
“Loh itu kan Pak RT?”
Mirna segera membuka pintu dan melihat Pak RT sedang berdiri dengan napas yang ter putus-putus.
“Pak RT?”
“Nggih, Bu.” Pak RT mengangguk pelan, masih dengan napas memburu.
“Ada apa, Pak? Malam-malam begini ke rumah saya. Silakan duduk, Pak. Mau saya buatkan teh?”
“Tidak usah, Bu. Saya cuma mau tanya, apa pemuda itu adalah suami Nak Kinar?” Pak RT nampak memutar kepalanya mencari keberadaan pemuda yang dia sebut. “Loh, belum sampai juga?” Berjalan menjauh.
Kening Mirna nampak berkerut, pemuda mana yang Pak RT maksud? Faktanya setelah pintu terbuka, Mirna tidak melihat siapa pun kecuali Pak RT. Sekarang Pak RT malah pergi begitu saja.
Beberapa menit berlalu, Mirna masih menunggu di depan rumahnya. Sepertinya pembicaraan antara dirinya dan Pak RT belum selesai, Pak RT juga pergi tanpa pamit. Artinya masih ada yang menggantung.
“Ini loh, Bu.” Pak RT langsung duduk di kursi, keningnya berkeringat. Beberapa kali membuang napas. “Apa salah satu dari Pemuda itu menantu Bu Mirna?” Menunjuk dua pemuda yang sedang berdiri di samping mobil mewah.
Mirna terkejut, dari kejauhan sepertinya dia mengenal siapa dua orang itu. Dia berjalan mendekat.
“Se ... selamat malam, Bu.” Keduanya membungkuk sopan.
“Nak Dika, Nak Ken.”
“Iya, Bu.” Dika menjawab sembari tersipu malu. Penampilannya saat ini benar-benar kacau, wajahnya kusut dengan rambut yang berantakan, belum lagi pakaian mereka basah karena keringat. Dika segera mengusap keringat di keningnya. Jangan sampai ketampanan rupawannya luntur.
“Ini benar menantu Bu Mirna? Suaminya Kinar?” tanya Pak RT tiba-tiba, sudah berdiri di depan Mirna.
“Benar, Pak. Ini menantu saya.” Menunjuk Dika. “Tapi, kalau boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi?”
Pak RT nampak tertawa kecil. “Biar menantu Bu Mirna saja yang menjelaskan, saya harus lanjut ngeronda lagi.”
Mirna mengangguk. “Baik, Pak. Terima kasih.”
🍃Ruang tamu🍃
“Jadi bagaimana ceritanya keadaan kalian sampai seperti ini?” Mirna sudah meletakan dua gelas teh manis hangat dan sepiring singkong goreng yang sebagian sudah dimakan pak Budi.
Dika meneguk teh sebelum menjawab pertanyaan Mirna. “Tadi kami kehabisan bensin, Bu. Di dekat sini tidak ada pom bensin, dan semua rumah warga sudah tutup. Beruntung ada Pak RT dan warga lain yang sedang meronda, jadi mereka bantu buat dorong mobilnya sampai ke sini.”
“Owalah. Dari mana dorongnya?”
“Pengkolan depan itu loh, Bu.” Ken nyeletuk.
Mirna memalingkan wajahnya dan tersenyum lebar.
Itu jauh sekali, pantas saja keadaan mereka kacau begitu, batin Mirna.
Ken dan Dika hanya menunduk malu.
Itu memang jauh, Bu. Jauh sekali, kakiku seperti tidak menapak di lantai, kedua tanganku seperti mau lepas. Jika bukan karena Kinara, mana mau aku repot-repot begini, batin Dika.
“Jadi, untuk apa kalian datang malam-malam begini? Kan masih bisa besok.”
Tidak bisa, Bu. Aku begitu cemas dengan keadaan putrimu. Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri jika Kinara baik-baik saja, batin Dika.
“Sebenarnya kami berangkat dari rumah siang, Bu, tetapi terjebak macet selama 7jam.”
Ken langsung menoleh, matanya melongo tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Dika. Melihat ekspresi Ken, Dika langsung menginjak ujung sepatunya. Ken meringis menahan sakit.
“Benar, Bu. Tadi kami terjebak macet, ada demo besar-besaran. Ada PHK di PT. Angin Ribut.”
Ken tersenyum lebar ke arah Dika. Kau puas, Tuan Muda? Sekarang angkat kakimu, Tuan Muda. Ini sakit! Seperti itu kurang lebih arti senyum Ken.
