
Mendengar suara handphone terjatuh bibi Ane segera mendekati ruang teve.
"Ya Allah, Nyonya. Kenapa? Apa perut Anda bereaksi lagi?" tanya bibi Ane khawatir ketika melihat Kinara memegang handphone dengan tangan bergetar.
"Agra, Bi. Agra ...." Suara Kinara tertahan.
"Ada ap dengan Tuan Muda Agra?" bibi Ane ikut panik. Melihat Kinara menangis pikiran liar bibi Ane mulai mengembara ke mana-mana.
Bibi Ane segera memapah tubuh Kinara untuk duduk di kursi. Dia segera berlari ke dapur, sesaat kemudian bibi Ane kembali dengan segelas air hangat.
“Minum dulu, Nyonya. Setelah tenang baru Nyonya ceritakan semuanya pada saya.” Menyodorkan segelas air.
Kinara menerima gelas itu, masih dengan tangan bergetar, hanya dua tegukan tidak lebih. Selebihnya dia memilih untuk meletakan air itu di atas meja, lalu tangannya kembali bergerak melihat kelayar handphone. “Lihat ini, Bi,” ucapnya sembari memperlihatkan layar handphone yang menampakan berita pertunangan Agra.
Wajah Agra dan Allen terpampang jelas di sana.
“Allahu Akbar.” Tak kalah terkejut dari Kinara, bibi Ane pun sampai menggelengkan kepala sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Mungkin ini berita palsu, Nyonya.”
“Itu tidak mungkin, Bi. Agra adalah anak dari pemilik kampus. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya tentang berita palsu, ini pasti berita asli.” Kinara menangis tersedu memandangi berita itu. “Malang sekali nasib cintaku, Bi.” Menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Menikah dengan orang yang membenciku, dia menyiksaku lahir batin. Setelah aku mencoba bangkit dan percaya bahwa nasib cintaku tidak seburuk itu, ternyata Tuhan berkata lain.”
Bibi Ane memandang lekat Nyonya mudanya, bahu Kinara berguncang. Jelas sekali Kinara sedang menangis, tetapi berusaha menyembunyikan dari bibi Ane. Ragu, tetapi bibi Ane mencoba meraih bahu Kinara dan menariknya dalam pelukan diikuti elusan di punggung Kinara.
Tangis Kinara semakin pecah setelah menerima pelukan dari bibi Ane, serasa dirinya sedang dipeluk oleh ibunya yang jauh di sana. Kedua tangannya saling meremas. Sesaat kemudian dia melepaskan pelukan bibi Ane dan meraih handphone.
Dicarinya nama Agra. Beberapa pesan teks sudah dia kirimkan pada laki-laki yang telah mencuri hatinya itu. Namun, setelah beberapa menit berlalu dan tidak ada balasan, Kinara pun mencoba menghubungi Agra.
Nihil, meskipun terhubung, tetapi tidak ada jawaban dari seberang sana. Kinara tidak menyerah, dia melakukan panggilan ulang. Dan hasilnya justru lebih menyakitkan, handphone Agra sudah tidak aktif.
Kinara tertegun, di pandangnya lagi wajah Agra yang terpampang di bagian depan berita. Hatinya sakit, baru saja dia percaya jika Agra bisa membawanya keluar dari kisah cintanya yang malang. Namun, yang sekarang terjadi sama buruknya dengan pernikahan tanpa cinta yang dia jalani dengan Dika. Apa gunanya mencintai, tetapi tidak bisa memiliki. Dan lebih parahnya lagi, laki-laki yang dia cintai adalah milik wanita lain.
Apa mau-Mu, Tuhan? Tidakkah ini terlalu kejam untukku? Kenapa cobaan hidupku bertindih-tindih seperti ini? batin Kinara.
Ketika berada dalam titik terendah tiba-tiba sebuah ketukan terdengar dari balik pintu. Kinara segera berhambur, menghampiri pintu dan berharap sosok Agra yang ada di balik pintu itu. Muluntnya terus merapal do’a, semoga Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bahagia. Namun, harapan itu sirna begitu pintu terbuka.
“Kau?” Sambutan kecewa Kinara langsung dilihat Dika. “Bagiamana kau ada di sini?” tanya Kinara dengan mata basah. Gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
Dika tertegun, menatap lekat wajah Kinara. Betapa sakitnya melihat wanita yang dicintainya sedang menangisi laki-laki lain.
Apakah ini yang kau rasakan ketika aku mengabaikanmu dan lebih mementingkan Carissa? Apa rasanya sesakit ini, Kinara? batin Dika.
🍃Flashback on🍃
Dua jam sebelumnya.
Rumah Agra selepas Allen dan ibunya pulang.
“Aku tidak mau, Mah!” teriakan Agra menggema di ruangan itu diikuti gebrakan di meja. Dia bangkit dab bergerak menjauh.
