Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Akhir Segalanya (End)


__ADS_3

“Nyonya, tolong jangan menangis. Kandungan Nyonya sangat lemah, Nyonya tidak boleh terlalu banyak pikiran. Tolong jangan seperti ini.” Ken menggeser berkas itu dan menjauhkannya dari Kinara.


"Jika semua aset keluarga Mahendra diberikan pada anakku, lalu bagaimana dengan hidupnya?"


"Sejak Nyonya menutup rapat pintu maaf, hidup Tuan tidak ada artinya lagi."


"Dia juga harus menikah, Ken. Dia perlu melanjutkan hidupnya."


"Menikah." Ken tertawa pelan. "Dia sudah memutuskan tidak akan menikah lagi, Nyonya. Jika dia ingin menikah dan memiliki anak dari wanita lain, bukankah dia tidak akan memberimu semua hartanya?"


Kinara menelan salivanya lalu berucap, "Aku ... tidak bisa menerima semua ini, Ken."


Ken menggelengkan kepala. "Semuanya sudah diputuskan, Nyonya. Nyonya simpan dulu saja berkasnya, dan Nyonya pikirkan dengan kepala dan hati yang tenang."


“Apa yang harus aku lakukan, Ken?” Suara Kinara terdengar semakin parau, tersengal di antara tarikan napasnya. “Apa yang harus aku lakukan?” ulangnya dengan bahu berguncang dan kepala tertunduk dalam. Kedua telapak tangannya dia gunakan untuk menutupi wajah.


“Lakukan seperti yang hatimu inginkan, Nyonya.”


Kinara mendongakan kepala dan menatap Ken. “Aku sendiri tidak tahu apa yang diinginkan hatiku.”


“Kalau begitu bertanyalah pada Tuhan, Nyonya.”


“Bertanya pada Tuhan ....” Kinara bergumam lirih lalu tertawa ringan ketika mendengar ucapan Ken. Kinara teringat ketika dirinya memberi saran yang sama pada Dika untuk bertanya pada Tuhan.


Apakah aku juga sedang menuai karma, Tuhan? Apakah pada akhirnya aku juga akan terluka? batin Kinara.


“Nyonya, tolong berikan surat itu padaku. Kau tidak usah melihatnya jika kau tidak ingin.”


Kinara menyodorkan selembar kertas perceraian itu pada Ken. Kertas itu masih kosong, belum ditanda tangani oleh Kinara. Ken segera memasukan semua berkas ke dalam map, termasuk lembar perceraian itu. Menyusun rapi dan meletakan di atas meja.


“Semuanya saya simpan di sini, Nyonya. Saya juga sudah menjelaskan semuanya dengan rinci, bagian mana saja yang perlu Nyonya tanda tangani.”


“Apa aku bersalah, Ken? Apa salah jika aku membenci Ayah dari anakku sendiri?” Kinara menundukan kepalanya. “Perasaan ini juga datang begitu saja. Aku juga tidak ingin membenci Dika sedalam ini, tapi aku bisa apa?!" imbuhnya.


“Saya tidak bisa menilai benar salahnya semua tindakan yang diambil oleh Nyonya dan Tuan. Karena ... saya yakin tindakan kalian berdua memiliki alasan masing-masing. Namun jika saya boleh memberi Nyonya sedikit nasihat ....” Ken diam. Dia tahu sikapnya sudah kelewat batas, mencampuri urusan rumah tangga majikannya adalah sikap yang lancang.


“Tidak apa-apa, Ken. Aku bersedia mendengar nasihat dari siapa pun selama nasihat itu baik, aku tidak peduli dari mana datangnya. Bagiku yang terpenting adalah isi dari nasihat itu sendiri. Lagi pula, saat ini aku memang membutuhkannya,” ucap Kinara dengan suara bergetar.

__ADS_1


“Menurut saya ... pernikahan itu seperti melakukan sebuah perjalanan dengan kapal di tengah lautan lepas, Nyonya. Tujuan kita adalah sebuah pulau. Pulau itu kita ibaratkan keridhaan Allah. Untuk mencapai pulau dan singgah di dalamnya, perjalanan kita tidaklah mudah. Begitu pula dengan Tuan dan Nyonya yang sedang mengarungi lautan dengan sebuah kapal. Ketika kapal itu bocor, kalian berdua harus bekerja sama untuk menutupnya. Agar air tidak masuk ke dalam badan kapal. Ketika kapal kalian tidak sengaja menghantam bebatuan, kalian berdua harus sabar untuk melewati bebatuan itu dan melanjutkan perjalanan.”


Ken manrik napas dalam, sesaat kemudian dia kembali berucap, “Tidak hanya itu, ada ombak dan angin yang kencang. Terkadang ombak itu menghantam sampai membuat kapal yang kalian naiki oleng. Angin kencang juga bisa menjauhkan kalian dari tujuan. Namun kunci dari semua kesulitan yang kalian hadapi ada pada kalian berdua, jika kalian mampu bekerja sama maka kalian akan selamat, tetapi ....”


