Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Tugas Suami Yang Baik


__ADS_3

Setelah mengantar kepergian Carissa dan Agra. Keduanya kembali ke rumah. Ada sesuatu yang menggenjal di hati Kinara. Namun, dia memilih untuk melupakan. Mirna dan Amanda pasti sudah menunggu.


Jangan sampai keduanya melihat raut wajah Kinara yang cenderung sedih. Dan benar saja, begitu keduanya sampai mereka sudah di sambut dengan sepiring penuh singkong goreng dan pisang goreng. Memiliki porsi lebih untuk menghabiskan malam di ruang keluarga.


Ken bercerita banyak hal tentang perjalanannya ke kota. Sementara Amanda dan Mirna tak ada habisnya bertanya tentang semua detail di mansion Dika. Dari ruangan sampai barang-barang mewah


yang Dika miliki, terlebih lagi dengan foto Kinara yang terpasang dihampir semua ruangan, tetapi semua fotonya sama. Tidak ada foto berbeda. Beruntung Ken bisa menjelaskan dan tidak menimbulkan kecurigaan di hati Mirna dan Amanda.


🍃Kamar🍃


“Sayang ....” Dika berjalan mendekati Kinara yang sedang duduk di kursi riasnya sembari mengeringkan rambut.


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Semuanya sudah kembali ke kamar masing-masing.


“Kenapa seharian ini kau lebih sering melamun?” Melingkarkan tangannya di pinggang Kinara. sementara kepalanya berada di pundak Kinara.


“Masa, sih?” Kinara berpura-pura bodoh dengan menggaruk kepalanya.


“Iya. Aku bisa merasakan ada yang sedang kau pikirkan.” Menyibak rambut Kinara ke sisi lain sehingga leher jenjang istrinya terlihat jelas. “Untung sekarang kau pakai kerudung, yah.” Meraba beberapa titik di leher Kinara. Fokusnya berada pada leher yang dipenuhi warna merah.


“Ih, ini semua karena perbuatanmu, ‘kan? Sudah kubilang jangan meninggalkan jejak apa pun, Mas tetap saja tidak mengerti.”


Kinara terus mengomel ketika melihat tanda merah di lehernya. Hasil karya Dika beberapa saat yang lalu.


“Ini kan bukti kalau kau hanya milik Mas.”


“Bukti tuh surat nikah, Mas.”


“Eh, surat nikah hanya benda mati. Tapi kalau tanda merah ini adalah bukti paling nyata.” Tersenyum puas.


“Tandanya juga akan hilang dalam beberapa hari.”


“Kalau hilang ya buat lagi.”


Kinara melebarkan matanya.


“Apa Mas perlu membuat tanda merah dengan nama Mas di sini.” Meraba permukaan leher Kinara. “Biar lebih jelas kalau kau hanya milik Mas.” Tangannya berangsur-angsur turun.


“Cukup, Mas.” Menangkap tangan Dika sebelum berkelana semakin jauh. “Jangan lagi, ingat apa yang dikatakan dokter Amel?”


“Cih. Iya. Mas ingat.” Dika mencibir kesal. “Demi keamanan dan kenyamanan bersama, ‘kan?”


Kinara tertawa mendengar kesimpulan Dika tentang peringatan dokter Amel.


Saat konsultasi dengan dokter Amel perihal kehamilannya, Dika sempat mengajukan pertanyaan nyeleneh.


“Apa aku boleh melakukan tugasku sebagai suami yang baik?”


Begitu kurang lebih Dika bertanya sampai membuat Kinara tersipu malu. Tentu saja dokter Amel mengerti ke mana arah pertanyaan Dika. Dia juga tidak merasa risih, karena dia memang sering mendapatkan pertanyaan serupa.


“Boleh, tetapi Tuan Muda harus ingat untuk melakukannya pelan-pelan. Mengingat kehamilan Nyonya yang baru masuk trimester ke dua.”


Jawaban itulah yang membuat Dika jengkel dan uring-uringan karena tidak bisa melakukan tugasnya dengan lebih baik lagi. “Bagiamana aku bisa mengekspresikan semuanya jika Amel berkata seperti itu?!” Begitulah hari itu dia mengumpat.


