
Melihat reaksi Kinara yang tiba-tiba diam seribu bahasa, sepertinya Dika mengerti di mana letak masalahnya. Dia mengembuskan napas kasar, meraih handphone lalu mengirim pesan singkat untuk Ken.
(Datanglah. Aku sedang berada di toko perlengkapan bayi di kota A. Kau hubungi beberapa wartawan terdekat untuk datang ke toko. Biarkan mereka mendapat bahan berita paling hangat abad ini.)
Kinara tetap diam. Kali ini kepalanya tertunduk dalam. Dia tidak punya kekuatan untuk bertingkah manja seperti sebelumnya. Kedua tangannya meremas gamis berbahan katun yang dipilihkan Dika. Dia mengambil jarak beberapa centi dari posisi semula
Niki tersenyum puas melihat perubahan sikap Kinara. Ruang kosong itu seharusnya bisa kutempati. Sekarang kau tidak bisa bersikap sombong lagi, huh!
Seketika tatapan mata Dika terhadap Niki berubah. Penuh amarah. “Kau harus membayarnya! Awas saja jika kau berani melarikan diri!”
Niki menelan salivanya. Tidak percaya jika Dika bisa menatapnya seperti itu, padahal sejak kecil mereka sudah berteman. Niki juga teman baik Carissa. Dia tidak mampu berkata apa-apa lagi, bahkan senyum puas yang dia tunjukan beberapa detik yang lalu lenyap berganti dengan ekspresi takut.
Sekarang dia terduduk lemah di lantai dengan air mata yang sudah tumpah. Mau kabur pun percuma. Niki paham betul perangai Dika jika sudah diusik, tetapi dia tidak pernah menyangka kenapa dia bisa masuk dalam salah satu orang yang akhirnya dibenci Dika.
Kinara bergeser lagi. Jaraknya semakin jauh. Kinara dan Dika berada di ujung sofa. Mungkin dari awal seharusnya ada jarak di antara kita, aku yang hanya orang miskin tidak pantas masuk ke kehidupan mewahmu, batin Kinara.
“Kenapa kau bergeser terus?!” seruan itu terdengar lantang sampai membuat seisi ruangan menatap ke satu penjuru. Menatap Dika dan Kinara.
“Kau tidak boleh jauh dariku. Satu inci pun tidak!” Dika mendekat, Merangkul bahu Kinara. “Kau lahir ke dunia ini hanya untuk menemaniku, tidak peduli siapa dan dari mana kau datang. Yang aku tahu aku sangat mencintaimu.” Meraih dagu Kinara hingga keduanya beradu tatap. “Sekarang naik ke pangkuanku. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu. Pertunjukan yang akan membuatmu tersenyum.”
“Per-pertunjukan apa?” tanya Kinara tergagap.
Tidak mungkin ’kan dia ingin mempermalukan aku lagi? Seperti dulu ketika di mall. Aku sedikit trauma setiap mendengar kata pertunjukan.
“Naik saja.” Dika menepuk kedua pahanya.
“Tapi, aku berat.”
“Aku tahu.”
“Aku sedang hamil.”
“Aku tahu. Kau pikir aku buta?! Perutmu sebesar itu sudah pasti kau sedang hamil. Memangnya apa lagi? Busung lapar? Sekalipun kau sedang hamil tetap saja tubuhmu itu kecil, seperti kurcaci, tidak bisa dibandingkan dengan tubuh kekarku.” Menyentil kening Kinara. Berbangga diri dengan tubuh atletisnya. “Kau mau naik sendiri atau kuangkat?!” Mulai tidak sabar.
“Aku ... aku naik sendiri saja. Daripada bahaya.” Mengerucutkan bibirnya.
“Good.” Tersenyum menang.
Kinara sudah duduk di pangkuan Dika.
__ADS_1
“Tunjukan padaku bagaimana sikap nakalmu, Sayang.” Mengecup pipi Kinara yang duduk menyamping di pangkuannya. “Bagaimana kau menggodaku sampai ada si junior di sini.” Memegang perut Kinara.
Kapan aku menggodamu? Dika junior kudapatkan dengan cara paksa, bukan karena menggodamu. “A-apa yang kau lakukan? Tu-turunkan aku.”
“Jangan menggeliat terus! Kau bisa jatuh, Sayang.”
“Ada apa denganmu?” berbisik, “Semua orang memperhatikan kita.”
“Kenapa? Apa tidak boleh melihat istri sendiri bersikap manja?”
“Bu-bukan begitu, aku ....” Kinara kehabisan kata-kata. Sepertinya tidak ada gunanya mendebat Dika. Entah apa tujuannya, yang jelas Kinara hanya memiliki dua pilihan. Pertama, pasrah dan mengikuti semua kemauan suaminya. Kedua, ikut bertingkah gila seperti Dika.
