Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Bicara Dari Hati ke Hati (part 2)


__ADS_3

“Sebenarnya aku tidak ingin berteriak seperti ini, hanya saja semua perlakuanmu padaku terlalu menyesakkan dada. Tidak bisakah kau bersikap seperti manusia yang memiliki hati nurani? Sedikit saja, Dika. Jika kau tidak mencintaiku, aku bisa mengerti. Karena aku juga tidak mencintaimu, kau tidak perlu setiap pagi ketika aku terbangun mengucapkan kalimat manis padaku, atau membawa sekuntum bunga mawar untuk memberiku kejutan setiap kali kau pulang dari penatnya bekerja. Tidak, Dika. Aku tidak membutuhkannya, sama sekali tidak.” Kinar semakin terisak, wajahnya yang putih bersih terlihat kemerahan. Bukan karena sedang merasakan benih-benih cinta yang mulai tumbuh, melainkan karena menahan sesaknya hati yang tersakiti.


Dika hanya membisu seribu bahasa, pandangannya menelisik seolah menelanjangi tubuh Kinar. “Lalu?”


“Bisakah kita memulai hubungan pertemanan? Aku tidak akan meminta lebih padamu, tidak akan meminta keramahan cintamu. Aku hanya butuh dekat dengan keluargaku dan menjadi diriku sendiri. Aku sadar diri, tidak ada artinya aku mengharapkan istana yang dibangun di dalam kaca, memaksa masuk ke dalamnya hanya akan membuat aku terluka. Bisakah kita bicara dari hati ke hati?” Kinar menatap penuh harap.


“Misalnya?” Laki-laki dengan tingkat keangkuhan tinggi itu benar-benar tidak mengenal basa-basi.


“Aku mungkin bukan wanita dari keluarga kaya raya, Dika. Tetapi aku wanita dari keluarga baik-baik, jika saja sikapmu padaku tidak terlalu kejam. Mungkin aku bisa mengabdi padamu sebagai seorang istri yang menjunjung tinggi kedudukan suamiku, tetapi apa mau di kata takdir tidak pernah bisa memilih. Tapi ada satu hal yang perlu kau ingat, Dika. Bagiku, kau adalah pakaian yang aku kenakan. Jika aku membongkar aib mu, sama saja seperti aku sedang menelanjangi diriku sendiri. Bukan hanya dirimu yang akan merasa malu, aku jauh lebih merasakannya.” Kinar melenguh panjang sekali, nampak beban berat dalam setiap tarikkan napasnya.


“Inti dari kalimat yang aku katakan adalah, aku tidak akan berbicara tentang kelakuan burukmu sedikit pun kepada keluargaku. Jadi tolong, bisakah aku tetap menikmati takdirku sebagai seorang putri dari seorang ibu yang melahirkan dan membesarkanku? Aku tidak akan pernah menuntut lebih, tidak akan meminta cintamu, tidak akan meminta kesetianmu, aku hanya meminta pengertianmu. Jangan jatuhkan harga diriku sampai ke dasar. Aku takut tidak bisa meraih permukaan lagi. Hiks...hikss...” tangis Kinar semakin menjadi-jadi.


“Ayahku pernah berkata, hal yang terpenting bagi seorang wanita adalah harga dirinya. Semakin tinggi harga dirinya, maka semakin tinggi pula kedudukannya. Bukan harta, tahta, atau tumpukkan emas dan berlian, di mataku semua hal itu tidak lebih penting dari harga diri.” Napasnya mulai tersengal, dadanya semakin sesak seperti dihimpit tumpukan batu besar dari berbagai arah. Berkali-kali Kinar mengingat sosok ayahnya yang kuat, mencoba menstimulasi diri sendiri jika dia sama kuatnya dengan ayahnya.


“Bisakah aku tetap menghubungi orang tuaku, mengunjunginya sekali waktu?” Kinar benar-benar berharap Dika masih memiliki belas kasih padanya.


Wanita ini ternyata benar-benar tidak ingin hartaku, apa aku salah menilainya? Baiklah, aku tidak sejahat itu, Kinar. Batin Dika.

__ADS_1


Dika menurunkan kakinya. “Baiklah.”


“Ba..baiklah? itu artinya?” Kinar mengulangi kalimat yang diucapkan Dika dengan terbata, benar-benar tidak percaya dengan kalimat yang baru di ucapkan Dika.


“Ayo kita bicara dari hati ke hati.” Kata Dika.


Melepaskan sikap formal ternyata cukup sulit. Batin Dika.


