Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Aku Ingin Menua Bersamamu


__ADS_3

“Astaga ... astaga ... ganteng banget.”


“Sumpah, ini cowok cool banget.”


“Oh, Tuhan ... coba perhatikan kakinya yang panjang, oh rahangnya juga tegas.”


“Dadanya juga bidang, aku yakin isinya roti sobek semua.”


“Sungguh luar biasa ciptaan-Mu.”


Beberapa teman gadis itu mulai berteriak histeris. Bahkan ada yang diam-diam memotret Dika.


Kinara yang menyaksikan itu hanya bisa menggelengkan kepala sembari berdecak tidak percaya.


Kalian jangan tertipu dengan tampang gantengnya. Wajahnya mungkin terlihat seperti malaikat, siapa yang tahu jika sifatnya jauh lebih buruk dari monster, batin Kinara.


“Itu, saya mau tanya. Di mana kau membeli sempol ayam yang kau makan tadi?” tanya Dika langsung ke inti.


“Aduh, pura-pura segala. Kakak ini gengsinya gede banget sih.”


“Iya, masa ganteng gitu seleranya sempol ayam.”


“Kenapa nggak langsung ke intinya aja coba.”


Gadis-gadis itu mulai berteriak lagi, saling menyaut satu sama lain.


Ya Tuhan, seharusnya tadi aku minta Ken membawa kaca mata hitam. Di mana aku harus sembunyikan wajahku yang sudah tercoreng ini? batin Dika.


“Aduh, kenapa harus repot-repot sih, Kak. Kenapa nggak langsung tanya aja, sini mana handphonenya.” Alih-alih memberi jawaban atas pertanyaan Dika, gadis itu justru menyodorkan tangannya.


“Eh, maksudnya?” Dahi Dika berkerut.


“Kakak mau minta nomor teleponku, ‘kan?” Gadis itu mengibaskan rambutnya yang di cat coklat di bagian ujungnya. “Berikan handphonemu.”


Dika tersenyum sembari memijat pelipisnya. “Begini, Nona. Saya hanya ingin tahu di mana kau membeli sempol ayam itu? Saya tidak butuh nomormu!"


“Itu ... itu tidak mungkin. Kau menghampiriku hanya demi sempol ayam? Yang benar saja!” Gadis itu mulai bersungut.


Dika mengangguk mantap.


“Aku tidak percaya. Sebenarnya Kakak malu ‘kan minta nomor teleponku, makanya beralasan seperti itu!”


Gadis ini benar-benar keras kepala, harus berapa kali aku bilang. Aku tidak butuh nomor teleponmu, batin Dika.


Nampaknya itu tidak berjalan lancar. Sudah lebih dari lima menit dan Dika belum kembali juga, Kinara berjalan mendekati Dika. Dia sampai harus turun tangan.


“Dek, Kakak ini tidak beralasan. Itu sebuah kebenaran, dia hanya perlu tahu di mana kau membeli sempol ayam itu,” kata Kinara, “Karena istri Kakak ini sedang hamil dan ingin makan sempol yang sama seperti yang kau makan tadi.”


“Siapa kau?” gadis itu menatap Kinara tidak suka.


Jika aku mengatakan yang sesungguhnya, mungkin kau akan pingsan karena malu, batin Kinara.


“Siapa kau? Jangan bilang kau bucinnya Kakak ini?!” Mengibaskan rambutnya.


Astaga, anak jaman sekarang benar-benar minim sopan santun. Siapa yang bucin? Aku? Yang benar saja, justru laki-laki yang berdiri di depanmu itu yang mengejarku, batin Kinara.


“Bicara yang sopan! Dia istriku, dan dia sedang hamil. Dia ingin makan sempol ayam yang baru saja kau makan.” Nada suara Dika penuh penekanan diikuti tatapan tajam yang membuat gadis itu gelagapan.


“Cih ....” Gadis itu mengikat rambutnya ke atas sembari menggerutu. “Kenapa tidak bilang dari tadi sih.”

__ADS_1


Astaga anak ini! Aku sudah mengatakan itu dari awal. Kau yang banyak bertingkah, masih kecil beraninya menggoda laki-laki beristri. Jika tidak demi Kinara sudah aku cari semua data tentangnya dan lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya. Sabar ... ini demi istri dan anakku, batin Dika.


“Itu cukup jauh dari sini!” kata gadis itu ketus, ”Kau lurus saja nanti ada lampu merah belok kiri, setelah itu ada persimpangan belok kanan, lurus terus kau akan bertemu sekolah dasar, di depan sekolah dasar ada belokan, pilih yang kiri, lurus lagi ada toko buku.”


