Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Ucapan Terima Kasih Amanda


__ADS_3

Kedatangan Kinara dan Ken berhasil membuat Mirna terkejut. Dia sampai memeluk anak tertuanya itu berkali-kali.


Baru beberapa bulan tidak melihat Ibunya sudah membuat Kinara menangis menderu-deru, seperti anak kecil yang kehausan.


Air matanya tumpah sampai membasahi daster lusuh milik ibunya. Sesekali Kinara menggunakan ujung kerudung ibunya untuk menyeka air mata. Mirna sampai harus mengelus puncak kepala Kinara agar tangisnya sedikit mereda.


Kinara menumpahkan segala perasaan rindu yang sekian lama terpendam, rindu yang menggerogoti hatinya sampai sakit tak terperih. Kerinduan kepada seorang ibu yang melahirkannya harus terhalang oleh keegoisan sang suami.


***


"Karena perjalanan ke kota cukup jauh dan memakan waktu, ada baiknya Nak Ken menginap saja di sini."


Mirna meletakan sepiring singkong goreng yang masih panas, singkong itu baru Mirna cabut dari kebun belakang rumahnya.


Mirna memang sengaja berkebun untuk membantu perekonomian mereka, karena jika mengandalkan uang pensiunan suaminya saja itu tidak akan cukup untuk menghidupi dia dan Amanda.


Biaya sekolah Amanda setiap hari semakin naik saja, beruntung Amanda juga anak yang mandiri dan jarang sekali merepotkan Mirna.


"Itu ... Aku tidak yakin bisa melakukannya, Bu." Ken menunduk tidak enak hati untuk menolak permintaan Mirna.


"Loh kenapa? Nak Dika akan kerepotan yah jika Nak Ken tidak ada?"


"Kurang lebih begitu, Bu," ucap Ken, dia melirik Amanda yang sedang menyirami beberapa tanaman hias di depan rumah.


Kinara menangkap gelagat mencurigakan dari tatapan mata Ken ketika melihat Amanda. Nampaknya Ken sudah jatuh hati kepada Amanda.


Kinara tersenyum tipis, tidak masalah jika Ken dan Amanda saling jatuh cinta karena menurutnya Ken adalah pribadi yang cukup baik.


"Ehem ...." Kinar menuang secangkir teh hangat dan menyodorkan pada Ken. "Minumlah, Ken. Coba dicicipi singkongnya." Mendorong piring singkong lebih dekat.


Ken salah tingkah, sepertinya Kinara melihat ketika Ken mencuri pandang pada Amanda.


"Ah, baiklah, Nyonya." Meraih gelas teh dan meneguknya perlahan.


"Coba singkongnya, ini langsung diambil dari kebun belakang, loh."


"Baik."


"Apa yang Ibu katakan itu ada benarnya, Ken. Lebih baik kau menginap di sini untuk beberapa hari kedepan. Soal ijin, nanti aku yang akan bicara dengan Dik ...."


Belum selesai Kinara menuntaskan kalimatnya Mirna sudah menepuk lengan Kinara.


"Bicara yang sopan, Kinara! Tidak boleh memanggil suamimu dengan sebutan nama seperti itu, apa selama ini kau selalu memanggil namanya?!" Mirna sedikit menaikan volume suaranya.


"Itu ... tidak benar, Bu." Menarik napas panjang. "Yah, aku akan menghubungi Mas Dika supaya kau diijinkan menginap sampai aku kembali," imbuhnya sembari tersenyum getir.


Kau tidak tahu, Bu. Bagaimana Dika selalu memanggil namaku dengan penuh kebencian. Akankah kau kecewa padaku? ketika aku mengatakan ingin berpisah dari, Dika, batin Kinara.


***


Ken sedang bercerita panjang lebar dengan Mirna. Namun tetap saja sesekali tatapan matanya terlihat gelisah ketika mencuri pandang pada Amanda.


Kinara sudah membereskan pakaiannya untuk beberapa hari, termasuk memisahkan pakaian mahal yang dibelikan Dika untuk diberikan kepada tetangganya.


"Bu ...." Kinara duduk di salah satu bangku kosong.


"Iya, kenapa, Kinar?" Memutar tubuhnya menghadap Kinar.


Sepertinya Nyonya masih ingin melepas rindu dengan Ibunya, lebih baik aku pergi dan tidak mengganggu waktu mereka, batin Ken.


“Bu, maaf. Boleh tahu di mana pusat perbelanjaan terdekat?”


Mirna mengernyitkan alisnya, ini di kampung untuk sampai di pusat perbelanjaan terdekat setidaknya memakan waktu satu setengah sampai dua jam. Untuk apa Ken bertanya hal itu, pikir Mirna.


“Kalau boleh tahu, kau ada perlu apa ke pusat perbelanjaan, Ken?” tanya Kinara.


