Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Bukan Urusanmu


__ADS_3

Begitu sampai di dalam kamar, Kinar langsung meletakan dua kantung kresek di atas meja belajar lalu melempar tas yang melingkar di pundaknya ke atas kasur, bersamaan dengan itu Kinar menjatuhkan tubuhnya. Menutup mata perlahan dan menarik napas panjang.


“Aku harus mengeluarkan pakaian yang diberikan Dika. Aku tidak peduli dia mencintai siapa pun, setidaknya dia tidak perlu mengatur caraku berpakaian. Aku bisa memakai pakaian apa pun yang aku sukai. “ Kinar menggerutu, dia bangkit dari ranjang dan menarik koper yang terasingkan sejak dirinya menginjakkan kaki di mansion Dika. Membuka koper itu dan mengeluarkan isinya, menyusun satu persatu pakaian miliknya di dalam lemari.


“Ah aku ingat, ini baju lebaran dari ibu. Lebaran tahun ini sudah tidak ada Ayah. Jangan menangis Kinar, jangan menangis.” Kinar menengadahkan wajahnya, berharap air mata yang menggenang di bola matanya tidak jatuh membasahi pipinya.


“Tidak ada yang perlu ditangisi, Ayah sudah bahagia di sana. Tidak merasakan sakit lagi, Ayah harus bangga melihat putrimu ini. meski teramat berat, aku tetap bertahan menjalankan amanat darimu.” Kinar mengibaskan tangannya di dekat matanya. melakukan gerakkan seperti sedang menghalau air mata yang hampir tumpah. Dan ternyata hal itu memang berhasil.


Sepersekian menit Kinar sudah selesai mengeluarkan pakaian pemberian Dika dari dalam lemari dan menggantinya dengan pakaian milik Kinar. Kali ini matanya melirik dua kantung kresek yang ada di atas meja belajarnya. Tangannya mulai membuka kantung kresek itu dan mengeluarkan isinya. “Ah, struknya.” Kinar membuka tas dan mengeluarkan struk belanjaan dari dalam sana. Dia mulai membaca nama barang dan harga yang tertera di sana.


“Kripik singkong sukaku saja semahal ini, coba kalau beli di pasar tradisional. Dengan harga segini bisa dapat setengah kilo keripik singkong.” Kinar meletakan kripik singkong yang dibelinya di mini market sepulang kuliah sore tadi.


“Ini apa lagi, mahalnya tidak ketulungan. Yang ini juga mahal, duh belanja seperti ini saja sudah menghabiskan dua ratus ribu. Aku harus segera mencari pekerjaan, jika tidak uang tabunganku akan semakin habis. Ah, mungkin besok aku mampir ke dealer motor dulu deh. Cari motor matic bekas saja, tapi yang bekas biasanya sering ngadat. Kayak motor bapak yang sering ngadat, mentang-mentang motor bekas dan harganya murah, motornya jadi sering bengek. Sedikit-sedikit masuk bengkel, manjanya bukan main.” Setelah mengeluarkan semua belanjaan dari dalam kantung kresek, Kinar duduk di tepi ranjang sembari berpikir keras.


“Tapi kalau beli motor baru uang tabunganku tidak akan cukup, di atm cuma ada delapan juta. Atau kredit saja? Dari mana aku bisa membayar tiap bulnnya. Ah, sudahlah lebih baik aku makan dulu, lapar sekali.” Kinar bangkit dari ranjang, meraih satu bungkus mie instans. Langkahnya terayun menuju dapur.


Sejak kecil Kinara adalah gadis yang ceria dan pantang menyerah, ketika masuk Sekolah Menengah Pertama Kinara sudah bisa membantu perkonomian keluarganya dengan berjualan gorengan, setiap pagi dia selalu membawa beberapa jenis gorengan. Bahkan sampai berjualan pulsa pun dilakukannya. Kemandirian Kinara terus dibawa sampai Sekolah Menengah Atas, ia tetap berjualan, mengikuti lomba menulis cerpen, bahkan bekerja paruh waktu. Jadi merupakan hal yang wajar jika Kinara memiliki uang tabungan dan tidak pernah ingin menyusahkan orang lain. Termasuk suaminya, orang yang jelas-jelas membenci dirinya. Sudah pasti Kinar akan berpikir dua kali untuk menggunakan uang dari Dika.


“Nyonya, apakah anda mau makan? Akan saya siapkan, apa yang ingin anda makan?” Tanya bibi Ane begitu melihat Kinar melangkah mendekati dapur.