“Apa di situ?” tanya Dika tidak sabar.


“Bukan. Setelah toko buku kau belok kanan, lurus terus nanti ada SMA. Nah penjual sempolnya mangkal di depan SMA itu, di gerobaknya ada tulisan 'sempol ayam cihuy'. Jelas?”


Dika dan Kinara saling tatap lalu menggelengkan kepala bersamaan, sungguh itu diluar dugaan mereka. Setelah acara bujuk-membujuk dan suap menyuap akhirnya gadis itu mau merekam suaranya untuk menunjukan lokasi penjual sempol ayam yang dia maksud.


***


“Kau sudah puas?” tanya Dika begitu keduanya sudah berada di dalam mobil.


Kinara mengangguk senang karena sempol ayam yang dia mau sudah ada di tangannya. Meskipun Dika harus beberapa kali turun dari mobil untuk bertanya tentang tempat mangkal penjual sempol itu. Dia bahkan menerima beberapa makian dan sumpah serapah dari pengendara lain ketika berhenti mendadak karena petunjuk arah yang diberikan gadis itu juga tidak terlalu jelas.


“Kau senang?”


“Emmm ....” Kinara menganggukan kepalanya. “Kenapa sepi sekali, nyalakan musik, yah.”


Tangan kinara sudah bergerak dan lagu mulai mengalun.


Lagu apa ini? Sepertinya ini lagu lama ... aku ingat melodinya tapi lagunya siapa yah? batin Kinara.


“Kenapa?” tanya Dika tiba-tiba.


“Kenapa apanya?” Bukannya menjawab Kinara justru balik bertanya.


“Raut wajahmu seperti sedang memikirkan sesuatu.”


“Lagu ini apa judulnya? Sepertinya ini lagu lama.”


Dika tersenyum lembut. “Kencangkan saja volumenya, jika suaranya kecil begitu bagaimana kau bisa mendengarnya.” Dika menaikan volume lagu itu dan memutar ulang dari awal. “Dengarkan baik-baik, belakangan ini aku suka mendengarkan lagu ini ketika berkendara."


"Karena lagu ini bisa menggambarkan perasaanku padamu. Lagu ini aku persembahkan untukmu.”


Lagu itu kembali mengalun. Kinara diam, dia fokus mendengarkan.


Look into my eyes.


You will see.


What you mean to me.


Search your hearth.


Search your soul.


And when you find me there


You’ll search no more.


Kinara mematikan pemutar musik itu dan memilih untuk menatap keluar melalui jendela mobil. Dia bukan tidak ingin mendengarkan lagu milik Bryan Adam itu sampai selesai, tetapi makna yang terkandung di dalam lagu itulah yang menjadi alasan utamanya untuk berhenti menikmati alunan musik lawas.


Sesaat kemudian suara musik sudah berganti dengan bunyi klakson kendaraan yang saling beradu dan hiruk pikuk pejalan kaki, serta pedagang asongan yang menjajakan dagangan mereka.


***


Hari hampir gelap, sebentar lagi matahari akan sepenuhnya masuk ke dalam peraduannya. Kembali ke tempat nyaman untuk bersembunyi lalu datang lagi esok hari. Bulan dan bintang mungkin sedang bersiap. Lampu jalanan juga sudah mulai dihidupkan.

__ADS_1


Suasana ini mengingatkan Kinara pada kejadian buruk ketika dirinya berada dalam satu mobil dengan Dika untuk membeli beberapa baju di pusat perbelanjaan. Lalu tanpa diduga hari itu menjadi tragedi yang tidak akan pernah terlupa dari ingatan Kinara, membekas seutuhnya. Di mana Dika sebagai seorang suami tega mempermalukan istrinya sendiri di hadapan ratusan orang dengan menyebut Kinara sebagai seorang wanita simpanan.


Mengingat semua itu membuat Kinara terisak, air mata mulai merangsek keluar, dan bahunya berguncang. Kinara meletakan sempol ayam yang belum sempat di sentuh itu di atas dashboard mobil.


“A ... ada apa, Kinara? Kenapa tiba-tiba kau menangis seperti ini? Apa aku mengatakan hal yang salah? Atu karena lagu itu? Kau tidak suka lagunya? Baiklah aku berjanji tidak akan memutar lagu itu lagi.” Dika mencecar pertanyaan pada Kinara, dia tidak berani menyentuh tubuh Kinara.


Kinara tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia hanya diam dengan suara napas yang mulai sesenggukan.


“Kinara.” Dika menepikan mobilnya. “Kenapa? Ada apa denganmu? Apa ada yang sakit? Katakan sesuatu, jangan hanya menangis. Aku jadi bingung jika kau terus menangis.”


