
Begitu kaki Kinara kering, Agra nampak menarik napas panjang. Lenguhan itu sampai terdengar di telinga Kinara.
“Kenapa? Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu?” tanya Kinara.
Agra melipat handuk yang setengah basah karena digunakan untuk mengeringkan kaki Kinara dan meletakannya di atas meja.
“Kenapa, Agra? Apa kau menyesal telah membantu membersihkan muntahan tadi?”
Agra menggeleng cepat. “Bukan itu yang sedang aku pikirkan, Kinara.”
“Lalu apa yang kau pikirkan? Jangan membuatku merasa serba salah, apa aku terlalu merepotkanmu? Katakan, Agra.”
Agra menoleh, ditatapnya lekat wajah Kinara. Sudah tidak sepucat tadi, seperti ketika dia muntah. “Di rumah ini ada Bibi Ane dan Pak Budi, bahkan Bibi Ane berdiri di depan pintu kamar mandi ketika aku membersihkan muntahan dari kakimu.”
“Iya, lalu masalahnya di mana? Lgi pula Bibi Ane yang memberikan handuk itu.” Menunjuk handuk di atas meja. “Jadi masalahnya ada di Bibi Ane atau ada di aku? Kau tidak suka Bibi Ane melihat kita? Kau tidak nyaman karena bibi Ane selalu berada di dekat kita?” cecar Kinara karena tak mendapat jawaban dari Agra.
Bibi Ane yang berdiri tak jauh dari Kinara dan Agra sampai salah tingkah dan merasa tidak enak hati. “Anu, Tuan ... apa Bibi mengganggu privasi Tuan Muda?”
“Tidak, Bi. Bukan itu, sungguh. Tetaplah berdiri tak jauh dari kami, Bi.” titah Agra yang dijawab anggukan kepala dan senyum tipis di wajah Bibi Ane.
“Kau ini kenapa, sih?” Kinara bangun dari sofa. “Apa yang membuatmu diam seribu bahasa seperti ini?” Kinara terlihat emosional.
“Duduk dulu, Kinara. Jaga emosimu.” Agra tersenyum.
Kinara menurut, dia duduk meskipun dengan perasaan marah.
“Katakan, apa masalahnya? Ini pertanyaanku untuk yang ketiga kalinya, jika kau tidak menjawab. Aku tidak akan bertanya lagi.” Kinara Melipat tangannya di dada sembari memaju mundurkan bibirnya.
Sesuai dugaan, selalu seperti itu ketika marah. Seandainya kau tahu, sikapmu itu sangat menggemaskan, cute, batin Agra.
“Ayo katakan, aku tidak punya waktu untuk menunggu.” Terdapat ancaman di nada suara Kinara yang membuat Agra tertawa.
“Kau malah tertawa, sudahlah.”
“Tunggu sebentar.” Agra bangun dari sofa dan pergi ke belakang.
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah pergi ke belakang, batin Kinara.
Tak berapa lama dia sudah kembali dengan segelas susu coklat di tangannya.
“Nah.” Meletakan di depan Kinara. “Minum susu dulu, setelah itu aku akan menjawab semua pertanyaanmu.”
“Aku baru saja muntah tadi.”
“Jangan beralasan, minum susu dulu.” Melirik Kinara dengan tatapan memerintah.
Bibi Ane yang juga melihat semuanya hanya bisa tersenyum, jika pemuda lain mungkin akan mengambil kesempatan untuk berbuat yang macam-macam. Namun Agra selalu memperkecil kemungkinan itu. Setiap kali datang ke rumah, Agra selalu membawa Alisa, mereka
makan dan bicara bertiga. Jika kebetulan Alisa tidak ikut, maka Bibi Ane harus selalu berada di dekat mereka. Selama itu, tak pernah sekalipun Agra berbuat diluar batas meskipun kesempatan untuk melakukan itu terbuka lebar dan dia bisa melakukan itu. Bukankah, disitu terlihat letak keseriusan Agra.
Tanpa banyak berkata lagi, Kinara segera menyambar gelas dan meneguk susu ibu hamil buatan Agra itu sampai habis. Agra tersenyum dan mengacungkan jempol.