Ken terdiam, Kinara menatap dalam tidak sabar menunggu kalimat yang menggantung itu.


“Katakan, Ken. Tetapi apa?”


“Tetapi jika salah satu di antara kalian menyerah, atau bahkan keduanya sama-sama menyerah. Jangankan sampai di sebuah pulau, mungkin kapal kalian akan karam di tengah lautan.” Ken tersenyum getir. “Dan yang rugi, adalah kalian sendiri.”


Ken mungkin belum menikah, belum pernah jatuh cinta, berpacaran pun belum pernah sama sekali. Namun, didikan agama yang kental dari orang tuanya, dan juga pendidikan yang dia tempuh ketika di pesantren dulu. Sedikit banyaknya bisa membuat Ken lebih bijak dalam menyikapi masalah hidup.


“Tapi ... aku tidak bisa berada dalam satu kapal dengan orang yang kejam seperti Dika,” ucap Kinara.


“Apa sekarang Tuan Muda masih berlaku kejam padamu, Nyonya?”


Kinara diam, nyatanya perubahan sikap Dika sudah dia rasakan.


“Nyonya tidak akan bisa mejawabnya, karena pada dasarnya Nyonya tahu Tuan Muda sudah berubah.”


“Tapi kebencian ini masih tetap sama, tidak berubah! Tetap ada di dalam hatiku!"


“Hati yang menutup diri?” kening Kinara berkerut.


“Iya, Nyonya memaksa hatimu untuk membenci Tuan Muda. Terus menerus menutup pintu maaf, padahal hati Nyonya sendiri tidak menginginkan itu.”


Kinara bangun dari kursi, berjalan mendekati ujung teras. Dia menengadahkan tangannya sampai tetes air hujan menggenang di telapak tangannya. “Kau tidak tahu luka yang aku alami, Ken. Itulah mengapa kau begitu mudah memberiku perumpamaan.”


“Kasihanilah laki-laki bodoh yang tidak mengerti arti cinta Nyonya.”


“Apa maksudmu?” tanya Kinara.


“Biar saya sedikit bercerita. Tuan Muda dan Nona Carissa sudah tumbuh bersama sejak keduanya masih kecil. Nona sudah sakit sejak lahir dan Tuan yang menemninya melewati semua masa sulit itu. Tuan merasa dirinya sebagai laki-laki yang harus menjaga Nona. Bertahun-tahun perasaan itu tumbuh di hatinya, melekat seperti lem. Lalu, Nyonya datang dalam kehidupan Tuan Muda sebagai istrinya. Mungkin ... Tuan Muda marah dan kecewa dengan nasibnya, akhirnya dia melimpahkan semua perasaan itu pada Nyonya.”


“Kenapa padaku? Kenapa harus aku yang menanggung perasaan bersalahnya? Kenapa aku yang dia sakiti?” Kinara merem*s kedua tangannya.


“Karena Tuan Muda itu laki-laki yang bodoh. Dia tidak bisa membedakan perasaan cinta dan kasihan. Perasaan Tuan Muda pada Nona yang dia kira adalah sebuah cinta, ternyata hanya perasaan kasihan semata ... lalu ...." Ken menggentung kalimatnya begitu saja.

__ADS_1


"Lalu apa?"


"Lalu, setelah dia menyadari perasaan yang sebenarnya. Semuanya sudah terlambat. Wanita yang dicintai Tuan Muda memilih untuk pergi dan meninggalkan Tuan Muda dalam penyesalan. Nyonya pasti tahu siapa wanita yang aku maksud, bukan?"


Kinara memalingkan wajahnya.


"Wanita itu adalah dirimu, Nyonya."


Kinara masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ken yang masih mematung di atas kursi.


Beberapa saat kemudian Kinara keluar dengan kantung plastik berwarna merah muda.


Ken melirik. Bukankah itu plastik yang diberikan Tuan Muda? Palstik berisi satu set perhiasan, tapi kenapa terlihat sangat penuh. Apa yang Nyonya berikan pada Tuan? atin Ken.


"Berikan ini pada Dika." Kinara menyodorkan plastik itu pada Ken. "Pulanglah, Ken. Aku ingin istirahat."


"Baik, Nyonya."


Selepas Ken pergi dari rumah Kinara. Kinara segera masuk ke dalam kamar sembari membawa semua berkas yang diberikan Ken.


🍃Kamar Kinara🍃


Sesampainya di kamar Kinara melempar ksar berkas itu di atas kasur. Tangisnya masih belum reda, tiba-tiba secarik kertas terlempar dari dalam map yang terbuka.


"Kinara ... maafkan aku atas segala lara yang telah kubuat padamu. Maafkan aku karena terlalu lama aku menyerah. Teriring do'a, semoga kau hidup bahagia dalam perlindungan-Nya." Kinara menatap nanar map coklat di tangannya.


Bersambung....


.


.


Jangan lupa, like, vote, dan komennya.


.


.

__ADS_1


Ohhh, kata2 Babang Ken sungguh warbyaaasaaah ❤️


__ADS_2