
Pagi hari di rumah Kinara.
Hari ini Kinara bangun pagi sekali, setelah membersihkan tubuh dan berjalan menghampiri ruang makan dia sudah disambut dengan senyum di wajah bibi Ane. Di atas meja sudah tersaji makanan sehat, sesuai asupan gizi yang dianjurkan oleh dokter Amel.
“Pagi, Bi.” Kinara merentangkan tangannya ke atas. “Ah, akhir-akhir ini tubuhku mudah lelah, Bi. Terlebih bagian bahu dan pinggangku.” Sudah duduk di kursi.
“Itu wajar, Nyonya. Salah satu efek hamil memang begitu.”
“Benarkah?”
Bibi Ane mangangguk.
“Sarapan apa pagi ini, Bi?”
“Seperti biasa, Nyonya. Menu sehat,” jawab bibi Ane sembari menyiapkan makanan untuk Kinara. “Oh iya, Nyonya. Semalam Ken menghubungi Bibi.”
“Ken? Kenapa? Apa yang dia ucapkan?”
“Tidak banyak. Ken hanya meminta Bibi untuk mengingatkan Nyonya agar tidak lupa membuka amplop dari Tuan Muda.”
“Astaga. Amplop itu, di mana aku meletaknnya, yah?” Kinara menepuk keningnya. Dia benar-benar lupa dengan amplop pemberian Dika. “Aku sampai lupa, Bi. Mungkin di kamar, nanti deh setelah makan aku akan membuka amplop itu.” Memilih melanjutkan makannya.
Setelah selesai dengan ritual mengisi perutnya yang sebentar-sebentar merasa lapar, Kinara segera menuju teras rumah.
“Nyah, amplopnya?” Bibi Ane berlari mengingatkan Kinara yang sudah menggenggam selang air.
“Nanti saja, Bi. Aku harus menyiram bunga dulu, keburu siang,” jawabnya enteng. Seolah amplop itu tidak memiliki arti lebih.
Bibi Ane nampak menghela napas panjang. “Baiklah, nanti Bibi ingatkan lagi.”
Kinara mengangguk. Dia segera menyalakan keran air, berjalan perlahan menyirami bunga di depan rumahnya. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumahnya. Kinara memicingkan matanya, mencoba memperhatikan lebih jelas. Mobil itu tidak pernah datang sebelumnya, itu bukan mobil Dika ataupun Agra.
Kinara segera mematikan keran air dan berjalan mendekati gerbang. Pintu mobil terbuka, seorang perempuan keluar dari dalam mobil. Kaki putihnya yang ramping dan mulus itu dibalut high heels berwarna biru muda.
Kinara sudah memasang senyum di wajahnya, bersiap menyambut orang yang akan keluar. Begitu keluar matanya membulat sempurna. Kinara segera memutar tubuhnya dan segera menjauh, dia sedikit berteriak memanggil nama bibi Ane.
Bibi Ane segera berlari keluar dan memapah tubuh Kinara. “Ada apa, Nyonya?” Bibi Ane bertanya heran.
“Usir wanita itu, Bi. Aku tidak ingin melihatnya. Jangan sampai perasaanku berantakan, itu akan membahayakan anakku.”
Bibi Ane melirik. Melihat wanita muda yang cantik sedang berjalan mendekat. “Sebaiknya Nyonya duduk dulu, Bibi yang akan menemuinya.” Membantu Kinara untuk duduk di kursi teras.
Bibi Ane segera berjalan mendekati gerbang. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya bibi Ane begitu gerbang terbuka.
Wanita yang membuat Kinara takut setengah mati adalah Allen, terakhir kali berurusan dengan Allen emosinya terkuras habis. Kinara tidak ingin karena meladeni kegilaan Allen sampai membahayakan keselamatan anaknya.
Allen membuka kacamata hitamnya lalu tersenyum tipis. “Apa benar ini rumah Kinara Amalia?”
Bibi Ane mangangguk sopan. “Benar, tapi mohon maaf Nyonya sedang tidak ingin diganggu.”
__ADS_1
Allen nampak kecewa, dia memutar kepalanya dan melihat Kinara sedang duduk sembari memegangi perutnya. “Aku ada perlu penting dengan Kinara. Apa bibi bisa memberiku waktu sebentar saja?” Alen nampak memohon.
Sebenarnya bibi Ane tidak enak hati. Dia tidak tega jika harus mengusir Allen. Namun, melihat ekspresi Kinara yang ketakutan sepertinya memang ada yang tidak beres dengan wanita yang berdiri di depannya.
“Mohon maaf, Nona. Sepertinya tidak bisa, saya benar-benar menyesal sampai berbuat seperti ini. Tapi silakan Nona kembali lain waktu.” Bibi Ane tersenyum.
“Bi, tolonglah. Aku tidak punya lain waktu untuk menjelaskan semuanya, waktuku tidak banyak lagi. Aku mohon, aku tidak akan menyakiti Kinara. Aku bisa bersumpah demi apa pun, percaya padaku.” Allen nampak mengiba.
Bibi Ane tampak menimbang-nimbang. “Baiklah, bisakah Nona tunggu sebentar? Saya akan menyampaikan pada Nyonya, siapa tahu Nyonya berubah pikiran dan bersedia menemui Nona.”
Allen mengangguk. Bibi Ane segera menghampiri Kinara dan menjelaskan semuanya, tentang permohonan Allen dan janjinya untuk tidak menyakiti Kinara.