Dika memberanikan diri untuk memegang pundak istrinya, tetapi diluar dugaan. Kinara segera menepis kasar tangan Dika dan berteriak, “Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi disentuh laki-laki sepertimu.”


Tubuh Kinara mulai mengalami sedikit getaran. Dia semakin memojokan diri di pintu mobil dengan kepala menempel pada kaca mobil. Dika tidak bisa melihat ekspresi wajah Kinara, namun dari suaranya yang serak Dika bisa menyimpulkan jika Kinara mengalami tekanan yang cukup berat.


Dika mengalah, dia meilih untuk tidak bertanya apa pun lagi. Interval yang cukup panjang terjadi di dalam mobil itu, sekitar sepuluh menit keduanya hanya menghabiskan waktu untuk bergeming di mobil. Tidak saling bertanya, tidak saling menyentuh. Hanya diam saja. Sampai suara Kinara mulai terdengar.


“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Kinara setelah diam dan membuat Dika tersiksa.


“Pulang ke rumahmu,” jawab Dika cepat.


“Tidak ke pusat perbelanjaan, ‘kan?”


"Pusat perbelanjaan? Untuk apa kita ke sana, kita baru saja pulang dari pusat ...." Dika terdiam, kalimatnya dia gantung begitu saja.


Deg ....


Kenapa dia bertanya tentang pusat perbelanjaan? batin Dika.


Dia mulai teringat dengan suasana hari itu, malam yang sama, jalanan yang sama, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Malam di mana dia mempermalukan harga diri Kinara sebagai seorang wanita sampai ke dasar.


Dika menarik napas panjang. Lenguhan itu terdengar lelah. Dika memalingkan wajahnya dan mengusap kasar air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.


kau sampai trauma karena kelakuanku. Apakah aku masih pantas untuk memperjuangkanmu, Kinara? Apa aku terlalu egois jika berharap bisa memilikimu lagi? Memulai semuanya dari awal sementara kerusakan yang aku lakukan pada hubungan kita sudah terlalu parah, ah ... mungkin seharusnya aku menyerah saja, batin Dika.


“Tidak, Kinara. Kta akan pulang. Kau tidurlah dahulu, nanti setelah sampai di rumah aku akan membangunkanmu.” Dika memacu mobilnya lagi.


Kinara tidak bereaksi, dia hanya diam, memandang jalanan kota dengan tangan gemetar. Beberapa kali Dika mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya ketika mengingat betapa kejamnya hal yang pernah dia lakukan pada Kinara.


30 menit berlalu.


Mobil yang dikendarai Dika sudah berhenti tepat di rumah Kinara. Dika menatap wajah Kinara yang tertidur lelap, dia mendekat untuk melepaskan seatbelt namun wajahnya dan wajah Kinara berada dalam satu titik yang cukup dekat. Bibir keduanya hanya terpisahkan jarak dua centi saja. Sedikit lagi Dika bergerak, maka bibir mereka akan saling bersentuhan.


Dika menelan salivanya, degup jantungnya berpacu sangat cepat. Keringat halus mulai merembas melalui pori-pori keningnya, dia tidak pernah segugup ini sebelumnya. Bahkan ketika berdekatan dengan Carissa.


Dika menarik napas panjang untuk menyesuaikan perasaannya. Beberapa kali memejamkan mata dan berusaha menahan hasratnya untuk tidak bertindak bodoh.


Namun Dika tetaplah manusia biasa, ketika wajah wanita yang sangat dia ridukan berjarak terlalu dekat dengannya. Tetap saja dia tidak bisa mengontrol gerak tubuhnya, refleks tangannya mulai membelai lembut kepala Kinara lalu berucap pelan, “Sayang, bisakah aku terus berjuang agar tetap berada di sisimu? Hanya untuk memberimu kebahagiaan di sisa hidupmu. Bisakah sama-sama kita habisi kebencian ini? Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk menua bersamamu duhai, permata hatiku."


Dika mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Kinara diikuti bulir bening yang menetes dari sudut matanya yang terpejam.


Bersambung....


.


.


Itu lagunya Bryan Adam yang berjudul (Everything i do) Do it for you. Kalian bisa coba dengarkan dan pahami artinya, dengan begitu kalian bisa ikut merasakan apa yang Dika rasakan.


.

__ADS_1


.


Mau nanti sore emak up lagi? Buruan komen yang banyak, Likenya jangan lupa, Tips koin dan VOTE juga. Berapa pun jumlahnya emak bersyukur kalian masih tetep suport emak ❤️ Vote yang banyak yah, biar emak semangat up lagi.


__ADS_2