
Puncak tertinggi dari mencintai seseorang adalah ikhlas. Ikhlas melepaskannya untuk bahagia, meskipun bersama orang lain (Emak Boss).
"Ayo kita pergi, Ken."
"Tuan ... Anda belum tahu bagaimana keputusan, Nyonya."
Dika memutar tubuhnya dan kembali menatap Kinara dari kaca.
"Lihatlah, Ken. Dia terlihat bahagia. Dia bahkan tersenyum lepas. Apakah itu belum cukup menjawab kepada siapa hatinya berlabuh? Kinara ...." Tersenyum getir. "Dia tidak pernah tertawa ketika bersamaku."
Dika menengadahkan kepalanya. Berharap genangan air di kedua matanya tidak tumpah. Sakit sekali melihat wanita yang dicintainya tertawa karena laki-laki lain.
"Aku kalah, Ken. Dalam pertempuran ini, akulah yang kalah. Karena sudah kalah, mari kita pulang." Dika menatap lekat wajah Kinara yang sedang tersenyum.
Teruslah tersenyum, Kinara. Kau akan selalu ada di hatiku, selamanya. Aku akan selalu menyebut namamu di dalam do'aku, selamat tinggal. Kinaraku .... batin Dika.
Dika memutar tubuhnya dan melangkah menjauh dari tempat itu. Perlahan-lahan tubuhnya menghilang di dalam mobil.
Ken segera memacu mobilnya. Membelah jalanan kota yang mulai padat. Ken harus bergerak cepat sebelum menjumpai kemacetan. Dia harus segera sampai di kantor. Ada hal penting yang harus Dika urus.
***
Kantor Dika.
Selama perjalanan menuju kantor Dika terus menangis. Ken sendiri bahkan sering menyeka air matanya karena ikut merasakan duka yang dialami Dika. Dia diam-diam memperhatikan tubuh Dika yang gemetar, duduk tak berdaya di kursi belakang.
Saat ini Dika terlihat seperti manusia tanpa hati. Ekspresi wajahnya datar, pandangan matanya kosong, dan jalannya gontai.
Melepaskan wanita yang sangat dicintainya bukanlah hal yang mudah. Jika saja Kinara mau menerima Dika kembali. Memberinya kesempatan untuk merajut lagi tali kasih yang sudah putus. Mungkin, Kinara akan menjadi wanita yang paling bahagia. Dicintai dengan sepenuh hati dan segenap jiwa.
"Semuanya sudah siap, Ken?"
Ken nampak menarik napas dalam. "Sudah, Tuan."
"Berapa lama waktu yang kita butuhkan? Satu minggu?"
Ken menggeleng. "Tidak bisa, Tuan. Untuk mengurus semua berkas-berkas ini, memilih pemimpin pengganti untuk semua cabang perusahaan bukanlah hal yang mudah."
"Lalu berapa lama, Ken?" Dika mengusap lemah wajahnya.
"10 hari, Tuan. Itu sudah paling cepat." Ken menunduk. "Apa Tuan Muda yakin dengan keputusan ini?"
Dika tersenyum tipis. "Aku yakin, Ken. Aku bisa mati berdiri jika harus menyaksikan pernikahan mereka." Dika menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Baiklah. Jika Tuan Muda sudah yakin." Ken berjalan maju, meletakan setumpuk berkas di atas meja. "Ada beberapa dokumen yang perlu Anda tanda tangani."
"Baiklah." Dika membuka satu demi satu dokumen yang perlu dia tanda tangani.
Tiba-tiba pintu kantor terbuka keras tanpa didahului bunyi ketukan. Marta masuk dengan langkah memburu. Karena terburu-buru sampai bunyi antara lantai dan sepatu hak tingginya terdengar nyaring. Saling beradu.
"Apa-apaan kau ini!" Marta langsung berjalan mendekati Dika. Dia mengayunkan tasnya tinggi-tinggi bersiap menjatuhkan satu pukulan di tubuh anaknya. "Dasar keterlaluan!"
"Ah, Bu Boss!" Ken langsung berdiri di depan Dika. Dia merentangkan tangannya untuk melindungi Dika dari pukulan Marta.
__ADS_1
“Kau ingin melindunginya? Bertindak sok pahlawan, hah?” Akhirnya Marta memukul lengan Ken. Pukulan itu tidak terlalu keras, Ken sudah seperti anaknya, bagian dari keluarganya.
“Hentikan, Mah! Ken bisa mati kalau terus dipukul.” Suara Dika dari balik tubuh Ken.
“Sekarang kau bisa membuka mulutmu! Jelaskan pada Mamah sebenarnya apa yang terjadi? Baru ditinggal beberapa minggu ke Jerman kau sudah bertindak gegabah!” Marta berusaha meraih tubuh Dika. Namun, Ken terus menghalanginya.
Beberapa minggu ini Marta memang pergi ke Jerman. Ada hal penting yang harus dia urus, tapi dia selalu mendapatkan laporan tentang hubungan Dika dan Kinara dari mata-matanya, yang tidak lain adalah bibi Ane.
“Bu Boss, kemarilah.” Ken meminta Marta mengikutinya. Marta menurut. "Dekatkan telingamu." Marta mendekatkan telinganya.
“Kenapa harus bisik-bisik, katakan langsung saja.”
“Sstt ... kau tahu Bu Boss, tadi pagi Tuan Muda habis menangis. Sebenarnya Tuan Muda ... begitu ceritanya." Ken menceritakan beberapa hal penting tentang kondisi Dika dan Kinra.
