
Pagi hari di mansion mewah milik Dika, mansion yang bagi sebagian orang adalah surga untuk ditinggali. Namun tidak bagi Kinara, mansion ini tak ubahnya neraka untuk Kinara.
"Kinara, sudah belum?" Carissa mengetuk kamar Kinara.
"Sudah, ini mau keluar," sahutan Kinara dari dalam kamar.
Klak ...! Begitu pintu terbuka Carissa sudah melihat Kinara dengan koper di tangan kanannya.
“Kau yakin ingin pulang kampung?” Carissa menggandeng tangan Kinara, berjalan pelan sampai keduanya berhenti di ruang keluarga.
Terlihat Dika sedang memangku kaki dan menyandarkan tubuhnya di punggung kursi sembari membaca koran harian. Ditemani secangkir kopi buatan Carissa dan sepotong roti isi selai kacang kesukaannya.
Seharusnya aku pergi untuk selamanya saja, kau baru puas setelah aku tidak ada di sini ‘kan? Setiap hari kau bisa menikmati sarapan yang dibuat oleh Carissa, selama ini aku bahkan belum pernah membuatkan secangkir kopi pun untukmu, batin Kinara.
“Iya, lagipula ini Cuma liburan. Aku sudah sangat merindukan Ibu dan Adikku.” Kinara merangkul pundak Carissa. “Kau harus jaga diri, Carissa. Jangan lupa minum obatmu," ucapnya lirih.
“Aku pasti sangat merindukanmu, Kinara.” Carissa menyandarkan kepala di pundak Kinara.
“Aku juga.” Mengelus bahu Carissa.
“Di mana Ken?” Carissa memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan Ken.
“Aku tidak tahu.” Tersenyum getir. “Aku 'kan naik mobil umum, jadi tidak perlu Ken. Lagipula Ken sudah tahu tentang kepulanganku."
Mungkin saja Ken sedang menunggu di suatu tempat, sandiwara yang kau buat benar-benar menyusahkan Ken dan aku, Dika, batin Kinara.
“Sayang, kenapa tidak kau saja yang antar Kinara?” Mendakati Dika dan duduk di sampingnya.”Kasihan ‘kan kalau Kinara harus naik mobil umum.”
“Itu tidak perlu, Rissa. Dia bisa pulang sendiri, dia harus terbiasa dan jangan manja jadi wanita.” Melipat koran dan meletakan di atas meja. “Kau bisa pulang sendiri 'kan Kinara?” Menaikan sudut alisnya.
“Tentu saja aku bisa, Dika. Kau tidak perlu repot-repot membuang waktumu untuk mengantarku.” Kinara tersentyum sinis.
“Good.” Meraih cangkir kopi dan meneguknya pelan.
“Kau ini benar-benar angkuh, Dika. Sungguh tidak ada manis-manisnya.” Memajukan bibirnya. “Sebal!"
“Hey, kau bilang apa tadi? Sikap manisku itu hanya aku tunjukan padamu, Rissa.” Meraih dagu Carissa. “Jadi jangan minta aku bersikap manis pada wanita lain, ok?”
“Hmmm ....”
“Apa itu? Hanya hmmm? Mana senyum manisnya?” Meletakan jari telujuk di bibir Carissa dan membelai lembut di sana, tetapi matanya melirik Kinara.
Ketika keduanya beradu tatap Kinara justru mengacungkan jempol sembari mengedipkan salah satu matanya, kontan tindakan Kinara itu membuat Dika semakin meradang.
Semakin kau memperlihatkan hal seperti ini di depanku, semakin aku mengerti sebenarnya kau tidak bahagia, Dika. Kita lihat saja nanti, ketika aku melempar kertas perceraian ke wajahmu, apa kau masih bisa tersenyum seperti itu?! batin Kinara.
“Ehem ....” Kinara berjalan mendekati Dika dan Carissa. “Aku harus segera pergi, jika tidak aku akan ketinggalan mobil.”
“Ah, baiklah. Biar aku antar.” Bangun dari kursi. “Apa kau tidak perlu mengucapkan sesuatu pada Kinara? Hati-hati di jalan misalnya, kau ini keterlaluan, Dika,” ucap Carissa.
“Tidak perlu!” Alih-alih mengucapka kalimat manis Dika justru memilih meraih roti dan mengunyah perlahan.
