Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Pasar Malam (End)


__ADS_3

Malam tidak lagi panjang. Setelah berkeliling pasar malam cukup lama, waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Kinara dan Dika harus segera kembali ke tempat awal. Mungkin Ken dan Amanda sudah di sana.


Dika mengangkat tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Kita harus segera kembali.”


“Iya, sudah malam.” Kinara meraba perutnya. Kenapa aku lapar lagi, kapan terakhir kali aku makan? Bukankah sebelum berangkat ke pasar malam aku makan nasi, lalu di sini makan beberapa kue.


Dika melihat gelagat mencurigakan. Fokus Kinara jelas terbagi. “Kenapa? Kau lapar lagi?” tebaknya.


Kinara mengangguk pelan karena malu.


“Kenapa malu-malu begitu. Kalau lapar, bilang saja. Jangan ditutupi. Lagi pula kau ‘kan memang belum makan banyak. Baru makan beberapa cemilan, mau makan apa?”


Kinara menggeleng. Meraba pinggangnya. Dia saja mau olahraga malam demi roti sobeknya. Jika aku makan lagi, jadilah lingkar pinggangku semakin besar.


“Kinara, kau mau makan apa?” Sudah berdiri di depan Kinara. “Jangan pikirkan berat badanmu, aku tidak peduli, bahkan jika kau semakin gemuk. Lagi pula itu ‘kan karena kau sedang mengandung putraku. Bagiku kau tetap cantik.” Meraih ujung jemari Kinara. “Mau makan apa?” Entah sudah berapa kali Dika menawarkan Kinara. “Bagaimana dengan bubur Ayam?” tawarnya.


Kinara menggeleng. Dia tidak ingin bubur.


“Sekarang katakan padaku, kau mau apa?”


“Emmm ... tiba-tiba aku ingin berondong.” Pandangan Kinara melayang jauh membayangkan manis dan renyahnya berondong.


“Kau bilang apa tadi?! Be-berondong?!” *Bukannya dia ingin makan, kenapa sekarang ingin berodong?


D*ika nampak menarik napas dan mengembuskan perlahan. “Kinara, kau sungguh keterlaluan! Memangnya aku belum cukup untukmu? Walaupun aku lebih tua lima tahun darimu, tetapi wajahku terlihat masih muda.” Menyentil dahi Kinara. “Jangan macam-macam, ya! Kau tidak butuh berondong! Cukup denganku saja!”


Kinara memaju mundurkan bibirnya, matanya nampak berkaca-kaca. “Kenapa kau marah? Hiks. Aku ‘kan hanya ingin berondong, apa begitu susah mencari berondong untukku? Tadi kau yang menawarkan.”


“Iya. Aku menawarkan bubur ayam, kenapa kau mau berondong?”


“Tapi ‘kan aku tidak mau bubur ayam.” Kinara meremas dasternya. “Aku maunya berondong.” Matanya semakin basah.


“Kenapa? Hey, ada apa? Ja-jangan menangis.” Menangkap kedua pipi Kinara dengan telapak tangannya. “Kenapa permintaanmu seperti itu? Apa ini bawaan anak kita?”


Kinara mengangguk.


Dika melenguh panjang. “Baiklah, di mana aku harus cari berondongnya?”


“Aku tidak tahu, aku tidak peduli* Aku hanya ingin berondong!” Kinara menangis.


Dika memijat pangkal hidungnya dan mengusap kasar wajahnya. Ya Tuhan, kenapa permintaannya seperti itu? “Baiklah, kau tunggu di sini.” Menuntun Kinara untuk duduk. “Aku akan cari berondongnya.”


“Yang manis, yah.” Kinara mengacungkan jempol.


Dan sekarang kau minta yang manis? Memangnya aku tidak cukup manis untukmu? Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa anakku sendiri menghianatiku, batin Dika.


Ajaib! mungkin itulah yang ada di dalam benak Dika. Setelah Dika setuju soal berondong, wajah Kinara sudah berubah lagi. Air matanya hilang begitu saja.

__ADS_1


Ken dan Amanda sudah kembali, sesuai janji. Jam sepuluh mereka harus kumpul lagi. Keduanya berpapasan dengan Dika yang sedang mondar-mandir tidak jelas.


Amanda langsung menghampiri Dika. “Mas Dika, kenapa di sini? Kak Kinara di mana?”


“Kak Kinar sedang istirahat di tempat awal, Mas lagi nyari berondong yang manis.” Dika menarik tangan seorang pemuda yang kebetulan lewat di depannya, langsung melihat wajah lalu melepaskan begitu saja. “Tidak manis,” katanya.


“Tunggu, Mas. Sebenarnya apa yang sedang Mas Dika lakukan?”


“Mas lagi nyari berondong yang manis, Kakakmu minta dibawakan berondong. Ah, sakit hati rasanya.”


“Me-mangnya berondong yang Mas Dika maksud itu apa?”


“Berondong, pemuda yang masih muda ‘kan?”


Ken dan Amanda langsung melakukan gerakan memukul kening secara bersamaan.


