Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Dasar Tengik!


__ADS_3

“Ngomong-ngomong sedang apa kamu di sini? Di toko perlengkapan bayi.” Niki mengernyitkan alisnya. Yang Niki tahu, Dika hanya memiliki satu saudara perempuan yaitu Namira, anak dari adik ibunya. Lagi pula Mira tinggal di luar negri. Jadi rasanya sedikit aneh jika dia berada di toko peralatan bayi.


“Biasa, suami siaga. Kamu sendiri?”


Niki terkejut mendengar pengakuan Dika tentang ‘suami siaga’. Matanya sampai membulat dengan mulut yang sedikit terbuka. Setahu Niki Dika adalah pengusaha terkenal, tidak mungkin pernikahannya tidak terekspos media. Selama ini dia tidak pernah mendengar berita tentang pernikahan Dika. Kecuali itu adalah pernikahan rahasia yang tidak ingin diketahui publik.


“Aku sedang mencari kado untuk saudaraku yang baru melahirkan. Kau sungguh sudah menikah? Kau sedang bercanda, yah? Mana mungkin kau sudah beristri. Jangan bercanda, ah.” Memukul lengan Dika.


Pukul terooos, seharusnya kau memukulnya pakai sandal. Apa gunanya sepatu hak tinggi yang kau gunakan jika bukan untuk memukul laki-laki seperti Dika. Kinara membatin sembari memperhatikan Dika yang cengengesan dan Niki yang bertingkah genit.


“Serius. Malah akan segera menjadi ayah.”


Niki semakin terkejut. “Are you kidding, me?”


“Apa wajahku terlihat bercanda?”


Niki menelan salivanya. Dia kecewa mendengar Dika sudah menikah. Dari dulu dia pernah sangat menyukai laki-laki angkuh itu, tetapi belum memiliki keberanian dan kesempatan untuk mengutarakannya. “Dengan Carissa, yah?”


“Bukan.”


Niki tersenyum sinis. Jika bukan dengan Carissa tentu saja Niki tidak akan percaya. Selama mengenal Dika, yang Niki tahu satu-satunya wanita yang dicintai Dika adalah Carissa.


“Berarti kau belum menikah.” Niki tertawa genit.


Dasar genit, kau tidak lihat ada aku dengan perut buncit begini sedang duduk? Apa kau tuli? Harus berapa kali Dika bilang kalau dia sudah menikah? Saatnya kita beraksi, Nak. Kinara meraba perutnya. “Ahhhh ....”


“Kenapa, Sayang?” Dika langsung berhambur menghampiri Kinara. Bahkan baju anak yang sedang dia pegang terlempar begitu saja. “Perutmu sakit?” Berjongkok sambil meraba perut Kinara.


Mulai berakting. “Mungkin aku kelelahan. Ahhh ....” Menyandarkan tubuhnya di kepala sofa. Memegang keningnya seolah benar-benar lelah. Sungguh itu hanya akting, dia bahkan sudah menghabiskan dua gelas susu dan empat potong martabak manis semenjak di toko. Kinara tidak berkeliling toko, bagaimana mungkin dia merasa lelah.


Mulai panik. “Apanya yang sakit? Aku harus menelfon Ken!” Mengeluarkan handphone dari saku celana.


“Tidak! Aku sedang tidak ingin melihat, Ken. Dia menyebalkan!” seru Kinara. Akan sangat merepotkan jika Dika menghubungi Ken dan meminta orang-orangnya ke toko, aku 'kan hanya pura-pura. Maafkan aku, Ken. untuk sementara aku harus membuatmu menjadi kambing hitam, batin Kinara.


“Jadi bagaimana? Mas bingung.” Mengacak-acak rambutnya sendiri.


Rasakan itu. Siapa suruh kau bercengkrama dengan wanita lain di depanku, batin Kinara.


“Ah, sakit ... aduh.” Menurunkan tubuhnya dengan sangat hati-hati. “Aku ingin rebahan.”