Membelai bahu Kinara. Lingeri yang dikenakan Kinara nyaris saja membuatnya hilang kendali untuk yang kedua kali. “Jadi. Apa yang membuatmu terus melamun, Sayang?”


Pertanyaan Dika membuat Kinara kembali teringat dengan kejadian beberapa jam lalu. Tepatnya ketika dia di bandara.

__ADS_1


“Kau sedih karena Agra pergi? Atau kau masih berharap padanya?” tebak Dika.


Mendengar pertanyaan Dika seketika Kinara menoleh. “Tidak, Mas. Itu jalan yang Agra pilih. Aku memang sering melamun, tapi bukan memikirkan soal kepergian Agra.”


“Lalu? Apa soal Carissa?”


“Bukan juga. Aku hanya penasaran apa yang terjadi dengan Agra dan Allen. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka berdua. Kalau aku bertanya pada Agra jelas tidak mungkin.”


“Ya, bertanya pada Allen saja.”


“Aku juga ingin melakukannya, tapi aku bukan termasuk sahabat baiknya, Mas. Apa dia akan bicara jujur padaku?”


“Dicoba dulu, Sayang. Besok pagi atur pertemuan dengan Allen, nanti Mas yang antar. Kau bisa minta Amanda untuk menemanimu.”


“Sepertinya jangan Amanda deh, Mas. Dia terlalu pintar, dia bisa saja menebak hubunganku dan Agra dari percakapanku dan Allen.”


“Benar juga. Ah, kau bisa meminta bantuan temanmu. Yang berkacamata itu. Siapa namanya? Ellisa yah?”


Kinara berdecak kesal. “Allisa, Mas.” Mencubit lengan Dika. “Kenapa salah terus menyebut nama temanku!”


“Aku tidak hafal nama wanita lain, Sayang. Satu-satunya yang kuhafal adalah namamu.” Mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi Kinara.


Kinara hanya tersenyum menerima perlakuan manis suaminya.


“Sekarang sudah malam kau harus istirahat.” Dika berjongkok untuk menggendong tubuh Kinara.


Jarak antara meja rias dan kasur cukup dekat, tetapi Dika ngotot ingin menggendong tubuh Kinara.


Pagi hari di mansion.


Suasana pagi jauh lebih berwarna karena adanya Amanda dan Mirna. Meja makan lebih ramai. Tidak seperti biasanya yang hanya diisi Kinara dan Dika.


Mirna sendiri sedang menikmati waktu berharganya dengan menjahit beberapa baju untuk calon cucunya.


Dika memang menyiapkan ruang jahit untuk Mirna, dia tahu dari Kinara kalau ibu mertuanya memiliki kegemaran dalam dunia menjahit dan merajut. Karena itulah Dika sampai membeli mesin jahit dan menyediakan ruangan khusus. Dia hanya ingin membahagiakan ibu dari wanita yang paling dicintainya.


Ken sudah berangkat ke kantor lebih dulu. Ada berkas yang harus dia siapkan sebelum rapat penting dimulai. Sementara Dika memilih untuk menjadi supir pribadi Kinara.


“Sudah siap, Nyonya?” ledeknya dari kursi kemudi sembari menyalakan mesin mobil.


“Siap, Boss,” jawab Kinara yang duduk di sampingnya.


Dika mendekat. Memasangkan sabuk pengaman. Ketika kedua mata mereka bertaut, Dika tidak membuang kesempatan. Dia menarik pelan leher Kinara sampai jarak keduanya dekat dan mereka berciuman untuk waktu yang cukup lama. Sepertinya ciuman ini lebih dari sekadar ciuman selamat pagi seperti biasanya.


Kinara melepaskan diri setelah merasakan napasnya terasa sesak. “Apa semalam masih belum cukup?” gerutunya.


Dika hanya tersenyum menggoda sembari menaikan alisnya. “Tidak akan pernah cukup, Sayang,” ucapnya sembari mengusap bibir Kinara yang basah dengan ibu jarinya lalu mencium bekasnya.


Mobil sudah melaju. Jalanan cukup padat, meskipun sudah masuk waktu libur sekolah. Tadi pagi Kinara sempat menghubungi Allen dan meminta agar mereka bisa bertemu. Beruntung Allen setuju.


