiklah jika nyonya siap dengan segala risikonya.” Ken memperingatkan, yang diperingatkan hanya tersenyum sinis. Kinar acuh tidak peduli dengan peringatan Ken.
“Aku sudah siap dengan semua risikonya, Ken. Risiko karena menikah dengan laki-laki seperti dia, risiko karena harus tinggal satu atap dengannya, mendengar suaranya saja sudah membuat dadaku terasa sesak. Apa lagi harus melihat wajahnya setiap hari, risiko terbesarku adalah mati karena perasaan tertekan. Kehidupanku yang tenang tiba-tiba berubah seperti di dalam neraka, hanya karena ada satu orang yang datang. Dan orang itu adalah tuanmu. Dika Mahendra.” Kinar memalingkan wajahnya, menyapu bersih air mata yang mulai turun membasahi pipinya.
Ken hanya terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Ken tidak terlalu pintar untuk menghibur dirinya sendiri, apa lagi harus menghibur orang lain. Cara terbaik yang bisa dilakukannya hanyalah diam, mencoba menjadi pendengar yang baik.
Kinar mendongakkan wajahnya, menatap matahari yang perlahan mulai bergerak naik.
“Apa kampusnya masih jauh, Ken?” Tanya Kinar.
“Tidak, Nyonya. Sekitar lima belas menit lagi.” Ken mengangkat tangannya, melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Di depan ada pom bensin, Nyonya bisa berganti pakaian di sana.”
“Terima kasih, Ken.” Kinar menundukkan kepalanya, tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa lagi selain ucapan terima kasih.
“Tidak perlu sungkan, Nyonya.” Ken tersenyum.
Mobil mulai berbelok ke dalam area pom bensin, Kinar turun dengan tergesa. Menyusuri area pom dan memandang sekeliling mencari toilet, sudut bibirnya mengembang ketika menemukan toilet di sisi kiri. Beberapa saat kemudian Kinar keluar dari dalam toilet, berjalan mendekati Ken.
__ADS_1
“Ayo, Ken.” Kalimat Kinar membuyarkan lamunan Ken.
“Ah, iya, Nyonya. Silakan.” Ken membuka pintu mobil, mempersilakan Kinar dengan sopan.
Beberapa saat yang lalu Ken hampir terpesona dengan kecantikkan yang terpancar dari dalam diri Kinar, entah karena pakaian yang dikenakannya. Atau karena perasaan bahagia yang terpancar jelas di wajah Kinar.
Nyonya memang tidak pantas mengenakan pakaian terbuka, seperti keindahan bunga yang tidak mudah terjamah tangan manusia. Batin Ken, masih terpesona melihat kecantikan Kinara.
Mobil kembali melaju, melewati bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh dengan segala keangkuhan mencoba menggapai permukaan langit. Perlahan, Ken memutar mobilnya memasuki area bangunan yang tinggi, besar, dan sangat mewah.
“Ken, kau tidak salah? Apa ini kampusku?” Kinar bertanya bukan tanpa alasan, saat ini di depan matanya berdiri bangunan kampus yang sangat besar, ukurannya berkali-kali lipat dari kampusnya yang dulu. Terlihat jelas mobil-mobil mewah terparkir rapi di sana, belum juga Kinar menapakkan kaki di kampus barunya, nyali Kinar sudah menciut. Ada desir ketakutan yang menyelinap ke dalam dadanya, bagaimana Kinar harus beradaptasi dengan lingkungan kelas atas seperti ini?
“Saya tidak salah, Nyonya. Ini adalah kampus baru, Nyonya. Semua berkas-berkas anda sudah di urus, anda hanya perlu masuk ke dalam kelas.” Kata Ken.
Kinar menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata sembari menarik napas panjang. Lenguhan napasnya terdengar cukup jelas di telinga Ken.
Ken memutar tubuhnya, masih duduk di kursi kemudi. Melihat rona ketakutan yang menyergap wajah Kinar membuat Ken merasa sedih. “Nyonya, anda adalah istri dari Tuan Dika Mahendra, anda tidak perlu menundukkan kepala kepada siapa pun. Tegakkan kepala Anda, bertahanlah setidaknya demi Ibu dan Adik anda yang menggantungkan harapan tinggi kepada, Nyonya.”
Kinar meremas bajunya, membuatnya nampak kusut karena cengkraman tangan Kinar yang cukup kuat. Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Ken, Kinar hanya membatu. Pandangan matanya menelisik jauh, diingat kembali bayangan wajah ibu dan adiknya, senyum keduanya yang selalu terpancar bagai sinar mentari pagi yang menghangatkan justru membuat dadanya semakin terasa sesak, Kinar menunduk. Air mata berjatuhan dari pelupuk matanya, tumpah membasahi pipinya tanpa ampun. Tangan kanannya masih meremas pakaian yang dikenakannya, sementara tangan kirinya terus menyapu air mata yang mengalir tanpa kompromi. Pundaknya berguncang, dadanya berdesir. Semua perasaan tumpah ruah, bercampur menjadi satu menghujam hatinya.
Ken terdiam, keduanya masih ada di dalam mobil. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Ken. Hening, hanya terdengar suara isak tangis yang keluar dari mulut Kinar.
Beberapa saat kemudian, Kinar mengangkat wajahnya. Membuka tas lalu mengeluarkan bedak dan lip tint dari dalam tasnya, tangannya cekatan membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya. Dengan tangan bergetar ia menyapukan bedak ke wajahnya dan mengoleskan lip tint di bibirnya.
“Ken, bolehkan aku bertanya satu hal padamu?” suaranya terdengar parau.
Ken hanya mengangguk.
__ADS_1
\=\=\=>Bersambung 💕💕
Please, Klik Like 🖒 Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah ☺☺🌹🌹 Dukungan kalian sangat berarti.. Jangan pelit2 dongss.. Jangan cuma minta up tapi kalian gak dukung author, kan aku jadi sedih 😭😭