Dika menggeser bantal sofa untuk sandaran kepala Kinara, tetapi Kinara membuangnya. “Aku tidak mau bantal. Bantalnya bau tengik dan terlihat menyebalkan.”


“Bagaiamana mungkin bantal bau tengik, Sayang? Itu bukan kue."


"Jadi Mas tidak percaya padaku?" Ekspresi memelas.


"Percaya, Sayang, percaya." Mengambil bantal. "Bantal ini bau tengik dan sangat menyebalkan.” Wajah Dika terlihat menyedihkan.


"Jadi kau mau bantal lain, Sayang." Memutar kepalanya. Mencari pelayan toko. "Biar Mas yang pilihkan."

__ADS_1


"Tidak! Semua bantal di toko ini menyebalkan. Kau juga menyebalkan." Memukul lengan Dika. "Dan bau tengik!"


Dika mengendus, merasakan aroma tubuhnya sendiri. Seumur hidup baru kali ini ada yang mengatakan aku bau tengik. Apa di matanya aku terlihat seperti kue lebaran yang jamuran?


Ini belum seberapa. “Pokoknya semuanya menyebalkan!"


Dika kesal. Dia melempar bantal itu. “Buang bantalnya! Yang jauh!” titahnya pada salah seorang pelayan. "Bantalnya TENGIK! TENGIK!" Dika mengeraskan suaranya. Mengulang kata 'Tengik'.


Salah seorang pelayan segera memungut bantal itu. Dia langsung mencium aromanya. Tidak ada yang salah dengan baunya, bantalnya wangi. “Anda mau bantal lain, Tuan. Kami memiliki beberapa yang masih baru." Memberi penawaran.


Kinara menggeleng pelan ketika Dika tidak melihatnya. Jangan rusak rencanaku.


"Benar ada yang baru?!" Bertanya dengan wajah menyeramkan.


"Be-benar, Tuan. Masih tertutup rapat," jawab pelayan itu tergagap karena takut melihat ekapresi wajah Dika.


“Kau mau bantal yang seperti apa, Sayang?” Ekspresi wajah manis. Berubah 100 derajat ketika bicara dengan Kinara.


Niki berjalan mendekat. "Mungkin dia tidak ingin pakai bantal," katanya. Niki tidak percaya seorang Dika Mahendra yang angkuh bisa tunduk di hadapan Kinara.


"Sayang, jujurlah. Kau ingin apa? Apa kita harus pulang?"


Cih, pulang. Yang benar saja. Aku masih belum puas mengerjai kalian, “Aku mau kau. Aku mau tidur di pahamu.” Bertingkah manis. “Tidak mau bantal atau apa pun.”


“Baiklah.” Penurut. Langsung duduk dan memegang kepala Kinara dengan penuh cinta. Menurunkan perlahan. “Bagaimana? Nyaman?”


“Ehem ....” Niki berdehem. Ketika mata Kinara dan Niki beradu. Niki menyunggingkan senyum sarkas. “Jadi kau benar-benar sudah menikah?” bertanya tidak percaya.


“Iya, seperti yang kau lihat. Dia ini istriku. Wanita paling cantik di dunia, dan sekarang dia sedang hamil anakku.” Mengelus perut Kinara dengan lembut.


Seharusnya kau mengenalkanku sejak awal. Dasar tengik! Kinara kesal sampai menggunakan kata tengik untuk mengumpati suaminya.


"Sayang kenalkan, dia Niki, adik kelas Mas waktu sekolah dulu. Dia teman Carissa."


Sekarang kau bahkan menyebut nama Carissa, ih aku kesal sekali. "Hahaha ...." Tertawa dramatis. Kinara mencubit paha Dika.


"Arrrh ...." Dika meringis kesakitan, tetapi tidak bisa bergerak karena Kinara sedang tidur di pangkuannya.


