Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Aku Tidak Butuh Itu


__ADS_3

Saat ini Kinara tidak butuh ucapan ‘yang sabar’ atau ‘yang ikhlas’ dan sejenisnya. Karena berada dalam satu atap dengan manusia berhati batu seperti Dika lebih dari cukup untuk membuat Kinara mengerti seperti apa kesabaran dan keihklasan yang sesungguhnya.


Tidak, dia tidak butuh kuliah panjang kali lebar untuk mengerti apa arti hidup ini, karena Dika Mahendra adalah media yang paling nyata untuk melatih kesabaran dan keikhlasannya.


Ketika ini, yang Kinara butuhkan hanya diam, menghabiskan beberapa menit untuk menangis dan berdamai dengan hatinya, lalu tersenyum menerima takdirnya.


Apakah dia harus menyerah? Atau bertahan meski menyakitkan? Semua pilihan ada padanya.


“Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku belum mencapai batasku. Tidak, Tuhan. Ini satu-satunya keinginan ayahku, amanat yang harus aku emban seumur hidupku. Sampai waktunya tiba, ketika maut menjemputku.” Gumam Kinara dari balik selimut.


Perlahan dia melepaskan diri dari selimut, memusatkan seluruh kekuatan di kedua tangannya dan menarik tubuhnya untuk bersandar di punggung kursi.


Sedikit demi sedikit setelah kondisinya mulai membaik Kinara turun dari ranjang, berjalan mendekati kamar mandi. Menanggalkan seluruh pakaiannya, dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Kinara mengguyur tubuhnya derkali-kali, pergelangan tangannya memerah, cengkraman tangan Dika dan ikatan dasi yang sangat kuat sampai meninggalkan bekas kemerahan.


Bahkan tangan Kinara bergetar ketika mengangkat segayung air, tak ubahnya pesakitan yang kehabisan seluruh tenaga.


Dia mulai menggosok kasar seluruh tubuhnya, terlebih pada bagian yang disentuh paksa oleh Dika. Kinara hanya berharap aroma tubuh suaminya yang telah bercampur menjadi satu itu bisa menghilang, bersamaan dengan guyuran air dan berakhir di selokan.


Bukankah seharusnya di situ tempat yang


pantas?


Karena Kinara merasa penghinaan dari Dika harus pergi ke tempat yang sama kotornya.


Kinara menundukkan kepala, terisak untuk waktu yang lama. Setelah cukup puas dia meraih handuk yang tergantung di gantungan besi seharga 10ribu, banyak di jumpai di pasar malam.


Segera melilitkannya, keluar dari kamar mandi dan menghampiri lemari baju, ketika kaca pajang di lemari baju menampakkan pantulan tubuhnya, Kinara kembali terisak. Nampak bekas cengkraman tangan Dika di lehernya, bekas gigitan di sana sini, stempel kepemilikkan itu sepertinya tidak tahu tempat. Terpampang dalam tiap inci lekuk leher dan pundaknya.


“Aku tidak peduli, benar-benar tidak peduli. Aku kuat, dari dulu aku kuat.” Gumam Kinara sembari membolak-balik baju miliknya. Dia hanya


mencoba menguatkan dirinya, karena dia hanya punya Tuhan.


Siap lagi yang bisa menguatkan jika bukan dirinya sendiri.


“Haaah....” Kinara melenguh panjang.

__ADS_1


“Aku bahkan tidak memiliki baju yang bisa menutupi seluruh bagian leher, bahkan syalpun aku tidak punya.


Besok masih ada jadwal kuliah.”


Setelah cukup lama mematung, akhirnya Kinara memilih salah satu kaus yang cukup rapat di bagian pundak dan berlengan panjang, meski tidak bisa menutupi semuanya.


Tetapi cukup untuk mengurangi banyaknya tanda merah yang terlihat.


Setidaknya untuk malam ini.


Lalu bagaimana dengan besok? mari adu keberuntungan dengan Tuhan, siapa yang tahu kapan dan di mana bantuan itu datang. Pikirnya.


Setelah berpakaian dia duduk di tepi ranjang, meraih ponsel di atas meja belajar dan melakukan panggilan.


“Hallo, Kinara.” Suara Alisa dari seberang sana.


“Alisa, kau tahu pasar yang menjual baju-baju murah tidak?” Kinara melipat kedua kakinya di atas kasur.


“Hmmm....” diam sebentar. Hening, hanya terdengar suara kipas angin. “Oh, ada. Tapi sekarang sih sudah tutup, besok siang bagaimana? Setelah pulang kuliah. Nanti aku antarkan.” Kata Alisa.


Kau tidak mengerti, Alisa. Aku butuh baju itu sekarang, bukan besok. Lalu aku harus bagaimana? Batin Kinara.


