Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Dalam Dekapan Takdir (SpinOff TCK)


__ADS_3

Dalam Dekapan Takdir (DDT) adalah spin off dari novel ini, ya. Cerita akan berfokus pada kehidupan rumah tangga Ibra Rafasya Mahendra - Anak dari Dika Mahendra sama Kinara Amalia.


Genrenya Komedi-Romantis nyerempet sedikit ke angst 🤣🤣


Nggak usah takut cerita dilindah. DDT bakal tamat di Entun, kok. Jadi, silakan baca dan jangan lupa dukungannya ❤️


Nah, ini bab 01


Untuk bab berikutnya bisa langsung baca di lapaknya, ya.


🍁🍁🍁


Kalau langit yang cerah dengan awan biru tiba-tiba berubah gelap dan menurunkan titik-titik air hujan ... Mungkinkah rukun tetangga juga bisa berubah menjadi rukun keluarga?


 


(RoseeLily – Dalam Dekapan Takdir)


 


***


 


Ibra menyambar jas yang tersampir di kepala kursi. Dia berlari keluar ruangan dan segera memasuki lift. Perasaannya campur aduk ketika membaca ulang pesan yang dikirim Bundanya lima menit yang lalu.


 


[Ib, Bunda sakit. Kamu cepetan pulang, ya.]


 


Lift berhenti di lantai satu. Ibra mengedarkan pandangan matanya mencari keberadaan Jack – Asisten Pribadinya yang lebih suka berada di luar ruangan menggoda cewek-cewek cantik daripada bekerja dengan tumpukkan manuskrip yang semakin menumpuk.


 


Dasar buaya!


 


“Ke mana perginya itu makhluk saat gue lagi butuh?!”


 


Kurang lebih satu menit mengedarkan pandangan, ujung mata Ibra menangkap sosok Jack yang sedang tersenyum lebar di depan meja resepsionis. Sesekali Jack terlihat mengerlingkan mata dan mengusak rambutnya ke belakang.


 


Eh, memang benar-benar buaya rawa!


 


“Jack kunci!”


 


Jack yang sedang menggoda resepsionis terbatuk-batuk melihat teman sekaligus bosnya berlari ke arahnya seperti orang kesetanan. Jack ikut menyamakan langkah lalu bertanya, “Kunci apaan? Kunci surga mah gue nggak pegang.”


 


Ibra melotot. Bisa-bisanya Jack bercanda di saat seperti ini. “Penjaga pintu surga juga nggak mau terima makhluk macam elu, Jack!”


 


“Lah, emang gue makhluk apaan?”


 


“Pithecanthropus erectus.”

__ADS_1


 


“Sarimin, dong, gue.”


 


“Mending kalau lu sadar. Udahlah, buruan mana kuncinya?” Ibra menggoyangkan telapak tangannya menengadah berharap Jack segera menyerahkan benda itu.


 


“Kunci mobil?”


 


“Ah elah, iya. Buruan, Jack!”


 


“Kenapa, sih, lu? Kebelet?”


 


“Bunda sakit, Jack.”


 


Mendengar pernyataan Ibra Jack segera merogoh saku celananya. “Loh, kok, bisa? Perasaan tadi pagi pas gue numpang sarapan bunda masih baik-baik saja.”


 


“Ya mana gue tahu.”


 


“Nih.” Jack menyodorkan kunci mobil pada Ibra. “Lu mau nyetir sendiri? Gue yang bawa aja, ya. Sekalian mau liat bunda.”


 


 


“Yes, Mas Bro!”


 


***


 


Ibra memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Membelah jalanan kota yang sedang padat-padatnya. Menilik waktu dari arloji yang dia kenakan. Sekarang jam dua siang, jadwal anak sekolah pulang sekaligus pergantian karyawan yang masuk kerja shift dua. Pantas kalau jalanan macet parah. Sepanjang perjalanan Ibra terus menggerutu karena dua kali terjebak macet. Dia hanya ingin cepat sampai di rumah dan memastikan keadaan Bundanya.


 


Setelah menempuh perjalanan yang menjengkelkan akhirnya Ibra tiba di rumah. Melewati halaman dan ruang tamu dengan langkah lebar. Tujuannya adalah ruang keluarga, kalau sedang sakit bundanya lebih sering istirahat di ruang keluarga alih-alih di dalam kamar. Katanya kalau tidur di dalam kamar hanya membuat sakit semakin parah.


 


Setibanya di ruang keluarga Ibra tidak melihat batang hidung Bundanya, alhasil kamar menjadi tujuan kedua. Nihil. Di kamar juga tidak ada. Dia tidak suka berteriak hanya untuk memanggil Bundanya. Lebih memilih mencari ke tiap ruangan.


 


“Bi, Bunda di mana?” tanya Ibra pada Bi Tuti – pembantu di rumahnya yang sedang membawa nampan berisi empat mangkuk salad buah.


 


“Ibu sama Bapak lagi di ruang makan, Mas. Ini saya juga mau antar makanan,” jawab Bi Tuti santai, “Tumben jam segini sudah pulang, Mas? Biasanya pulang habis magrib.”


