
Begitu Mirna dan Amanda masuk ke dalam ruang tamu, keduanya tercengang. Tak kalah terkejut dari pertama datang ketika melihat bangunan megah di depan mata.
"Ini ruang tamu atau lapangan bola, sih, Mas? Kok ya besar sekali?” tanya Amanda spontan sembari menggelengkan kepalanya. mendengar itu Ken hanya tertawa kecil menikmati kepolosan Amanda.
Apa Manda benar-benar tidak tahu jika kakak iparnya adalah seorang pria kaya raya? Lucu sekali, batin Ken.
“Apa kau suka dengan rumah mewah seperti ini?” tanya Ken tiba-tiba begitu Mirna bergerak menjauh dari keduanya.
Diam untuk sesaat. “Suka, sih, tapi apa tidak repot yah mengurus rumah sebesar ini?” tanya Amanda polos.
“Kan ada pembantu.” Memukul keningnya sendiri.
“Ohh ....” Amanda manggut-manggut dengan senyum lebar.
“Emmm ... jika menikah nanti apa kau ingin punya rumah seperti ini?” Inti dari basa-basi tadi adalah ini. Dia ingin tahu apakah Amanda akan menerimanya yang hanya seorang Asisten Pribadi.
Amanda menoleh, memiringkan kepalanya sembari menatap Ken.
Kenapa dia melihatku sampai miring-miring begitu? batin Ken.
“Aku masih 16 tahun, Mas. Belum terpikirkan soal menikah, membayangkannya saja terasa geli.” Amanda tertawa terbahak. Sementara Ken merasakan sakit di hatinya. Mengingat Amanda yang memang masih kecil, jelas ini bukan salahnya.
Kapan kau mengerti, Ken? Seharusnya kau membicarakan soal rumus matematika dengannya, dia itu masih kecil! Masih kecil! Batin Ken berapi-api mengumpati dirinya sendiri.
“Jadi kira-kira kapan kau akan memikirkan untuk menikah?” Ken dengan mode pantang menyerah.
“Emmm ... sekarang aku baru 16 tahun. Mungkin 9 tahun lagi. Saat itu usiaku sudah 25 tahun.”
“Sembilan tahun lagi?!” Ken langsung menghitung dengan jarinya.
Itu artinya aku sudah berumur 34 tahun. Tamatlah riwayatku. Jika sudah setua itu Amanda juga tidak akan mau denganku, dia akan memilih berondong, batin Ken.
“Kakakmu saja menikah diusia 21 tahun, Manda.” Masih belum menyerah.
“Kan karena perjodohan.”
Ken langsung memegang dadanya. Ah, hatiku. Kau harus bersabar, batinnya.
Mirna yang sejak tadi melihat-lihat kembali mendekati Amanda.
“Bu, rumah Pak Maman itu tidak ada apa-apanya di bandingkan ruang tamu Mas Dika," ucap Amanda membandingkan ruang tamu Dika dengan rumah tetangganya yang kaya.
“Benar.” Mirna mengangguk. “Itu kendi besar sekali, Nak. Apa ada airnya?” Mirna mendekati gucci besar yang ada di dekat kursi tamu. Berdekatan dengan jam raksasa.
Ken menggaruk kepalanya. Ingatannya berputar ke kebun belakang milik Mirna, di mana ada sebuah kendi yang disediakan untuk mencuci tangan.
“Bu, jangan buat malu.” Amanda mengapit lengan Mirna. “Ini gucci mahal, hanya untuk pajangan bukan untuk diisi air kayak di kebun itu loh.”
“Memang yang ini mahal?”
“Kalau beli kendi seperti yang ibu punya, mungkin akan cukup untuk dibagi-bagi ke tetangga.” Menarik lengan Mirna. “Kita duduk saja.” menuntun ke sofa.
__ADS_1
Begitu tubuh mereka menempel pada sofa. Keduanya saling tatap, tak ada kata yang keluar. Namun, dari tatapan keduanya sepertinya mereka terkejut dengan kenyamanan sofa itu.
“Kak Kinar ke mana, yah, Mas?” tanya Amanda.
“Aku juga tidak tahu, Manda. Biar Mas tanya dulu.”
Belum juga berjalan. Ternyata bibi Ane sudah datang dengan beberapa pelayan yang mengikutinya di belakang, membawa berbagai jenis makanan dan minuman untuk Amanda dan Mirna.
“Bi, Nyonya dan Tuan Muda ke mana?”
Bibi Ane nampak terkejut mendengar pertanyaan Ken. “Apa Tuan tidak mengabari Anda?”
“Tidak, Bi. Mungkin tidak ingin mengganggu perjalananku.”
“Oh.” Tersenyum. “Tuan Muda dan Nyonya sedang mengantar Nona Carissa ke bandara.”
“Loh, Nona Carissa balik ke Inggris?”
“Iya, Tuan. Katanya ada beberapa dokumen yang harus diurus sebelum benar-benar menetap di Indonesia.”
“Baiklah, Bi. Terima kasih?”
“Iya, Tuan.” Bibin Anne membungkuk dan pamit undur diri.
Ken menyampaikan pada Amanda dan Mirna jika Kinara dan Dika sedang mengatar kepulangan salah seorang teman.
Karena menempuh perjalanan yang cukup panjang. Setelah menikmati makanan ringan, Ken mempersilakan Mirna dan Amanda untuk istirahat di kamar yang sudah disediakan. Tak ada hentinya Ibu dan
Anak itu terkejut ketika menyusuri tiap sudut mansion milik Dika. Apa lagi ketika Ken menunjukan kamar utama milik Dika dan Kinara. Mulut mereka sampai membulat sempurna karena tidak percaya Kinara bisa tidur
***
Sementara itu di bandara.