Niki tersenyum sinis lagi. Sebagai perempuan Niki pasti tahu jika Kinara hanya pura-pura. Semua tingkah yang Kinara tunjukan hanya karena dia cemburu. Dan itu membuat Niki semakin senang. Niki mengulurkan tangannya dengan ekspresi merendahkan. “Emmm ... Niki."


Masa istrimu seperti ini? Aku yakin dia bukan wanita terkenal, batin Niki.


Kinara tersenyum sembari menyambut uluran tangan Niki. “Kinara.”


“Senang bertemu denganmu, Kinara.”


"Senang bertemu denganmu juga, Niki." Membalas senyum Niki.


Cih, apa Dika sedang bercanda? Bagaimana mungkin dia menikahi wanita seperti ini? Cantik, sih, tapi sepertinya bukan dari keluarga kaya, aktris, ataupun model, batin Niki.

__ADS_1


“Kau benar istrinya Dika?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja ...." Niki menghentikan kalimatnya begitu melihat Dika sedang menatap tidak suka ke arahnya.


Hanya saja apa? Aku memang istrinya, kau mau apa? Ini wilayahku! Kuperingatkan, yah, jangan ganggu singa yang sedang tidur lelap jika tidak ingin wajah cantikmu rusak karena cakaran, batin Kinara.


"Dia istriku! Wanita paling cantik!" Dika menegaskan lagi. Membuat Niki menelan salivanya karena takut.


Yang benar saja, padahal kau bisa mendapatkan model atau aktris sekalipun. Kenapa memilih orang biasa sepertinya, sih? “Emm ... kehamilannya sudah berapa bulan?” Niki mengalihkan pembicaraan. Bisa bahaya jika dia terpancing lagi dan membuat Dika semakin marah.


Kau sedang berpura-pura baik? Aku tahu niat busukmu, jangan macam-macam jika masih ingin menapak di bumi. “Hahaha ... jalan delapan bulan.”


Ketika dua wanita sedang berperang tatapan sambil saling mengumpat di dalam hati. Maka ada satu laki-laki yang sedang meraba perut Kinara dengan wajah polosnya, yang dipenuhi senyum lebar. Dasar bucin!


“Memangnya sudah berapa lama kalian menikah?” tanya Niki. Masih basa-basi.


“Sudah berapa lama, yah, Sayang. Aku lupa.” Kinara memainkan dagu Dika.


“Satu tahun lebih, Sayang.” Tersenyum bahagia sambil membelai pipi Kinara.


Kau juga, tunggu saja kemarahanku. Aku bertingkah seperti ini hanya karena ingin membuat Niki kesal, jangan pikir aku lupa denganmu! Terima hukumanmu nanti, tunggu kita pulang ke rumah, batin Kinara.


“Lama juga, yah, tapi kok aku belum pernah mendengar berita tentang pernikahan kalian?" Melirik Kinara. "Secara Dika 'kan pengusaha terkenal, masa pernikahannya tidak terendus media massa. Yah, kecuali pernikahan kalian sengaja ditutup-tutupi.”


Deg ...!


Seketika perasaan Kinara berantakan begitu mendengar ucapan Niki. Memangnya apa yang bisa dia katakan? Pada dasarnya pernikahan itu hanyalah pernikahan terpaksa demi menjalankan amanat orang tua. Kinara bahkan pernah menjadi wanita terhina, sampai harus melarikan diri.


Hancur sudah! Semua rencana balas dendamnya untuk Niki. Hilang! Saat ini yang ada hanya perasaan sakit.



Emak sekalian promo yah, itu novel baru emak. Imperfect Marriage. bisa dibaca di aplikasi sebelah. Yang warna kuning. Nov*lme yah. Jangan lupa mampir dan beri dukungan. ok 😘


Bersambung.....


.


.


Dasar Niki Tengik! Bikin part ini awal2 mah iya ketawa. Akhir2nya kesel ama si Niki 😑🙄


.


.


Yang belum follow emak di igeh. Yuk follow. Ada banyak info di Igeh emak @roseelily16 termasuk info novel baru emak.

__ADS_1


__ADS_2