 


“Kan Bunda lagi sakit, Bi. Memangnya Bunda sakit apa, sih? Tadi pagi masih sarapan bareng, siang sudah sakit saja.”

__ADS_1


 


Bi Tuti menghentikan langkahnya. Kening yang dihiasi keringat halus itu berkerut rapat. Detik berikutnya malah menggaruk kepala yang jelas-jelas tidak gatal. “Ibu nggak sakit, Mas. Ibu sehat walafiat, malah lagi makan sama Bu Sekar dan Pak Fajar.”


 


Mendengar nama Bu Sekar dan Pak Fajar sedikit membuat Ibra curiga. Omong-omong, mereka berdua adalah tetangga depan rumah. Hal yang sedikit janggal adalah, formasi kumpul mereka yang lengkap. Tumben sekali.


 


Sepanjang pertemanan, mereka bisa berkumpul dengan formasi lengkap adalah hal yang langka. Bisa dihitung dengan jari. Biasanya hanya Bu Sekar yang datang untuk arisan dengan Bundanya atau Pak Fajar yang biasanya main catur bareng Papanya. Keempatnya jarang sekali kumpul dalam satu waktu. Kalaupun sampai terjadi biasanya ada hal penting yang perlu dirembukkan tujuh hari tujuh malam.


 


Tak mau berpikir yang aneh-aneh Ibra mengikuti Bibi ke ruang belakang. Area terbuka yang sering digunakan untuk kumpul keluarga. Sesampainya di tempat kejadian perkara, benar saja. Empat orang itu sedang asyik bercengkerama sembari menikmati hidangan sementara dirinya menyetir mobil seperti orang kesetanan.


 


“Bun,” sapa Ibra. Semua orang yang sedang asyik menikmati potongan buah itu beralih fokus padanya. Ditatap sedemikian intens sedikit membuat Ibra canggung sampai menggosok belakang lehernya demi mengurangi rasa gugup. “Katanya Bunda sakit? Kayaknya baik-baik saja, ya?” Ibra berjalan mendekati Bundanya. Mengulurkan tangan lalu mengecup lembut punggung tangan Bundanya.


 


“Tadi, sih, sakit, tapi pas liat kamu sakitnya langsung kabur.”


 


Ibra hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Bundanya. Beralih pandang pada dua tetangganya, Pak Fajar dan Bu Sekar melempar senyum begitu ketiganya beradu tatap. “Halo, Om, Tante?”


 


“Yo. Kerjaan lancar, Ib?” Ini Pak Fajar, usianya memang sudah memasuki usia lima puluh tahunan, tapi dari cara bicara dan berpakaian tak kalah santai dari pemuda usia tiga puluh tahunan. Lihat saja bagaimana dia membalas sapaan Ibra dengan gaya sok asyik.


 


“Alhamdulillah lancar, Om. Tumben, nih, kumpul-kumpul, lagi ada rencana bisnis apalagi?”


 


“Kamu tahu saja kalau kita mau ada bisnis, Ib.” Pak Fajar menyeruput kopi miliknya dan di akhir tegukan dia mengeluarkan kalimat ‘ah’ yang cukup nyaring. “Sekalian minta saran dari kamu juga.”


 


“Kamu duduk dulu. Niatnya Papa sama Om Fajar mau bisnis jual beli ikan lele, Ib. Gimana menurut kamu prospeknya?” Ini Papanya – Dika Mahendra.


 


Setelah pensiun dan menyerahkan perusahaan pada Ibra, Dika tetap tidak mau diam. Ada banyak bisnis yang dia dan teman sekaligus tetangganya itu geluti. Dari jual beli air galon sampai jual beli bekicot.


 


“Bisnis jual beli bekicotnya gagal, Pa?” Pertanyaan wajar karena semua bisnis yang mereka jalani tak ada yang sukses satu pun. Hanya membuat Ibra pusing setiap kali Papahnya uring-uringan karena merugi.


 


Terakhir kali, sebelum bisnis bekicot keduanya berternak burung puyuh, tapi gagal karena burungnya pada kabur.


 


Di kursi seberang Pak Fajar malah tertawa terbahak-bahak sampai bahunya berguncang. “Gagal itu, Ib. Bekicotnya pada mati, sebagian ada yang kabur juga. Mungkin nggak betah soalnya kandangnya panas.”


 


Belum sempat Ibra menanggapi. Papanya malah ikut tertawa. “Seharusnya kita pasang AC, Pak. Paling nggak kasih kipas angin supaya bekicotnya betah.”


 


Demi bumi dan seisinya Ibra tidak mau berurusan dengan dua orang ini. Dia yakin kalau bundanya berbohong setiap kali menceritakan soal masa muda papanya. Sangat bertolak belakang.


 

__ADS_1


Dalam cerita versi bundanya. Papanya adalah laki-laki yang berwibawa dan karismatik. Dingin dan tegas dalam urusan tertentu. Namun, yang sekarang duduk di sampingnya jauh dari deskripsi di atas. Dika Mahendra yang ini lebih seperti ... sudahlah lupakan saja.



__ADS_2