Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Kau Yang Jatuh Cinta, Aku Yang Gila


__ADS_3

Setelah pulang dari pasar malam mereka memutuskan untuk tidur karena terlalu lelah. Begitu menyerahkan banyak makanan kepada Mirna, keempatnya masuk ke kamar masing-masing. Sepertinya sudah sangat merindukan kamar. Jika Amanda dan Kinara bisa langsung tidur nyenyak, maka berbeda dengan Ken.


Kamar Dika.


“Ken ....” Dika memutar tubuhnya ke samping menghadap Ken yang tidur di bawah.


“Apa?” Ken menjawab dengan malam. Matanya sudah terpejam. Meskipun hanya beralaskan kasur lipat, tetapi dia ingin segera pergi ke alam mimpi.


“Buka matamu atau kukirim kau ke Benua Afrika!” Perintah itu terdengar lantang sekali di tengah malam yang sepi.


Sontak Ken langsung membuka matanya lebar-lebar, bola mata yang kecil itu seakan mau keluar dari kelopaknya. Sekarang Ken bahkan sudah bangun sembari menyilangkan kedua kaki. “Ada apa Tuan Muda?” Ken tersenyum, jelas sekali senyumnya terpaksa.


“Apa menurutmu aku bisa membuat hati Kinara luluh?”


Astaga ... kau membangunkan aku hanya untuk bertanya hal seperti itu? Yang benar saja, batin Ken.


“Jawab aku! Apa kesempatanku untuk mendapatkan hati Kinara masih terbuka lebar atau tidak?” Pertanyaan itu meluncur lagi dari mulut Dika.


Mana aku tahu. Hanya Nyonya dan Tuhan saja yang tahu. Ken nampak menghela napas panjang sebelum menjawab. “Aku rasa ...,” Hooam ... Kenapa aku menguap? Kenapa? Oh Tuhan, kenapa?


Dika menatap tajam ke arah Ken begitu mendapati Ken memutus kalimatnya hanya karena menguap.


“Maafkan saya, Tuan.” Menunduk pasrah.


“Jadi, kau rasa apa?!" Suara Dika sudah penuh penekanan.


Aku rasa, aku akan berakhir di Benua Afrika jika salah menjawab pertanyaanmu, “A-aku rasa bisa, Tuan Muda. Mana mungkin Nyonya menolak Anda yang sangat tampan paripurna.” Mengacungkan kedua jempolnya sembari tersenyum lebar. Apa ini tidak berhasil? “A-anda juga sudah menunjukan jika Anda sangat mencintai Nyonya.”


“Kau ....”


Dika menggantung kalimatnya, membuat Ken menelan salivanya. Semoga jawaban yang aku berikan bisa menyelamatkanku, jika tidak aku harus mulai menyiapkan semua kebutuhanku untuk berlibur di Benua Afrika.


“Kau benar sekali, Ken. Seharusnya dia tahu jika aku sangat menyesal, aku juga sangat mencintainya.”


Haaah ... Ken mengelus dadanya.

__ADS_1


“Aaah, aku sangat mencintainya. Aku ingin membelai rambutnya dan mencubit pipinya.” Dika berbalik badan, memeluk bantal guling sembari menghentak-hentakan kaki di atas kasur.


Terserah kau saja, Tuan. Apa pun yang akan kau dan Nyonya lakukan, aku sungguh tidak peduli. Tubuh Ken merayap turun. Dia nyaris meletakan kepalanya di atas bantal sampai namanya dipanggil lagi untuk yang kedua kalinya.


“Sekarang apa lagi, Tuan Muda?” tanya Ken dengan mata lima watt-nya.


“Apa menurutmu Kinara itu cantik? Aku yakin dia adalah wanita paling cantik di muka bumi ini. Lihat saja, hidungnya kecil, pipinya chubby, matanya bening. Uhh ... gemasnya.”


Aku harus jawab apa Tuhan? Aku yakin jawaban apa pun yang akan aku katakan, tetap salah diterima oleh otaknya yang hanya segaris itu, batin Ken.


Dika memutar tubuhnya dan menatap Ken lagi. Seperti biasanya dengan tatapan tajam disertai ancaman. Seolah sorot matanya itu menyimpan kata ‘Benua Afrika’.


Glek! “Anu ... Nyonya memang sangat cantik, Tuan Muda. Hal itu tidak perlu diragukan lagi.” Oh Tuhan tolong selamatkan aku, kali ini saja, aku mohon. Aku belum siap bermain dengan Hyena (Salah satu binatang khas Benua Afrika)


“Kau bilang apa? Kinaraku sangat cantik?!”


