Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Jangan Hina Ayahku


__ADS_3

“Aku tidak peduli dan tidak ingin ikut campur dengan urusanmu, tidak ada sedikit pun yang menarik dari hidupmu. Tetapi jika kau sakit karena makanan tidak sehat itu, kau tetap akan menyusahkan aku, bukan?” Kata Dika.


“Waaah.... Pedasnya, seingatku aku tidak menambahkan cabai di dalam mie instans ini. Kenapa rasanya pedas sekali.” Kinar mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut seraya memberi isyarat jika dirinya sedang berusaha menghilangkan rasa pedas.


“Kau sedang menyindir aku, Kinara?” Dika mencoba menebak-nebak kalimat yang di lontarkan Kinara.


“Iya, aku sedang menyindirmu. Memangnya kenapa? Kau marah? Bagaimana denganku? Apa kau tidak mengerti, Dika? Jika kata-kata yang keluar dari mulutmu itu tidak memiliki manfaat apa pun, bahkan sampai melukai hati orang lain. Bukankah lebih baik kau diam? Apa otakmu bermasalah? Coba dekatkan dirimu dengan Tuhan, mungkin saja kau bisa lebih baik dalam berkata-kata dan tidak lagi menyakiti perasaan orang lain.” Kinar menatap tajam wajah Dika, Dika berjalan mendekati Kinar dengan ekspresi menakutkan dan mendaratkan kasar kedua tangannya di atas meja makan lalu menggebraknya.


Braakkk...


“Apa ayahmu tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu, Kinara?” kata Dika.


Mata Kinara terbelalak, membulat sempurna begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya. “Karena ayahku yang begitu hebat mengajarkan sopan santun padaku, maka aib dan kelakuan burukmu padaku sampai detik ini belum tersebar keluar rumah. Karena sopan santun yang diajarkan ayahku, aku tidak pernah menuntut lebih padamu. Bahkan ketika kau tidak pernah memeperlakukan aku selayaknya aku ini istrimu, aku memilih untuk diam karena ayahku yang mengajarkan aku sopan santun untuk menutupi kesalahanmu. Kau berhutang banyak pada ayahku, Dika. Kau tidak berhak berkata buruk tentang ayahku, Dika. Hiksss..” Kinar terisak, air mata menganak sungai membasahi pipinya. Dari dulu Kinara tidak pernah rela ibu dan ayahnya dipermalukan atau menjadi bahan pembicaraan siapa pun. Tidak ada satu pun manusia yang berhak menghakimi kedua orang tuanya kecuali Tuhan.


“Aku tidak bermaksud seperti itu, Kinar.” Suara Dika mulai melunak.


“Lalu apa maksudmu, Dika? Dengarkan aku baik-baik, kau boleh menghinaku, kau boleh menindasku, meskipun aku tidak akan diam saja, tetapi jangan sekali-kali kau merendahkan ayah dan ibuku. Jika bukan karena kehebatan ayah dan ibu dalam mendidik dan mengajarkan sopan santun padaku, tamatlah riwayatmu, Dika. Mungkin namamu sudah ada dibaris paling depan di semua berita cetak dengan judul Kekerasan dalam rumah tangga. Seorang pengusaha kaya raya bernama Dika Mahendra telah melakukan KDRT dan menampar istrinya yang dia nikahi secara sah di mata agama dan negara, mungkin seperti itu kurang lebih isi beritanya. Dengan sedikit bumbu-bumbu yang akan membuat berita itu terdengar semakin panas. Maka sudah bisa dipastikan nama baikmu akan hancur, bisnismu akan mengalmi kerugian, nilai sahammu akan anjlok, dan masih banyak lagi kehncuran yang akan kau hadapi. Tetapi karena ayahku, kau masih bisa bernapas lega." Kinar masih terisak dengan napas yang mulai tersengal.

__ADS_1


"Jadi, jangan banyak bicara jika yang keluar dari mulutmu hanya untuk menguji sampai di mana batas kekuatanku. Karena kau akan bergidik ketakutan jika tahu gadis yang kau nikahi adalah gadis liar yang bisa mencabik-cabik hidupmu dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping.” Kinara menghapus kasar air matanya, ia mendongakkan wajahnya dan membalas tatapan tajam suaminya meski dengan napas tersengal, namun tidak terlihat sedikit pun rona ketakutan di wajah Kinara.


“Jaga bicaramu, Kinar!! Aku ini suamimu. Kau harus lebih hormat padaku. Surgamu sudah bukan lagi ada pada ibumu, tetapi ada padaku.” Dika berteriak sembari menatap tajam, tatapan matanya bahkan bisa menggetarkan jiwa Kinara. Namun Kinara berusaha sekuat tenaga untuk terlihat kuat di hadapan laki-laki congkak seperti Dika Mahendra.


