Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Usaha Dika (Part 2)


__ADS_3

Selepas percakapan pagi itu, Dika begegas mandi dan bersiap ke masjid. Kinara tidak sekeras kepala itu, dia sendiri yang menyiapkan baju dan sarung untuk Dika. Walaupun barang bekas, tetapi ada niat tulus di dalamnya. Dia juga mencuci setelan tiga potong milik Dika. Melihat Dika yang susah mengenakan sarung, Kinara juga tidak tega.


Sementara Amanda sudah berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali dengan sepeda kesayangannya, sekalipun Ken ngotot ingin mengantarnya pergi ke sekolah. Namun, Amanda menolaknya. Biar sehat, sekalian olahraga katanya.


Jika pagi ini Dika sarapan dengan pisang krispi buatan Kinara, maka Ken sedang menikmati sepiring singkong goreng buatan Amanda. Sebelum berangkat sekolah Amanda menyempatkan diri untuk


membuat singkong goreng untuk Ken, entah apa yang istimewa dari singkong goreng buatan Amnada. Kenapa Ken begitu tergila-gila, atau mungkin bukan karena singkong gorengnya melainkan karena yang membuatnya.


“Pekerjaan di Kantor bagaiamana?” Kinara datang dari belakang meletakan segelas air mineral dingin di atas meja.


Cuaca pagi itu memang cukup menyengat, padahal matahari baru naik sepenggalan. Belum sampaike puncak. Sepertinya nanti malam akan turun hujan.


“Sudah diurus oleh Ken. Aku bisa mengambil waktu libur paling tidak lima harian. Sebelum aku ....” Dika menggantung kalimatnya.


“Sebelum apa?”


Dika merah gelas itu sembari tersenyum. “Sebelum aku kembali ke kota.”


Mana mungkin aku mengatakan padamu sebelum aku pergi. Aku tidak ingin memanfaatkan kepergianku untuk membuatmu kembali ke sisiku, aku akan menggunakan cara lain, batin Dika.


Saat ini keduanya sedang duduk di teras rumah, sebelumnya Dika tidak tahu jika rumah Kinara senyaman ini. Ukurannya memang kecil, tetapi memiliki susasana hangat. Mungkin karena dulu ketika dia datang untuk pertama kali, ada perasaan terpaksa yang membuat semua hal di rumah ini terlihat buruk.


“Kinara ...,” ucap Dika lirih di sela-sela kegiatan memandang langit.


“Iya, kenapa? Airnya kurang?” Kinara melirik gelas air yang isinya tinggal setengah.


Aku tidak serakus itu, batin Dika.


“Tidak, bukan begitu. Aku ....”


“Kenapa kau selalu meggantung kalimat? Katakan saja, ada apa?”


“Aku minta maaf untuk semuanya, untuk semua kesulitan yang kau alami selama ini.”


Kinara tersenyum tipis, meraih segelas susu miliknya lalu meneguk perlahan. spersekian detik dia berkata dengan suara lembut disertai tatapan pasrah. “Bukankah aku sudah memaafkanmu, Dika. Demi Tuhan aku sudah memaafkanmu. Aku tidak ingin mengingat kisah kelam di antara kita. Jangan terus meminta maaf padaku, karena semakin sering kau meminta maaf. Semakin sering pula aku mengingat sakitnya.”


“Aku merasa maaf darimu belum cukup.”


Lalu apa lagi yang kau mau? Berapa kalipun kau minta maaf aku sudah memafkanmu. Masalahnya di mana? batin Kinara.

__ADS_1


“Lihat ke atas.” Dika menunjuk langit yang mempertontonkan pemandangan luar biasa. Gumpalan awan beriringan, sesekali sekawanan burung terlihat terbang. Kinara mendongakan kepalanya, memberikan ruang agar sinar matahrai bisa menjamah permukaan wajahnya.


“Kenapa?” tanya Kinara.


“Apa menurutmu langit akan selalu cerah begitu?”


“Tentu saja tidak. Kalau malam pasti gelap, ‘kan?”


Benar juga, malam memang selalu gelap. Tapi maksudku bukan itu, batin Dika.


“Maksudku bukan begitu.”


“Lalu?”


“Apakah langit yang cerah tidak akan berubah mendung lalu menurunkan hujan?”


“Mungkin saja, kan musim selalu berganti. Tidak selalu musim hujan, ada musim kemarau sesudahnya.”


“Bukankah kau tahu itu, bahwa langit tidak selamanya cerah, Kinara. Terkadang mendung dan hujan berpetir datang, tapi apa kau tahu sesudah itu akan ada apa?”


“Apa? Aku sedang tidak ingin main tebak-tebakan.”


“Sesudah hujan maka pelangi akan datang. Begitulah kehidupan, silih berganti seperti musim. Ada kalanya kita berada di musim yang membahagiakan, terkadang kita juga berada di bawah hujan deras. Namun, setelah semua itu berlalu bukankah kita sudah disambut dengan indahnya pelangi?”