“Itu, Nyonya. Karena tidak berencana untuk menginap aku tidak membawa persiapan yang banyak. Di bagasi mobil hanya ada satu setel kemeja dan jas, rasanya terlalu formal jika aku menggunakan itu di sini.”


“Oh ... ada minimarket di sekitar sini. Pusat perbelanjaan cukup jauh dari sini, Ken. Untuk baju dan celana, bagaimana jika pakai baju Ayahku yang masih layak pakai?” Kinara menggaruk kepalanya, entah saran itu terdengar merendahkan harga diri Ken atau tidak.


"Benar, Nak. Ada beberapa baju yang masih baru, belum sempat dipakai Ayahnya. Memang pakaian Ayah Kinar modelnya seperti tahun 90an, tapi setidaknya masih layak untuk dikenakan," ucap Mirna.


“Apa tidak masalah jika aku menggunakannya?”

__ADS_1


“Tidak, tentu tidak. Keperluan lainnya kau bisa beli di minimarket.” Mirna memutar kepalanya mencarai keberadaan Amanda. “Manda ....” serunya dari teras rumah.


Amanda yang sedang mengerjakan PR matematika terkesiap begitu Mirna memanggil namanya. Dia segera berlari kecil untuk menghampiri Ibunya “Iya, Bu. Ada apa?” Sudah berdiri di depan Mirna.


“Mas Ken ingin membeli sesuatu, kau bisa mengantarnya ke minimarket?” ucap Kinara mewakili Ibunya.


Amanda mengangguk. “Bisa, Kak.” Dia melirik ke atas meja dan bibirnya tersenyum ketika melihat satu karet gelang tergeletak, Amanda segera meraihnya dan menguncir rambutnya. “Ayo, Mas,” ucapnya lembut.


Ken mengedipkan mata beberapa kali, dia berusaha mengendalikan dirinya ketika melihat kecantikan alami yang dipancarkan Amanda.


Sadar ken! Sadar! Kau sudah berusia 25 tahun sedangkan anak kecil ini baru 16 tahun, masih terlalu kecil jika kau jatuh hati padanya, hindari dia jika tidak ingin disebut pedofil, batin Ken.


“Lah malah ngelamun.” Amanda mengibaskan tangannya di depan wajah Ken. “Jadi tidak?”


“Ah, iya ... jadi. Saya pergi dulu yah, Nyonya, Ibu.” Ken membungkuk sopan yang dijawab anggukan kepala dan senyuman oleh Kinara dan Mirna.


“Ayo ....” Ken membuka pintu mobil dan mempersilakan Amanda dengan sopan.


Amanda terkekeh melihat itu. “Jangan naik mobil, Mas. Naik sepeda saja.” Berjalan mendekati sepeda yang terparkir di samping mobil dan menepuk jok sepeda itu. “Kalau naik mobil repot markirnya saja, mending naik sepeda lebih mudah.” Tersenyum.


Ken memijat pelipisnya. Dia tidak tahu harus mulai mengatakannya dari mana, haruskah dia bilang jika dirinya tidak bisa mengendarai sepeda. Jika saja itu motor, Ken masih bisa melakukannya.


“Tunggu, jangan bilang Mas tidak bisa naik sepeda?” Amanda menebak, tapi ekspresi wajahnya sudah terlihat sedang menahan tawa.


"Bukan begitu ...," ucap Ken terputus.


"Kenapa, Manda?" Kinara berjalan mendekat. "Sepedanya rusak?"


"Bukan, Kak." Menggeleng. "Sepertinya Mas Ken tidak bisa naik sepeda, masa aku yang gowes. Nanti apa kata orang." Amanda tertawa.


Mati saja, Ken. Kesan pertama saja sudah memalukan begini, ah ... aku menyesal kenapa dulu tidak pernah belajar naik sepeda, batin Ken.


Kinara ikut tertawa. "Mas Ken bukannya tidak bisa naik sepeda, Manda, hanya belum terbiasa. Pakai motor saja." Membelai puncak kepala Amanda.


Syukurlah, terima kasih Nyonya. Kau telah menyelamatkan harga diriku, batin Ken.


"Baik, Kak." Berjalan menjauh untuk mengambil kunci motor.


"Setelah ini kau harus belajar naik sepeda, Ken." Menepuk lengan Ken. "Jangan tersinggung ketika bicaranya ceplas ceplos. Dia masih 16 tahun, bahkan belum pernah memiliki kekasih."


"Oh, aku kira kau jatuh hati pada adikku. Ternyata aku salah, yah?" Berdecak sembari menggelengkan kepala. "Kupikir aku bisa membantu, sudahlah tidak jadi." Memutar tubuh dan tersenyum.


"Tidak, Nyonya. Bukan begitu."