Kinara nampak menarik napas panjang lalu mengambuskan kasar. Dia melihat Allen sedang berdiri di depan gerbang rumahnya dengan kepala menunduk, kedua tangannya saling merem*s.
“Baiklah, Bi. Persilakan dia masuk.”
Bibi Ane segera membuka gerbang dan mempersilakan Allen untuk masuk. Begitu Allen masuk bibi Ane segera pamit untuk membuat minuman dan cemilan.
“Boleh aku duduk?” Allen emnyapa sembari tersenyum.
“Duduklah.” Kinara mempersilakan dengan sopan.
Hari ini penampilan Allen terlihat berbeda dari biasanya. Dia yang biasanya selalu menggunakan rok mini di atas lutut, dipadu kaos yang menampakan kemulusan punggungnya tiba-tiba terlihat tidak sama.
Allen yang saat ini berdiri di depan Kinara sedang mengenakan gaun terusan dengan panjang di bawah lutut dan berlengan panjang itu berhasil membuat kening Kinara berkerut. Rambut panjangnya yang biasa tergerai pun terikat sempurna.
“Bukankah tidak sopan jika kau bicara tanpa melepas kacamatamu.” Kinara sedikit risih dengan kacamata yang tetap menempel di wajah Allen.
Kinara terkejut, Allen benar-benar berbeda dari biasanya. Dia tidak pernah bicara sesopan itu sebelumnya, juga tidak pernah tersenyum pada Kinara.
“Kenapa? Buka saja.” Kinara semula risih berubah menjadi penasaran, ada apa di balik kacamata hitam itu. Allen seperti sedang menutupi sesuatu darinya.
“Baiklah.” Allen segera melepas kacamatnya dan meletakan di atas meja. “Apa pemandangan ini tidak mengganggumu?” Menoleh.
Deg ...! Kinara nampak membekap mulutnya. Pemandangan di depan wajahnya jelas membuat Kinara terkejut.
“Apa yang terjadi dengan matamu, Allen?” Meski ragu, tapi Kinara tetap harus bertanya. Wajah Allen terlihat pucat dengan kantung mata yang terlihat sangat jelas, matanya juga sembab dan bengkak. Seperti orang yang menangis semalaman penuh.
“Apakah terlalu murahan jika aku mengatakan semua ini disebabkan oleh seorang laki-laki?”
“Apa maksudmu, Allen? Kau dipukul? Sepertinya itu tidak mungkin, tidak ada luka lebam di wajahmu.”
“Aku hanya menangis, Kinara. Semalaman penuh aku menangisi nasibku yang begitu buruk.” Allen tersenyum getir sembari menatap lurus ke depan.
Nasib buruk apanya? Hidup berkecukupan begitu, kau bilang nasib buruk? batin Kinara.
“Apa kau tahu aku dan Agra akan bertunangan?”
Kinara mengangguk. “Iya, tentu saja. Beritanya tersebar luas di mana-mana. Mungkin kalian berdua adalah pasangan fenomenal.” Kinara tersenyum sarkas.
__ADS_1
“Apa kau sudah mendengar berita terbarunya?”
Kinara menoleh, keduanya beradu tatap.
“Berita terbaru?”
“Pertunangan itu dibatalkan secara sepihak oleh pihak laki-laki.”
“Apa maksudmu? Batal?” Kinara bertanya untuk meyakinkan.
“Emmm ....” Allen mengangguk mantap. “Batal,” katanya.
“Bagaimana bisa dibatalkan?”
“Aku tidak tahu.” Menggelengkan kepala. “Yang aku tahu, Paman Roy membatalkan pertunangan itu secara sepihak. Dia hanya menyebut jika orang yang berada di balik keputusannya adalah Tuan Muda Dika Mahendra.”
Deg ...!
Apa maksudmu, Allen? Apa Dika membantuku sampai sejauh itu? Sepertinya itu tidak mungkin, batin Kinara.
“Kau tidak salah dengan ucapanmu itu?”
“Tidak,” kata Allen mantap, “Paman Roy sendiri yang mengatakannya di depan Papahku. Itulah alasanku datang menemuimu, Kinara. Apakah ....” Kalimat Allen terhenti. Nampak keraguan di wajahnya untuk melanjutkan.
Kinara menganggukan kepala. Memberi isyarat jika Allen boleh melanjutkan kalimatnya.
“Apakah kau dan Tuan Muda Dika memiliki hubungan kekerabatan?” tanya Allen.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Kinara balik bertanya.
“Karena Tuan Muda Dika bilang wanita yang dicintai Agra adalah wanita yang paling berharga dihidupnya. Siapa pun tidak boleh menyakiti wanita itu, walaupun seujung kuku. Bukankah wanita yang dimaksud Tuan Muda adalah kau? Karena kau satu-satunya wanita yang dicintai Agra? Apa kau adiknya, atau kerabat dekatnya?”
Deg ...!
Alih-alih menjawab pertanyaan Allen. Respon Kinara justru diluar dugaan. Tubuh Kinara bergetar. Dia segera memalingkan wajahnya dari Allen dan menyeka air mata yang mulai menetes dikedua pipinya.
Ya Tuhan, apa yang telah Dika lakukan untukku? Apa aku terlalu jahat padanya? Aku tidak pernah tahu dukanya, aku hanya peduli dukaku. Dika, apa yang sudah kau lakukan? batin Kinara.
Bersambung...
.
.
Maaf nakanak emak telat up. Yang penting judulnya emak up dua kali yekan.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen dan votenya yah ❤️🤣