“Lalu ke mana arah permbicaraan kita?”


“Aku hanya ingin kau mengerti, mungkin selama lima bulan kau hidup bersamaku aku hanya memberimu hujan dan musim yang mencekam. Namun, aku bisa menggantinya dengan lima bulan senyuman, lima tahun tawa, dan lima puluh tahun kebahagiaan. Dan janji setia padamu seumur hidupku.”


“Apa sekarang kau sedang merayuku?” Kening Kinara berkerut.


“Iya, aku sedang merayumu. Aku sedang merayu Ibu dan Adikmu. Aku bahkan sedang merayu Tuhan agar kau bisa kembali ke sisiku. ”


Kinara diam. Nampak mengelus perutnya. Untuk pertama kalinya Kinara merasakan kedutan di perutnya, kenapa di saat Dika bersamanya anaknya begitu aktif di dalam perut.


“Berikan aku kesempatan, Kinara. Kau akan tahu bagaimana caraku mencintaimu.”


“Aku takut, Dika.”


“Takut kenapa?”

__ADS_1


“Aku takut untuk memulai kembali, setelah apa yang aku alami. Aku takut gagal lagi untuk yang kedua kalinya.”


“Kau tidak perlu memulainya. Cukup raih tanganku dan ikuti ke mana kakiku melangkah, aku yang akan memulainya. Dan aku tidak akan mengakhirinya, kecuali maut yang datang lebih dulu padaku.”


“Kenapa kau selalu bicara soal maut?!” Kinara sedikit marah. “Apa kau ingin mati dan meninggalkan aku dan anakmu sendirian?”


Dika nampak memutar kepalanya, beberapa detik mencerna kalimat Kinara. Apakah itu artinya Kinara tidak ingin ditinggal olehnya? Atau dia hanya takut dengan perkataan yang selalu membawa kata maut?


“Kau boleh minta aku kembali padamu berapa kali pun, tetapi jangan membawa kalimat yang seperti itu.” Kinara memainkan tangannya di gelas. Rambut panjangnya tersapu angin. Dia selalu menguncir rambutnya dan hanya menyisakan anak rambut di pangkal telinga.


Dika menatap lekat wajah Kinara. pipinya memang semakin berisi, tetapi tidak merubah apa pun. Bagi Dika dialah satu-satunya wanita yang paling cantik.


“Kembalilah padaku, Kinara. Kita habisi semua kebencian di antara kita.”


“Aku tidak bisa. Aku ... aku tidak mencintaimu.”


“Apa kau mencintai Agra?”


Kinara diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Saat ini perasaannya sedang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat apa pun. Bukankah tujuannya pulang kampung adalah untuk menenangkan diri tanpa perlu menjawab soal perasaan.


“Jika kau mencintainya, kenapa kau melepaskan Agra semudah itu? Setelah aku membuka jalan yang begitu lebar untuk kalian bersama.”


“Aku tidak bisa bahagia di atas penderitaan wanita lain. Kau tahu nama baik Allen dipertaruhkan.”


Dika menggelengkan kepala. “Tidak Kinara. Allen hanyalah jalan yang dikirimkan Tuhan agar kau sadar. Jika itu cinta, kau tidak akan peduli pada siapa pun Kinara. Termasuk Allen. Pada dasarnya cinta itu egois, kau hanya perlu berjalan lurus tanpa perlu memikirkan siapa pun. Lalu kenapa kau melepaskan kesempatan untuk bersamanya?”


“Karena ...,” ucapnya terputus. Napas Kinara sedikit memburu. Karena apa? Dika benar, kenapa aku semudah itu menyerah? Kenapa aku melepaskannya ketika jalan di depan mata kami terbuka lebar? Lalu kenapa Agra setuju begitu saja? Kenapa kami tidak berjuang lebih keras lagi?


“Karena kau tidak yakin apakah itu cinta? Kau tidak yakin dengan cintamu pada Agra. Tanya hatimu Kinara, siapa tahu perasaan cintamu sejatinya hanya untukku. Jodoh itu rahasia Tuhan. Kau tidak bisa menerkanya hanya dengan mata terbuka. Sesekali tutuplah matamu, dan tanyakan hatimu. Siapa sesungguhnya yang kau cintai. Mungkin saja, wajahku yang kau lihat.” Dika tersenyum. Sementara Kinara nampak mengigit bibir bawahnya.


Bersambung...


.


.


Bang Dika, aku meleleh. Jangan terlalu sweet napa baang, emak karungin nih 🙄🤣


.

__ADS_1


Jangan lupa, LIKE, KOMENTAR POSITIF, RATE BINTANG LIMA, KLIK FAVORIT, DAN VOTE VOTE VOTE. OK.


__ADS_2