“Kau kesal, Kinara?” tanya Agra.
“Tentu saja, aku bertanya ada apa dan kau mengambil kesempatan untuk membuatku minum susu.” Kinara mendengus kesal.
“Baik ... baik, sekarang katakan. Apa yang ingin kau tahu?”
“Kau! Kenapa ekspresi wajahmu seperti orang tidak senang begitu selesai mengelap kakiku?”
“Bukan seperti itu, Kinara. Aku ... aku hanya merasa bersalah padamu.” Agra menundukan kepala.
“Bersalah? Apa maksudmu?”
“Aku pernah memelukmu satu kali, lalu memegang tanganmu tiga kali, dan memegang kakimu dua kali. Aku merasa ka ....”
Kinara menyerobot. “Tunggu, apa maksudmu?”
“Aku memelukmu ketika kau disakiti Allen. Aku memegang tanganmu tiga kali ketika membantumu mendekat ke bak mandi, dan memegang kakimu dua kali ketika membersihkan muntahan dari kakimu dan terakhir ketika mengeringkan kakimu.”
“Ke mana arah pembicaraanmu, Agra?”
“Seharusnya aku tidak melakukan itu, Kinara. Kau masih istri orang lain, aku ....”
__ADS_1
“Ok, aku mengerti. Lalu kau mau apa?” terlihat emosi Kinara mulai tidak terkontrol.
Agra harus berhati-hati dalam berbicara, jika tidak suasananya akan semakin buruk.
“Tidak ada yang bisa aku lakukan, Kinara. Tidak melihatmu bisa membuatku rindu, melihatmu bisa membuatku gila. Sebisa mungkin aku selalu menjaga jarak darimu, tetapi selalu ada hal yang terjadi diluar dugaan kita,” ucap Agra lirih.
“Lalu siapa yang bisa melakukannya, Agra?”
“Apa maksudmu?” Agra balik bertanya.
“Ketika semua beban di pundakku hampir membuatku depresi. Ketika aku lebih memilih mati daripada bertahan hidup dengan laki-laki seperti Dika, hanya kau yang datang. Ketika suamiku sendiri dengan lantang mengatakan aku adalah simpanannya di hadapan ratusan orang, hanya kau yang datang dan membersihkan namaku.” Kinara terisak.
“Ketika Allen berusaha menelanjangi aku dan menjatuhkan harga diriku sebagai seorang wanita di depan semua orang, hanya kau yang datang untuk melindungiku. Ketika suamiku sendiri memasukan aku ke kampus mahal sebagai mahasiswi beasiswa yang diasingkan, kau tetap datang sebagai seorang teman.” Menghapus kasar air matanya.
“Kau yang menciptakan surga di dalam neraka yang dibuat Dika. Jika tidak ada dirimu, haruskah aku tenggelam di dalam neraka itu sendirian? Mati di dalamnya dan membusuk karena hinaan yang diberikan oleh suamiku sendiri.”
“Jangan menangis, Kinara. Aku mohon ....” Agra menundukan kepala.
“Lupakah engkau siapa yang membuatku menderita? Lupakah engkau siapa yang menjatuhkan aku sampai ke dasar? Harga diriku sebagai seorang wanita nyaris tak tersisa karena ulah suamiku sendiri, dan kau datang memberiku sedikit kekuatan untuk menegakan kepala. Menatap ke depan, bahwa duniaku tidak seburuk itu, takdirku tak sekejam itu.”
Kinara bangun dari sofa. “Kau satu-satunya orang yang merengkuh semua duka yang diciptakan Dika. Kau menangung semua cibiran yang orang lain berikan, padahal yang memberiku cibiran itu adalah suamiku sendiri. Dan kau memintaku untuk menjauh darimu?! Derita yang aku tanggung bukan berasal darimu, tapi dari takdirku yang buruk karena bersuamikan seorang Dika Mahendra. Kenapa aku yang harus menjauh, kenapa kita yang harus berkorban? Bukankah satu-satunya orang yang harus dihukum adalah Dika!"
“Tenang, Kinara. Tenang ....”
“Apa setelah memintaku menjauh darimu kau akan memintaku membatalkan perceraian dengan Dika? Sekalipun aku tidak bersamamu, aku juga tidak akan kembali padanya!”