Ken menganggukan kepalanya diikuti tatapan nanar. Bukankah seharusnya kau senang karena aku menyanjung istrimu?


“Aku ‘kan hanya bertanya apa Kinaraku itu cantik? Kenapa kau melebih-lebihkan dengan menambahkan kata ‘sangat’?”


“Ka-kalau begitu Nyonya memang cantik, Tuan Muda.”


“Kenapa jawabanmu terkesan terpaksa begitu, Ken? Apa menurutmu Kinaraku tidak cantik? Apa matamu buta, hah? Kau mau aku menusuk kedua bola matamu, lalu menariknya ke luar.” Dika menodongkan kedua jarinya di wajah Ken.


Spontan ken langsung meraba permuakaan matanya. Amit-amit, aku masih ingin melihat kecantikan Amanda. Lalu apa maumu Tuan?


“Nyonya memang cantik, seperti yang Anda katakan, Tuan. Matanya bening, hidungnya kecil, pipinya chubby, dan bibirnya tipis.”


Apa kau puas sekarang? Aku mohon, lihatlah pukul berapa sekarang? Seharusnya aku sudah tidur, besok pagi aku ‘kan harus mengemudi.


“Kau mau mati?!” Dika bangun dari ranjang dan menyilangkan kedua kakinya, menggulung lengannya kausnya sampai menyentuh bahu. Mirip seperti preman yang siap berduel.


Apa? Kenapa? Memangnya aku salah bicara apa? “Me-mangnya kenapa, Tuan?”


“Aku tidak bilang bibir Kinaraku tipis. Sejak kapan kau memperhatikan bibir istriku? Katakan! Apa diam-diam kau sering mencuri pandang dan melihat wajah Kinara?!"

__ADS_1


Ken memutar bola matanya, mencoba memutar kembali percakapannya dengan Dika yang sudah berlalu beberapa detik lalu. Keringat langsung merembas di keningnya begitu mengingat bahwa benar, Dika tidak pernah menyinggung soal bibir Kinara.


Mulut sialan! Kenapa kau tidak berguna di saat seperti ini? Kau justru membuatku susah, Ken membatin mengumpati mulutnya sendiri.


Bug! Sebuah pukulan yang datang dari bantal guling menghantam lengan Ken. Itu tidak sakit, tetapi membuatnya terkejut sampai terlonjak dari tempat duduknya.


“Katakan! Sejak kapan kau memperhatikan wajah istriku?!"


“Aku tidak.” Ken mengibaskan tangannya. “Aku tidak sengaja mengatakannya, Tuan Muda. Sungguh, tolong maafkan aku, Tuan.” Ken menyatukan kedua tangannya di dada, menatap dengan tatapan minta dikasihani. Kenapa kau yang jatuh cinta, tetapi aku yang gila, batin Ken.


Bayangan kata ‘Selamat datang di Benua Afrika’ sudah menari dengan indah di kepala Ken.


“Kemari kau! Kemari ....”


Dan malam masih panjang untuk dua orang bodoh itu. Malam yang seharusnya dijadikan waktu untuk istirahat, tetapi mereka justru bertengkar seperti anak kecil.


Yang satu seorang Tuan Muda yang baru merasakan indahnya jatuh cinta dan yang satu lagi seorang Asisten Pribadi yang teraniaya karena tingkah Bossnya. Bukankah mereka terdengar saling melengkapi satu sama lain?


***


Dika terbangun ketika gigitan nyamuk berhasil mengusik tidurnya. Dia menggeliat, membuka matanya perlahan, memutar kepala dan mendapati Ken yang masih terlelap dalam tidurnya. Setelah menguap beberapa kali, tangannya meraba sekitar kasur untuk mencari benda tipis persegi panjang.


“Ah, baru jam tiga pagi,” gumamanya sembari menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Ditatapnya lekat wallpaper handphone, perlahan dia mendekatakan handphone itu ke bibirnya dan mendaratkan sebuah ciuman mesra di permukaan benda persegi panjang itu. “Selamat pagi, Kinaraku,” lirihnya sembari mengusap permukaan handphone, “Aku yakin suatu saat nanti, aku bisa mencium bibirmu secara langsung.”


Bersambung...


.


.


Jangan lupa Like, komentar positif, dan vote yah. Ada yang nunggu jawaban Kinara? hahaha mohon maaf ya, emak lagi suka keuwuuan Dika sama Ken. Mumpung mereka masih di kampung, kalau mereka balik ke kota lagi. Akan sibuk masing-masing.


.


.

__ADS_1


Abang Dika kalau nggak bisa tium bibir Kinara, emak aja bang yang ditiuuum, Bang. (Apaseh) 😅😂


__ADS_2