“Tidak apa-apa, Carissa. Bukankah tadi Dika bilang sikap manisnya sudah dihabiskan untukmu, tidak ada orang lain yang berhak mendapat sikap manis dari Dika selain dirimu.” Mencengkram kuat ujung koper. “Kau tidak perlu repot-repot memintanya untuk bersikap baik padaku, karena sudah ada laki-laki lain yang melakukan itu.” Tersenyum sinis.
“Siapa? Agra?”
__ADS_1
“Memangnya kau pikir siapa lagi?” Kinara tersenyum puas.
Tak ...! Dika meletakkan kasar cangkir kopi.
Cih, kau pikir aku cemburu hanya dengan mendengar kalimat murahan seperti itu? batin Dika.
Ayolah, Dika. Kita belum mulai berperang, masa belum apa-apa saja kau sudah cemburu? Permainan kita akan lebih menegangkan dari ini, batin Kinara.
“Baiklah, ayo aku antar.” Carissa memegang tangan Kinara. Dia mengantar Kinara sampai di ambang gerbang, Kinara menggunakan motor maticnya untuk singgah di minimarket terlebih dahulu sebelum akhirnya di jemput oleh Ken.
***
Hari ini tidak ada jadwal kuliah, Kinara mengambil hari libur tahunan di toko selama tiga hari untuk mengunjungi Ibunya dan juga melancarkan misinya untuk berpisah dari Dika. Jika Alisa akan bergegas membantu toko makanan orag tuanya selepas bekerja, maka Kinara lain lagi.
Setelah perdebatan yang cukup sengit untuk mendapat ijin dari Dika, akhirnya Dika mengijinkan dengan satu syarat, Kinara dilarang memberi tahu soal pernikahannnya yang dalam keadaan tidak baik.
Kinara setuju, tentu saja hanya di depan Dika, jauh di dasar hatinya Kinara sudah merencanakan hal besar lain. Lepas dari cengkraman tangan Dika secepatnya adalah hal yang paling dinanti oleh Kinara.
Terkadang Kinara menyesal mengapa dulu dirinya tidak menyetujui permintaan Dika untuk bercerai, hanya demi amanat Ayahnya. Namun setidaknya Kinara sudah berusaha untuk bertahan dengan Dika, dan ini akhir dari usahanya.
Kali ini Kinara tidak akan mundur lagi. Sudah sangat terlambat jika Dika memintanya untuk kembali, Kinara sudah terlalu sakit hati sampai rasanya mati rasa terhadap Dika. Tidak ada perasaan lain untuk Dika selain kebencian dan amarah yang mendarah daging.
Minimarket.
"Kau yakin tidak sedang patah hati dan mencoba melarikan diri?" Alisa melirik koper yang berdiri di samping meja kasir.
"Tentu saja, lagipula alasan apa yang membuatku harus melarikan diri?"
"Mungkin saja 'kan karena Agra jarang menemuimu," Alisa menebak.
"Itu tidak ada hubungannya dengan Agra." Menggelengkan kepala. "Sungguh, aku hanya ingin pulang kampung untuk menengok ibu dan adikku."
"Awas kalau kau sampai berani berbohong padaku!" Alisa melakukan gerakan menyayat leher.
"Kok kalau kau yang melakukan gerakan ini." Kinara memperagakan ulang gerakan menyayat leher yang dilakukan Alisa. "Rasanya kurang pas, yah." Tertawa terbahak.
"Terserah aku tidak peduli, yang jelas kau harus kembali. Titik!" Alisa menggebrak meja kasir.
"Astaga, iya ... iya ...."
"Setelah sampai di kampung kau harus segera menghubungi aku. Jangan lupa selalu cek whatsapp siapa tahu aku kirim tugas kampus. Jangan makan sembarangan nanti kau sakit, kalau sakit kau tidak bisa kembali ke sini. Kalau kau tidak kembali, aku akan berubah menjadi kutu buku dan tidak memiliki teman lagi. Jangan ini ... jangan itu ...." Alisa mondar mandir memberi peringatan tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan Kinara.
Dia terlihat lebih repot dari seorang ibu yang sedang memberi petuah kepada anaknya yang akan merantau ke negeri seberang.
Setelah cukup lama Alisa baru berhenti dan mengembuskan napas lega, dia meraih botol air mineral di atas meja dan meneguk perlahan.
"Sudah?" tanya Kinara meledek.
"Su ... dah," jawab Alisa dengan napas tersengal.
Kinara tersenyum sembari merogoh kantung celananya. "Oh iya ini kunci motornya. Titip, yah." Meletakan di atas meja.
"Ashiaaap!" Alisa mengacungkan jempolnya, meraih kunci motor itu dan menyimpan di dalam laci kasir.