“Kinara?”


“Ah, ya. Nanti aku kabari lagi yah. Bye, Alisa. ”


Begitu sambungan telepon terputus, Kinara melempar handphone itu dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Malang benar nasibmu, Kinara. Kau bahkan tidak memiliki siapapun untuk sekadar berbagi cerita dan meringankan dukamu. Tidak memiliki siapapun. Batinnya, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak berapa lama sampai dia kembali bangun, turun dari ranjang dan berkelling mencari pil penunda kehamilan yang diberikan Dika beberapa waktu lalu.


“Itu dia.” Katanya begitu melihat pil itu ada di sekitar meja belajarnya, segera dia meraih dan menggengam erat pil itu. "Pil terkutuk ini tidak akan aku minum barang sebutirpun. Jika kau meminta berperang denganku, aku siap meski harus mengorbankan banyak air mata." gumamnya.


Dia melangkah keluar dari dalam kamar, matanya berkeliling mencari keberadaan orang yang paling bertanggung jawab dengan keadaannya saat ini.


“Ken.” Kinara mendekati Ken yang sedang berbicara dengan pak Budi, keduanya terlihat serius.


Memangnya pembicaraan macam apa? Sampai mereka seserius itu? Ah, itu terserah mereka saja. Pikirnya.

__ADS_1


Kinara tidak ingin ikut campur hal yang bukan urusannya.


“Iya, Nyonya.” Ken mengibaskan tangan pada Pak budi dan membuat pak Budi undur diri. Sebelum pergi beliau sempat menundukkan kepala kepada Kinara.


Sudah berulang kali Kinara melarang pak Budi bersikap sopan padanya, “Aku lebih muda dari bapak, seharusnya aku yang menghormati bapak. Bukan sebaliknya.” Seperti itu waktu Kinara bersikeras. Tetapi pak Budi jauh lebih ngotot dan akhirnya Kinara menyerah. Jadilah dia selalu tidak enak hati begitu bertemu dengan pak Budi.


“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya.” Ken membungkuk setengah badan, dia sempat melihat beberapa bekas merah di tubuh Kinara.


Ken terkejut, sampai matanya hampir membulat dan mulutnya menganga. Untung saja dia cepat menguasai dirinya.


“Di mana, Dika?” tanya Kinara.


“Tuan ada di ruang kerja, Nyonya.” jawab Ken.


“Antarkan aku ke sana, Ken.” Pinta Kinara.


“Apakah anda ada perlu dengan, tuan?” Ken hanya mengulur waktu, setiap kali Kinara bertanya keberadaan Dika pasti selalu memiliki alasan yang kuat. Karena Kinara tidak akan mencari suaminya jika bukan ada hal mendesak yang harus dibicarakan. “Biar aku pastikan apakah tuan masih sibuk atau tidak. Mohon maafkan saya, Nyonya. Ini karena tuan tidak suka diganggu.” Lanjutnya.


“Aku yang akan menemuinya, aku yang akan menjelaskan padanya.” Kinara memaksa.


Ken mengernyitkan dahinya, menyetel mode tenang. “Begini, nyonya. Percayalah padaku, sebaiknya nyonya tunggu tuan di ruang keluarga.” Ken mempersilakan Kinara dengan sopan. “Saya akan segera menemui tuan.” Ken undur diri sembari membungkukkan badan.


Ada alasan kuat mengapa Ken tidak membiarkan Kinara memasuki ruang kerja Dika.


Alasan yang paling utama adalah keberadaan foto-foto Carissa yang bertebaran hampir di tiap sudut dinding ruang kerja suaminya. Terpasang rapi, terjaga dan tidak tersentuh tangan siapapun kecuali tangan pemiliknya, Dika Mahendra.


Ken hanya tidak ingin Kinara merasakan derita yang silih berganti, tiada habisnya demi hidup bersama Dika.


Sepuluh menit kemudian.


“Kau mencariku.” Datang dari belakang. “Ada perlu apa?” Dika duduk di salah satu sofa yang menghadap langsung ke arah Kinara, menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kedua kakinya. Pemandangan yang sudah biasa dilihat Kinara.


“Aku hanya ingin mengembalikan ini.” meletakan dan nyodorkan pil penunda kehamilan di atas meja. “Aku tidak membutuhkannya.” Lanjutnya.


\=\=\=\=\=> Bersambung......


Tinggalkan jejak cinta kalian.. KLIK LIKE, FAVORIT, RATE BINTANG 5 DAN VOTE YANG BANYAK.... 😊❤️

__ADS_1


Jangan lupa Mampir di novel Romance Fantasi..


REINKARNASI DUA BINTANG... karya AGUS PRIATNA.. DIJAMIN SERU.... 🙏❤️


__ADS_2