
“Tapi besok kuliah 'kan?”
“Insya Allah.” tersenyum getir.
Sebenarnya tujuan Kinara mengurung diri di kamar selama dua hari, karena dia tidak tahu harus bagaimana menyembunyikan stempel kepemilikkan yang diberikan Dika.
Kinara
pikir dalam dua hari bekas itu akan hilang dengan sendirinya, ternyata tidak. Warna merah terang itu malah berubah jadi merah keunguan,
Kinara yang hanya seorang gadis polos tentu tidak mengerti berapa lama bekas itu akan hilang.
Dia juga tidak kepikiran mencari tahu di gugel, dia justru terlena dengan kasur dan selimut.
“Insya Allah itu lebih berat dari janji, Kinar. Kau harus menepatinya. Aku mungkin bukan laki-laki yang baik, tetapi aku mengerti kata 'Insya Allah' yang kau sebut itu memiliki pertanggung jawaban yang berat.”
“I-iya." diam sejenak. "Besok aku berangkat, kok.” Karena nada suara Agra terdengar semakin serius, Kinara memilih untuk meyakinkan Agra.
Daripada terjadi perdebatan panjang.
“Ok." nada suara bersemangat. "Besok makan di warteg lagi yuk. Makan di resto tuh tidak seenak kentang mustapa.” Agra tertawa.
“Mustofa, Agra.” Kinara ikut tertawa.
“Iya, itu. Omong-omong apa kau bisa membuat makanan itu?” nada bicara menggoda.
“Apa sih yang tidak bisa dilakukan, Kinara.”
balas menggoda.
Setidaknya, Agra bisa membuat perasaan Kinara lebih baik.
“Buatkan untukku, yah.” Agra merajuk.
“Kau bisa membayarku berapa?” Kinara meluruskan Kakinya. "Aku tidak terima gratisan." menempatkan bantal di pangkuannya.
“Berapa yang kau mau?” Agra menantang.
“Menurutmu, berapa harga yang pantas?” Kinara balik bertanya.
“Bagaimana jika aku membayarnya dengan hidupku?” Nada suaranya terdengar serius.
Di ruang kerja.
Dika yang sedang mendengarkan percakapan antara Agra dan Kinara hanya bisa menggeram kesal.
Kinara, sosok yang tidak pernah benar di matanya tentu saja membuat Dika merasa seperti sedang dipermainkan oleh kepolosan Kinara.
Jadi pelajaran yang aku berikan untukmu belum cukup, Kinara? Bagus, kau benar-benar wanita penggoda. Pandai sekali kau bercanda dengan laki-laki lain. Cih....
Dika tidak tahan, entah mengapa ada perasaan marah merayapi hatinya. Dia melempar smartphone itu ke atas lantai.
“Membayar dengan hidupmu." menggebrak meja kerja. "Kau pikir milik siapa hidup, Kinara?! Milikku, hanya milikku. Kinara itu milikku!” Dengusnya.
“Makan di warteg, bolos kuliah, bagus Kinara, bagus! Berbudi sekali kelakuanmu di belakangku!” Dika keluar dari ruang kerjanya dan memacu langkah lebar-lebar mendekati kamar Kinara. Sepertinya Dika tidak sabar untuk memberikan hukuman pada Kinara.
Entah jenis hukuman apa lagi yang akan Kinara dapat dari suaminya.
***
__ADS_1
Kamar Kinara.
“Iya, besok lagi.”
“Tidak, aku tidak akan bolos. Kau pikir aku senang bolos.”
“Hahaha.. itu sih kamu.”
"Ok, bye."
Dari balik pintu kamar Kinara yang kecil dan tidak kedap suara itu, Dika bahkan bisa mendengar percakapan mereka. Dika mengepalkan tangannya. “Cih, kau pikir dirimu itu siapa?! Berani sekali berlagak sok polos di depanku, lalu menggoda laki-laki lain di belakangku!”
Dika meletakkan tangannya di handle pintu, ketika akan menekannya Dika terdiam. Mencoba berpikir jernih. Mengembalikan kewarasannya.
Tungu, bukankah seperti ini sudah bagus? Aku bisa menggunakan alasan ini untuk menceraikannya,
Mamah tidak akan menyalahkan aku. Lagipula bukan aku yang salah, dia yang bermain gila di belakangku.
Pikiran jahat itu membuat Dika mengurungkan niatnya, daftar kalimat makian yang sudah tersusun di otaknya buyar begitu saja.
Dia memutar kembali tubuhnya, menjauh beberapa langkah dari pintu.
“Dia itu kenapa? Untuk apa dekat-dekat dengan laki-laki macam, Agra. Apa aku belum cukup untuknya?" menggerutu kesal.
"Tunggu, bukankah aku memang tidak ingin bersamanya? untuk apa aku berpikir diriku ini layak atau tidak untuknya. hahaha...”
“Mengapa aku harus semarah ini? Aku punya Carissa, dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Carissa." manggut-manggut, meyakinkan dirinya sendiri. "Carissa wanita hebat, cantik, dan berbakat." mondar-mandir di depan kamar Kinara.