“Tidak perlu bi, saya siapkan sendiri saja.” Kinar menggelengkan kepala diiringi senyum di wajahnya.


“Tidak apa-apa, Nyonya. Ini sudah tugas saya.” Bibi Ane bersikeras.


“Sungguh tidak usah, Bi. Biarkan saya saja. Bibi boleh pergi dan istirahat.” Kinar berusaha meyakinkan.

__ADS_1


“Itu, kalau boleh tahu apa makanan kesukaan, Nyonya?” Tanya bibi Ane.


“Saya bukan orang yang pilih-pilih makanan kok bi. Apa saja bisa saya makan, yah selama ada nasinya. Hehehe...” Kinar terkekeh, Bibi Ane hanya mengernyitkan dahinya.


“Misalnya jenis makanan seperti apa? Western Cuisine atau Asian Cuisine?” sekeli lagi bibi Ane bertanya untuk memastikan.


“Ah... itu..” Kinar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, diiringi senyum lebar.


Bagaimana aku harus mengatakannya? Aku lebih suka ketoprak, balado terong, bahkan oreg teri asin. Batin Kinar.


“Jadi apa yang ingin nyonya makan hari ini?” pertanyaan bibi Ane membuyarkan lamunan Kinar, ia terperanjat memutar otak untuk menjawab pertanyaan bibi Ane.


"Hari ini saya akan memasak sendiri, bi." Ucap Kinar.


“Nasi goreng.” Jawab Kinar asal sembari melayangkan senyum kudanya.


“Nasi goreng seafood?” Bibi Ane kembali menggaruk kepalanya.


“Nasi goreng telor mata sapi, mungkin.” Kinar nyengir.


Sudahlah bibi Ane, bisakah kau biarkan aku sendiri? Kinar membatin.


“Baiklah, besok bibi akan menyiapkan nasi goreng telur mata sapi untuk sarapan, Nyonya. Saya permisi dulu, Nyonya.” bibi Ane pergi dari dapur, tersenyum sopan sembari membungkukkan tubuhnya.


“Di mana pancinya? Aduh dapur sebesar ini apa tidak ada panci? Mungkin ada wajan di sekitar situ.” Kinar berkeliling mencari wajan, matanya berbinar ketika mendapati panci berukuran kecil. Secepat kilat Kinar mengisi air di panci, menyalakan kompor dan menunggu air nya mendidih.

__ADS_1


“Sedang apa kau di sini?”


"Astaga kaget, aku." Kinar terperanjat ketika mendengar suara Dika. “Memang apa lagi yang bisa dilakukan di dapur selain memasak dan makan? Apa kau pikir aku sedang senam?” Kata Kinar.


“Terserah kau saja, aku tidak peduli.” Dika berjalan menuju lemari es, membuka lemari es dan mengeluarkan air mineral dari dalamnya. Menuang ke dalam gelas dan meneguknya.


“Lian kali kalau mau minum kau harus duduk, minum sembari berdiri itu tidak baik.” Kata Kinar.


“Uhuk...” Dika tersedak, dia meletakkan gelas itu dengan kasar sampai terdengar suara cukup kencang.


“Apa urusanmu, aku minum sambil berdiri, sambil tidur atau bahkan sambil menari itu juga urusanku, bukan urusanmu. Kau tidak perlu ikut campur tentang hidupku.” kata Dika mencecar Kinar dengan kalimat yang begitu kejam.


“Terserah.” Kata Kinar.


Baru kali ini aku bertemu manusia yang tidak tahu berterima kasih, seharusnya aku biarkan saja. Batin Kinar.


“Ah, sudah mendidih.” Begitu melihat air mendidih Kinar langsung menenggelamkan mie instans itu lalu memasukkan bumbu ke dalamnya dan menutup pancinya. Tak berapa lama mie instans buatannya sudah matang. Kinar membawa mie itu ke atas meja makan, duduk di kursi dan membuka tutup panci lalu mengaduknya.


“Kenapa kau makan makanan tidak sehat seperti itu? Ada banyak makanan di rumah ini.” kata Dika.


“Apa pedulimu, aku mau makan makanan tidak sehat juga bukan urusanmu, kau tidak perlu ikut campur masalah hidupku!” Kinar mengembalikan ucapan Dika, tangannya mulai sibuk mengaduk, mengangkat mie instans dan memasukkannya ke dalam mulut.


\=\=\=>Bersambung 💕💕


Please, Klik Like 🖒 Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah ☺

__ADS_1


__ADS_2