
“Jangan menyentuhnya, Pah.” Sudah berdiri di depan Roy. “Aku mohon,jangan sakiti dia, Pah. Dia satu-satunya wanita yang aku cintai, Pah.”
Roy terbahak mendengar ucapan putranya. Dia bangun dari sofa. “Itu tergantung, apa kau bisa diajak kerja sama atau tidak.” Roy kembali menyalakan satu batang rokok. “Jika kau terus keras kepala seperti ini, tidak menutup kemungkinan dia akan celaka.”
“Aku tidak akan memaafkan Papah jika terjadi sesuatu padanya.”
“Apa aku butuh maafmu?” Roy mengembuskan asap rokok di wajah Agra sampai Agra tebatuk.
Agra mungkin playboy, tapi dia bukan perokok dan peminum. Dia hanya melampiaskan kemalangan hidupnya yang seperti boneka dikendalikan oleh Ayahnya.
Papah mungkin belum tahu jika Kinara ada hubungan dengan Dika. Jika Papah tahu, dia akan berpikir ratusan kali untuk menyentuh Kinara, dia tentu tidak ingin bisnisnya hancur. Memangnya apa lagi yang lebih penting untuknya selain bisnis, batin Agra.
“Menurutlah, Agra. Apa susahnya tunangan dengan Allen,” ucap Roy enteng.
“Aku tetap tidak mau tunangan sama Allen, Pah!” Agra bersikeras menolak. Bagaimanapun gadis yang dicintainya hanya Kinara.
“Kau!” Roy mengangkat tinggi tangannya. “Benar-benar anak yang tidak berguna!”
“Apa menjadi seorang anak harus berguna terlebih dahulu baru bisa dianggap anak? Apakah jika tidak berguna aku ini tidak pantas menjadi anakmu?” Agra menundukan kepala.
Di balik sikap playboy dan cerianya, nyatanya Agra juga menyimpan luka yang begitu banyak. Hidup dalam kekangan Ayah yang yang gila harta bukanlah hal yang mudah.
“Kau!” Tangan Roy sudah terayun.
“Pukul, Pah. Pukul!" Agra mencondongkan wajahnya. “Aku ini anakmu, Pah. Anakmu! Tidakkah Papah merasa kasihan padaku? Selama ini Papah selalu mengikat leherku dengan kuat, menentukan di mana aku harus sekolah, mengatur dengan siapa aku berteman, bagaimana aku harus bersikap! Semua itu Papah lakukan demi ambisi Papah! Tidak bisakah kali ini saja Papah memberiku kesempatan untuk memilih sendiri, wanita seperti apa yang aku inginkan.” Bulir bening menetes dari wajah Agra.
Apakah hati Roy tergugah? Tidak, hatinya lebih keras dari batu. alih-alih kasihan dengan keadaan Agra, Roy justru mendaratkan sebuah tamparan yang membuat wajah Agra semakin terluka.
“Paaah ....” Lusi mendekat, mengapit lengan Agra dan menariknya menjauh dari Roy. “Sayang, ayo masuk ke kamar. Mamah mohon, jangan bertengkar lagi dengan Papahmu.” Lusi menangis tersedu.
Rumah adalah neraka bagi Agra, kecuali keberdaan Ibunya yang membuat Agra berpikir rumah itu masih layak untuk ditempati.
“Mah, aku minta maaf.” Agra memeluk Lusi sembari berbisik, “Tolong lindungi wanitaku, Mah. Namanya Kinara. Aku mohon, Mah. Nathan, dia tahu semuanya.”
Lusi tidak memberi jawaban, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya kecuali tepukan lembut di punggung Agra.
Agra melepas pelukan ibunya. Dia segera meraih jaket dan kunci motornya. Dia berniat pergi dari neraka yang mengurungnya sekian lama, tidak masalah jika dirinya harus kehilangan kemewahan hidup yang diberikan Roy. Lepas dari neraka itu secepat mungki sudah emnjadi tekadnya, tetapi belum sempat Agra melangkah pergi. Empat orang pengawal berbadan kekar sudah menyambutnya di depan pintu. Nampaknya Roy sudah merencanakan ini dengan matang.
__ADS_1
“Minggir!” teriakan Agra terdengar bergetar. “Aku bilang minggir, Brengsek!"
Usaha Agra sia-sia, saat ini kedua tangannya sudah diapit oleh dua orang pengawal.
“Maafkan kami,Tuan Muda. Kami hanya menjalankan perintah Tuan Besar,” ucap salah seorang pengawal.
“Lepaskan aku.” meskipun memberontak sekuat tenaga, Agr tetap tidak bisa melawan empat orang terlatih. Terlebih lagi kondisi tubuhnya yang sudah melemah karena mendapat tamparan dan pukulan dari Roy.