“Kinara ... jaga emosimu.”
“Pergilah, jika memang kedekatan di antara kiya membuat kita berdua tenggelam dalam dosa. Mungkin aku yang bersalah karena menarikmu dalam duka ini, kau berhak memilih dengan siapa kau ingin bahagia.”
Denganmu, hanya denganmu, Kinara. Tidak ada pilihan lain untukku, kau satu-satunya pilihan itu, aku hanya merasa bersalah karena sudah menyentuhmu. Tidak lebih dari itu, batin Agra.
Agra hanya bisa memandangi punggung kecil wanita yang dicintainya itu berangsur-angsur menghilang di balik pintu kamar. Agra memijit kasar pelipisnya dengan helaan napas yang panjang.
Aku hanya ingin menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita, Kinara. Maaf jika pada akhirnya aku menyakitimu, maafkan aku. Sampai saat ini, takdir belum juga memihak kita, batin Agra.
30 menit berlalu.
“Kau masih di sini?” Kinara datang dari belakang. “Aku pikir kau sudah pulang.” Duduk di depan Agra.
“Hem ... sepertinya kita harus segera ngampus,” ucap Agra santai seolah tidak ada yang terjadi.
“Bawa Bibi Ane dan Pak Budi sekalian.”
“Untuk apa?” Agra mengernyitkan dahinya.
“Agar kita tidak berduaan saja!" jawab Kinara ketus.
“Kan ada Alisa.” Agra tetap tersenyum.
“Kan biar ramai,” desisnya.
Astaga, anak ini benar-benar perasa, batin Agra.
“Kaukan biasanya juga duduk di belakang. Anggap saja aku ini supir taksi, ayolah aku minta maaf.”
“Aku juga harusnya minta maaf.” Kinara menunduk. “Reaksiku mungkin berlebihan, setelah ini kita harus bersabar untuk bisa bersama, dan aku akan lebih menjaga jarak denganmu.”
Setelah kondisi Kinara membaik, emosinya pun sudah stabil. Agra dan Kinara berangkat ke kampus, tak lupa keduanya menjemput Alisa.
Sejak hamil Agra melarang Kinara menggunakan motor maticnya ke kampus, keduanya sempat beradu pendapat ketika Agra melarang Kinara bekerja di minimarket.
Namun Kinara bersikeras untuk tetap mempertahankan pekerjaannya sampai kehamilannya nanti masuk trimester ke tiga, barulah dia akan berhenti bekerja. Agra tidak punya pilihan selain memperhatikan asupan vitamin dan makanan yang masuk ke dalam tubuh Kinara.
Agra sendiri sering berdiskusi dengan dokter Amel tentang kehamilan Kinara, bahkan dia hafal makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi Kinara.
🍃Pusat perbelanjaan🍃
Seperti yang sudah direncanakan, keduanya harus berbelanja stok susu ibu hamil dan makanan lainnya. Agra yang mendorong troli dan Kinara bebas memilih apa pun selama bukan makanan yang dilarang untuk ibu hamil.
“Mau es krim?” Agra menunjuk tempat es krim.
Kinara mengangguk diikuti senyum bahagia seperti anak kecil.
__ADS_1
“Mau rasa apa? Coklat?”
Kinara mengangguk lagi, dinginnya es dan lelehan coklat sudah terbayang olehnya. Kinara sampai melakukan gerakan mengusap bibirnya dengan lidah karena tidak sabar ingin mendaratkan es krim ke mulutnya.
“Alisa, kau mau rasa apa?” tanya Agra.
Gadis berkacamata yang berdiri di samping Kinara itu nampak berpikir. “Vanilla,” ucapnya antusias.
Kinara bergidik. Vanilla adalah rasa yang paling tidak dia sukai.
Agra mengambil dua es krim, satu untuk Alisa dan satu untuk Kinara. “Kalau mau muntah jangan di tahan, ok,” ucapnya.
Kinara dan Alisa mengernyitkan dahi. “Di sini?” Kinara menunjuk lantai.
“Kau yang benar saja, bisa dituntut kita kalau Kinara muntah di sini.” Alisa menghentakan kakinya di lantai.