Hari ini Alisa ke minimarket dengan ojek online karena Kinara berniat menitipkan motor maticnya pada Alisa selama dirinya berada di kampung.
__ADS_1
Tidak mungkin bagi Kinara membiarkan motor itu tetap di mansion Dika sementara dirinya tidak ada, tentu karena Kinara takut Carissa akan curiga.
Tin ... tin ...!
Dari luar toko sebuah mobil mewah berhenti dan membunyikan klakson. Ken keluar dari dalam mobil, lengkap dengan kacamata hitam dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak diketahiu Alisa. Hal ini sudah sesuai protokol yang ditetapkan Dika, jangan membuat siapa pun curiga dengan status Kinara termasuk Alisa.
"Eh mobilnya sudah datang tuh." Menunjuk mobil. "Tapi kok supirnya mencurigakan." Memutar kepala untuk melihat lebih jelas.
"Kinara! Apa kau terlibat jual beli barang terlarang?!" Alisa menoleh dan menatap tajam Kinara.
"Sembarangan! Kau pikir penjual obat-obatan terlarang perlu menjadi kasir minimarket demi bertahan hidup?" Menyentil dahi Alisa.
"Benar juga." Mengelus dahi. "Tapi supir travel itu terlihat mencurigakan! Kau yakin dia supir? Bukan tukang jual beli organ tubuh manusia? Dan lagi mobil itu terlalu mewah, biasanya bentukan mobil travel tidak begitu."
Kasihan Ken sampai dicurigai yang bukan-bukan, aku minta maaf Ken kau harus terlibat dengan duniaku yang menyedihkan ini, batin Kinara.
"Kau berpikir terlalu jauh. Astaga, Alisa." Menepak dahi. "Kau pikir aku senekad apa sampai terlibat dengan perdagangan manusia?"
"Yah, aku hanya khawatir." Menaikan bahunya. "Sudah cepat pergi, salam yah buat Ibu dan Adikmu." Alisa mendorong pundak Kinara dari belakang.
"Iya, ini juga mau pergi kok." Menyeret koper miliknya.
Begitu pintu minimarket terbuka Ken bergegas mendekati Kinara. Sementara Alisa hanya menatap curiga dari balik kaca minimarket.
"Biar saya bantu, Nyonya." Ken segera memindahkan tangannya ke koper milik Kinara.
"Tidak perlu, Ken."
"Jangan menolak, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas dan kewajibanku," ucap Ken memaksa, "Ini ... apa tidak terlalu banyak?" Ken menggaruk kepalanya.
"Tidak, Ken. Sebagian adalah baju untuk tiga hari kedepan, sebagian lagi baju-baju yang diberikan Tuanmu." Kinara melambaikan tangan pada Alisa yang sedang berdiri menatap kepergiannya.
Alisa balas melambai, tak lupa dia melakukan gerakan menelepon dengan tangannya agar kinara tidak lupa untuk menghubunginya.
Di dalam mobil.
"Tapi mau diapakan baju dari Tuan, Nyonya?" tanya Ken disela fokusnya menyetir.
"Mau aku sumbangkan ke tetangga, Ken. Kebetulan ada tetanggaku yang berprofesi sebagai penyanyi organ. Ini akan lebih berguna untuknya."
"Itu ... apakah Nyonya tahu berapa harga semua gaun yang diberikan Tuan?"
"Tentu saja aku tahu, ketika kau memberikan padaku bukankah masih ada tag pricenya?"
Ken mengangguk.
"Lagipula aku sudah tanya pada Dika, aku berniat mengembalikan semua gaun pembriannya, tapi dia malah memintaku untuk membuang semua gaun ini. Bukankah dia terdengar gila." Memukul punggung jok.
Dia memang gila, bisa-bisanya Tuan Muda menyia-nyiakan Nyonya yang sangat baik, batin Ken.
"Oh iya, Ken. Nanti kita mampir ke sekolahan adikku, yah. Aku ingin menjemputnnya." Kinara menyandarkan tubuhnya di punggung jok, Ken mengagguk mantap.
Kinara membuka tas slempang dan melihat map coklat pemberian Agra, map itu belum sempat dia lihat. Mungkin nanti setelah sampai di rumah, Kinara baru tahu apa isi di dalamnya. Kinara segera mengalihkan pandangan matanya, takut Ken menangkap gelagat mencurigakan yang diperlihtakan Kinara.
\=\=\=\=> Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan Vote, ok? ❤️ salam dari emak kece semangatoon 🤣😂