Sebelum ke tempat pertemuan mereka, terlebih dulu Dika harus menjemput Allisa. Dika tidak percaya jika Kinara hanya bertemu berdua saja dengan Allen. Dia takut terjadi sesuatu pada istrinya. ketakutan berlebihan yang membuat Kinara bahagia.


Setelah menurunkan Kinara dan Allisa, Dika bergegas ke kantor. Ada rapat penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Jika urusan Kinara dan Allen sudah selesai, dia sendiri yang akan menjumput Kinara.


Caffe.


“Hay.” Allen melambaikan tangannya dari kejauhan.

__ADS_1


Kinara dan Allisa menghampiri. Allisa sedikit cemas, apakah Allen benar-benar sudah berubah seperti apa yang dikatakan Kinara.


Ketiganya sudah duduk.


“Mau makan apa?” Allen menyodorkan buku menu.


Kinara dan Allisa memilih menu ringan, karena keduanya sudah sarapan.


“Jadi, kenapa kau ingin bertemu denganku?” tanya Allen dengan senyum mengembang di wajahnya.


Allisa mengernyitkan alisnya. Sejak pertama kali bertemu, Allisa tak berhenti menatap Allen. Penampilan Allen sudah banyak berubah, cara bicaranya pun sudah lebih sopan dan tenang. Pakaian Allen tidak seterbuka dulu. Terlihat lebih


enak


dipandang. Rambutnya juga sudah berganti warna, jika biasanya Allen bergonta-ganti warna rambut. Kali ini dia mempertahankan warna hitam untuk rambutnya. Riasan wajah yang lebih tipis dari biasanya. Sepertinya Allen memang sudah berubah.


“Kau tahu Agra berangkat ke Prancis?”


Allen diam untuk beberapa saat. Menyedot minumannya sebelum berucap, “Iya. Aku tahu.”


“Kau tahu apa alasannya?”


Allen menggeleng.


“Lalu kenapa pertunanganmu dan Agra dibatalkan?”


“Agra tidak bisa menerimaku. Aku tetap tidak memiliki ruang di hatinya. Akhirnya setelah cukup lama kami berpikir, kami mengambil keputusan untuk membatalkan pertunangan kami.”


“Kau bilang orang tuamu akan marah?”


“Tentu saja. Dalam waktu dekat aku akan pindah ke rumah kakek dan nenekku. Mereka tidak ingin aku tinggal bersama.”


“Kenapa mereka setega itu?”


Allen hanya tersenyum getir. “Mungkin sudah takdirku.”


“Tapi Agra ....” Kinara menggantung kalimatnya. Dia tidak mungkin mengatakan tentang tatapan mata Agra yang penuh kebencian ketika mendengar nama Allen disebut.


“Agra membenciku, Kinar. Dia sangat membenciku, dia menganggap akulah penyebab hidupnya hancur.” Ada bulir bening yang meluncur dari kelopak matanya. cepat-cepat Allen menghapusnya. “Tapi aku tidak menyalahkan Agra. dia memang benar, dalam hubungan kalian akulah yang bersalah.”


“Allen aku ....”


“Tidak mengapa, Kinara. aku senang bisa memiliki sahabat sepertimu. Aku sekalian mau pamit sama kalian. Dua hari lagi aku akan pergi dari kota ini.” Allen menatap wajah Kinara dan Allisa bergantian. “Maafkan aku jika selama ini sikapku sering menyakiti hati kalian.” Menggengam tangan Kinara dan Allisa. “Aku sungguh minta maaf.”


Kinara dan Allisa hanya bisa menganggukkan kepala.


Begitulah pertemuan ketiganya berlangsung. Hari itu Allen sekalian pamit. Mungkin akan sulit bagi mereka bertemu lagi.


Bersambung.....


.


.


Ciiie yang nungguin adegan 21+ (Mohon maaf di novel ini tidak akan dijelaskan secara rinci. Emak takut banyak dari pembaca yang belum cukup umur. Jadi emak suguhkan sewajarnya saja)


.

__ADS_1


.


Jangan lupa LIKE, KOMENTAR DAN VOTENYA.


__ADS_2