
“Kita mau ke mana?” Kinara masih mengekor di belakang mengikuti langkah Agra.
“Ikut saja, kau lapar, bukan?” Agra melirik Kinara. “Jangan berpura-pura kuat lagi, Kinara. Lapar ya lapar saja. Tidak perlu disembunyikan.” Agra terkekeh, semua tingkah Kinara selalu membuatnya terkagun-kagum, bahkan ketika mendengar suara perut Kinara.
Gila memang, kali ini Agra kena batunya. Agra baru tahu jika cinta itu benar-benar buta.
Kena batunya aku, tipe wanitaku sebelumnya kan supermodel, paling tidak anak pejabat dengan kecantikan luar biasa dan kemolekan tubuh bak gitar Spanyol. Atau anak pewaris kekayaan keluarganya.
Lah kenapa sekarang malah kecantol ginian?
Agra membatin, benar-benar heran mengapa dirinya begitu tergila-gila dengan wanita yang sedang berjalan di belakangnya.
Benarkah ini cinta? Atau hanya rasa penasaran semata?
Yang akan menghilang begitu hasrat ingin memiliki sudah terpenuhi.
"Kenapa?" Agra tiba-tiba berhenti.
"Kenapa, apanya?" Kinara ikut berhenti.
"Ekspresi wajahmu, kenapa masam begitu. Sangat tidak enak dilihat." Agra kembali berjalan.
"Kasih garam biar enak." Seloroh Kinara.
Agra kembali menghentikan langkahnya mendadak, kepala Kinara menabrak punggung Agra. "Aduh, apa sih berhenti mendadak." Kinara mengelus kepalanya.
Sebenarnya itu punggung atau tembok, sih? Keras sekali.
Kinara mengomel di dalam hati.
Agra memutar tubuhnya. "Sini, kemarikan wajahmu. Aku mau mengoleskan satu kilo garam di wajahmu, biar lebih enak dilihat."
Kinara merasakannya lagi, ada yang tidak beres dengan perutnya. Dia ingin mundur beberapa langkah, namun Agra berhasil memegang pundak Kinara.
Jangan lagi, jangan lagi. Aku mohon.....
Kruyuuuuk.... Perut Kinara berbunyi untuk yang kedua kalinya.
“Astaga, kau benar-benar kelaparan? Hahaha...” Agra terbahak, dia memutar tubuhnya membelakangi Kinara lalu berjongkok sembari menahan mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar terlalu keras.
“Aduh, maafkan aku, Kinara. Aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku, tahun berapa sekarang ini?
Apa masih ada wanita secantik dirimu yang kelaparan sampai perutmu berbunyi?”
Kinara memajukan bibirnya, perasaan malu kembali menyelimuti wajahnya.
Bagaimana bisa tidak tahu dirinya seorang wanita memperdengarkan suara perut yang begitu nyaring.
Kinara menundukkan kepala, lemas.
Tetapi, Agra benar-benar mengagumi sosok wanita yang sedang berdiri di belakangnya, jelas Kinara adalah wanita yang memiliki paras cantik jelita.
Hanya saja Kinara terlalu acuh sampai tidak memberikan sentuhan make up di wajahnya, di usianya ini bisa dikatakan Kinara ibarat bunga yang sedang mekar,
__ADS_1
semerbak wanginya bisa mengundang kumbang berdatangan untuk menghisap madunya.
Diluar sana ada banyak wanita yang rela menjual harga diri mereka, demi tas bermerk, handphone canggih, atau bahkan demi gaya hidup yang serba mewah.
Tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Kinara, dia bahkan tidak tergoda dengan silaunya dunia, benar-benar wanita terbaik yang pernah Agra temui.
“Kau sudah selesai tertawa? Rasa laparku tidak akan hilang hanya karena mendengar tawamu.” Kinara mendengus, dia menggembungkan kedua pipinya
mengumpulkan udara di dalamnya lalu menghembuskan kasar.
Agra melirik, tingkah Kinara semakin membuat Agra terbahak. “Baiklah... Ya ampun. Ayo.” Agra kembali berdiri, memacu langkahnya.
Kinara hanya menggerutu sembari mengekor di belakang Agra.
Beberapa saat kemudian.
“Nah... kita sudah sampai.” Agra menoleh, menatap Kinara yang matanya membulat dengan mulut menganga.
“Kenapa?” Agra bertanya heran.
“Apa ini benar-benar kantin Kampus?” Kinara tidak percaya, dia menggelengkan kepala mengerjapkan mata beberapa kali. Kantin kampus ini lebih pantas disebut sebuah restoran mewah.
“Iya, ada yang aneh?” Agra melambaikan tangannya di depan wajah Kinara, seketika Kinara tersadar. Ia mengatupkan kembali mulutnya yang menganga.
“Cubit tanganku, aku yakin ini mampi.” Kinara menyodorkan tangannya pada Agra.
“Aku tidak sampai hati mencubit tanganmu, bagaiamana dengan menciumnya?” Agra menggoda diiringi senyum nakal.
“Kenapa?” Agra heran.
“Karena laki-laki mata keranjang sepertimu hanya ada di dunia nyata...” Kinara terbahak.
"Aku sudah pensiun, Kinara. Sekarang aku sedang berusaha menjadi lelaki baik-baik, sumpah." Agra mengangkat dua jarinya.
"Terserah." Kinara tidak ingin berdebat lebih panjang. Kata terserah adalah pilihan terbaik untuknya.
