
Setelah memperpanjang masa liburan selama satu hari, akhirnya Dika dan Kinara memutuskan untuk kembali ke kota. Pagi tadi selepas sholat subuh Kinara merajuk di pangkuan Dika. Disandarkannya kepala, menyetel ekspresi wajah minta dikasihani. Suaranya pun dibuat semanja mungkin.
"Mas."
"Eemm ...." Dika sedang sibuk membelai kepala Kinara.
"Maaas ...."
"Iya, Sayang. Kenapa?"
“Aku belum ingin pulang. Masih ingin menginap, dua hari lagi saja, boleh ‘kan?” Memainkan kaki Dika. Menarik-narik rambut kakinya. Terkadang membuat Dika meringis kesakitan.
“Tidak,” jawab Dika tegas.
“Kenapa?” Kinara mengerucutkan bibirnya. Kepalanya yang sedang bersandar di pangkuan Dika langsung mendongak, mendapati ekspresi wajah suaminya yang tidak berubah meskipun dia sudah merayu dengan mengedipkan mata. Jurus andalannya ketika merayu Dika.
“Aku harus pulang, Sayang. Ada banyak kerjaan yang harus aku urus, aku tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama.” Membelai kepala Kinara, memainkan rambutnya, memilin dan mencium aromanya. “Perusahaanku juga kelak untuk anak kita. Nanti kita bisa berkunjung lagi, tapi pagi ini kiat harus pulang. Ok?” Mengelus pipi Kinara.
Kinara mengembuskan napas berat.
“Kau masih rindu Ibumu?”
Kinara mengangguk.
Dia memang masih rindu dengan Ibunya, tetapi alasan sebenarnya bukan hanya rindu. Kinara hanya takut kembali ke mansion itu. Kinara takut kenangan buruk yang Dika torehkan di hatinya kembali terulang. Mansion mewah itu tak lebih dari bangunan yang menjadi saksi bisu kekejaman Dika padanya. Setiap ruangan menyimpan kisah tragis tersendiri.
“Apa yang kau takutkan, Sayang? Mansion itu akan menjadi rumahmu juga.”
“Aku ....” Kinara meremas baju tidurnya lalu memiringkan badan.
"Jangan takut, Sayang. Aku sudah mengatasi semuanya." Membelai kepala Kinara. Sepertinya Dika mengetahui alasan di balik tingkah manja istrinya.
"Bagaimana jika aku ...." Kinara menggigit bibir bawahnya. Tidak bisa melanjutkan kalimat yang mungkin akan menyakiti hati suaminya. Lagi pula dia sudah bertekad untuk tidak mengungkit kisah silam.
"Jangan bicara yang bukan-bukan. Percayalah pada Mas-mu. Jadi kemasi barang-barangmu." Meniup ubun-ubun Kinara.
Dia pikir aku sedang kesurupan sampai ubun-ubunku ditiup segala. "Aku hanya takut, Mas."
"Jangan takut, 'kan ada Mas."
Akhirnya setelah acara bujuk- membujuk yang cukup melelahkan, Kinara setuju untuk kembali ke kota.
***
"Hati-hati yah," ucap Mirna yang sudah berdiri di ambang pintu. "Bawa mobilnya jangan ngebut ya, Nak Ken."
Ken tersenyum sembari menganggukkan kepala.
Seperti ibu pada umumnya. Mirna juga merasakan cemas ketika anak mantunya akan pergi. "Nanti sering-sering main, yah," ucap Mirna dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Bu." Kinara menyambut uluran tangan Mirna lalu mencium punggung tangannya. "Bu ...," ucapnya terputus.
"Sudah. Lihat suamimu sudah nunggu dari tadi."
Dika maju, meraih tangan Mirna. "Dika pulang dulu, yah, Bu."
"Iya. Titip Kinar yah, Nak. Kalau Kinar sering lupa tugasnya sebagai seorang istri. Ibu harap Nak Dika mau bersabar menghadapinya. Tolong jangan disakiti, apalagi dikasari."
Deg!
__ADS_1
Pesan dari Mirna jelas sangat menusuk hatinya. Namun, kali ini Dika bisa menjamin jika dia tidak akan mengecewakan Kinara untuk yang kedua kalinya.
Dika menganggukkan kepalanya. "Dika akan selalu mengingat pesan Ibu. Bu, karena Dika banyak pekerjaan di kota dan kehamilan Kinara juga sudah masuk bulan ke lima. Kemungkinan Dika dan Kinara akan lama buat berkunjung lagi. Bagaimana jika Ibu tinggal di rumah Dika untuk sementara waktu?"
"Ibu sih tidak masalah, tetapi bagaimana dengan sekolahnya Amanda?"
"Benar juga."
Ken mendekati Dika dan berbisik di telinga Dika.
Dasar, dari mana kau tahu soal itu? Ngebet sekali! "Bulan depan seharusnya Amanda libur panjang, 'kan?" Melihat Amanda yang sedang berdiri di samping Mirna.
"Iya, Mas Dika," jawab Amanda sembari menganggukkan kepala.
"Nah nanti Ken yang jemput Ibu dan Amanda. Bagaimana?"
"Apa Nak Ken tidak sibuk? Waktu menginap di sini saja Nak Ken sibuk sekali." tanya Mirna.
"Ken, apa kau sibuk?" Dika balik bertanya. Melirik Ken yang masih berdiri malu-malu. Dika yakin jawabannya 'tidak'.
"Tidak, Bu. Aku sama sekali tidak sibuk," jawab Ken cepat dengan wajah yang dihiasi senyum. Bahkan jika aku harus lembur berjam-jam untuk menyelasaikan kerjaan kantor, demi bisa menjemput Amanda. Aku rela.