“Kapan kau kembali lagi?”
“Mungkin beberapa bulan kemudian. Ah, sebenarnya aku ingin melihat jagoan lahir. Aku penasaran. Ketika aku kembali nanti dan melihat anak kalian, kira-kira akan mirip siapa?” Carissa berjongkok dan membelai perut Kinara.
“Tentu saja mirip ayahnya,” ucap Dika sombong.
“Aku yang menggendongnya selama sembilan bulan, Mas. Seharusnya mirip aku.”
“Aku juga memberikan sumbangan yang banyak sampai anakku ada di dalam sini.” Ikut meraba perut Kinara.
Sumbangan? Kau pikir ini pembangunan? batin Kinara.
“Aku mau pergi dan kalian masih bertengkar?” Carissa menengahi.
Dika tertawa. Fokusnya kembali beralih pada Carissa. “Baiklah. Jaga dirimu dengan baik. Jangan lupa makan dan minum yang teratur, kau sering lupa meminum obatmu. Buatlah catatan, agar jadwal minum obatmu lebih teratur. Gunakan baju hangat, kau tidak tahan dingin,” ucap Dika.
Cih, dia hapal sekali kebiasaan Carissa. Kinara menatap jengkel sembari membatin.
__ADS_1
“Kau masih saja seperti dulu. Perhatian. Ingat siapa yang sedang berdiri di sampingmu.” Carissa tersenyum lebar. Dia menangkap rona cemburu di mata Kinara. “Dika memang baik pada siapa pun, kau tidak perlu khawatir. Cintanya hanya untukmu,” imbuhnya diikuti senyum tipis.
Dika melirik. Seperti ada udara panas yang mengelilingi Kinara.
Astaga, mulut ini benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Sebenarnya itu hanya perhatian biasa, tapi dengan mood-nya yang berantakan, aku yakin dia akan mengartikannya berlebihan, batin Dika.
“Eh, sudah dipanggil.” Carissa bersiap setelah mendengar pengumuman jika pesawatnya akan lepas landas. “Aku pergi dulu, yah.” Carissa tersenyum sembari melambaikan tangannya, menarik koper dengan mata berkaca-kaca.
Akhirnya, aku bisa melepaskanmu. Semoga kau selalu bahagia, Dika, terima kasih karena sudah menjadi Ayah, Kakak, dan teman yang baik untukku. Sampai jumpa, batin Carissa.
Dika dan Kinara membalas lambaian tangan Carissa. Tak henti-hentinya Kinara meminta Carissa untuk menjaga diri.
“Kau sedih?” Sudah duduk. Dari tadi berdiri membuat Kinara lelah.
“Aku ... tentu saja tidak, mana mungkin. Aku akan sedih jika kau yang pergi.” Berusaha meraih tangan Kinara.
Menarik tangannya. “Kau tadi begitu perhatian dengan Carissa.” Mengerucutkan bibirnya. “Sampai hapal kebiasaan Carissa.” Bibirnya semakin maju.
Kan benar, dia pasti salah paham. Aku bahkan bisa menguncir bibirnya, “Aku hanya bersikap seperti seorang teman, Sayang. Tidak lebih.” Berusaha menenangkan.
“Lebih juga tidak apa-apa.”
Astaga, kenapa ucapanku tidak ada benarnya. “Kau cemburu, yah?” Berusaha meledek untuk mencairkan suasan. Sayangnya hal itu justru membuat Kinara semakin kesal.
“Jika aku cemburu, memangnya kenapa? Kau senang? Jadi kau sengaja melakukannya? Memangnya kau tidak cemburu jika aku memperhatikan pria lain?”
Dika melongo lalu membenturkan kepalanya di meja. “Ampun, Nyonya. Sumpah demi apa pun, aku tidak bermaksud begitu.”
“Cih.” Kinara memalingkan wajahnya.
“Eh, Agra ... itu Agra, ‘kan?”
Dia mau balas dendam? Yang benar saja, mana mungkin Agra ada di bandara. Memangnya untuk apa dia di sini? batinnya. Dika masih membenamkan wajahnya di atas meja.
“Benar, itu Agra.” Menunjuk. Dika langsung mendongakan kepalanya dan melihat Agra sedang berjalan sembari menarik koper besar di tangannya. Di sampingnya sudah mengikuti Nathan, Asisten pribadinya.
“Agra ... Dia mau ke mana dengan koper sebesar itu?”
“Mana aku tahu. Aku ‘kan sudah tidak berhubungan lagi dengannya, Mas.”
Melihat koper besar yang ditarik Agra dan pakaian yang dikenakannya jelas sekali jika kepergian Agra bukan untuk urusan bisnis. Pakaiannya terlihat lebih santai dengan kaus panjang dan celana panjang berwarna senada. Berlibur? Jelas lebih tidak mungkin. Hanya ada satu kemungkinan. pikir Dika.
“Agra ....” Dika melambaikan tangannya tinggi-tinggi.
Agra menoleh mencari sumber suara. Deg ... dadanya berdesir ketika melihat Dika dan Kinara sedang duduk.
Ya Tuhan, haruskah aku melalui semua ini? Bahkan ketika aku memutuskan untuk pergi, kenapa Kau mempertamukanku dengannya lagi? Setelah satu bulan ini aku memantapkan hati untuk menyerah. Kenapa justru dia ada di depanku?
Bersambung.....
.
__ADS_1
.
Sini, Bang. Ke rumah emak aja, nggak usah pergi jauh-jauh. Saatnya LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE. ok 😘