Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Menghabisi Kerinduan


__ADS_3

Dika berjalan mendekati Kinara sembari mendorong troli. Tak lupa wajah tampannya yang pada dasarnya sudah kaku dari bawaan lahir itu di setting sedemikian rupa, senyum tipis terus mengembang di bibirnya.


Apa senyumnya kurang lebar? Kenapa Kinara terlihat tidak suka, yah? Aduh, aku harus bagaimana? Sebenarnya ini tidak bisa disebut kencan, tapi kenapa aku gugup sekali, batin Dika.


“Emmm ... “ Dika sudah berdiri di depan Kinara. “Jadi, apa saja yang kau butuhkan, Kinara?”


“Sebentar.” Kinara merogoh tasnya. “Ahhh, catatannya dibawa Agra.” Memaju mundurkan bibirnya.


“Catatan?”


“Ehmm ....”


“Catatan apa?”


“Catatan belanjaan, semua barang-barang yang dibutuhkan olehku ada di selembar kertas itu. bibi Ane yang mencatat semuanya. Aku tidak ingat satu per satu karena terlalu banyak.” Kinara duduk lagi, dia tidak tahu apa saja yang harus dia beli tanpa catatan itu.


“Kenapa kau duduk lagi?” Dika ikut duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat, berjarak seperti hubungannya yang saat ini sedang berada di ujung perpisahan.


“Aku tidak ingat semuanya, aku hanya ingat susu ibu hamil saja. Yang lainnya, entahlah.” Kinara menggosok tengkuk lehernya.


“Jangan canggung begitu, Kinara. Aku ini suamimu.”


Kinara menoleh, Dika nampak merapikan tatanan rambutnya yang berantakan.


“Bagaiamana jika kita berkeliling dulu? Siapa tahu ketika melihat barang-barang yang ada di rak kau jadi ingat apa saja yang kau butuhkan.” Dika memberi solusi. Tidak mungkin keduanya untuk duduk terus menerus.


“Baik.” Kinara bangun dan berjalan cepat meninggalkan Dika.


Kenapa sikapnya sok manis begitu? Biasanya juga selalu marah-marah, batin Kinara.


“Jangan terlalu cepat, Kinara!” seruan Dika itu terdengar lantang. Dika terus berteriak sembari berusaha mengejar Kinara. Dan sekarang keduanya sudah berjalan beriringan.


“Apa kau mau es krim?”


Tawaran yang bagus, es krim rasa coklat adalah salah satu makanan favorit Kinara. Sayang, sepertinya Dika telat karena Kinara sudah menghabiskan satu kotak es krim.


“Kau tidak lihat itu?” Menunjuk kotak es krim yang sudah kosong di dalam troli. “Itu bekasku, apa aku harus makan satu kotak lagi?”


Glek, Dika menelan salivanya. Menghadapi Kinara jauh lebih menakutkan daripada membujuk investor asing. Dika tersenyum tipis untuk menghibur dirinya sendiri. Dia tidak tahu harus membeli apa, tidak ada satu pun yang dia tahu tentang makanan atau pun minuman kesukaan istrinya.


Tanpa terasa keduanya sudah sampai di rak mie instans, kontan Dika menawarkan itu pada Kinara. “Kau mau mie instans?” Meraih satu bungkus mie dan menunjukan pada Kinara.

__ADS_1


“Aku sedang hamil, Dika. Dokter Amel melarangku makan mie instans.”


“Wah, sayang sekali.” Dika meletakan lagi mie itu di rak.


“Kenapa?” Kinara mengernyitkan keningnya.


“Ini makanan kesukaanmu, ‘kan? Kau pasti sedih ketika dokter Amel melarangmu makan ini.”


“Itu bukan makanan kesukaanku, Dika! Aku tidak suka mie instans.” Tatapan mata Kinara tajam dengan ekspresi wajah kecewa.


“A—aku pikir kau suka mi instans.”


“Dari mana datangnya pemikiran itu?” tanya Kinara.


“Ketika aku ke kamarmu ... aku melihat ada banyak mie instans di kardus.” Suara Dika semakin pelan, bahkan nyaris tidak terdengar karena berbaur dengan suara pengunjung yang lain. “Aku pikir kau suka, makanya kau menyediakan stok mie instans di kamarmu.”


“Mie instans itu memang ada di kamarku, tapi bukan berarti aku suka. Sama seperti manusia, dia bisa tinggal bersamamu. Dalam satu dinding, satu atap, tetapi belum tentu kau menyukai manusia itu. Seperti aku yang tinggal bersamamu di mansion yang mewah, tapi kau tidak pernah suka padaku.” Kinara menundukan kepala.


Deg, degup jantung Dika berpacu lebih cepat. Dia benar-benar minim pengetahuan tentang Kinara, rupanya waktu lima bulan tidak cukup untuk mengenal sosok gadis 21 tahun itu.


“Jika kau tidak suka mie instans, kenapa kau menyediakan banyak mie di kamarmu?”


“Kenapa? Kau tanya kenapa? Mau tahu jawabannya?” Kinara berjalan mendekat, kini keduanya saling berhadapan. Kinara mendongakan kepalanya dan memainkan jari di dada suaminya. “Karena uangku hanya cukup untuk membeli itu.”