Nathan yang melihat kejadian itu hanya bisa diam di sudut ruangan. Sejak Nathan menghampiri Agra dan menjelaskan soal pertunangan Agra dan Allen. Keduanya sepakat untuk menjauh, jika Roy mengetahui Nathan membantunya dekat dengan Kinara, Tidak menutup kemungkinan Nathan pun akan kena imbas ketamakan ayahnya.
Setidaknya harus ada yang melindungi Kinara, walaupun bukan dirinya.
“Kurung dia di dalam kamar! Jika ada yang berani mengeluarkan anak itu, maka harus berhadapan denganku. Dia hanya boleh keluar saat pesta pertunangan dilaksanakan!” titah Roy.
Empat pengawal itu segera membawa Agra ke dalam kamarnya, mengurung dan mengunci dari luar sesuai perintah Roy. Agra sudah seperti tahanan yang diasingkan, mirisnya lagi yang mengurung adalah Papahnya sendiri.
Lusi berkali-kali memohon agar Roy memaafkan Agra. Derai air mata yang dipertontonkan Lusi tak juga mengubah pendirian Roy.
🍃Kamar Agra🍃
Setelah pengawal menguncinya di dalam kamar, Agra segera mengambil handphone dan mengirimkan pesan teks pada Dika. Begitu pesan teks terkirim, Agra segera merestart handphonenya.
Dika sedang duduk di ruang kerjanya, ditemani secangkir kopi. Selain tumpukam berkas dan layar komputer yang baru dinyalakan, wajah cantik Kinara langsung menyambutnya begitu layar komputer dihidupkan.
Jarinya mulai menari di atas keyboard, sesekali Dika menyeruput kopi buatan Ken. Sampai matanya tertuju pada handphone yang bergetar, pada bagian depan nampak nama Agra terpampang.
Agra : Aku tagih janjimu. Tolong lindungi, Kinara. Saat ini dia sangat membutuhkan seseorang di sampingnya, dan aku rasa orang itu adalah kau. Aku rela berkorban apa pun demi keselamatan Kinara. Sekalipun merelakan kau dengannya, cukup pastikan keselamatannya.
“Ken berikan kunci mobilku!" Dika berteriak, langkahnya tergesa mencari keberadaan Ken.
“Ini, Tuan.” Menyodorkan kunci mobil. “Ada urusan apa, Tuan? Biar saya yang antar.”
“Tidak perlu, Ken. Kau selidiki saja apa yang sedang terjadi dengan keluarga Grissham.”
Setelah memberikan perintah pada Ken, Dika segera memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Dan di sinilah dia berakhir. Di depan rumah Kinara.
🍃Flashback off🍃
__ADS_1
Rumah Kinara.
“Untuk apa kau ke rumahku?” tanya Kinara ketus.
“Untuk memastikan keadaanmu, Kinara.”
Kau pasti terluka mendengar berita pertunangan Agra, batin Dika.
Selama dalam perjalanan ke rumah Kinara, dia sudah mendengar berita terbaru tentang pertunangan Agra dan Allen.
“Aku baik-baik saja, sekarang kau bisa pulang.” Jika didengarkan dengan seksama, kalimat yang diucapkan Kinara ini terdengar kasar. Namun, kalimat itu terdengar menyedihkan di telinga Dika karena Kinara mengucapkannya dengan suara tertahan dan bibir bergetar.
“Apa aku boleh masuk? Sekadar menghabiskan satu gelas kopi.”
Kinara nampak menarik napas dalam. “Masuklah.”
🍃Ruang teve🍃
“Duduklah, biar aku minta bibi Ane buatkan kopi untukmu.”
“Tidak bisakah aku minum kopi buatanmu, Kinara?” ucap Dika lirih.
Aku belum pernah mencoba makanan atau minuman apa pun buatanmu, Kinara. Aku menghabiskan banyak waktu dengan melewatkan kesempatan itu, batin Dika.
“Haah ....” Kinara melenguh panjang. “Baiklah, mau kopi apa?”
“Kopi hitam, gulanya satu sendok saja. Itu kopi kesukaanku, kau harus ingat.” Dika tersenyum.
Jadi ketika Tuhan menerima rayuanku dan kita rujuk lagi, setidaknya kau sudah tahu kopi kesukaanku, batin Dika.
“Untuk apa aku tahu tentang kopi kesukaanmu?” Kinara berlalu pergi.
Siapa yang tahu jodoh di antara kita belum berakhir, Kinara, batin Dika.
Bersambung....
.
__ADS_1
.
Kalian butuh cerita, author butuh Like sama Vote 😪 Buat yang setia Vote makasih loh 😍