Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Kedatangan Mamah Mertua


__ADS_3

“Bu ...,” ucap Kinara lembut, “Apa selama ini Kinar pernah membuat Ibu dan Ayah kecewa?”


“Lah, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, Kinar? Kau dan Amanda adalah anak kebanggaan Ibu, kalian berdua tidak pernah mengecewakan Ibu. Memangnya ada apa?”


Kinara meremas kuat ujung map coklat itu, dia ragu untuk menyodorkan map itu pada Ibunya.


“Kenapa, Kinara?” Membelai lembut punggung tangan Kinara.


“Apa isi di dalam map coklat itu yang membuatmu serisau ini?” tanya Mirna. Kinara mengangguk


“Baiklah, Ibu akan bicara serius denganmu. Naikkan kepalamu dan lihat Ibu.”


Kinara menggeleng, bulir bening jatuh dan bermuara di punggung tangannya. Bagaimana mungkin Kinara bisa menatap mata teduh itu, setelah mengatakan semua kebenarannya akankah mata teduh Mirna berubah menjadi amarah yang berapi-api kepadanya?


Kinara bisa menerima semua siksaan dari Dika, tapi tdak dengan kemarahan atau kesedihan Ibunya. Dua hal terlarang itu tidak boleh terjadi, jika tidak hidupnya akan sangat menderita.


“Kinar, lihat Ibu. Aku ini Ibumu, Ibu tahu pernikahanmu dan Dika tidak dalam keadaan baik-baik saja, Nak.”


Deg ... degup jantung Kinara memompa lebih cepat, mata basahnya membulat. Sontak kalimat Mirna membuat Kinara mendongakan kepala. Mungkinkah ada orang lain yang mengetahui semuanya dan mengatakan lebih dulu pada Ibunya? Apakah dia terlambat? Pikir Kinara.


“Dari mana Ibu bisa tahu hal ini?”


“Nak, aku ini Ibumu, wanita yang mengandungmu selama sembilan bulan. Membesarkan dan menjagamu, bagaimana mungkin Ibu tidak tahu. Kau pergi sebagai seorang istri, tapi tidak pernah kembali sebagai seorang anak.” Mirna menarik napas panjang.


“Lima bulan lamanya kau pergi meninggalkan Ibu, tapi tidak pernah sekalipun kau menghubungi Ibumu ini.” Mata Mirna berkaca-kaca, tapi butiran kristal itu tidak juga turun, menggenang di sana menanadakan kekuatan hatinya yang luar biasa.


“Ada waktu di mana Ibu tak kuasa menahan perasaan rindu padamu, Ibu memberanikan diri menelepon Ken dan meminta berbicara denganmu. Hanya ingin bertanya apa kau makan dengan baik? Tidur dengan teratur? Hanya ingin tahu kabarmu. Namun tak sekalipun panggilan itu bisa terhubung denganmu, bukankah dari sini saja Ibu bisa menduga jika ada sesuatu yang salah dengan pernikahanmu?”


Kinara memutar tubuhnya, menatap lekat wajah Ibunya. Tidak ada kemarahan di sana, tidak ada kekecewaan juga. Hanya ada keteduhan.


Kinara bangkit, bergerak maju dan bersimpuh di kaki Ibunya. Kepala Kinara bersandar di pangkuan ibunya sementara tangan Mirna mulai bergerak mengelus puncak kepala Kinara.


“Seorang anak perempuan yang pergi dari rumah orang tuanya sebagai seorang istri, maka Ibunya tidak berhak lagi untuk ikut campur. Tapi Ibu masih tetap Ibumu, yang lebih bahagia ketika putrinya bahagia, dan yang lebih terluka ketika putrinya juga terluka.”


“Bu, maafkan aku. Aku sudah gagal menjaga amanat Ayah, Bu. Aku tidak kuat lagi, demi Tuhan aku tidak sanggup lagi hidup dengannya. Aku tidak bisa melanjutkan amanah yang Ayah berikan padaku, ma ... maafkan aku, Bu.” Kinara terisak. Air matanya tumpah, berembas pada daster Mirna. Napasnya mulai tersengal, bahu kokoh itu naik turun dalam pangkuan Ibunya.


“Bangunlah, Kinara. Duduk dan katakan yang jelas.” Memapah tangan Kinara sampai dia bangun dan duduk di kursi sebelahnya. “Apa yang ingin kau akhiri? Pernikahanmu?”


Kinara mengangguk, tenggorokannya tercekat sampai kalimat ‘Iya’ saja tidak bisa dia ucapkan, hanya air mata yang menjadi saksi kesungguhan ucapannya.


