Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Pilihan Hati Kinara


__ADS_3

Kinara menangis untuk waktu yang lama, surat dari Agra itu basah karena air mata yang jatuh tanpa henti. Tubuhnya lemas seperti seluruh tulangnya dilolos paksa, dia terjerembab jatuh di atas lantai berkeramik merah tua.


Kakinya tertekuk, bahunya naik turun, tangannya mengepal dan memukul bagian dada agar rasa sakitnya sedikit berkurang, tentu saja itu percuma.


Tangan yang satunya masih memegang erat surat dari Agra, ada sedikit getaran di sana. degup jantungnya berpacu kencang.


Tuhan? Berdosakah diriku jika aku mencintai laki-laki lain, tetapi justru membenci suamiku sendiri. Sejak kapan laki-laki ini ada di hatiku, Tuhan? Sejak kapan aku mencintainya? Mencintai seorang Agra! Engkau Yang Maha Tahu, jika hatiku ini milik-Mu, maka cinta yang tumbuh untuknya juga atas kehendak-Mu, bukan?


Kinara bangun, menuntun dirinya untuk melepaskan segala lara itu. Dia keluar dari kamar untuk wudhu, Kinara ingin berunding dengan sang pemilik jagad raya.


Seperti apa yang Agra katakan, seharusnya Tuhan memiliki jawaban atas keputusan yang diambil Kinara besok.


Selepas melakukan shalat istikharoh, Kinara mendekati ranjang, saat ini berbaring dan menutup mata adalah satu-satunya solusi yang dia miliki. Dia menarik selimut tebal itu sampai menutupi seluruh tubuhnya, meringkuk dan menangis sampai kasur empuk itu membawa Kinara hanyut ke alam bawah sadar.


Pagi hari di kampung Kinara.


Matahari belum keluar dari peraduannya, tetapi suara gaduh antara piring beradu dan bau masakan berhasil mengusik tidur Ken. Dia mencoba mendekati pintu dan mencuri dengar, matanya berkeliling mencari jam dinding untuk melihat jam berapa sekarang ini.


“Jam empat pagi? Sepagi ini ada kegaduhan apa? Mungkinkah ada pencuri? Yang benar saja,” gumamnya.


Ken memutar bola matanya dan meraih sapu yang kebetulan ada di pojok pintu. Langkahnya diseret pelan, mengendap-endap seperti seorang pencuri yang sedang beraksi, alih-alih menangkap pencuri justru dialah yang disangka pencuri itu.


Ken menekan pelan handle pintu, kamar Ken tepat menghadap ruang tamu. Begitu Ken membuka pintu, ruang tamu adalah tempat yang pertama kali dapat dia lihat, tepat ketika pintu terbuka Ken melihat Amanda sedang duduk di kursi tamu sembari memotong sayuran. Amanda terkejut melihat Ken yang mengendap-endap sembari mengangkat gagang sapu.


“Mas, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Amanda, “Sebentar ... jangan bilang kau berpikir sedang ada pencuri?” Dugaan itu menjurus pada kebenaran.


Ken segera menurunkan sapu itu dan tersenyum malu. “Tidak ada, aku ... kau benar, aku pikir tadi ada maling.” Memalingkan wajahnya.


Amanda terbahak. “Apa karena suara piring dan panci itu?”


Ken mengangguk.


Amanda menepak dahinya. “Astaga, itu loh Kakak sedang mencuci piring di belakang.” Menunjuk. “Apa terdengar cukup keras? Kakak memang seperti itu kalau mencuci piring, seperti orang mau tawuran antar sekolah.” Amanda mengiris sayuran lagi.


Ken hanya tersenyum mendengar ucapan Amanda.


Ken berjalan mendekati Amanda. “Apa yang sedang kau lakukan, Amanda?” Sudah duduk di depan Amanda, di kursi yang berbeda.


Memangnya apa lagi? Apa matamu buta? Kau tidak lihat dia sedang memotong sayuran, tolonglah Kenendra, jangan memeprlihatkan betapa bodohnya dirimu, umpat Ken di dalam hati.


“Aku sedang memotong sayuran,” jawabnya singkat.


Tuh, kan, apa aku bilang, batin Ken.


“Untuk apa?”


Astaga, Ken. Ya untuk dimasak, memangnya untuk apa lagi, batin Ken.


“Mas Ken tahu kan kalau aku jualan gorengan? Ini bahan-bahan untuk membuat gorengan, ini untuk bala-bala, ini untuk tahu sumpel, ini untuk pisang goreng, dan yang ini untuk tempe tepung.” Amanda menunjukan satu per satu semua bahan itu pada Ken.