“Ayo, kita makan. Aku juga ingin makan.” Ajak Agra. “Kau mau makan apa?” Agra menarik salah satu kursi untuk Kinara. Kinara tersenyum, meletakkan tas yang sedari tadi melingkar di pundaknya.
“Apa makanan kesukaanmu? Asian food? Atau Western food?” Agra melambungkan tangannya ke atas, salah seorang pelayan datang menghampiri dan menyerahkan beberapa lembar menu makanan yang tersedia di kantin itu. “Terima kasih.”
Agra memilih beberapa daftar makanan.
“Kau mau makan Chicken Cordon Bleu? Atau Fetuccine Carbonara? Sepertinya ini lebih cocok untukmu karena lebih mengenyangkan.” Agra masih menunduk, terus menawarkan beberapa nama makanan yang membuat dahi Kinara berkerut.
Aku pernah mendengar nama-nama makanan itu di salah satu acara televisi, tetapi hanya sebatas mendengar dan belum pernah mencobanya. Batin Kinara.
Agra menaikkan kepalanya dan mendapati wajah Kinara yang sedang kebingungan. “Ada apa?”
“Itu, bisakah kita makan di tempat lain?” Kinara berbisik, menutupi bagian samping wajahnya dengan buku menu. “Aku tidak terbiasa dengan jenis makanan yang kau sebutkan tadi.”
“Oh, mungkin kau lebih suka makanan nusantara?” Agra mencari daftar makanan nusantara.
“Tidak, Agra. Bukan begitu.” masih berbisik, Kinara menendang kaki Agra. Seketika Agra mendongakkan kepalanya, Kinara menggeleng.
__ADS_1
Melihat daftar harga yang tertera di menu juga merupakan salah satu pertimbangannya untuk menolak membeli makanan di kantin kampus.
Agra mengerti kegelisahan hati Kinara, dia menarik sudut bibirnya dan meminta pelayan itu untuk pergi.
Setelah pelayan itu pergi, Agra segera bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya. “Kenapa? Karena tidak suka makanannya atau karena harganya?” Agra menebak.
“Keduanya.” Kinara berterus terang. “Bisakah kita makan di Warteg saja? Apakah ada Warteg di sekitar sini?” tanya Kinara polos.
Agra mengernyitkan alisnya. “Warteg?”
“Iya, warteg. Ah, kau mungkin tidak pernah makan makanan seperti itu.” Kinara tersenyum getir. “Sudahlah, aku makan di rumah saja.” Kinara menghibur.
“Jujur Kinara, selama ini aku tidak pernah makan di Warteg. Atau di tempat yang...” Kalimat Agra terhenti.
"Mohon maaf seperti makanan kaki lima misalnya, aku tidak ingin berpura-pura di depanmu atau menutupi kenyataan yang ada demi menyenangkan hatimu.”
Agra menggeser tubuhnya, meletakkan tangan di atas meja. “Tetapi, aku ingin mencobanya. Ayo kita makan di warteg.”
“Kau tida perlu memaksakan dirimu sendiri, Agra. Ini masalahku, bukan masalahmu. Tidak seharusnya aku melibatan dirimu.” Kinar benar-benar tidak enak hati.
“Untuk mengenal dirimu lebih jauh.” Agra menatap dalam. “Ijinkan aku masuk ke dalam duniamu.” Agra tersenyum.
“Hmmmm... Baiklah.” Kinara menyerah, siapa yang bisa melawan keinginan laki-laki keras kepala itu. Pikir Kinara.
Di parkiran.
Kinar tertegun lemas sembari memegangi helm milik Agra. “Aku harus memakai ini lagi? Tadi saja aku hampir mati karena sesak napas.”
Agra menggaruk kepalanya dan tersenyum lebar. “Mau bagaimana lagi, Kinara? Aku hanya punya ini.” menunjuk helm.
“Kau saja yang memakainya, aku tidak mau memakai ini lagi.” Kinara menyodorkan helm itu. “Dan jangan memaksaku, aku benar-benar tidak suka dengan helm itu. Kepalaku sampai pusing karena helmnya terlalu berat.” Kinara bersungut.
Agra terdiam sejenak, sepertinya kali ini Agra tidak bisa memaksa Kinara.
“Kalau begitu...” Agra melepas jaket yang melekat di tubuhnya dan menyerahkan pada Kinara. “Pakai jaketku, nanti rambut panjangmu berantakkan jika tertiup angin.”
Kinara mendorong kembali tangan Agra. “Kau bisa masuk angin jika tidak memakai jaketmu.”
Saat ini tubuh Agra hanya dibalut kaus tipis berlengen pendek. Jelas Kinara menolak tawaran Agra.
“Aku memaksa.” Agra bersikeras.
\=\=\=\=> Bersambung......
Maafkan daku readers.. aku telat up.. karena belakangan ini lagi kurang enak badan 😪😪
Jangan lupa KLIK LIKE, FAVORIT, RATE BINTANG 5 DAN VOTE YANG BANYAK. 🤗🤗❤️❤️
Like nya masih sedikit tuh.. yg asik baca sampe kelupaan Like.. tolong di boom like yah tiap bab nya 🤗
Yang belum kasih vote.. tolong di vote.. ok
Tolong di like yah.. sukur2 dalam 1 bab like nya bisa nyampe seribu 😍😍
__ADS_1