***
Bukan Ken namanya jika tidak bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari 10 menit beberapa wartawan sudah datang. Berbondong-bondong mendatangi toko demi toko dengan segala peralatan tempur. Tujuan mereka hanya satu. Menemukan Dika.
“Apa ini tempatnya?!”
“Ini alamat yang dikirimkan Asisten Ken.”
“Seharusnya memang di sini.”
Para pemburu berita itu bergerak cepat, seolah sedang menemukan air di tengah gurun pasir yang gersang.
“Tuan Muda, Tuan Muda, tolong katakan sedang apa Anda di toko perlengkapan bayi?”
“Apakah benar tentang kabar yang beredar jika Tuan Muda sudah menikah?”
“Lalu di mana istri Anda?”
“Apakah wanita yang sedang hamil itu istri Anda?”
“Kenapa Anda memangkunya?”
“Ada hubungan apa Anda dengan wanita itu?”
“Apa Anda sedang menemaninya belanja perlengkapan bayi?”
“Siapa namanya?”
__ADS_1
“Dari keluarga besar mana?”
Semua cecaran pertanyaan itu membuat Kinara bingung karena tiba-tiba ada banyak wartawan yang berkumpul. Dia memalingkan wajahnya, tenggelam di dada bidang Dika. “Turunkan aku.”
“Tidak akan!”
“Ada banyak wartawan. Pernikahan kita bisa dketahui orang lain.” Kinara merasa alasan Dika tidak pernah mengabarkan tentang pernikahannya adalah karena Kinara tidak cukup layak untuk menjadi istrinya. Tidak cukup layak untuk diperkenalkan. "Aku tidak ingin membuatmu malu. Tolong turunkan aku.”
“Tidak akan pernah!”
“Apa maumu?”
“Kau akan segera tahu. Berhenti bersembunyi dan perlihatkan wajah cantikmu di depan mereka.”
“Kau gila?!” Masih bicara sembari membenamkan wajahnya di dada Dika.
“Aku memang gila. Sejak jatuh cinta padamu penyakit gilaku semakin parah. Aku rasa penyakit gilaku tidak bisa disembuhkan oleh orang lain, kecuali dirimu.” Meraih bahu Kinara. Menurunkan perlahan.
Saat ini Dika dan Kinara sudah duduk bersebelahan dengan jarak yang sangat dekat.
“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena kalian mau datang di tengah jadwal memburu berita. Tujuan saya mengundang kalian semua karena saya ingin memberikan pengumuman penting sekaligus kabar gembira. Perkenalkan. Dia adalah istriku.”
Bergeser
mendekati Kinara. Mendongakan wajahnya dan memeluk bahunya. “Namanya Kinara Amalia, dia dari keluarga biasa saja, bukan dari kalangan aktris atau model. Bukan juga dari pengusaha kaya raya, tetapi aku sangat mencintainya. Dia lebih berharga dari apa pun yang aku miliki di dunia ini."
Kinara menutup mulutnya karena terkejut. Tidak percaya jika Dika akan mengakuinya sebagai seorang istri di depan wartawan.
“Kabar gembiranya. Saya akan segera memiliki seorang putra. Pewaris bisnis keluarga Mahendra. Saya juga ingin memberi peringatan kepada semua wanita di luar sana. Barangkali ada yang diam-diam menganggumi saya, kalian harus mulai belajar berhenti karena hati saya tidak memiliki ruang untuk wanita lain.”
“Pertanyaan, Tuan Muda.” Salah seorang wartawan melambaikan tangan.
Dika mengangkat tangannya. “Mohon maaf saya tidak bisa menjawab pertanayaan kalian. Hari ini istriku sudah kelelahan, dia sedang hamil dan tidak bisa menghadapi banyak tekanan. Untuk pertanyaan lebih lanjut, kalian bisa menghubungi Asisiten Pribadi saya, setelah itu kita bisa menjadwalkan pertemuan untuk jumpa pers dan kalian bisa bertanya apa saja padaku. Terima kasih.”
Dika menoleh, menatap Kinara yang masih tiadak percaya. “Kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Wanita paling berharga.” Mencium kening Kinara. Mendekatkan bibirnya ke telinga Kinara. “Jangan merasa kau tidak diakui lagi, Sayang. Kau satu-satunya istriku, akan kuberi tahu seluruh dunia bahwa kaulah wanitaku. Bila perlu aku bisa membuat ulang pesta pernikahan paling mewah untukmu.” Mengecup pipi Kinara.
Wartawan tidak mau ketinggalan momen mesra mereka. begitu banyak jepretan yang diabadikan. Sebentar lagi, wajah keduanya akan menghiasai seluruh media.
Bersambung......
__ADS_1