"Bukankah jika Kinara tidak cantik, Agra juga tidak akan tertarik? Yah, dia cukup cantik, tetapi tidak cukup jika dibandingkan dengan Carissa."
mengangguk mantap.
kenapa aku harus membandingkan mereka bedua? Jika seperti ini terus. Bisa gila aku!" Dika memukulkan tangannya di tembok.
Apa aku cemburu? Cih tidak mungkin. Dika mencibir dirinya sendiri.
“Bibir Kinara terluka, pergelangan tangannya juga terluka,
seluruh tubunya dipenuhi bekasku, dia pasti kesakitan.” Dika bergumamam lagi, memutar kembali tubuhnya. “Terlebih aku juga memaksanya meminum pil itu.”
tangannya sudah mendarat lagi di handle pintu.
“Memangnya kenapa kalau dia sakit? Itu salahnya!" mengangkat tangannya. "Dia yang keras kepala!” Dika berbalik lagi.
“Tapi tadi aku kasar sekali padanya." berputar lagi. "Setaaan...! Sebenarnya aku ini kenapa?!”
Dika terus mondar mandir di depan kamar Kinara. Batinnya sedang bergelut dengan perasaannya sendiri,
perasaan yang entah apa namanya. Ada begitu banyak hal yang dia pikirkan, hampir saja membuatnya kehilangan kendali.
Klak....!!
Kinara keluar dari kamar. Dika panik, dia menempelkan tubuhnya di tembok, memegang apa saja yang bisa dia jadikan alasan. “Lukisan ini bagus, ah bingkainya indah.”
Sial, apa yang sedang aku lakukan, sih?!
“A-ada a-pa?" Kinara mundur, tubuhnya bergetar.
Jelas rona ketakutan terpancar di wajahnya, bagaimana tidak. Dua hari yang lalu Dika membanting tubuhnya, mencekik, mencengkram bahkan mencuri kesuciannya.
__ADS_1
Dika merebut paksa kehormatannya, bahkan melukai tubuh Kinara.
Kinara merasa tak ada bedanya antara dirinya dan wanita-wanita diluar sana yang berusaha mendapatkan kemewahan hidup dengan naik ke atas permadani milik Dika,
perlakuan Dika padanya jelas-jelas tidak manusiawi.
Sampai meninggalkan jejak trauma yang mendalam.
Tubuhnya secara alami merespon dan merasa ketakutan.
Dika memperhatikan, menyapu pandangan dari atas sampai bawah.
Tubuhnya bergetar? Dia takut padaku?
"Aku tanya, se-sedang a..pa kau di si-ni?"
Dika menyandarkan tubuhnya di tembok. Melipat kedua tangan di dada, dan menarik napas panjang. “Pakai jaketmu, dan ikut aku.”
Apa lagi? Aku salah apa lagi, Tuhan? Apa yang sedang dia pikirkan?
“Tidak." menggelengkan kepala. "Aku tidak mau.” Kinara mundur, dia benar-benar ketakutan.
Tidak tahu setelah Kinara mengikutinya, apalagi yang akan Dika lakukan padanya. Hal buruk yang bahkan tak terduga bisa saja terjadi pada Kinara.
“Aku tidak mau!” Kinara menggeleng lagi, semakin ketakutan dan terus melangkah mundur. “Tidak... tidak...!” kaki Kinara tersandung dan hampir terjatuh.
Dika berhambur mendekat. “Hati-hati. Kau tidak apa-apa?”
Tangan kanan Dika melingkar di pinggang Kinara sementara tangan Kirinya melingkar di leher Kinara.
Dika menatap lekat wajah dan tubuh istrinya.
Bibirnya terluka, lehernya juga terluka. Bahkan pergelangan tangannya terluka. Apa aku sejahat itu? apa aku benar-benar melakukannya?
“Lepas! Lepaskan aku!” Berteriak histeris. Dika melepaskannya. “Aku minta maaf, Dika. Aku minta maaf.” Menyatukan kedua tangannya di depan Dika seraya sedang memohon pengampunan dan belas kasih dari suaminya.
Dia begitu takut padaku, jangan takut, Kinara. Aku ini suamimu.
Dika mendekat. “Ikut aku.” Mengulurkan tangan.
“Tidak.” Kinara berlari, membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Dika menyelipkan kakinya di ujung pintu. “Menurutlah, Kinar. Jangan sampai aku memaksamu.”
Kinara hanya terisak, terduduk di depan kursi sembari melipat kedua kakinya. “Apa kau belum puas, Dika? Kau mau apa lagi? Apa kau akan berhenti setelah aku mati?!”
Haaah... Dika menghela napas panjang. “Aku tidak akan menyakitimu, Kinar, percayalah. Ayo keluar.”
membujuk.
“Tidak, aku tidak percaya padamu. Pergi, Dika...! pergi!" Kinara berteriak, diiringi suara tangis, bergantian. “Pergi Dika, pergi!"
Dika menyandarkan kepalanya di pintu. “Keluarlah, Kinara. Jangan membuatku semakin marah!” nada mengancam.
\=\=\=\=> Bersambung......
Klik Like, Rate bintang5, Favorit, Dan Vote yang banyak 😘
Jangan lupa mampir di Novel \=\=> REINKARNASI DUA BINTANG by AGUS PRIATNA
__ADS_1