Agra tertawa, wajah tampannya seketika berubabah jenaka. “Aku sudah menyiapkan plastik, kau tidak perlu khawatir. Apa aku sudah seperti calon Ayah yang baik?”
Kinara tersenyum. “Tentu saja.”
Alisa hanya mencibir.
“Makan perlahan, jangan buru-buru. Astaga .....” Agra berjongkok. “Kau ceroboh sekali, Kinara.” Agra mengikat tali sepatu Kinara yang terlepas. “Bagaimana jika kau terjatuh karena ini, lain kali pakai sepatu biasa saja. Jangan yang bertali.”
Kinara tidak peduli, dia terus menjilati es krim di tangannya. Beberapa sampai menetes ke lantai karena es krim yang cepat meleleh.
Agra segera meraih tissu dan membersihkan lantainya lalu menyodorkan tisu basah pada Kinara. “Bersihkan dulu tanganmu, itu es krimnya sampai tercecer ke lantai.” Menepak dahi.
“Kau seperti sedang mengomeli anakmu, Agra.” Bukannya membantu Alisa justru meledek.
“Ganti saja, yah. Es krim yang di kotak itu lebih aman, tidak akan tercecer. Seperti yang dimakan Alisa ‘kan aman.”
Kinara menggeleng. “Aku mau yang ini saja.” Tersenyum puas.
Aku merasa sedang dikerjai olehnya, batin Agra.
Nak, kau hebat sekali. Selain mengerjai Ayah kandungmu, haruskah kau mengerjai calon Ayah angkatmu juga? batin Kinara tertawa.
Sungguh Kinara tidak berbohong, dia hanya ingin es krim di dalam cone, tidak ingin es krim yang lain, entah karena bawaan hamil atau memang sengaja. Yang jelas dia tetap melanjutkan itu.
Agra pasrah, dia sampai berjongkok untuk membersihkan lantai yang terkena tetesan es krim sampai Kinara selesai dengan es krim itu.
Di sudut lain di pusat perbelanjaan yang sama dengan Agra dan Kinara. Ada dua orang yang sedang berjalan mendekat, dua orang itu adalah Dika dan Ken. Perjalanan keduanya di pusat perbelanjaan itu dalam urusan bisnis.
“Tuan bukankah itu, Nyonya?” Ken menunjuk.
Dika mengedarkan pandangannya, meskipun dari kejauhan Dika yakin itu adalah Kinara dan Agra. Pemandangan di depannya cukup membuat Dika terluka, saat ini Agra sedang mendorong trolly. Sementara Kinara dan Alisa sedang memilih, terlihat seperti keluarga bahagia. Kontan Dika menundukan kepalanya.
“Tuan haruskah kita batalkan pertemuan kita, aku bisa menjadwal ulang,” ucap Ken cepat.
“Jangan, jangan mengecewakan orang lain hanya karena urusan pribadi.” Dika tersenyum. “Kau bahas soal kerja sama kita, aku ingin menyapa istri dan anakku.”
“Tapi, Tuan Muda.” Ken khawatir, apakah nanti akan terjadi pertengkarang di antara dua laki-laki yang saling bersi tegang itu.
“Jangan khawatir, kehilangan Kinara sudah memberiku banyak pelajaran, Ken.” Dika menepuk bahu Ken. Dia hanya mengangguk melihat Dika yang berjalan menjauh.
Dika berjalan di sisi yang berbeda.
Nak, apa kabar? Ayah, rindu padamu, batin Dika.
Bersambung...
.
.
Ok, buat kalian yang bilang kok Kinara deket2 Agra yah.
.
.
Buat yg kemaren nesu2 itu, apa kalian nggak bisa ngambil pelajaran dari bab2 sebelumnya? Novel ini dikemas dengan batasan2 antara laki-laki dan perempuan tapi tidak menutup kesalahan mereka sebagai manusia untuk dijadikan pelajaran. Karena novel ini dihadirkan serealistis mungkin. Kalian cuma nggak sabar dan nggak mau ngikutin alur, sini sini ngopi sama emak 😏😅🤣 emak masih punya stok sianida.
__ADS_1