
"Sudah selesai drama es krimnya?" Agra mendorong pelan troli itu.
Kinara mengangguk.
"Mana catatan dari Bibi Ane?" Mengulurkan tangan.
Kinara membuka tas dan menyodorkan selembar kertas yang sudah berisi banyak daftar makanan yang dibutuhkan Kinara.
Ketika Agra, Kinara, dan Alisa sedang memilih barang belanjaan. Dika mengikuti ketiganya di sisi yang berbeda, jarak mereka hanya terpisahkan oleh rak memanjang yang berisikan makanan.
Tidak ada yang bisa dilakukan Dika selain diam-diam mengikuti Kinara. Meskipun sudah mendekati rak, tetap saja suara Kinara tidak bisa dia dengar karena kondisi pusat perbelanjaan yang sangat ramai.
“Apakah aku bisa menganggap ini kencan pertama kita, Kinara?” Dika bergumam sembari menempelkan telinganya di dekat rak. Beberapa pengunjung sampai menatap tidak suka karena terganggu dan berpikir Dika orang yang aneh.
“Yang benar saja, tidak ada kencan yang dilakukan terpisah seperti ini. Bukankah ini lebih terlihat seperti membuntuti?” Dika tertawa dan membuat orang yang kebetulan berdiri di sampingnya menghindar karena takut.
“Nak, ayah di sini, sayang. Ayah ada di dekatmu, hanya saja Ayah tidak bisa menyentuhmu. Kau 'kan tahu Ibumu itu keras kepala, susah didekati. Sedikit-sedikit marah, salah bicara saja bisa membuat Ibumu menangis,” gumamnya.
Dika masih bergumam, begitu saja sudah bisa membuat hatinya sedikit terobati. Dia tidak bisa melakukan lebih lagi, mendekati Kinara adalah hal yang tidak mugkin dia lakukan.
Jika tidak Kinara mungkin akan melarikan diri lagi. Sebenarnya, Dika ingin melihat Kinara dari dekat. Namun keberaniannya sudah terkikis habis.
Tiba-tiba ide gila berkelebat di kepalanya, Dika tersenyum licik sembari mengeluarkan handphone dan mengirim pesan untuk Ken.
Dika : Ken, setelah urusan bisnis kita selesai minta rekaman cctv yang mengarah pada Kinara.
Tak berapa lama Ken membalas.
Ken : Untuk apa, Tuan Muda?
Dika : Untuk dijadikan pengobat rindu ketika aku ingin melihat wajahnya, Ken.
Di sisi lain.
Ken nampak menggaruk kepalanya, benarkah rekaman cctv itu bisa mengobati kerinduan di hati Tuannya? Kenapa tidak menemui langsung saja alih-alih melihat rekaman. Wajah Kinara mungkin terlihat tidak jelas. Pikir Ken.
“Di mana ruang kendali cctv?” tanya Ken sembari menyodorkan tumpukan berkas itu pada lawan bicaranya.
“Ruang cctv?” tanya laki-laki itu untuk memastikan. Biasanya untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Mahendra Grup yang diperiksa adalah omset dan perkembangan perusahaan, bukan cctv.
“Apa aku harus mengulangi pertanyaanku?!” desis Ken tidak suka.
“Maaf, Tuan.” Menundukan kepala. “Tapi kalau boleh tahu memangnya untuk apa Tuan?”
Ken melirik tajam. “Kau mau kerja sama ini berlanjut atau tidak?” Terdengar ancaman disuara Ken yang membuat nyali lawan bicaranya itu menciut. Meskipun lawan bicaranya terpaut usia yang cukup jauh dari Ken, tetapi Ken tetap bisa mengancamnya. Usia laki-laki itu mungkin sudah menginjak kepala empat.
“Te ... tentu saja kerja sama ini harus berlanjut, Tuan,” jawab laki-laki itu terbata, “Tolong maafkan kelancangan saya.”
“Kalau begitu jangan banyak bicara dan cukup bawa aku ke sana!"
“Ba ... baik, Tuan.” Dia nampak menyeka keringat yang merembas di pelipisnya karena panik. “Mari ikuti saya, Tuan.”
Ken dan laki-laki itu bersiap pergi ke tempat kendali cctv. Di saat yang bersamaan Agra melihat Ken. Kontan kehadiran Ken membuat Agra terkejut sampai berpikir keras tentang alasan keberadaan Ken di pusat perbelanjaan itu.
Jika ada Ken, sudah bisa dipastikan ada Dika. Terlebih Ken sedang memegang beberapa lembar kertas, yang pasti Ken datang bukan untuk berbelanja melainkan untuk menjalin kerja sama.
“Emmm ... Kinara, aku ke toilet dulu, yah,” ucap Agra.
“Eh kok tiba-tiba?” Kinara menatap curiga.
