Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Apa Maumu? (part 2)


__ADS_3

“Kau selalu marah-marah padaku, Dika. Aku ini bukan apa-apa bagimu, tidak masalah jika kau


tidak mencintai aku. Aku tidak akan memaksa mendapatkan cintamu,


tetapi tidak bisakah kau perlakukan aku seperti manusia? Bukan bagai binatang peliharaanmu.”


Kinara terisak, air mata mulai menganak sungai di wajahnya. Sekuat tenaga Kinara mendorong daun pintu untuk menahan Dika,


tetapi percuma karena kaki suaminya yang dibalut sepatu mahal itu masih terselip di antara ujung pintu.


“Aku. Kinara.” Dika mengepalkan tangannya.


Sial, kenapa bilang maaf saja sesusah ini. Tinggal bilang ‘aku minta maaf, Kinara’ beres kan?


“Aku mohon, Dika.


Aku tidak tahu di mana salahku, tiba-tiba kau melakukan hal mengerikan seperti itu.


Itu ciuman pertamaku, aku juga masih perawan.


Aku bahkan berani bersumpah demi langit dan bumi. Tetapi kau tidak percaya, aku tidak pernah naik ke ranjang laki-laki manapun seumur


hidupku. Satu-satunya ranjang laki-laki yang aku naikki adalah ran-ranjangmu, dan sa-saat itu kau justru melakukannya, merenggut paksa ke-kesuci-anku.


Se-setelah itu, kau minta aku minum pil terkutuk itu.


Dan ketika aku nenolaknya, ka-kau memperlihatkan kemarahan yang membuatku takut.


Kau manusia yang tidak memiliki hati nurani, Dika.”


Kinara membenamkan wajahnya di anatra kedua lututnya.


“Aku bukan wanita mura..mura...han...” Kinara mulai merasa napasnya tersengal tak beraturan.


Deg...


Dika tertegun, jelas sekali itu ciuman pertamanya. Kinara bahkan hampir kehabisan napas ketika bibir Dika memagut bibir Kinara. Meski tidak di pungkir jika itu juga pertama kali baginya,


tetapi sebagai seorang laki-laki dia cukup mengerti cara berciuman.


Dia juga tahu Kinara masih perawan. Ada darah mengalir selepas dia menumpahkan kecemburuan tak berdasar itu.


Jika aku yang pertama? Lalu kedekatanmu dengan Agra itu apa?


Asal kau tahu, ini juga yang pertama bagiku, Kinara.


Ciuman dan hubungan badan itu seharusnya aku lakukan dengan Carissa, kenapa aku melakukannya denganmu?


Dika memukulkan tangannya ke tembok.


“Baiklah, aku minta maaf, Kinar.” Dika menundukkan kepalanya. “Aku minta maaf, Kinara.” mengulangi kalimat yang sama.


Manusia berhati batu sepertimu tidak mungkin minta maaf,


ini hanya siasatmu bukan?


Kau hanya ingin aku keluar lalu kau bisa menyiksaku sepuas hatimu, tidak, aku tidak akan tertipu olehmu.


“Bukalah, Kinara. Aku mohon.” mengetuk pelan daun pintu, Dika membenamkan kepalanya di sana.


Menyesal? Entahlah, tidak ada yang tahu pasti apa yang ada di hati seorang Dika Mahendra.


Aku harus bagaimana?


Kabur?

__ADS_1


Ke mana?


Tidak, aku harus lari. Jika Dika menangkapku dia mungkin akan melakukan itu lagi. Tidak, tolong aku Tuhan.


Kinara bangun, membuka pintu lebar-lebar dan lari di sisi yang lain. Dika hampir terjatuh karena tubuhnya memang sedang bersandar di pintu. Untung kakinya sigap menahan beban tubuhnya.


Greeeb...


“Jangan lari lagi.” memegang pergelangan tangan Kinara. “Maafkan aku.” berbisik lirih lalu memutar tubuhnya.


Kini


keduanya saling bersitatap, kedua bola mata itu jatuh dalam keheningan.


"haaah..." terdengar lucu jika itu suara tarikan napas Dika.


Karena saat ini satu-satunya orang yang harus mengeluh adalah Kinara, bukan dirinya.


“Dengar, angkat kepalamu, Kinar.


Kau masih gadis yang sama 'kan? Gadis kuat yang selalu melawan perintahku.”


"Tidak, aku bukan gadis yang sama. Gadis yang kau nikahi, yang su...ci itu tiada lagi. Berganti dengan gadis bodoh yang kehormatannya k-kau renggut paksa.


Tidak!


Dika! Aku bukan gadis yang sama lagi." Kinara terisak, bulir air matanya jatuh di punggung tangan Dika.


"Kinara...." lirihnya. "Aku menyesal."


Berangsur-angsur Kinara menaikkan kepalanya. “Sekarang apa lagi maumu, Dika?”


Bisakah kau berhenti menangis, aku merasa menjadi manusia paling kejam.


Tidak, aku memang kejam.


Dingin sekali, bergetar dan ketakutan. Tangan kecil ini, benarkah ini tangan istriku?


Berapa lama aku tidak menyadarinya,


dia semakin kurus.