“Apa? kenapa?” tanya Dika dengan wajah polos.


“Tuh.” Ken dan Amanda menunjuk sebuah gerobak di depan mereka.


Dika menoleh. “Apa?”


“Itu berondong manis yang Kak Kinara maksud, Mas.”


“Astaga, popcorn?! Itu popcorn?! Jadi maksudnya dia tidak mau pemuda di bawah umur? Tapi mau popcorn?”


Amanda mengangguk. Memangnya untuk apa pemuda di bawah umur, memiliki Mas Dika saja sudah membuat kepala Kakak pusing.


Seketika Amanda langsung menoleh ke arah Ken. “Mas Ken lebih membuat malu. Coba bayangkan ....”


“Sstt ....” Meletakan jari di bibirnya sendiri. “Jangan ceritakan hal itu pada siapa pun, ok?”


“Ok.” Amanda mengacungkan jempol. (Sayangnya semua pembaca sudah tahu kelakuanmu, Ken)


“Apa yang sedang kalian sembunyikan dariku? Ingat Amanda, kau masih kecil. Jangan percaya dengan rayuan Ken!" Sebagai kakak ipar yang baik Dika hanya mengingatkan.


Rayuan apanya? Seumur hidup ke pasar malam, baru kali ini aku merasa malu, batin Amanda.


“Jadi beli berondong tidak?” tanya Ken.


“Oh, hampir lupa. Kinaraku memang manis.” Dika tertawa keras. “Aku akan beli berondong yang banyak, pasti anakku sedang ingin makan yang manis-manis.”


Dika sudah menenteng banyak sekali berondong pesanan Kinara. wajahnya selalu dihiasi senyuman sejak tahu jika berondong yang Kinara mau adalah popcorn, bukan laki-laki di bawah umur atau daun muda. Tadinya Dika pikir mungkin itu ngidamnya Kinara, karena Marta sering bercerita kalau ketika dia mengandung Dika, ngidamnya adalah melihat laki-laki tampan.


***


“Kinara,” ucap Dika tiba-tiba. Membuat Kinara yang berjalan di sampingnya menoleh.

__ADS_1


Keempatnya sudah dalam perjalanan pulang. Ken dan Amanda ada di depan, Ken yang kerepotan membawa banyak kantung belanjaan milik Dika dan Kinara.


“Kenapa? Kau sudah lelah? Baru juga sebentar, rumah masih lumayan jauh. Bersabarlah, apa kita perlu istirahat? Di depan ada saung. Kita bisa duduk di sana.” Kinara tersenyum, angin yang berembus membuat rambut panjangnya bergoyang.


Untuk kesekian kalinya Dika terpesona, entahlah, sudah berapa kali Dika terpesona oleh kecantikan yang dipancarkan Kinara. Dika pikir Kinara hamil anak perempuan karena wajah Kinara terlihat semakin cantik.


“Hahaha ... bukan begitu. Aku justru ingin bertanya. Apa kau lelah? Kau kan sedang hamil.”


“Memangnya jika aku lelah kenapa? Kau akan meminta Ken membawa mobil? Yang benar saja.” Kinara tertawa kecil.


“Tidak, bukan begitu.”


“Lalu.”


“Untuk apa aku menyuruh Ken memebawa mobil. Aku masih punya kaki dan tangan yang kuat untuk menggendongmu. Mau kugendong sampai rumah?” Dika tersenyum manis.


Deg ...!


Lagi-lagi degup jantung keduanya kembali berpacu. Kali ini lebih parah karena didukung suasana malam yang syahdu, ditemani bintang dan rembulan keduanya saling menatap.


“I-itu tidak perlu.” Kinara memalingkan wajahnya dan berjalan cepat meninggalkan Dika yang seang tersenyum bahagia melihat reaksi Kinara.


“Kinara.” Meraih pergelangan tangan Kinara.


“Kenapa?”


“Besok aku harus kembali ke kota. Seperti apa yang dikatakan ibu, aku tidak bisa terlalu lama menginap di rumahmu. Bagi seluruh warga, aku mungkin suamimu. Tapi bukankah kita berdua sama-sama tahu, jika kau dan aku sudah berpisah.”


“Iya, aku tahu.”


“Kinara bisakah kita lupakan semua hal pahit yang kita alami. Berikan kesempatan padaku untuk menjadi suami yang baik untukmu, kakak yang baik untuk Amanda, dan menantu yang baik untuk Ibu.”


“Aku ....” Kinara nampak menggigit bibir bawahnya.


“Pulanglah Kinara. Ikutlah denganku, Sayang. Kita habisi semua kebencian yang pernah ada. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Ayo kita kembali, ke rumah kita.”


“Aku ... harus berpikir. Besok, kuberikan jawabannya.”


Bersambung....


.


.


Ah, emak mau dong bang diajak pulang. Pulang ke rumah kita. Kalau Kinara nggak mau, ajak emak aja. 😂


.

__ADS_1


.


Jangan lupa LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE Yang Kenceng.


__ADS_2