“Panggilan alam memang selalu seperti ini, mendadak dan tanpa permisi.” Agra tertawa kecil membuat Kinara dan Alisa mencibir.
“Sudahlah, tuntaskan itu dengan cepat.” Kinara mengibaskan tangannya.
Segera setelah itu Agra berlari mengejar Ken yang berjalan semakin jauh.
“Keeen ....” Teriakan Agra kontan membuat langkah Ken terhenti dan menoleh ke belakang. “Ternyata benar kau. Sedang apa di sini?”
Ken melirik laki-laki di sampingnya dan dia mengerti. Laki-laki itu membungkuk setengah badan dan pamit undur diri.
“Jadi, kau sedang berbelanja? Di mana trolinya?” Agra tersenyum sarkas. “Ah, apa aku bisa menganggap kau sedang mengikuti kami?”
“Cih, yang benar saja.” Ken mencibir sampai lesung pipinya terlihat. “Aku tidak sedang berbelanja, apalagi mengikutimu. Kau pikir aku kurang kerjaan!"
Agra tertawa sampai barisan giginya terlihat.
Dasar bocah, untuk apa kau mengejarku. Merusak rencana saja, batin Ken.
“Lalu? Jika bukan berbelanja dan mengikuti kami, apa kau sedang berkencan?”
“Mulutmu itu tidak dipasangi rem, Agra?” tanya Ken kesal.
“Aku tidak berniat memasangnya, Ken," jawab Agra santai.
Cih, apa susahnya berkata jujur. Katakan saja kau sedang apa? batin Agra.
“Kau lihat ini.” Mengangkat kertas-kertas itu ke atas. “Kau pikir ini untuk apa?”
__ADS_1
Agra manggut-manggut diikuti senyum tipis. “Aku tidak tahu soal berkas-berkas itu, dan aku juga tidak tertarik dengan itu.”
Aku hanya ingin tahu di mana Tuanmu, batin Agra.
“Waaah, aku pikir kau mengejarku karena ingin berebut bisnis denganku.” Ken melipat kedua tangannya di dada.
Agra tertawa. “Kau terlalu kaku, Ken.” Berjalan mendekat. “Aku mengejarmu karena ingin memastikan sesuatu.” Menekan bahu Ken dan mendekatkan kepalanya. “Jika kau ada di sini, itu artinya Dika juga ada di sini, bukan?!” desisnya.
Ken nampak mengembuskan napas kasar. “Jika pun iya, lalu apa masalahnya denganmu?”
“Aku tidak punya masalah apa pun dengan itu. Aku hanya ingin tahu, di mana dia saat ini?”
Katakan, Ken. Itu akan sangat membantunya. Mungkin saja aku masih memiliki perasaan kasihan untuk Tuanmu itu, batin Agra.
Ken mundur dua langkah dan memutar tubuh Agra. “Lihat itu.” Menunjuk Dika. “Laki-laki yang memiliki kekuasaan di tangannya sedang berjalan di samping istrinya. Mengendap-endap seperti seorang pencuri yang takut tertangkap.”
Agra tersenyum. “Untuk apa dia melakukan itu?”
“Memangnya untuk apa lagi, jika bukan karena ingin dekat dengan istrinya.”
“Cinta memang penuh misteri, Ken. Ketika Kinara berada di dekatnya dia sia-siakan dan sekarang dia baru sadar setelah Kinara sudah memilih pergi," ujar Agra.
“Itulah kesalahan terbesarnya. Dan kau, jika nanti Tuhan memberi kalian kesempatan untuk bersama. Jangan pernah sia-siakan Nyonya.” Ken menepuk bahu Agra.
“Itu tidak akan terjadi, Ken. Aku tidak akan bertindak bodoh seperti Dika. Apa dia sudah jatuh sangat dalam sampai melakukan hal itu, Ken? Di mana sosoknya yang angkuh itu?”
“Dia jatuh lebih dalam, jauh dari apa yang kau pikirkan, Agra.” Ken menunduk.
Seandainya saja semua orang tahu bagaimana Dika menghabiskan malam panjangnya di kamar kecil yang ditempati Kinara dulu. Mungkin cibiran itu akan berganti rasa kasihan.
“Baiklah. Aku hanya ingin tahu,” ucap Agra.
“Tunggu, kau mau ke mana?”
“Kau pikir ke mana lagi, Ken? Tentu saja mendekati Tuanmu itu.” Agra tersenyum licik.
“Tidak bisakah kau memberinya sedikit waktu, Agra? Tidak bisakah kau berbelas kasih melihat dia yang seperti itu?” ucap Ken lirih.
“Aku harus berbelas kasih dengan orang sekejam Dika?” Agra mencibir.
“Aku tahu dia bersalah, tapi bukankah terlalu kejam jika kalian menutup pintu maaf untuknya? Setidaknya, biarkan dia tetap berjalan di samping istrinya meskipun Nyonya tidak melihatnya.”