“Oh, harus sepagi ini?”


“Iya, nanti habis sholat subuh baru digoreng. Jam enam pagi aku harus sudah berangkat ke sekolah.” Sibuk memotong pisang.


“Tapi ini banyak sekali, Amanda.”


“Sebagian aku bawa ke sekolah, sebagian lagi untuk di rumah. Kalau pagi Ibu jualan sarapan, itu Ibu lagi sibuk di dapur buat bikin sarapan. Jadi nanti Mas Ken jangan terkejut ketika melihat banyak orang yang datang untuk membeli sarapan.”

__ADS_1


Ken terperanjat, kemandirian keluarga Kinara benar-benar luar biasa. Jauh dari dugaannya selama ini. Jadilah Ken semakin mengagumi sosok gadis berusia 16 tahun itu.


“Kenapa, Mas Ken terlihat terkejut?”


“Ah, tidak.” Mengibaskan tangan. “Aku hanya kagum dengan kehidupan kalian.”


Amanda tersenyum lebar. “Coba Mas Ken lihat ke jendela dan perhatikan beberapa orang yang lewat.” Menunjuk jendela depan yang langsung terhubung ke jalan.


Ken menurut, dia sudah berada di depan jendela, membuka gorden dan menunggu orang lewat. Tak perlu waktu lama beberapa orang mulai bergantian lewat. “Orang-orang itu mau ke mana?” Memutar tubuh. “Apa yang mau mereka lakukan sepagi ini?”


“Sebagian adalah penjual sayur yang akan menjajakan sayur hasil kebun mereka di pasar, sebagian lagi tukang ikan dan ayam, dan sisanya mungkin orang yang akan pergi ke ladang dan sawah.” Amanda bangun, berjalan mendekati Ken. “Coba Mas Ken dengarkan baik-baik, ada bunyi apa?”


Ken mengangguk, dia mencoba mendengar bunyi apa yang Amanda maksud.


“Suara burung?”


Amanda menggeleng. Ken mendengarkan lagi.


“Jangkrik?”


Amanda menggeleng lagi.


“Oh, aku tahu. Bukankah itu suara traktor?”


Kali ini Amanda mengangguk.


“Itu adalah para Bapak yang sedang membajak sawah, bukankah kenyaman dan kedamaian di desa bisa membuat kita ingat bahwa hidup tidak selalu dipenuhi dengan uang baru kita bisa bahagia. Kehidupan di desa mungkin terkesan sederhana, tapi mereka semua bukan tidak bahagia. Bahagia itu ada di hati kita, tergantung sebesar apa kita mensyukurinya.” Tersenyum.


“Semakin besar kita bersyukur, semakin besar pula perasaan bahagia yang kita rasakan. ‘Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kau dustakan’ itu ada dalam surat Ar-rahman disebutkan sebanyak 31 kali. Itu artinya kita harus menjadi pribadi yang pandai bersyukur, semakin kita bersyukur semakin berkah pula hidup kita. Begitu, Mas.” Amanda berjalan mendekati kursi dan kembali memotong pisang, dia tidak peduli dengan Ken yang tertegun memandangi dirinya.


Glek! susah payah Ken menelan salivanya, kekaguman Ken pada gadis kecil di depannya semakin menjadi-jadi saja. Bagaimana mungkin anak berusia 16 tahun bisa memiliki pemikiran yang begitu luar biasa.


“Eh ....” Berjalan mendekat. “Apa ada yang bisa aku bantu?”


“Tidak ada, aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku sudah terbiasa, lebih baik Mas ken pergi mandi dan bersiap-siap.”


“Bersiap ke mana? Mengantarmu ke sekolaha?”


“Tidak! Aku biasa naik sepeda.”


“Lalu?”


“Ke masjid untuk sholat subuh berjamaah, memangnya ke mana lagi. Laki-laki itu sebaiknya sholat subuh berjamaah di masjid , Mas. Pahalanya lebih banyak dan berlipat-lipat, kapan lagi dapat pahala berlipat, yakan?” Amanda tersenyum. “Bahkan langkah kaki Mas Ken ke masjid saja sudah terhitung kebaikan, jarak dari rumahku ke masjid tidak terlalu jauh. Tapi cukup untuk mengumpulkan kebaikan, apalagi ...,” ucap Amanda terputus membuat Ken penasaran.


“Apalagi, apa?”


“Apalagi kalau Mas Ken jalannya sambil dzikiran.” Tersenyum lebar.


