Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Tangan Sialan!


__ADS_3

Malam pun tiba. Setelah berunding Dika, Kinara, dan Ken memutuskan untuk menginap sehari lagi. Besok pagi ketiganya akan kembali ke kota. Alasan yang paling mendasari adalah karena Dika harus kembali memimpin beberapa rapat di perusahaannya yang tertunda. Alasan terpenting ialah kondisi kehamilan Kinara yang harus dipantau oleh dokter Amel.


Kinara sedang duduk di ranjang sembari menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, di tangannya terselip sebuah buku cerita yang sedang dia baca. Ketika sebuah ketukan yang terus menerus berulang membuatnya kesal. Dia menggeliat turun dari ranjang.


“Sebentar.” Sudah memegang gagang pintu. “Siapa sih yang mengetuk pintu kamar se-bar-bar ini? ibu dan Amanda jelas tidak mungkin melakukannya,” gerutunya.


“Loh, kau sedang apa di depan kamarku? Kenapa bawa bantal guling segala? Dan wajahmu kenapa memelas begitu?” Kinara langsung memberondong pertanyaan begitu pintu kamarnya terbuka dan mendapati Dika sudah berdiri dengan kaus dan celana kolor. Dikedua tangannya terselip bantal guling.


“Aku diusir,” ucap Dika dengan ekspresi memelas.


“Diusir bagaimana?” Kinara menggaruk kepalanya, kalimat ‘diusir’ yang baru saja diucapkan Dika seperti memiliki makna berbeda.


“Ya diusir.” Memainkan kakinya di atas lantai. “Ken bilang, mulai sekarang aku harus tidur di kamarmu. Kita kan suami istri.” Ekspresinya sudah berubah manja.


Bisakah kau hentikan ekspresimu itu? Jika Ken mendengar ucapanmu, aku yakin dia akan menangis karena kau sudah memfitnahnya, batin Kinara.


“Biarkan aku masuk, yah.”


“Aku yakin Ken tidak mengatakannya, kau hanya ingin tidur denganku ‘kan?”


Dika gelagapan.


“Tuh 'kan benar, kau gugup.”


“Aku tidak ....”


Benar, Ken tidak pernah menyuruh Dika untuk pindah kamar. Baginya tidak masaah jika dia harus tersiksa dengan sengatan hawa dingin yang datang dari lantai kamar, dia tidak akan berani mengusir bossnya. Namun, datang ke kamar Kinara adalah murni keinginan Dika sendiri.


“Sedahlah, aku tidak peduli kau percaya atau tidak.” Dika memaksa masuk. “Lagi pula suami istri ‘kan memang harus tidur satu kamar.”


Kinara hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, kenapa harus berbohong hanya agar bisa tidur di kamarnya? Padahal Dika bisa jujur, toh Kinara juga tidak bisa menolak. Biar bagaimanapun mereka memang sudah rujuk.


“Kemari.” Dika menepuk ruang kosong di sampingnya. Dia sudah rebahan di atas kasur. Merentangkan tangan kanananya untuk dijadikan sandaran kepala Kinara.


Apa maksudmu? Kau ingin aku tidur di tanganmu? Tidak, aku tidak mau melakukannya, batin Kinara.


“A-aku belum ngantuk. Aku masih mau baca buku.” Duduk di kursi dekat ranjang lalu membuka buku ceritanya.


“Kau yakin sedang membaca buku seperti itu?”


Kinara mengangguk.


“Kau tidak sadar berapa umurmu?”


“Memangnya kenapa? Aku suka membacanya, jika kau tidak suka melihatnya kau boleh tutup mata.” Kinar menyampingkan tubuhnya. Kursi yang dia duduki menghadap ke arah Dika, jadi ketika Kinara menyamping sebagian wajahnya terlihat oleh Dika.


“Seharusnya anak kita yang membaca buku itu.”


“Ini memang keinginan anakmu, tiba-tiba- aku ingin membaca buku dongeng.”


“Memangnya apa yang kau baca?”


“Cinderella, suatu saat nanti putra kita akan menjadi pangeran tampan yang menyelamatkan hidup seorang upik abu.”


Mendengar itu Dika hanya bisa memukul keningnya sendiri. "Kau suka buku dongeng 'kan?”


“Iya,” jawab Kinara singkat.