“Kita lihat saja nanti.” Agra melambaikan tangan dan meninggalkan Ken yang bergeming dengan tatapan kesal.
🍃Di tempat Dika🍃
Dika terkesiap sampai tergagap. “Aku ... aku sedang berbelanja,” jawab Dika asal. Dia memutar bola matanya mencari keberadaan Ken untuk dijadikan kambing hitam. Nihil, Ken tak terlihat di mana pun.
“Oh, kau sedang berbelanja?” Menaikan sudut alisnya. “Lalu di mana keranjangmu?” tanya Agra meledek.
Cih, rupanya aku tertangkap basah. Sudahlah, tidak ada gunanya menghindar, batin Dika.
“Baiklah. Aku mengaku. Lagi pula aku tidak perlu berbohong padamu, kau juga pasti sudah tahu dari Ken, bukan? Alasan apa yang membuatku mengendap-endap di rak seperti orang bodoh.”
Agra tertawa kecil. “Iya, aku tahu. Bukankah kau sedang mengikuti calon istriku? Diam-diam memperhatikan kecantikan Kinara,” ledeknya.
“Dia juga masih istriku, Agra.” Meraih kerah baju Agra dan mencengkeram kuat di sana. “Sebelum pengadilan ketuk palu dan meresmikan perceraian kami, dia masih istriku yang sah.”
Agra terbahak. “Kenapa kau baru mengakuinya sekarang, Dika? Selama ini kau ke mana saja? Ketika air matanya tumpah karena ulahmu. Kaulah yang membuatnya menderita sampai sejauh ini.”
Dika mengendurkan cengkraman tangannya.
Iya, memang benar semua adalah salahku. Dan aku juga sudah menerima hukuman dari Tuhan, tetapi tidak bisakah aku memiliki kesempatan satu kali lagi saja? batin Dika.
“Sudahlah, aku tidak ingin membahas itu. Aku tahu, tidak ada jalan untukku dan Kinara kembali. Setidaknya bisakah kau tutup mata? Kali ini saja. Berpura-puralah kau tidak melihatku dan biarkan aku menemani istri dan anakku walaupun dari kejauhan.”
Kenapa kau terlihat begitu menyedihkan, Dika? batin Agra.
“Kau ingin bertemu dengan istri dan anakmu?” tanya Agra.
Dika diam, sekitar 20 detik Agra menunggu. Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Dika.
“Diammu berarti iya.” Agra mengambil kesimpulan. “Kenapa tidak menemui langsung saja? Daripada mengendap-endap seperti ini. Kau tidak lihat orang-orang memperhatikanmu.”
Dika melirik Agra, keduanya saling beradu tatap. “Aku tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengannya, Agra.” Menundukan kepala. “Pergilah, mungkin saat ini Kinara sedang menunggumu. Jangan pergi terlalu lama. Jika kau tidak di sampingnya, siapa lagi yang pantas untuk membantu istriku.” Dika tersenyum getir.
Dan biarkan aku di sini, menikmati hukuman yang begitu menyakitkan dari Tuhan, batin Dika.
“Apa yang akan kau berikan padaku, Dika?” tanya Agra.
Dika terkesiap, dia sampai mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti ke mana arah ucapan Agra. “Apa maksudmu?”
“ Jika aku memberimu kesempatan untuk bertemu dengan Kinara, apa yang bisa aku dapatkan?” tanya Agra.
Dika terkejut. “Apa pun, aku bisa melakukan apa pun demi bertemu dengannya. Aku bisa menukar apa pun yang aku miliki, demi sedikit waktu yang bisa kuhabiskan dengannya.”
Kau tidak perlu repot-repot melakukan itu, aku sendiri bahkan rela menukar nyawaku demi Kinara, batin Agra.
__ADS_1
Agra menepuk pelan bahu Dika. “Kelak, mungkin aku akan butuh bantuanmu.” Tersenyum.
Untuk melindungi Kinara dari keluargaku, aku mungkin membutuhkan kekuasanmu. Semoga saja itu tidak pernah terjadi, batin Agra.
“Baiklah. Aku pegang janjimu.”
“Tunggu, kau mau ke mana? Apa percakapan kita selesai begitu saja?” tanya Dika.
“Mengatur pertemuan kalian.” Agra melambaikan tangan. “Bersiaplah, kau akan segera bertemu dengan istri dan anakmu.”
🍃Di tempat Kinara🍃
“Kenapa lama sekali?" Kinara menggerutu sampai menghentakan kakinya ke lantai.
“Toiletnya ada di Pluto, yah? Makanya lama,” imbuh Alisa yang membuat ketiganya tertawa.
Melirik keranjang. “Sejak tadi belanjaanmu tidak bertambah juga?” Agra menatap Kinara dan Alisa bergantian.