Berbeda dengan gadis yang aku nikahi beberapa bulan lalu.


“Besok kau kuliah, bukan?” meremas lembut jemari Kinara, dia hanya mengangguk.


Mau apa sih laki-laki ini?


Dua hari yang lalu kasarnya bukan main.


“Kita periksa lukamu.” Dika menarik tangan Kinara lalu menuntun pelan.


"Semoga memar di leher dan pergelangan tanganmu bisa hilang."


Kinara terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Kakinya berangsur mengikuti langkah suaminya.


“Itu dokter pribadi keluarga Mahendra, namanya Amelia.” Masih menarik jemari Kinara, dia terus berbicara meski Kinara enggan membalas kalimatnya.


Aku tidak bertanya, untuk apa kau menjelaskan.


“Ah...” Kinara berhenti. Ujung jari kelingkingnya tersandung lantai. “Sebentar.” melepaskan genggaman tangan Dika.


Apa lagi, sih, Kinara?


Dika memutar tubuhnya, melihat Kinara berjongkok sembari memegang ujung jarinya yang memerah. “Apa kau selalu ceroboh seperti ini?”

__ADS_1


“Aku tidak.” Kinara mendongakkan kepalanya dan mendapati Dika semakin mendekat, dia menyelipkan tangan di kaki dan punggung Kinara.


Ap-apa? Mm...au apa lagi, Dika? Eh, tunggu....


“Tu.. turunkan aku, aku bisa jalan sendiri. Ka-kau tidak perlu menggendongku.” Kinara meminta, berontak. Tentu saja tidak dikabulkan oleh Dika.


“Aku tahu kau bisa jalan sendiri, memangnya siapa yang meragukan itu?” menatap tajam.


Apa lagi? Marah lagi? Hanya karena aku tidak ingin digendong dan lebih memilih berjalan?


“Apa kau suka bertelanjang kaki seperti ini? Kau itu seorang gadis tetapi sangat ceroboh. Seharusnya kau itu.......” mengualiahi Kinara panjang kali lebar, harus begini lah begitu lah, jangan beginilah, jangan begitulah.


Cih, memangnya karena siapa aku bertelanjang kaki? Karena siapa aku terluka, bukankah semuanya karena dirimu. Manusia arogan yang memiliki tingkat keangkuhan setinggi langit. Dasar!


Kinara hanya membatin, ingin sekali menyuarakannya tetapi dia tidak memiliki cukup keberanian, dan memutuskan untuk menyimpannya di dalam hati.


Sial, untuk apa aku menggendongnya. Biar saja dia terluka, itu kan karena kecerobohannya sendiri.


“Turunkan aku!” Kinara menggeliat, membuat keseimbangan tubuh Dika goyah. “Jangan banyak bergerak,


berhenti bersikap seperti anak kecil, sebentar lagi sampai.” Dika mendelik, seketika nyali Kinara menciut, tidak berani melawan lagi.


“Periksalah.” menurunkan tubuh Kinara di atas sofa. Di depannya sudah ada seorang wanita berpakaian santai, tidak terliht seperti dokter.


Luar biasa, dokter saja bisa kau panggil ke rumahmu.


Pantas jika kau bersikap semena-mena padaku.


"Apa bekasnya bisa hilang sempurna?” Dika berjalan ke sisi lain sofa, duduk di atasnya sembari menyilangkan kaki, posisi favoritnya ketika duduk.


Aku ini dokter, tuan muda. Bukan tukang ketok magic.


Wanita itu mendekati Kinara dan duduk di sampingnya. “Halo, nyonya, perkanalkan nama saya Amelia, nyonya bisa memanggil saya dokter Amel. Dokter pribadi tuan muda." menunduk sopan.


Selama ini tugasku hanya merawat Nona Carissa, tetapi tuan muda memintaku merawatnya.


Ini sedikit Aneh.


Sebelum dokter Amel datang, Dika sudah menjelaskan semuanya tentang Kinara dan meminta Amel untuk tutup mulut.


Tentu saja Amel akan tutup mulut, dia tidak punya pilihan lain.


"Maaf, nyonya. Tolong kemarikan tangan anda.” pinta dokter Amel diiringi senyum di wajahnya.


Apa ini?


KDRT?


Pertempuran di atas ranjang tidak mungkin seperti ini.


Sudahlah, Amel, tugasmu itu hanya mengobati saja, jangan melewati batasmu.


***


Setelah dokter Amel memeriksa keadaan Kinara dan memberikan obat, serta memastikan jika kondisi Kinara tidak terlalu parah,


memar di tubuhnya juga akan menghilang dalam dua sampai tiga hari ke depan, dia segera pamit.


Tidak ingin berlama-lama di tempat yang memiliki atmosfer lebih tinggi dari suhu bumi pada umumnya,


apalagi jika bukan karena keangkuhan Dika yang menggunung.


\=\=\=\=> Bersambung......


Klik Like, Rate bintang5, Favorit, Dan Vote yang banyak 😘

__ADS_1


Jangan lupa mampir di Novel \=\=> REINKARNASI DUA BINTANG by AGUS PRIATNA


__ADS_2