Dika tersenyum licik. Puas Ken. Kau memang bisa diandalkan.
“Oh ....” Mirna manggut-manggut, tidak ingin memperpanjang obrolan itu.
“Bu, Kinara ada ‘kan?” tanya Dika tiba-tiba.
Mirna tersenyum tipis, tentu saja Kinara ada. Bukankah tujuannya jauh-jauh ke kampung untuk ini.
“Ada, tapi sudah tidur nyenyak. Sepertinya Kinara kelelahan, apa perlu Ibu bangunkan?”
Dika langsung menggelengkan kepala. “Jangan, Bu. Biarkan saja.”
__ADS_1
Dika mengembuskan napas lega, untunglah Kinara sampai dengan selamat.
Ken meremas kedua jemarinya. Dia terlihat salah tingkah.
Ada apa dengan bocah ini? batin Dika.
“Amanda juga sudah tidur. Kalau belum tidur pasti Ibu suruh buatkan singkong goreng kesukaan, Nak Ken,” ucap Mirna tiba-tiba.
Mendengar itu Ken semakin salah tingkah, dia sampai mengelus lehernya.
“Ini juga kan singkong goreng.” Dika menunjuk singkong goreng di depannya.
“Lebih enak jika dimakan saat masih panas. Besok Ibu suruh Kinara buatkan pisang krispi untuk Nak Dika.”
Dika tersenyum tipis.
Aku memang berbeda, kalau Ken dikasih singkong, aku dong dikasih pisang goreng, batin Dika tertawa puas.
“Sekarang lebih baik kalian pergi tidur. Tidak usah mandi, ini sudah terlalu malam. Tidak bagus untuk kesehatan kalian. Langsung ganti baju saja,” ucap Mirna, “Kalian bawa baju ganti, kan?” Mirna melihat sekeliling, sejak masuk ke dalam rumah Dika dan Ken tidak menarik koper atau menenteng tas.
Keduanya malah tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Apa karena demo juga kalian sampai lupa bawa pakaian?" Mirna sedikit meledek Dika dan Ken.
Keduanya hanya tersenyum.
Ken melirik ke arah Dika seraya membatin, Ini semua salahmu, Tuan Muda. Sudah kuperingatkan sebelumnya, rumah Nyonya itu jauh dari peradaban manusia dan kau tetap mengatakan semuanya bisa diatasi. Sekarang bagaimana, apa kita harus tidur dengan pakaian basah begini?
Bukannya minta maaf, Dika malah melotot melihat Ken.
Kau urus semuanya, aku tidak mau tahu! batin Dika.
“Baiklah kalau begitu.” Mirna bangun dari kursi. “Kalian pakai sarung sama baju Bapaknya Kinar saja.”
Ken mengangguk.
“Sarung?” Dika berbisik di telinga Ken begitu Mirna pergi mengambil pakaian untuk mereka.
“Iya, Tuan Muda. Memangnya mau pakai apa lagi?”
“Aku tidak bisa pakai sarung, Ken. Terakhir kali aku pakai sarung waktu disunat itu loh."
“Apanya yang digulung?”
"Sarungnya!"
"Bagaimana cara menggulungnya?"
“Nanti saya ajarkan, Tuan Muda."
“Apa tidak ada celana?”
“Tuan Muda lupa? Ayah Nyonya kan gemuk, celananya pasti kedodoran kalau kita pakai.”
Dika diam. Benar apa yang Ken katakan. Dika tidak tahu banyak tentang kehidupan Kinara, dia bahkan lupa seperti apa kondisi Ayah Kinara. Dia juga langsung pergi setelah Ayah Kinara dikebumikan, bahkan tidak sempat berpamitan dengan Kinara.
Lebih parahnya lagi, meminta Ken yang datang untuk menjemput Kinara. Semenjak itu, tidak pernah sekalipun Dika berkunjung ke rumah orang tua Kinara, tidak pernah bertanya kabar dan kondisi Ibu Kinara. Untuk itu dia sangat menyesal.
***
Mirna kembali dengan dua sarung dan kaus oblong di tangannya, sarung dan kaus itu masih sangat bagus. Masih layak pakai.
"Bu, anu ...," ucap Dika terputus. Dia segera melirik ke arah Ken dan Ken mengangguk.
Ken mengerti, mungkin Dika ingin mengatakan sesuatu yang bersifat pribadi dengan mertuanya. Dia pamit, memilih untuk tidur lebih dulu.
"Kenapa, Nak. Apa ada yang ingin kah katakan?"
"Iya, Bu."