Mirna menatap langit lepas. “Kinara, pernikahan itu seperti sebuah perjalanan. Tidak selalu mulus, tidak selalu bagus, adakalanya kita melewati persimpangan, menginjak kerikil yang tajam, ada tanjakan dan turunan. Semua itu adalah fase untuk mendewasakn kalian sebagai pasangan.”


Kinara terisak, dia menundukan kepala dalam. Kedua tangannya saling meremas. Kakinya terasa kaku, bahkan bergerak saja terasa sulit.


“Tapi yang perlu kau ketahui, dalam rumah tangga disebut juga Baiti Jannati. Rumah adalah surga bagi pasangan suami istri, Kinara. Menikah itu untuk mencari ridha Allah, bagaimana Allah akan ridha jika kau tidak bahagia dengan pernikahanmu, jika kau tidak menemukan surga di dalam rumahmu. Kau hanya memiliki dua pilihan, membuat surga itu atau melepas neraka itu.”


Kinara meraih map itu dan berniat menyodorkan pada Ibunya. “Tidak perlu kinara, jika itu adalah aib suamimu. Jangan pernah kau tunjukan kepada siapa pun, termasuk Ibumu. Aib suamimu adalah kehormatan bagimu, begitu kau membongkarnya maka kau sedang menodai kehormatanmu sendiri. Ibu tidak perlu tahu apa alasanmu, Ibu tidak ingin ikut membenci suamimu. Simpan rapat apa yang ingin kau tunjukan pada Ibu, tetapi Ibu akan menghargai keputusanmu. Jika duri yang kau genggam sudah menyakitimu kau boleh melepaskannya. Ibu mana yang rela melihat anaknya tidak bahagia.”


“Tapi, Bu, ini amanat Ayah.”


“Apa Ayahmu akan bahagia jika tahu hidupmu juga tidak beruntung, Kinar?”

__ADS_1


“Aku ...”


“Tuhan memang membenci perceraian, tapi tidak melarangnya. Rumah tangga harus memberimu cinta dan kedamaian, bukan sebaliknya. Ibu tidak mendukung, juga tidak melarang. Semua keputusan ada di tanganmu, berundinglah dengan Tuhan. Semoga apa pun keputusan yang kau ambil, itu yang terbaik untukmu.


Deg ...! kalimat yang diucapkan Mirna mengapa terdengar sama seperti yang diucapkan Agra. Apakah ini juga merupakan suatu petunjuk? Yang semula hati Kinara ragu, setidaknya ketika mendengar ucapan Ibunya dia tidak akan bingung lagi dalam memilih.


***


Liburan sudah berakhir, tiga hari terasa begitu cepat berlalu. Seperti pertama kali berpisah dari Mirna, Kinara tetap menangis tersedu dalam pelukan hangat Ibunya. Sepertinya kali ini bukan hanya Kinara yang tidak rela meninggalkan kampung, tetapi Ken juga sedang merasakan itu.


Amanda turut mengantar kepergian Kinara dengan senyum tertahan, bagaimanapun kerinduannya terhadap sang Kakak belum terobati sepenuhnya. Kinara sudah melarang Amanda untuk berjualan, tetapi Amanda menolaknya karena alasan tidak ingin merepotkan Dika.


Seandainya saja Amanda tahu bagaimana perlakuan Dika terhadap Kinara, mungkin reaksinya tidak akan sama.


Mobil sudah melaju memasuki jalanan kota, untuk kesekian kalinya Kinara melihat gedung-gedung tinggi itu lagi. Pada akhirnya map coklat itu tidak pernah dia tunjukkan kepada Ibunya, itu lebih baik daripada Mirna merasakan sakit berlipat-lipat ketika melihat bukti-bukti itu. Setidaknya tujuan Kinara sudah tercapai tanpa perlu membuat Ibunya merasa bersalah.


Sementara itu di Mansion empat sore.


Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu masuk mansion. Dari dalam mobil turunlah Marta dengan menarik koper di tangan kanannya dan menenteng tas mahal di tangan kirinya.


“Kinara ...!"


“Dika ...!"


Di mana sih orang-orang ini, apa tidak tahu kalau aku sudah sangat merindukan mereka. Apa mereka sedang membuat cucu untukku, Marta tertawa di dalam hati.


Marta menaruh koper di ruang tamu, dia membuka kacamata hitamnya dan meletakan di atas kepala. Meski sudah berumur Marta tetap saja terlihat cantik dan segar. “Baby, where are you ...?! Mamah bawa oleh-oleh banyak buat mantu kesayangan, di mana Kinara? Hissh ... ada di mana mereka.”


Tidak mendapat jawaban baik dari Dika maupun Kinara, dia berjalan mendekati ruang keluarga. Mungkin mereka sedang menikmati waktu sebagai suami istri yang saling memadu kasih. Pikir Marta.