__ADS_1


“Kalau begitu kemarilah, aku akan membelikan satu kontainer penuh buku dongeng untukmu. Kau bisa membacanya sampai tua.”


“Imbalannya?” Kinara menaikan satu alisnya.


“Kemari, datang ke pelukanku.”


“Tidak mau.”


“Aku bilang kemari.” Kali ini Dika menepuk dada bidangnya.


Apa maksudmu? Kau ingin aku menyandarkan kepalaku di dadamu? Yang benar saja, aku terlalu gugup untuk melakukannya, batin Kinara.


“Ayolah. Sampai kapan aku harus menunggumu, apa kau benar-benar tidak tahu jika aku sangat merindukanmu? Apa kejadian tadi sore belum cukup untukmu? Aku kesal sekali sampai ingin mencekik leher Ken sampai mati.”


Kinara tersenyum lebar ketika mengingat kejadian sore tadi. Dika benar-benar kesal ketika kesenangannya diganggu oleh Ken hanya karena dia berhasil mencabut singkong.


“Dan kau malah tertawa? Kemari! Aku bilang kemari."


“Tidak bisa. Aku masih membaca.” Menaikan buku bacaannya sampai menutup wajah.


“Ah, gerah sekali.” Dika membuka kausnya dan melemparkan ke sembarang arah. “Aku akan minta ibu memasang AC.” Dika terus menggertu, saat ini dia sedang memejamkan mata sembari memperlihatkan bagian atas tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Kinara menurunkan bukunya dan melihat Dika sedang merentangkan kedua tangannya ke atas dengan dada terekspos.


Apa-apaan sih, kenapa harus membuka baju? Di sampingnya ‘kan ada kipas. Mana mungkin dia merasakan gerah! batin Kinara.


“Dengar, Kinara. Jika kau tidak tidur di sampingku dalam hitungan ke tiga, maka aku akan turun dari ranjang dan menggendongmu!” Itu bukan peringatan, itu perintah. Karena Dika menekankan kalimat menggendong.


“Aku ‘kan sudah bilang sedang membaca.”


Persetan dengan buku bacaanmu! Aku hanya ingin kau tidur di sampingku! “Baiklah, jika kau terus keras kepala begitu. "Satu ... dua ... tig ....” Dika mulai menghitung. Kinara langsung melemparkan buku bacaannya. Dika tersenyum puas begitu Kinara sudah berpindah tempat ke sampingnya. Bahkan sebelum hitungan ketiga selesai diucapkannya.


Tidak mau, aku tidak akan melakukannya.


Oh, kau memang harus selalu dipaksa, “Dalam hitungan ke tiga, jika kau tidak meletakan kepalamu aku akan melepaskan semua pakaian yang kau kenakan! Lalu ....” Dika menggantung kalimatnya, mengeratkan kesepuluh jemarinya seolah sedang mengumpulkan kekuatan. Kinara menelan saliva melihat wajah Dika yang dipenuhi seringai licik.


“La-lu apa?”


“Lalu kau tidak akan bisa tidur sampai besok pagi.”


“Ka-kau sedang mengancamku?”


“Yah, terserah kau mau mengartikan apa.” Menaikan kedua tangan dan bahunya secara bersamaan.


“Tidak aku tidak akan melakukannya!” Alih-alih mengikuti perintah suaminya, Kinara justru memutar tubuhnya membelakangi Dika. Padahal ancaman yang Dika layangkan bukanlah sesuatu yang mudah dilewatinya.


Dika tersenyum, dia menggerakan tubuhnya, berangsur-angsur mendekati Kinara yang sedang tidur menyamping, lalu memeluknya dari belakang.


“Aku bisa melakukan apa pun padamu, Sayang. Tanpa memaksa sekalipun kau akan menyerahkan dirimu padaku, baik hatimu ataupun tubuhmu.” Melingkarkan tangan kanannya di pinggang Kinara, sementara tangan kirinya dia gunakan untuk membelai puncak kepala Kinara. “Terima kasih karena kau telah memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu. Percayalah, aku akan menghujanimu dengan banyak cinta.” Mendaratkan ciuman mesra di kepala Kinara.


Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia berbeda dari sosok mengerikan yang pernah membuatku terluka? Benarkah dia yang sebenarnya adalah laki-laki yang seromantis ini? Jika seperti ini terus aku pun tidak akan tahan, batin Kinara.


