
Gambar wanita yang ditatap Dika adalah foto Kinara yang diperbesar. Satu lembar foto yang ditinggalkan oleh Kinara hari itu dia perbanyak. Bahkan Dika sampai membuat lukisan wajah Kinara dari foto itu. Dia menggantung foto Kinara di beberapa sudut ruangan, tak terkecuali di kamar utama dan ruang kerjanya.
Saat ini tak ada satu pun foto Carissa yang tergantung di mansion Dika, semuanya sudah berganti dengan wajah cantik istrinya.
“Tuan Muda, tolong dipikirkan lagi.” Ken berjalan mendekati Dika yang masih menatap sedih potret Kinara. Ken khawatir keputusan yang Dika ambil akan membuat Dika jatuh pada tempat paling menyedihkan yang dipenuhi perasaan kesepian dan menyesal.
“Semuanya sudah terlambat, Ken. Waktuku untuk bersama dengan Kinara sudah habis.”
“Tidak ada kata terlambat, Tuan. Tidakkah Tuan tahu jika Tuhan menilai seorang hamba bukan dari masa lalunya, melainkan dari masa sekarang. Apa salahnya jika Tuan sedang berusaha berubah, seharusnya Tuan mendapatkan kesempatan kedua," ucap Ken emosional.
“Tidak ada yang salah dengan perubahanku, Ken. Satu-satunya yang salah karena aku terlalu memaksakan kehendakku yang tidak selaras dengan kehendak Tuhan.”
“Sejak kapan Tuan tahu jika kehendak Tuan tidak sama dengan kehendak Tuhan?”
“Sejak Kinara semakin terluka olehku, melihat wanita yang aku cintai terluka adalah siksaan terberat untukku, Ken. Jadi aku memilih menyerah jika memang bahagianya bukan denganku.”
Ken terdiam, tidak mampu beradu pendapat lagi dengan Dika. Ken hanya bisa menatap laki-laki arogan yang mendapatkan didikan keras dari orang tuanya itu sedang berdiri tidak berdaya menerima takdir Tuhan.
“Tuan ...,” ucap Ken terputus.
“Keputusanku sudah bulat, Ken.” Dika mengambil paksa map coklat itu dari genggaman tangan Ken. Dia memutar pengaitnya dan mengeluarkan satu lembar kertas. Dika meraih pulpen dan sudah bersiap. Namun, nyalinya sedikit menciut, sampai beberapa detik setelahnya Dika sudah memulai menandatangani lembar kertas itu lengkap dengan namanya di bagian bawah.
Dika menangis tersedu, memasukan kembali kertas itu ke dalam map dengan tangan gemetar dan bahu berguncang. “Berikan ini padanya.” Dika menyodorkan map itu pada Ken dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dia gunakan untuk menutupi wajahnya yang sedang menangis. “Jelaskan padanya dengan rinci.”
Ken menerima map itu diikuti mata yang berkaca-kaca, duka mendalam yang dialami tuannya serasa ikut masuk ke dalam hatinya.
“Ikutlah denganku, Tuan Muda. Bukankah Tuan Muda sangat merindukan Nyonya? Bukankah Tuan Muda ingin melihat wajah Nyonya?” ucap Ken.
“Dia tidak akan sudi melihat wajahku yang penuh dosa, Ken.” Dika tertawa kecil. “Sudahlah, kau saja yang pergi. Aku tidak ingin membuat Kinara semakin susah.”
Ken menundukan wajahnya dan mengusap kasar sudut matanya agar air matanya tidak sampai jatuh. Ken menarik napas dalam lalu berucap, “Begini saja, bagaimana jika Tuan Muda bersembunyi di dalam mobil? Saya tidak akan bilang jika Tuan muda ikut. Dengan begitu Tuan Muda tetap bisa melihat Nyonya.” Ken mencoba menawarkan solusi terakhir. Dia tahu jika Dika teramat merindukan istrinya.
Dika diam untuk beberapa saat. Lalu seutas senyum mengembang di bibirnya. "Baiklah. Setidaknya aku bisa melihat Kinara walaupun dari kejauhan."
***
🍃Rumah Kinara🍃
"Nyonya ...." Suara bibi Ane nyaris tenggelam karena kemerisik angin yang mulai kencang.
__ADS_1
Langit semakin gelap. Dedaunan dari pohon besar yang berderet di sepanjang jalan di depan rumahnya bukan lagi bergoyang, tetapi sudah berjatuhan tertiup angin.
"Nyah, saya bawakan baju hangat." Bibi Ane menghampiri Kinara yang enggan beranjak dari duduknya. Dia menyodorkan syal dan jaket untuk Kinara kenakan.
"Tidak usah, Bi. Mungkin sebaiknya aku masuk. Sepertinya hujan akan segera turun." Kinara menatap langit. Kilatan cahaya di atas sana semakin rapat, bahkan sesekali terdengar suara gemuruh petir.
Ada apa denganku, Tuhan? Kenapa rasanya masih ingin berlama-lama di sini. Padahal aku tidak sedang menunggu siapa pun, batin Kinara.