"Jadi tolong. Jangan pukul Tuan Muda, dia sudah cukup menderita.” Ken masih berusaha menjauhkan Marta dari Dika.
Mendengar ucapan Ken Marta mencoba menenangkan diri. Dia menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan, melakukan gerakan itu berulang sembari menaik turunkan bahunya.
Kasihan sekali nasib putraku. Haiiis, karma benar-benar menakutkan, batin Marta.
“Baiklah. Sekarang jelaskan semuanya pada Mamah.” Sudah duduk di depan Dika. Memangku kakinya, merapikan rambut dan bersikap anggun lagi seperti biasanya.
Ibu dan anak ini, kenapa keduanya terlihat berbeda, batin Ken.
“Kenapa kau diam saja? Kau bisu.” Mengetuk-ngetuk meja.
“Memangnya apa lagi yang harus aku katakan, Mah? Semuanya sudah jelas.”
“Mamah tahu dari mana?” Dika melirik ke arah Ken yang sedang berdiri.
Ken langsung menggelengkan kepala disertai dua jarinya yang terangkat. Bukan aku mata-matanya, begitu kurang lebih arti gerakan tubuh Ken.
“Tidak penting dari mana Mamah tahu. Sekarang jelaskan semuanya pada Mamah.”
Dika mengusap kasar wajahnya. Sebenarnya dia tidak ingin mengingat kembali kisah pilunya. Namun, Dik tidak punya pilihan lain. Dia harus menjelaskan semuanya pada Marta, termasuk pelimpahan aset keluarga Mahendra pada anaknya yang bahkan belum lahir. Untuk masalah itu Marta pun mendukung, tetapi Marta kecewa tentang keputusan Dika menggungat cerai Kinara dan membantu Agra agar bisa bersatu dengan Kinara.
“Kapan kau akan pergi?” Memijat keningnya.
“Sepuluh hari lagi paling cepat, jika memang semuanya belum beres mungkin bisa 20 harian.”
Marta mengembuskan napas, pasrah. “Apa Kinara tahu?”
Dika menggeleng. “Tidak ada yang tahu kecuali Mamah dan Ken.”
“Malang sekali nasibmu, Nak.” Marta bangun dari kursi. “Padahal Mamah selalu berdo’a agar kau dan Kinara bisa kembali bersatu, yah ... apa mau dikata. Mungkin inilah balasan yang harus kau terima karena berlaku jahat pada Kinara.”
Balasan? Sepertinya benar. Tuhan, apakah aku sedang menuai karmaku? Jika memang ini karmaku, aku terima, aku ikhlas. Asalkan aku bisa melihat Kinara bahagia, batin Dika.
***
Setelah menguliahi putranya panjang kali lebar, Marta memutuskan untuk menemui Kinara. Biar bagaimanapun Kinara masih mengandung cucunya. Sekalipun Kinara menikah dengan Agra, toh darah yang mengalir di tubuh anaknya tetap saja darah Dika, putra semata wayangnya.
"Tuan, apa perlu aku bantu mengurus berkas-berkas itu?" Melirik tumpukan berkas yang belum sempat dilihat.
__ADS_1
Dika menggeleng. "Tidak perlu, Ken. Aku yang akan mengurusnya. Kau keluarlah, aku ingin sendiri dulu."
Ken membungkuk sopan dan segera pamit. Ketika Ken membuka pintu Carissa sudah berdiri di depan pintu.
"Oh, Nona." Ken langsung menyapa sembari membungkukan badan begitu melihat Carissa.
"Hay, Ken? Apa kabar?" Mengulurkan tangan.
"Kabar saya baik, Nona." Menyambut uluran tangan Carissa.
"Kenapa sikapmu masih kaku bagitu? Ayolah, kau tidak perlu membungkuk padaku, Ken."
Ken menggaruk kepalanya sembari tersenyum. "Rasanya sangat tidak sopan jika saya menyapa tanpa membungkukkan tubuh."
"Aih, yasudah. Terserah kau saja." Carissa tersenyum. "Dika ada di dalam?"
Ken mengangguk.
"Aku ingin bertemu dengannya. Apa aku perlu membuat janji?"
Ken menggeleng. "Tidak perlu, Nona." Membukakan pintu. "Silakan."
"Terima kasih, Ken."
Begitu Carissa masuk ke dalam ruangan, Ken segera menutup pintu.
"Ehem, kau sedang sibuk?" Sudah berdiri di depan meja.
Dika langsung mendongakan kepala. "Oh, Carissa." Bangun dari kursi. "Kapan datang?" Berjalan mendekati Carissa.
"Baru saja. Tadi bertemu Ken diluar, dan aku langsung masuk. Apa aku menganggumu? Kau terlihat sedang sibuk."
Dika tersenyum. "Tidak. Ayo duduk."
Keduanya sudah duduk di kursi tamu.
"Ada perlu apa denganku?" tanya Dika.
"Apa bertemu denganmu harus memiliki keperluan dulu?"
keduanya tertawa kecil. "Yah, bukankah kau sedang sibuk mengurusi kepindahan kuliahmu?
Carissa mengangguk. "Benar. Tapi ada yang ingin aku katakan."
"Apa?"
Bersambung....
.
.
Ciiie digantung ciiieee, kalau vote kalin kendor. Biarin ajah. emak gantung terus ini jemuran ampe kering. Bantu tck masuk 10besar dong.
__ADS_1