“Pefff.. hahaha...” Kinar tertawa terbahak.


“Apa menurutmu ini lucu? kau tidak percaya jika surgamu ada padaku?” Dika bersungut.


“Aku tidak pernah meragukan hal itu sedikit pun, Dika. Tetapi jika boleh aku ingin mengatakan beberapa hal padamu. Pertama, kau menempatkan aku di kamar paliiiiiing belakang. Diujung sana..." Kinar menunjuk sembarang tempat.


Kinar menghela napas sebelum kembali membuka mulutnya. “Ketiga, kau memasukkan aku ke kampus bergengsi dengan status beasiswa. Terlihat jelas kau ingin merendahkan aku, memperlihatkan padaku di mana derajatku yang sesungguhnya. Keempat, kau masih mencintai wanita lain. Mematri nama wanita lain di hatimu selain nama istrimu, hal itu akan menjadi sebuah dosa besar yang akan kau tanggung seumur hidupmu! Bahkan aku ingat betul kau menghujani aku dengan cacian dan makian ketika tangan kotorku ini tidak sengaja menyentuh foto wanita yang kau cintai itu.” Kinar mendengus menunjukkan tangannya lalu meraih gelas dan menuangkan air mineral lalu meneguknya sampai habis.


“Kelima, kau memintaku untuk manandatangani surat perjanjian perceraian, belum genap satu bulan aku menjadi istrimu dan kau memintaku untuk menandatangani surat terkutuk itu. Apa kau yakin hatimu tidak sedang bermasalah? Keenam... ah sudahlah terlalu banyak keburukanmu yang bahkan tidak akan selesai aku ceritakan meski memakan waktu berjam-jam. Bukankah alasan-alasan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu sadar jika dirimu tidak pantas disebut seorang suami. Aku tidak pernah lupa jika surgaku ada padamu, tetapi keberkahan hidupmu tetap ada padaku. Kau tahu? Doa istrimu ini bahkan bisa mengguncang langit. Tetapi bagaimana aku bisa mendoakan kebaikan untukmu, Dika. Sementara aku sendiri tidak tahu apakah aku ini istrimu atau musuhmu.” Kinar kembali menarik napas, mencoba mengatur ritme napasnya.


Dika terdiam mencoba mencerna semua kalimat yang diucapkan Kinara. Meski hatinya mengakui semua kebenaran yang keluar dari mulut Kinara, namun keangkuhan hatinya membuat Dika tidak pernah sudi berlaku lembut pada Kinara.


Sepersekian menit mulutnya kembali menganga. "Kenapa kau membahas hal-hal yang tidak penting seperti itu, aku hanya mengingatkanmu jika karena makanan tidak sehat itu kau jatuh sakit, maka aku tidak akan sudi mengantarmu ke dokter dan tidak akan merawatmu!!” Dika mulai berteriak.

__ADS_1


“Kau bilang hal ini tidak penting?! Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu." Kinar mendengus, ia kesal bukan main dengan kelakuan suaminya.


Aku rasa otak laki-laki ini benar-benar gesrek. Kinar menggerutu, tentu hanya dilakukannya di dalam hati. Bukan karena Kinar tidak berani menyuarakannya, melainkan karena tidak ingin berdebat terlalu lama dengan laki-laki berhati batu seperti Dika.


“Dika, bisakah kau sedikit mendekat?” Kinar memainkan jari telunjuknya memberi isyarat agar Dika sedikit mendekat padanya.


“Mau apa kau? Aku tidak akan terpesona olehmu.” Kata Dika.


“Kalau begitu mendekatlah, aku ini bukan wanita yang sesuai seleramu, kan? Jadi sedekat apa pun kita seharusnya tidak masalah bagimu, kemarilah.” Kinar kembali memainkan jarinya. Meski ragu namun pada akhirnya Dika mendekatkan wajahnya.


Kinar mendekatkan mulutnya di telinga Dika. “Dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan, Dika Mahendra. Jika aku sakit karena makanan tidak sehat itu atau karena apa pun maka aku akan pergi ke dokter dengan kedua kakiku sendiri, meski aku harus merangkak. Aku tidak akan meminta bantuanmu sedikit pun. Jadi sebaiknya kau pergi dari sini, selera makanku bisa rusak karena cara bicaramu yang sangat pedas.” Kata Kinar.


\=\=\=>Bersambung 💕💕


Ingat VOTE yah.. jangan cuma minta up tapi gak kasih VOTE, ok.


Please, Klik Like.. Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah ☺

__ADS_1


__ADS_2