Kinar menangkap kebimbangan di raut wajah Dika, laki-laki yang selalu menggunakan kekuasaan dan uang untuk memuluskan jalannya dan menghancurkan sampai ke dasar orang-orang yang menghalanginya, mana bisa bicara dari hati ke hati. Pikir Kinar.


Kinar berinisiatif, ia membungkukkan tubuhnya, membuka kantung kresek putih yang ada di bawah di samping sofa, lalu mengeluarkan dua botol air mineral. Menyodorkan salah satu botol itu kepada Dika. “Minumlah, hilangkan sikap sok berkuasamu. Kita bukan hidup di jaman penjajahan di mana aku harus berlutut di kakimu, mengiba lalu memohon maaf darimu. Kau sudah cukup menunjukkan kekuasaanmu padaku. Tidak ada yang perlu kau tunjukkan lagi setelah ini.”


Harga diri laki-laki ini besar juga. Batin Kinar.


“Sudahlah, dika. Tidak perlu memperlihatkan seberapa besar kekuasaan yang kau miliki, aku sudah tahu. Bisakah kau bersikap selayaknya manusia biasa, kita tidak hidup di era 70an. Di mana kau bisa memperbudak diriku, tidak. Apa aku harus bersujud di kakimu begitu? Ayolah, jangan penuhi hatimu dengan keegoisan. Jadi terima air mineral ini, dan mari kita memulai kesepakatan. Bagaimana?” Kinar kembali menyodorkan botol air mineral itu, menggoyang-goyangkan di depan wajahnya. Dika mendengus, menerima botol air mineral, membukanya dan meneguk sampai sebagian badan botol.


“Dari apa yang kau katakan tadi aku bisa menarik kesimpulan, baiklah kau boleh menemui keluargamu satu kali dalam seminggu. Kau boleh mengenakan baju apa pun sesuai seleramu, aku tidak akan ikut campur, kau boleh pergi ke kampus dengan...” Dika terdiam, dia berpikir keras dengan apa Kinar bisa pergi ke kampus. Mansion miliknya terlalu jauh dari jalan umum. Tidak ada lalu lalang kendaraan umum. Kinar menangkap ada peluang, seketika dia menyambar.

__ADS_1


“Aku bisa naik motor, dulu sebelum menikah denganmu aku ke kampus pakai motor.” Kinar semangat ia melemparkan lirikan mata, mencoba menebak reaksi yang dipancarkan wajah Dika ketika mendengar kata motor.


“Motor?” Dika heran.


"Iya, motor." Kinar meyakinkan sembari memperagakan gerakkan tangan seperti sedang menarik gas.


"Kau yakin? Apa motor cukup aman untuk di kendarai?" Dika masih belum yakin dengan keputusan Kinar. "Nyawamu bisa saja melayang jika berkendara dengan motor yang terbuka di mana-mana." Dika bergumam, namun terdengar cukup jelas di telinga Kinar.


"Tidak ada yang aman di dunia ini, mengendarai motor bisa saja menyebabkan kecelakaan lalu meninggal, pakai mobil bisa saja masuk jurang lalu meninggal, atau pakai kereta api tetap saja bisa meninggal, bahkan ketika naik pesawat sekali pun nyawaku bisa melayang, mungkin pesawat itu meledak di udara, atau tenggelam di lautan lepas, bahkan menabrak gunung sampai hancur berkeping-keping. Auhhhh.. aku sampai merinding membayangkannya." Kinar mengelus kedua tangannya, merasakan bulu kuduknya berdiri. "Ah, semuanya tidak ada yg aman, bahkan di dalam rumah sekali pun kau bisa saja.... tamat..." Kinar memperagakan gerakan menyayat leher.


Melihat kelakuan Kinar seketika Dika menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha menyembunyikan tawa yang mulai mengembang di sudut bibirnya.


Gadis ini, jika tidak sedang menangis atau berteriak ternyata terlihat menggemaskan. Bicara apa aku ini ! Dika membatin.


“Baiklah, ak setuju. Kau bisa membeli pakaian, kendaraan, atau apa pun. Kau bisa menggunakan kartu tanpa limit yang aku berikan padamu. Aku hanya memiliki beberapa syarat yang harus kau patuhi.” Kata Dika serius.


Aku tidak akan menggunakan kartumu itu. Batin Kinar.

__ADS_1


\=\=\=> Bersambung 💕💕


Plis Klik Like, Klik Favorite, Tinggalkan Komentar dan bagi Vote yang banyak biar Author semangat nulisnya.


__ADS_2