“Calon istrimu itu loh, sibuk dengan makanan di tangannya.” Alisa menggerutu kesal.
Seketika Agra menatap Kinara, yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa.
Cute, batin Agra. Dia selalu terpesona, seperti apa pun tingkah Kinara.
“Yuk, jalan.” Agra kembali mendorong troli itu dan berjalan ke sisi Dika.
“Tunggu, jalanmu terlalu cepat Agra.” Kinara mengekor di belakang Agra. “Itu makanannya.” Menunjuk makanan di rak.
“Yang itu nanti saja, beli yang penting dulu.” Agra hanya beralasan, di rak sebelah pun sebenarnya tidak ada yang penting.
“Kinara?” sapa Dika yang berpura-pura tidak tahu tentang keberadaan Kinara.
“Dika! Kenapa kau ada di sini?!” Kinara berjalan mundur, berdiri tepat di belakang Agra.
Apa kau setakut itu padaku, Kinara? Apakah hanya aku seorang yang memiliki perasaan rindu ini? batin Dika.
“Hey, ini tempat umum. Siapa saja bisa datang, ‘kan?” Alisa ikut menimpali.
“Iya, aku tahu. Aku hanya tidak suka, kenapa harus bertemu dengannya, sih?” gerutu Kinara.
“Itu artinya takdir yang mempertemukan kita, Kinara.” ucap Dika.
“Semoga takdir juga yang akan memisahkan kita.” Suara Kinara dipenuhi amarah, tatapan matanya tak ubahnya seekor kucing yang merasa terancam.
Dika mengembuskan napas panjang dan memijat pangkal hidungnya.
“Kau tidak boleh bicara seperti itu, Kinara.” Agra menggerakan kepala. “Berdiri di sampingku, kenapa kau ketakutan begitu,” titah Agra.
Kinara menurut. Dia sudah berpindah posisi dan berdiri di samping Agra. Sementara posisinya saat ini saling berhadapan dengan Dika.
Alangkah beruntungnya jika aku yang berdiri di sampingmu, Kinara, batin Dika.
“Kau harus bersikap lebih baik lagi, dia masih suamimu. Ayah dari anakmu,” ucap Agra.
“Agra!” seruan Kinara terdengar marah, “Aku tidak ingin dekat-dekat dengan dia, ayo kita pulang.”
Agra menggeleng. “Kita belum beli susu, masih banyak barang yang belum terbeli.”
“Kalau begitu, kita selesaikan dengan cepat.” Kinara berjalan maju dan melewati Dika begitu saja. “Jangan mencari alasan untuk mendekatkan aku dengannya. Aku tidak mau!" serunya.
“Sebenci itukah kau padaku, Kinara?” Dika meraih pergelangan tangan Kinara. “Tidakkah kau kasihan melihatku yang seperti ini?”
“Memangnya kau terlihat seperti apa, Dika? Apa kau juga punya belas kasih ketika semua mata melihatku dan mencibir diriku sebagai wanita murahan?! Hari itu ketika kau menghancurkan harga diriku sebagai seorang wanita, apa kau pernah berpikir hari ini akan datang?! Hari di mana kau ingin bersama denganku, tetapi aku tidak ingin dekat denganmu. Meskipun hanya satu inci.” Kinara terisak, tatapan matanya berganti-ganti dari kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan.
Dika menelan salivanya. “Aku minta maaf untuk semuanya, seandainya ada yang bisa aku lakukan untukmu. Apa pun itu, aku akan melakukannya.”
“Tidak ada yang bisa kau lakukan kecuali menjauh dariku.”
“Aku minta maaf, Kinara.” Suara Dika terdengar seperti permohonan yang tulus.
“Aku sudah memaafkanmu, semuanya.”
“Lalu kenapa sikapmu sedingin itu padaku, Kinara?”
“Karena kehangatannya sudah menguap dan hilang, Dika. Menurutmu apa lagi yang tersisa? Ingat teori gelas kaca yang pecah, sepertinya aku tidak perlu mengulangi itu.”
Dika menundukan kepalanya, dalam sekali dia menunduk.
Kinara, istriku tercinta. Tidak bisakah kita habisi semua kebencian di antara kita? Agar kita bisa memulainya lagi. Dari awal, kita rajut kembali tali kasih yang hampir putus ini. Jika saja kau mau membuka hatimu, dan memberiku kesempatan untuk singgah. Aku akan memberimu kebahagiaan yang tidak pernah aku berikan pada wanita lain. Perasaan cinta yang tidak pernah di dapatkan wanita lain, sekalipun itu Carissa, batin Dika.
Bersambung....
.
.
Mau emak update lagi? Cuus like, komen, dan vote yang banyak. Kalau masuk rank 10 besar, sore emak update lagi.
__ADS_1