“Seterusnya, jangan pernah memikirkan laki-laki lain lagi. Jangan menatap, jangan tersenyum, apa lagi sampai jatuh hati pada laki-laki lain.”


Kinara menggelita. Jantungnya berdebar sangat kencang, dia sampai memegang dadanya, tetapi degup jantungnya semakin tidak bisa dikendalikan.


Aku harus bagaimana, Tuhan? Jantungku seperti mau meledak. “Ke-kenapa?”


Astaga kenapa aku harus bertanya hal bodoh seperti itu? karena gugup aku sampai kehilangan otakku, Kinara mengumpati dirinya snediri.

__ADS_1


“Karena kau itu milikku. Hanya milikku. Aku tidak suka kau tersenyum kepada laki-laki lain, karena aku yang akan menghujanimu dengan banyak senyuman sehingga kau tidak perlu senyuman orang lain lagi. Aku juga tidak suka kau melihat laki-laki lain, karena aku akan selalu menatapmu dengan tatapan penuh cinta sehingga kau tidak perlu menatap laki-laki selain aku. Aku yang akan memberimu banyak cinta sampai kau tidak bisa menampungnya, sehingga tidak ada tempat untuk laki-laki lain di hatimu. Jadi di hati dan otakmu harus dipenuhi dengan diriku, hanya aku.”


Kinara diam tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Pokoknya hanya ada aku, di sini.” Meletakan tangan di dada Kinara. Tunggu! Apa yang aku pegang? Ini rasanya seperti ....


“Apa yang sedang kau pegang?!” Kinara memberontak. “Singkarkan tanganmu dari situ! Kenapa kau malah merem*snya!”


“Tunggu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!”


“Kau sedang mencuri kesempatan dalam kesempitan?”


“Tidak, sungguh. Aku ingin menunjuk ini, ini.” memukul dadanya sendiri. Maksud Dika yang sebenarnya adalah menunjukan letak hatinya.


“Kau merusak momen romantis kita!” Kinara bangun dari ranjang.


“Tunggu, ini bukan salahku! Kau yang membelakangi aku, jadi aku salah pegang. Lagipula jaraknya memang berdekatan. Jadi aku ....”


"Suadah tahu salah pegang. Kenapa tidak cepat-cepat melepaskan! Kenapa malam merem*snya!"


"Aku ... tidak ...." Dika bingung harus berkata apa. Dia sampai tergagap.


“Sudahlah, aku harus minum untuk menjernihkan kepalaku! Kau mau minum apa? Biar aku buatkan!” Kinara masih menekuk wajahnya.


“Aku sungguh tidak sengaja, demi Tuhan.” Dika memijat pelipisnya. Tapi itu sungguh ... rasanya, aku tidak bisa menggambarkannya.


“Mau minum tidak? Kalau tidak ya sudah!” Sudah berada di depan pintu dan memegang gagang pintu.


“Iya, iya ... aku mau minum.” Dika pasrah.


“Apa? Kopi atau teh?”


“Baygon ada? Lebih baik aku mati daripada melihatmu marah-marah seperti itu.”


Kinara langsung keluar dari kamar. Begitu sampai diluar dia tertawa terbahak melihat tingkah lucu suaminya. Sebenarnya Kinara bukannya marah, tetapi dia tidak bisa menahan malu. Sudah menikah lama, tetapi rasanya seperti baru saling mengenal dan jatuh cinta. Bahkan pengalaman pertamanya dengan Dika tidak seindah ini.


🍃Di dalam kamar🍃


“Apa kau tidak punya mata, hah?!”


“Sekarang kau tidak bisa bicara apa pun padaku? Kau tidak punya mulut?!"


“Jelaskan padaku. Kenapa kau justru merem*snya? Bukannya berhenti!”


“Dasar tangan sialan!”


Dika sedang mengumpati tangannya sendiri yang sudah berkelana ke tempat terlarang, sampai membuat Kinara meradang.


“Memangnya kenapa? Ah, aku kesal sekali. Lagi pula itu juga ‘kan miliku, aku berhak memegang atau melakukan apa pun di sana!” Menutup wajahnya dengan bantal.


Bersambung....


.


.


Eciiieee babang Dika, itu mah sengaja kali ya 😁 Yuk mana nih jempolnya, saatnya bayar emak pake LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE YAH. BANTU TCK MASUK 10 BESAR, OK.

__ADS_1


__ADS_2