“Apa artinya aku di mansion itu bagimu, Dika? Pembantu? Temanmu? Simpanan? Atau gadis biasa yang kau asingkan? Lalu layakkah aku menikmati sepiring nasi dari meja mewahmu? Sementara aku seperti manusia terhina yang bahkan kehadirannya tidak diharapkan.” Mata Kinara berkaca-kaca, dia berusaha sekuat tenaga agar air mata itu tidak tumpah.


Dika tertegun, bibirnya terasa keluh. Dia teramat ingin memeluk Kinara, mengelus kepalanya, mengecup mesra kening istrinya untuk melebur semua kesalahan yang pernah dia lakukan dulu dan berkata ‘maafkan aku’.


“Aku – aku juga memberimu kartu tanpa limit, ‘kan? kenapa kau tidak menggunakan itu?”


“Kau ingat pernah bilang apa padaku?” Kinara berjinjit mendekatkan bibirnya di telinga Dika. “Pada dasarnya wanita suka dengan emas dan kilauan pertama, begitu pula kau menilai aku. Lalu jika aku menggunakan uangmu, apakah aku sedang membuktikan jika diriku juga wanita yang menyukai kilauan itu?”


Glek ... susah payah Dika menelan salivanya, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada Kinara. semua kalimat yang Kinara ucapkan adalah kebenaran.


“Ayo jalan, di rak ini tidak ada yang aku butuhkan.” Kinara memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Dika.


“Tunggu.” Meraih pergelangan tangan Kinara. “Jika kau tidak suka menggunakan uangku, lalu kenapa kau mau meggunakan uang Agra?”


Kinara membuka mulutnya tidak percaya. “Uang Agra? Kapan aku menggunakan uangnya?” Kinara memutar tubuhnya, keduanya kembali bersitatap. Manik hitam mereka kembali menyatu. Namun tetap seperti kubu yang saling bersebrangan, yang satu menampakan kebencian dan yang satu lagi memperlihatkan penyesalan yang teramat dalam.


“Kau berbelanja dengan uang Agra bukan? bagaimana kau menutupi semua kebutuhanmu, Kinara?” tanya Dika.

__ADS_1


“Kau menuduhku? Lagi?” Kinara memijat keningnya.


“Bukan, aku tidak menuduhmu. Aku hanya ingin bertanya.”


Kinara menarik napas dalam. “Aku memang berbelanja dengan Agra, dia mengantarku berbelanja bukan berarti membayar semua belanjaanku. Apa orang yang mengantar harus membayar?” Menaikan sudut bibirnya. “Kenapa kau selalu melihatku seperti seorang wanita yang bisa menerima uang dari siapa pun?”


“Bukan begitu ... aku hanya ...,” ucap Dika terputus.


Kinara merogoh tasnya dan mengeluarkan dompet. "Ini." Menyodorkan kartu tanpa limit pada Dika. "Semua uang untuk kebutuhaku bersumber dari kartu ini. Kau boleh periksa siapa pemiliknya."


"Untuk apa?"


"Untuk meyakinkan dirimu jika aku tidak pernah dinafkahi oleh laki-laki lain. Aku tidak pernah minta, kecuali Agra yang memberi. Itu pun hanya sebatas makanan ringan tidak lebih." Kinara menggoyangkan kartu itu di depan Dika. "Periksalah. Kau tipe orang yang selalu butuh bukti, 'kan?"


Dika menunduk, menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. "Tidak perlu, Kinara. Aku percaya padamu." Dika membuka telapak tangan Kinara dan meletakan kartu itu di tangannya. "Aku sungguh percaya padamu."


Kinara menatap lekat wajah suaminya. Sudah banyak perubahan di wajahnya. Tidak ada lagi wajah menyebalkan yang dipenuhi amarah.


"Kau tidak percaya? Lihatlah ke dalam mataku." Dika mendekatkan wajahnya. "Aku percaya padamu, Kinara. Aku percaya semua yang kau katakan."


"Kenapa?" tanya Kinara.


"Karena kau adalah istriku, aku harus percaya padamu. Permata hatiku tidak mungkin ternoda." Tersenyum.


"Ma ... Mamah." Kinara memalingkan wajahnya.


"Mamah?" Kening Dika berkerut.


"Ka ... kartu itu pemberian dari Mamah. Rumah, mobil, Bibi Ane, Pak Budi, dan dokter Amel semuanya diatur oleh Mamah. Aku dinafkahi oleh Mamah."


Seketika senyum di bibir Dika mengembang sempurna. Matanya berbinar. Dia menggeser troli itu ke samping dan meraih tubuh Kinara ke dalam pelukannya.


Kinara berontak.


"Sebentar saja, aku mohon. Berikan aku waktu untuk menghabisi rasa rindu yang kian menyiksa ini. Sebentar saja, sayang. Ijinkan aku memelukmu. Aku mohon," ucap Dika lirih.


Bersambung....


.


.

__ADS_1


Sebenarnya emak tuh rajin up kalau lalian juga rajin Vote. Ayo dong votenya yg kenceng biar emak semangat ❤️😅🤣


__ADS_2