Kinara bangun dari kursi dan bersiap masuk ke dalam rumah sampai sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahnya. Kinara memicingkan matanya, siapa yang bertamu di tengah cuaca seperti ini. Pikirnya.
Hujan mulai turun, rintik demi rintik yang mulai berjatuhan. Tidak terlalu deras, masih ringan.
Seorang laki-laki turun dari dalam mobil. Mengenakan pakaian serba hitam khas seperti asisten pribadi, dengan payung di tangan kanannya dan beberapa berkas di tangan kirinya.
"Ken?" Kinara bergumam sembari mengernyitkan keningnya. Iya, laki-laki itu adalah Ken.
"Selamat sore, Nyonya?" sapa Ken begitu dia berdiri di depan Kinara.
"Ah ... selamat sore, Ken," jawab Kinara tergagap. Kinara masih bingung kenapa Ken mamaksa datang ke rumahnya di tengah cuaca seperti ini.
"Apa saya mengganggu, Nyonya?"
"Ah ...." Kinara menggelengkan kepala untuk memulihkan kesadarannya. "Tidak ... tentu saja tidak. Mari masuk, Ken."
Jika kita bicara di dalam, maka tuan muda tidak akan bisa melihat wajahmu, Nyonya. Maafkan aku jika aku sangat egois, tapi bantulah tuan untuk terakhir kali. Aku mohon, batin Ken.
"Di luar? Di sini?" Kinara menunjuk kursi di teras rumahnya untuk meyakinkan Ken. Di tengah cuaca seperti ini nampaknya bicara di luar ruangan bukanlah ide yang bagus.
"Iya, Nyonya." Ken mengangguk, sorot matanya penuh harap. Kinara bisa melihat itu dengan jelas.
Kinara mengedarkan pandangan matanya, melihat ke arah mobil sedan yang sedang terparkir di depan rumahnya.
Apa yang aku pikirkan, Kinara? Tidak mungkin 'kan Dika ada di dalam mobil? Menjagaku di rumah sakit saja tidak. Mana mungkin dia ad di sini, batin Kinara.
"Kau datang sendiri, Ken?" tanya Kinara penuh selidik.
"Iya, saya datang sendiri," jawab Ken mantap. Dia sudah menguatkan hatinya untuk berbohong. Jika Ken terlihat gugup, Kinara akan curiga dan kesempatan Dika untuk melihat wajah Kinara akan berantakan.
"Sepertinya mobilmu terparkir terlalu jauh, Ken."
__ADS_1
"Oh, tidak, Nyonya. Aku rasa itu pas," ucap Ken.
Jika semakin dekat kau bisa melihat keberadaan tuan, batin Ken.
Ken sudah mengatur posisi yang pas untuk parkir mobilnya. Tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh, posisi itu menghadap langsung ke arah teras. Cukup jelas bagi Dika untuk melihat wajah Kinara.
Kaca mobil yang hitam juga membuat Kinara kesulitan menembus pemandangan di dalam mobil. Namun memudahkan Dika untuk melihat keluar.
"Baiklah. Jadi apa ada sesuatu yang penting, Ken? Kau sampai datang ketika cuaca seperti ini," tanya Kinara mengawali pembicaraan serius.
Ken menutup mata dan menarik napas dalam. Dia meletakan berkas-berkas yang dibawanya di atas meja.
"Begini, Nyonya ... saya datang karena ...," ucap Ken terputus.
Kinara tersenyum dan menatap wajah Ken. Dia mencoba mencari jawaban dari tatapan mata Ken. Tidak ada yang lain dari sorot mata Ken, kecuali kesedihan.
"Emmm ... apa ada sesuatu yang serius? Kau terlihat tidak baik-baik saja, Ken."
"Iya, Nyonya. Saya memang tidak dalam keadaan baik, menyampaikan hal ini pada Nyonya membuat hati saya sedih dan terluka." Ken menunduk dalam.
Aku saja sesedih ini. Lalu bagaimana dengan tuan muda? batin Ken.
"Tidak apa-apa, Ken. Kau sudah sampai di rumahku, tidak lucu jika kau kembali lagi tanpa menyampaikan apa yang menjadi tujuanmu." Kinara berusaha menghibur. Jujur, jauh di lubuk hatinya dia juga merasa cemas dengan apa yang akan disampaikan Ken.
Ken memejamkan mata untuk yang terakhir kalinya. Menarik napas dalam dan menyebut nama Tuhan sebelum membuka map itu.
"Ini adalah titipin dari Tuan Muda." Ken menyodorkan selembar kertas pada Kinara.
"Apa ini?" Menerima kertas itu dan membaca kata demi kata di sana. "Ini ...."
Deg ...!
Kinara menutup mulutnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya bergetar hebat sembari memegang lembar kertas pemberian Dika.
Bersambung....
.
.
__ADS_1
Cieeee digantung cieeee 😂
Nggak enak kan digantung? Makanya jangan gantungin emak juga 🤣 Vote yang kenceng, masuk 10 besar maleman emak up lagi ❤️😂