"Duduklah."
Dika langsung duduk, di depan Mirna.
"Begini, Bu. Sebenarnya saya dan Kinara sudah bercerai."
__ADS_1
Mirna tersenyum tipis. "Iya, Ibu sudah tahu."
"Apa Kinara sudah menceritakan semuanya pada Ibu?"
Mirna mengangguk.
Deg!
Perasaan Dika langsung campur aduk. Mungkin semua keburukan dan perlakuan jahatnya kepada Kinara sudah diketahui Mirna. Seharusnya dia tidak punya keberanian untuk datang. Biarlah, mungkin memang harus seperti itu. Jika diperlukan dia akan memohon dan meminta diberiri kesempatan.
"Apa Ibu marah padaku?" Dika menundukan kepalanya.
Ibu mana yang tidak marah dan kecewa ketika mengetahui anaknya diperlakukan sedemikian rupa. Namun, Mirna toh tidak pernah tahu. Karena Kinara tidak pernah bercerita.
"Begini, Nak Dika. Ibu tidak akan bertanya apa kesalahanmu pada anak Ibu. Ibu hanya ingin tahu, apa kesalahan Kinara padamu?"
Kening Dika berkerut, dia tidak mengerti arti pertanyaan Mirna. Seharusnya saat ini dia sedang diadili dengan banyak pertanyaan dan mendapat makian.
"Maksud Ibu?"
"Biar Ibu permudah. Apa Kinara pernah berbuat sesuatu yang menyakiti hati Nak Dika?"
Dika menggeleng.
"Kinara pernah menolak memberikan nafkah batin yang menjadi hak Nak Dika?"
Aku bahkan merenggutnya secara paksa, batin Dika.
Sekali lagi Dika menggeleng.
"Apa Kinara pernah berselingkuh?"
"Tidak pernah, Bu." Dika mejawab mantap diikuti gelengan kepala.
"Kalau begitu Ibu mau memberi tahu sesuatu. Kinara belum menanda tangani surat cerai itu."
"Apa Ibu yakin?" Wajah Dika langsung berubah sumringah.
Mirna mengangguk. "Kalian masih bisa rujuk," tambahnya.
"Tapi, apa Ibu benar tidak marah padaku?"
Dika harap-harap cemas menunggu jawaban Mirna.
Sepertinya kalian sedang menutupi aib masing-masing, batin Mirna.
"Untuk apa Ibu marah, Kinara tidak pernah mengatakan hal buruk tentang Nak Dika."
Deg ...
Jadi, kau tidak mengatakan apa pun pada Ibu? Syukurlah, batin Dika seraya mengelus dadanya.
“Sekarang sudah malam. Sebaiknya Nak Dika pergi tidur. Sudah lelah kan? Apalagi seharian terjebak macet.”
Dika tersenyum tipis. “Bu, apa saya boleh melihat Kinara?”
“Hanya melihat, yah. Kalian sudah bercerai, jangan macam-macam.”
Dika mengangguk. Dia hanya ingin melihat wajah Kinara, seharian ini dia sangat merindukan Kinara. Melihat wajahnya pun sudah lebih dari cukup.
Mirna menunjukan kamar Kinara. “Ini kamarnya, tapi Ibu tidak tahu apa kamarnya dikunci dari dalam atau tidak. Ibu tidak punya kunci serep. Berdo’a saja tidak dikunci,” ucapnya sebelum meraih gagang pintu. “Nah, tidak dikunci. Lihatnya dari sini saja.” Menepuk pundak Dika.
Mirna segera pergi, dia percaya Dika tidak akan melanggar permintaannya.
Perlahan Dika membuka daun pintu. Begitu pintu terbuka langsung terlihat ranjang yang ditempati Kinara, beruntung Kinara tidur dengan memiringkan tubuhnya menghadap pintu sehingga wajahnya terlihat jelas.
Dalam keadaan tidur pun kau tetap saja cantik, Kinara. Seandainya aku bisa tidur di sampingmu, memeluk dan membelai lembut kepalamu, akankah hal itu bisa terjadi? batin Dika.
Kinara nampak menggeliat, tersenyum dalam tidurnya. Entah mimpi seindah apa yang sedang dia alami, sampai dia tersenyum lebar.
“Syukurlah kau baik-baik saja, Sayang.” Tersenyum. “Aku ada di sini, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan hatimu lagi, seperti dahulu aku mendapatkan restu Ayahmu. Selamat malam, Kinara, Semoga mimpi indah.”
Bersambung....
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komentar, dan VOTE.