Deg ...! Berkali-kali degup jantung Ken tidak bisa dikendalikan. Ken memalingkan wajahnya, dia tidak ingin Amanda melihat wajahnya yang mungkin sedang memerah dan tersenyum memalukan seperti orang bodoh. Tidak, hal itu tidak boleh terjadi.


“Baiklah, kau tidak sholat di masjid?”


“Bagi perempuan kan sebaiknya sholat di rumah.”


“Kenapa?”


“Hmmm ... itu karena perempuan terlahir sebagai fitnah dunia. Bayangkan kalau aku sholat di masjid terus ada laki-laki yang bukan muhrim memperhatikan aku, dan memandangi aku. Terlebih lagi kalau laki-laki itu sampai membayangkan yang tidak-tidak, jadi untuk perempuan memang lebih baik shalat di rumah saja.”

__ADS_1


Ken tahu tentang itu, dua tahun di pesantren cukup untuknya mengetahui beberapa aturan. Dia hanya sedang menguji sejauh mana Amanda paham soal agama.


“Baiklah, aku mau mandi dulu.”


Amanda mengangguk.


***


Benar apa yang Amanda katakan, selepas subuh kira-kira jam setengah enam pagi tetangga mulai berdatangan ke rumah Mirna untuk membeli sarapan. Amanda sudah bersiap berangkat sekolah dengan sepeda yang bagian keranjang depannya diisi kotak gorengan termasuk di bagian belakangnya.


Sementara itu Kinara ikut membantu jualan Ibunya, dan Ken harus menjadi penonton yang baik. Dia hanya bisa membisu, melihat semua kesibukkan itu dengan perasaan bingung karena tidak tahu harus ikut membantu apa. Dia sudah menawarkan diri, tapi memang tidak ada yang bisa dia bantu.


Pukul tujuh pagi.


Semua jualan Mirna sudah habis, Ken juga sudah sarapan. Meja dan peralatan jualan juga sudah dirapikan. Ken meminta ijin pada Kinara untuk berkeliling kampung dengan berjalan kaki, anggap saja Ken sedang olahraga pagi.


Suasana kampung yang sejuk membuat Ken betah berlama-lama diluar, menikmati semilir angin yang membelai rambutnya. Cahaya matahari juga perlahan mulai datang, jatuh tepat dikulit putih Ken.


***


Kinara sudah duduk di teras rumah sembari memijat kakinya, embusan napasnya teratur dengan mata sedikit terpajam. Sinar matahari membuatnya harus menutup cela, Kinara menggunaka telapak tangannya untuk menutupi sebagian cahaya yang masuk.


“Apa kehidupanmu di kota sangat dimanjakan?” Datang dari dalam rumah. “Masa baru bantu Ibu berjualan sarapan saja kau sudah terlihat kelelahan.” Sudah duduk di samping Kinara.


Kinara tidak menjawab, dia memilih untuk tersenyum tipis sebagai ganti jawabannya. Biarlah Mirna menebak apa arti dari senyum itu.


Andai kau tahu, Bu sekuat apa aku bekerja, batin Kinara.


“Jadi hal penting apa yang membuatmu rela jauh-jauh pulang ke kampung?”


“Itu karena Kinar sangat rindu dengan Ibu dan Manda, sudah lima bulan lebi aku tidak melihat Ibu.” Menundukan kepala.


“Ibu percaya itu, tapi pasti ada hal lain bukan? Kau terlihat gelisah sejak menginjakan kaki di rumah ini.”


“Kinar ... Ibu benar, Kinar memang mau bicara seuatu yang penting, Bu.”


“Ya bicaralah.” Mirna menyandarkan tubuh di punggung kursi kayu dan meluruskan kakinya.


“Sebentar, Bu, ada yang harus Kinara tunjukkan.” Kinara bangkit dari kursi, berjalan masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama Kinara sudah kembali dengan sebuah map coklat di tangannya.


Bersambung....


.


.


Di bab ini mengadung kenangan, suasana pedesaan yang tenang dan damai. Semoga bisa mengobati kerinduan bagi pembaca yang jauh dari kampung halaman, sempatkan waktu untuk pulang. Orang tua kalian juga rindu dengan kehadiran kalian .....


.


.


Di bab ini juga banyak pembelajaran yang bisa dipetik, semoga author bisa terus menginspirasi dan memberi sedikit pemahaman untuk pembaca tercinta ❤️😍


.


.

__ADS_1


Seperti biasanya Author minta Like dan Vote nya 😅🤣😍


__ADS_2