Dari arah berlawanan. Roy Grissham, ayah dari Agra Grissham datang. Di lemparnya tas kerja itu ke atas sofa, dia mengendurkan ikatan dasi di lehernya.
“Dasar anak kurang ajar!”
Sebuah tamparan jatuh di pipi Agra, laki-laki paruh baya dengan setelan jas hitam itu mulai tidak sabaran. Dicengkeramnya kerah baju Agra.
“Mau tidak mau kau tetap harus bertunangan dengan Allen.” Perintah Roy seperti sambaran petir di siang bolong.
“Aku tidak peduli! Kau harus tetap bertunangan dengan Allen.”
“Aku tidak mau menjadi alat untuk ambisimu, Pah! Aku ini bukan barang yang bisa diperjual belikan. Jika ingin bekerja sama dengan keluarga Caitlin kenapa bukan Papah saja yang menikah dengan Allen.” Agra tersenyum sarkas di bawah cengkeraman tangan kokoh ayahnya.
“Kau benar-benar membuatku kecewa, Agra!”
Buug ...!
Kali ini sebuah pukulan jatuh di pipi yang satunya. Saking kuatnya pukulan yang dilayangkan Roy, Agra sampai tersungkur, jatuh di atas keramik. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, diusapnya kasar bekas pukulan ayahnya.
Agra tertawa kecil, dia bangun dengan tertatih. Bertumpu pada kedua telapak tangannya. “Pukul aku, Pah. Pukul sepuas hati Papah!” Agra menepuk-nepuk pipinya. “Aku lebih baik mati daripada harus tunangan dengan Allen.”
“Apa kurangnya, Allen?”
“Tidak ada! Aku hanya tidak mencintainya.”
__ADS_1
“Kau pikir cinta bisa membuatmu kenyang, hah?!” suara Roy semakin meninggi.
Lusi yang melihat perdebatan suami dan putranya hanya bisa mengurut pelipisnya. Dua laki-laki itu sama-sama keras kepala dan susah dijinakan.
“Setidaknya cinta bisa membuatku bahagia, aku tidak ingin hidup satu atap dengan wanita yang tidak aku cintai, Pah,” kata Agra dengan napas tersengal.
“Anak ini benar-benar!” Roy meraih vas bunga yang berada di dekatnya dan mengangkat tinggi-tinggi.
Alih-alih menghindar, Agra justru berdiri semakin mantap dengan tatapan tanpa ketakutan.
“Cukup, Pah. Cukup!” Lusi berdiri tepat di depan Agra sembari merentangkan kedua tangannya. Jika tidak dihentikan, tidak menutup kemungkinan vas bunga itu berakhir di kepala Agra. “Dia anak kita, Pah. Anak satu-satunya, tolong jangan terpancing emosi. Mamah akan membujuknya.”
“Arrgghh ...!" Roy membanting vas itu ke lantai.
“Kau tidak apa-apa, Sayang?” Lusi mengelus wajah putra semata wayangnya itu. Air matanya mengalir deras melihat darah yang mengalir dari ujung bibir Agra.
“Kenapa kau harus melawan perintah Papahmu?” Lusi menarik putranya ke dalam pelukan, keduanya menangis tersedu.
Sementara Roy sedang duduk di sofa sembari menyalakan sebatang rokok. “Dasar anak tidak tahu diri!” gerutunya di tengah kesibukan menghisap rokok.
“Jangan di dengarkan,” bisik Lusi, “Papahmu memang keras kepala, kau harus sabar menghadapinya. Sekarang kau masuk ke kamar, yah.” Lusi membelai lembut pipi Agra dan merapikan tatanan rambut putranya yang berantakan. “Masuk.” Anggukan kepala lusi penuh harap.
“Jangan harap aku akan melunak melihat air matamu!” kata Roy masih duduk dengan santainya. “Siapa wanita itu. Aku dengar namanya, Kinara ...,” ucap Roy sembari mematika putung rokok.
Agra tersentak mendengar nama Kinara yang keluar dari mulut Papahnya yang diktator. Sejak kapan Roy menyelidiki tentang dirinya dan Kinara? Sudah sejauh mana tindakan yang Roy ambil untuk memisahkan dia dan Kinara. Begitu banyak pertanyaan yang berkelebat di benak Agra.
Roy tidak akan ragu menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya, termasuk Kinara.
Bersambung....
.
.
Mana nih like sama votenya. Bantu TCK masuk 10 besar dong nakanak. Kalau kalian rajin Vote emak juga semangat upnya. Sekali lagi emak ingetin, jangan lupa LIKE, KOMENTAR, VOTE, DAN KLIK FAVORIT. Biar kalau novel ini up kalian dapat notifnya.
__ADS_1