“Mamah ....!” Tiba-tiba memeluk Marta.


Marta terkejut bukan main, matanya membulat sempurna dengan mulut menganga. Marta menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya sendiri.


“Tunggu ... tunggu dulu.” Melepaskan pelukan Carissa.


“Kenapa, Mah?” Mengernyitkan dahi.


“Sebentar, Mamah mau duduk dulu.”Berjalan mendekati kursi dan duduk. “Bibi Ane , Ambilkan saya minum....”


Tak berapa lama Bibi Ane sudah datang dengan nampan berisi segelas air mineral. Marta menatap dalam Carissa yang sedang duduk di depannya sembari tersenyum, Marta terlihat cemas sembari memijat pangkal hidung dan meraih gelas itu lalu meneguk isinya sampai habis.


“Mamah baru pulang, yah?” tanya Carissa mengawali percakapan.


“Iya, di mana Dika , Rissa?” Mengedarkan pandangan.


Anak satu itu, sebenarnya apa yang terjadi? Di mana menantuku? batin Marta.


“Oh, Mamah pasti sangat merindukan Dika, yah?”


Bisakah kau jawab saja pertanyaanku, Carissa, batin Marta.

__ADS_1


“Iya, Mamah rindu dia. Sekarang di mana anak itu?” Mengepalkan tangan.


“Dika sedang mandi, Mah.”


Bagus, Nak. Sempat-sempatnya kau mandi, lihat saja. Jika kau keterlaluan dengan Kinara, batin Marta.


Tiba-tiba kepala Marta terasa sangat berat. “Jadi sejak kapan kau kembali dari Inggris? Kenapa tidak menghubungi Mamah?”


“Cukup lama, Mah. Sebenarnya aku ingin menghubungi Mamah, tapi Dika selalu melarang. Dika bilang Mamah sedang di Jerman mengurus beberapa pekerjaan penting, tidak bisa diganggu.”


“Ya, kau benar. Apa ....” Marta menggeser tubuhnya, duduk saja terasa tidak nyaman. “Apa kalian tidur dalam sa ... satu kamar?”


“Tidak, Mah. Aku mana mungkin berani melakukan itu.”


“Ah, baguslah,” gumamnya, “Kau pasti tidur di kamar tamu?”


“Tidak, Mah. Aku tidur di kamar utama, Dika tidur di kamar satunya.” Tersenyum lembut.


“A ... apa maksudmu kamar utama?”


“Iya, apa ada masalah, Mah? Mamah terlihat pucat, apa Mamah sakit.” Bangun dari kursi.


“Tidak, Mamah baik-baik saja. Kau tetap duduk di situ.”


“Baik.”


Apa maksudnya tidur di kamar utama? Lalu Kinara tidur di mana? Apa Dika dan Kinara tidak tidur dalam satu kamar? apa pernikahan mereka tidak baik-baik saja seperti dugaanku selama ini, batin Marta.


Ada banyak pertanyaan yang menggelayuti Marta, semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh dua orang tersangka yaitu anak dan menantunya.


“Oh iya aku sudah memberi tahu kedua orang tuaku jika aku akan segera menikah dengan Dika, Mah.”


Marta terperanjat. “Menikah?!" Marta bangun sembari berteriak kencang, Carissa terkejut, dia memundurkan tubuhnya melihat reaksi Marta.


“Tidak, itu tidak boleh terjadi.” Menggeleng sembari memegangi dahinya. “Ok, Mamah mau tanya. Kau ... apa kau mengenal gadis bernama Kinara?”


“Oh ....” Carissa mengangguk. “Tentu saja aku kenal, Mah. Kinara kekasihnya Ken, kan? Tapi Kinara sedang pulang kampung, Mah.”


Tuhan, apa lagi ini. Kinara, kekasih Ken? Sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan? Batin Marta.


“Selama ini Kinara tidur di mana?”


“Di kamar kecil paling ujung itu, yang bekas gudang musik. Sebenarnya aku juga keberatan kenapa Kinara harus tidur di kamar itu, kamar itu lebih kecil dari kamar mandi ....”


Ngingggg ...! Kepala Marta sangat berat, dia memegang lengan sofa, memijat kasar kepalanya. Ketika air mata jatuh dari pipi Marta, dia memalingkan wajah dan menyembunyikan itu dari Carissa.


“Aku pulaaaang ....” Tiba-tiba Kinara datang dan sudah berada di ruang keluarga. “Mamah ....” Oleh-oleh hasil kebun yang dibawanya dari kampung itu jatuh berhambur, Kinara menutup mulutnya. “Mamah ...,” lirihnya tertahan.


Bersambung....


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan vote yah, ayo dong bantu novel ini naik rank nya. Vote kalian tuh buat author semangat ❤️😘


__ADS_2