Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Merayu Tuhan


__ADS_3

Siapin tissu 🤣


Setelah cerita kepedihan tentang Dika berakhir, bibi Ane segera undur diri untuk menyiapkan makan malam.


Tak berapa lama dokter Amel tiba dan langsung masuk ke dalam kamar Kinara untuk memeriksa kondisinya. Beruntung tidak ada hal buruk yang terjadi pada Kinara dan anaknya. Berkali-kali dokter Amel memperingatkan Kinara agar lebih santai menikmati masa kehamilan, dan jangan banyak pikiran. Apa lagi terbebani dengan masalah perceraian yang tak kunjung usai.


Pemeriksaan berlangsung cepat. Selepas dokter Amel keluar dari dalam kamar, Kinara berjalan mendekati kamar mandi untuk membersihkan diri. Selama di dalam kamar mandi ucapan Ken dan cerita tragis suaminya yang disampaikan bibi Ane terus bergelayut di kepala Kinara. Menghantui sampai acara bersih-bersih itu tidak berjalan sempurna.


Setelah selesai membersihkan diri, Kinara memilih duduk di tepi ranjang, matanya kembali tertuju pada tumpukan berkas di atas meja belajarnya. Dia berjalan dan meraih berkas itu, mengeluarkan satu lembar kertas, tangannya bergerilya mencari pulpen. “Kita akhiri semuanya dengan cepat.” Begitu pulpen berada dalam genggaman tangannya. Perut Kinara bereaksi lagi, tapi lebih ringan dari sebelumnya.


“Kau benar-benar tidak ingin berpisah dari Ayahmu, Nak? Apa kau tidak kasihan pada Bunda?” Kinara meletakan pulpen dan mengelus perutnya. “Baiklah, jika kau masih belum siap. Bunda bisa menunggu, mungkin besok kau bisa memberikan Bunda kesempatan untuk hidup bahagia meskipun bukan dengan Ayahmu.” Kinara menarik napas dalam lalu berjalan untuk mengambil wudhu. “Mari kita serahkan semuanya pada Tuhan, Nak,” lirihnya.


🍃Sementara itu di mansion Dika🍃


“Malam ini mau makan apa, Tuan?” tanya Ken begitu keduanya sampai di mansion, “Apa mau makan mie instans lagi? Sekarang saya sudah pandai membuat mie instans.” Ken memberikan penawaran, apa saja akan Ken buat sekalipun dia harus belajar dari google, asalkan Dika mau mengisi perutnya yang sejak pagi tadi baru terisi beberapa teguk air.


Dika menggelengkan kepala. “Tidak perlu, Ken. Aku tidak memiliki keinginan untuk makan.” Dika memilih menaiki tangga dan berakhir di dalam kamarnya. Sesampainya di kamar, Dika hanya berdiri di depan foto Kinara. Menatap wajah istrinya sampai dadanya terasa sesak.


Sepanjang perjalanan pulang ke mansion, Dika tidak banyak bicara. Padahal Ken sudah berusaha mencairkan suasana dengan terus berkicau seperti burung beo. Namun, tidak ada respon dari Dika kecuali anggukan kepala atau tersenyum tipis.


“Kau wanita yang sangat kejam, Kinara ... tidak tahukah dirimu bagaimana sakitnya aku melewati waktu tanpa kehadiranmu di sisiku.” Dika bergumam, tatapan matanya tak lepas dari foto Kinara.


“Apa kau harus sekeras kepala itu? Haruskah prinsip gigi dibayar gigi itu kau gunakan padaku? Jika memang begitu, kau boleh memukul, manampar, mencekik, dan mempermalukan aku di depan umum. Sama seperti yang pernah aku lakukan padamu. Kau boleh membalasnya, selama itu bisa membuat hatimu bahagia. Lakukanlah, Kinara. Lakukan apa pun yang kau inginkan, asalkan kau mau kembali padaku.” Dika meletakan plastik pemberian Kinara di atas kasur. Dia belum sempat melihat apa isi di dalamnya.

__ADS_1


“Bagiku hidup di dunia ini tidak lagi menyenangkan tanpa adanya dirimu. Kau tahu, Kinara. Aku adalah laki-laki paling bodoh di dunia ini, karena telah kusia-siakan permata sepertimu. Katakan, Kinara. Apa yang kau inginkan dariku? Aku bisa menyerahkan seluruh hidupku, tolong ... tolong berikan aku kesempatan. Atau aku harus pergi dari dunia ini terlebih dahulu? Baru kau akan mengerti makna hadirku?” Dika mengusap kasar wajahnya sampai rambut berpomade itu berantakan.