“Tentu saja Ken tidak sibuk, Bu.” Dika sampai mengulangi jawaban Ken diikuti senyum mengejek.
Kinara, Dika, dan Ken sudah berada di dalam mobil, melambaikan tangan pada Ibu dan Amanda. Akhirnya dimulailah kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, antara Dika dan Kinara. Akankah badai rumah tangga berakhir sampai di sini? Atau baru saja dimulai?
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di mansion. Kinara sampai tertidur sembari bersandar di bahu Dika saking lamanya perjalanan.
“Tuan ...,” ucap Ken setelah mematikan mesin mobil.
“Ssst ....” Meletakan jari telunjuk di bibirnya. "Jangan sampai Kinara bangun."
Dika menyandarkan kepala Kinara di jok mobil. Dia turun lebih dulu, sedikit demi sedikit meletakan tangan di bahu dan kaki Kinara.
“Istriku berat sekali, Ken,” ucapnya setelah tubuh Kinara berpindah ke tangannya.
“Harap maklum, Tuan Muda, mungkin karena ada Tuan Muda junior di perut Nyonya.” Ken merasa canggung mengatakannya. Dia mengeluarkan payung lalu memayungi keduanya, sekarang cuaca cukup terik.
“Tuan Muda, percayalah ... Nyonya tidak ada di rumah. Tuan Muda Dika juga tidak ada. Saya tidak berbohong."
"Tolonglah, Bi. Saya hanya ingin tahu kabar Kinara. Beberapa hari ini dia tidak pernah mengangkat telfon dariku, membalas pesan pun tidak."
Deg!
Dari kejauhan terdengar suara bibi Ane. Sepertinya sedang berdebat dengan seseorang. Dika sedikit cemas ketika menebak-nebak lawan bicara bibi Ane. Sepertinya tebakan Dika menjurus pada satu laki-laki.
Dika sedikit mempercepat langkahnya untuk mencapai pintu utama. Begitu dia sampai alangkah terkejutnya ketika Dika melihat punggung laki-laki yang di kenalnya, sedang berdiri di depan pintu. Ternyata benar dugaannya.
“Ternyata benar Agra,” gumam Dika, “Untuk apa dia ke rumahku?”
“Ehem ....” Dika berdehem begitu jaraknya dan Agra tidak terlalu jauh.
“Oh. Selamat datang, Tuan Muda,” sapa bibi Ane yang dijawab anggukan kepala oleh Dika.
Agra lengsung menoleh. Begitu tubuhnya berputar dia melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit tak terperih. “Ha ... hay, Dika," ucapnya dengan suara tercekat.
Dika tersenyum canggung. “Hai, Agra.”
__ADS_1
“Apa itu ...." Agra berbalik badan. Mengusap kasar wajahnya. Dia tidak sanggup mengucapkan naman Kinara.
"Begini, Agra. Dia memang Ki ...."
"Aku tahu. Meskipun wajahnya terbenam di dadamu, aku tahu dia adalah Kinara. Sekalipun aku hanya melihat punggungnya saja, aku bisa tahu dia Kinara."
Dika diam. Dia tidak tahu harus mengucapkan maaf atau terima kasih. Atau keduanya harus dia ucapkan secara bersamaan.
"Apa Kinara tertidur di dalam mobil?” tanya Agra dengan tatapan mata sedih.
Secepat itukah aku tersingkir dari hatimu, Kinara? Apakah hanya aku yang berusaha berjuang, tetapi justru kalah dengan kenyataan, batin Agra.
“Iya, mungkin dia kelelahan.”
Dika mengamati. Agra sedikit lebih kurus dari terakhir kali dia melihatnya. Wajahnya suram, tetapi beruntung karena tidak ada luka di wajahnya. Sepertinya hubungannya dengan Ayahnya sudah membaik.
“Bi ... bisakah aku tahu apa yang terjadi di antara ka ... kalian?” Agra memalingkan wajahnya lagi, mengusap kasar kedua sudut matanya agar bulir bening itu tidak jatuh. Dia menarik dan mengembuskan napas perlahan, tetapi hatinya tetap sakit. Degup jantungnya serasa berhenti, terlalu sakit bahkan untuk menarik napas.
Dika sedikit bergerak, kakinya keram. Dari tadi dia berdiri tegak, takut membangunkan Kinara yang tidur di pelukannya.
"Masuklah dulu, aku akan menjelaskannya di dalam." Dika tersenyum lebar. "Kakiku sedikit keram," imbuhnya.
Agra diam. Dia hanya mengangguk pelan.
Dika memimpin jalan, Agra mengekor di belakang. Belum juga masuk ke dalam rumah Kinara sudah bangun, menggeliat di dalam pelukan Dika.
"Sayang, berhenti. Jangan banyak bergerak, kita bisa jatuh." Dika sedikit berteriak karena terkejut. Tiba-tiba Kinara bangun.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Kinara masih dalam pelukan Dika.
"Iya, kau mau turun?"
"Tidak. Aku masih ngantuk. Gendong aku sampai ke atas." Kinara mengalungkan kedua tangannya di leher Dika.
"Sayang, kau harus turun. Ada yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
Dika melenguh panjang sebelum memutar tubuhnya.
"A ... Agra?" ucap Kinara begitu dia turun dari gendongan tangan suaminya.
Agra tersenyum getir sembari menggigit bibir bawahnya. "Iya ... ini a-aku, Agra."
Bersambung....
.
.
Akhirnya bisa up. Menemani malam minggu kalian.
.
.
Bayangin aja, Nih. Bayangin gimana kalau kalian ada di posisi Agra 🙄😥
.
__ADS_1
.
Like, Komentar, dan Votenya ditunggu.