“Tuan.” Terdengar suara Ken dari balik pintu. "Tolonglah. Kau tidak boleh seperti ini. Kau harus makan, Tuan. Kau belum makan sejak pagi, aku takut kau sakit.” Ken terus menerus mengetuk pintu kamar Dika sembari membawa makanan di tangannya. Namun tidak ada jawaban apa pun dari dalam kamar Dika. Pikiran Ken sudah mengembara ke mana-mana, tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki yang sedang patah hati dan putus asa. Ken mulai menggedor pintu semakin kuat. Kali ini bukan lagi ketukan, tapi gebrakan di daun pintu. “Aku akan masuk, Tuan! Tidak peduli harus kudobrak sekalipun.”


Ken tersenyum begitu Dika membuka pintu kamarnya. Namun pemandangan laki-laki di depannya benar-benar membuat hati Ken sedih. Wajah yang layu seperti bunga dimusim kemarau, mata yang lembab karena genangan air mata, dan bibir yang tidak menampakan sedikitpun senyuman.


“Tuan ....”


Tubuh Dika oleng, tangannya bertumpu pada ujung pintu sembari memejamkan mata. “Aku bukan suaminya lagi, Ken,” lirihnya sembari mengusap sudut mata. “Dia bukan lagi istriku.” Dika terisak, membenamkan wajahnya di daun pintu.


Ken hanya bisa diam. Memberikan waktu untuk Dika menghabisi segala kesedihan yang dia rasakan. Tepat ketika Dika menanda tangani surat perceraian itu, maka keduanya sudah resmi berpisah.


Satu kali saja laki-laki menggugat cerai, jatuhlah talak pertama kepada istri. Perpisahan mereka resmi secara hukum Agama, hanya menunggu Kinara menanda tangani gugatan cerai dari Dika. Maka mereka pun resmi berpisah secara hukum negara.


Dika memutar tubuhnya dan bersandar di tembok untuk menjaga keseimbangan. “Apa maksudmu?”


“Nyonya belum menanda tangani surat perceraian itu, Tuan. Kalian masih bisa rujuk,” ucap Ken memberi semangat.


“Benarkah? Dia belum menanda tangani surat itu?” Dika mulai bersemangat, seutas senyum sudah nampak di wajahnya.


“Sampai setengah jam yang lalu gugatan cerai dari Tuan masih belum ternoda oleh tinta, bibi Ane yang mengabariku lewat telepon.”


Alhamdulillah, batin Dika seraya mengelus dadanya.

__ADS_1


“Jadi sekarang kau harus makan, Tuan.” Ken berusaha membujuk Dika.


“Tidak perlu, Ken. Aku tidak lapar, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku butuh waktu untuk memahami semuanya,” ucap Dika sembari menutup pintu.


Ken mengerti, dia hanya bisa menghela napas panjang dan mengalah. Mungkin Dika memang membutuhkan waktu sendiri untuk berpikir lebih jernih. Merenungi setiap kesalahan yang dia lakukan pada Kinara.


***


Dika berjalan mendekati kamar mandi. Setelah ritual membersihkan diri itu selesai Dika segera merebahkan diri sembari menutup wajahnya dengan bantal. Baru saja akan memejamkan mata pikirannya kembali terganggu dengan plastik pemberian Kinara. Selain berisi satu set perhiasan yang dia berikan hari itu, dia yakin ada yang lain karena plastiknya terlihat penuh.


Diraihnya plastik itu dan alangkah terkejutnya Dika begitu melihat isi di dalamnya adalah sebuah sajadah dan Al-Qur’an. Hatinya tersentuh, tiba-tiba degup jantungnya tak beraturan. Berulang kali bibirnya berucap lirih, “Astaghfirullah.”


Dia segera berlari untuk mengambil wudhu.


Dirabanya permukaan sajadah, Dika memejamkan mata untuk beberapa detik lalu berucap, “Bismillah.” Dihamparkannya sajadah pemberian Kinara dengan tangan bergetar. Sebelum melaksanakan sholat isya Dika sempat bergumam, “Akan kurayu dirimu lagi, Kinara. Seperti aku merayu Tuhan. Akan kudekati kau lagi, seperti aku mendekati Tuhan. Dan akan kudapatkan kau lagi, Kinara. Seperti aku mendapatkan maaf dari Tuhan. Tunggulah, aku akan memilikimu dan menjagamu dengan segenap jiwaku.”


Bersambung....


.


.


Votenya mana nih? Ayo votenya yang kenceng. Nakanak, bantu emak promosiin novel ini yah biar makin banyak yang baca. Kalian bisa ikut promoin baik di FB, IG, atau pun WA. Ok 😊

__ADS_1


Sedikit pelajaran untuk laki-laki yang mungkin kebetulan membaca novel emak. Seorang istri bisa meminta cerai suaminya ribuan kalipun, tidak akan jatuh talak. Tetapi, satu kali saja seorang suami mengucapkan kata cerai, maka jatuhlah talak pertama. Perceraian itu resmi secara agama. Oleh karena itu, daripada kalian marah-marah, ada baiknya kalian petik hikmah dari novel yang emak suguhkan. 😊😊


__ADS_2