"Bukan begitu? Lalu?" Berjalan mendekat. Kinara tersenyum puas di dalam hati. Kapan lagi bisa melihat Ken yang gugup seperti sekarang ini, biasanya Ken akan terlihat galak dengan kata-kata bijaknya.


"Bisakah kita tidak membahas ini, Nyonya? Adikmu sedang berjalan mendekat."


Kinara tertawa puas, dia mengangguk dan kembali duduk bersama Ibunya.


Selepas Ken dan Amanda pergi Kinara mulai mengawali percakapan dengan Ibunya.


“Ada yang mau kau sampaikan pada Ibu?”


Kinara memangku kedua tangannya, mencengkram kuat kedua telapak tangannya. Dia tidak peduli rasa sakit itu, saat ini dia hanya memikirkan bagaimana caranya menyampaikan semua kebenaran tentang Dika pada Mirna.


“Kenapa, Kinar? Hanya beberapa bulan berpisah dari Ibu kenapa kau setakut ini?” Menuang teh hangat ke dalam gelas dan menyodorkan pada Kinara. “Minum dulu, setelah itu kau bisa bicara. Aku ini Ibumu, Kinar. Ibu tidak pernah berubah, masih menyayangimu lebih dari menyayangi diri Ibu sendiri.


“Aku ... aku tidak tahu harus memulainya dari mana, Bu. Aku juga takut Ibu akan kecewa padaku setelah mendengar semuanya.” Menundukan kepala.


Mirna terlihat menarik napas panjang. “Kau baru datang, ini juga sudah sore. Bagaimana jika kita pergi berkebun, itu bisa membuat perasaanmu lebih tenang.”


“Berkebun?” Menoleh. “Tapi aku ....”


“Ibu mengerti, hal yang ingin kau katakan pada Ibu pastilah hal yang sangat penting, bukan? Tapi kau terlihat belum siap untuk mengatakannya, Kinar.” Meneguk teh. “Ibu akan mendengarkan semuanya jika kau sudah siap, percayalah.” Tersenyum.


“Baik, Bu.”


Benar juga apa yang Ibu katakan, lagipula aku belum melihat isi map coklat yang diberikan Agra, batin Kinara.


Sementara itu di Mansion.


Dika sedang menikmati secangkir teh di taman belakang, tiba-tiba ingatan lalu mengusik ketenangannya. Dia ingat terakhir kali ketika dirinya ada di taman ini bersama Kinara, dia menyiram sebotol air mineral ke tubuh istrinya sampai Kinara menggigil kedinginan.

__ADS_1


Dika menelan salivanya, berkali-kali dia menggelengkan kepala. Dia tidak tahu kenapa perasaan bersalah tiba-tiba merayapi hatinya, semua sikap dan perbuatan jahatnya kepada Kinara tiba-tiba muncul bergantian membuatnya semakin sedih.


Dika merogoh kantung celana dan melakukan panggilan telepon dengan Ken.


Minimarket kampung Kinara.


Ken menepikan motornya begitu mendengar handphonenya berbunyi.


“Ada apa, Mas?”


“Sebentar, Manda. Sepertinya Tuan Muda ingin bicara denganku.”


“Tuan Muda? Apa itu Mas Dika?”


“Iya.” Ken mengangguk, meletakan jari telunjuknya di bibir agar Amanda tidak bersuara. Amanda mengerti, dia mengangguk.


“Selamat sore, Tuan Muda,” sapa Ken begitu terhubung dengan Dika.


“Kau sudah sampai, Ken? Bagaimana dengan situasinya? Apa Kinara mengatakan yang tidak-tidak tentang aku?”


Jika pun Nyonya mengatakannya, itu bukan sebuah kebohongan, batin Ken.


Ken turun dari motor, dia tidak ingin Amanda mendengar kalimat pedas yang diucapkan Dika.


“Tidak ada, Tuan Muda. Nyonya tidak mengatakan apa pun.”


“Baguslah. Kapan kau kembali?”


“Itu ... apa Nyonya belum menghubungi anda?”


“Belum ,memangnya ada masalah apa?”


Ken menyampaikan perihal Kinara dan Ibunya yang meminta Ken untuk menginap sampai Kinara kembali. Beruntung Dika mengijinkan itu. Ketika Ken ingin menutup panggilan telepon itu, Amanda berjalan mendekat sembari menyodorkan tangannya memberi isyarat agar Ken memberikan Hp itu padanya.


“Tuan Muda, sepertinya Amanda ingin bicara denganmu.”


“Amanda? Siapa Amanda?”


Dia adik iparmu, Tuan Muda. Bagaimana mungkin kau tidak mengingatnya, batin Ken.


“Dia adik, Nyonya.”


Tidak ada jawaban dari Dika, sepersekian menit barulah terdengar embusan napas dari seberang sana.


“Berikan itu padanya,” titah Dika.


“Hallo Mas Dika, apa kabar?” tanya Amanda dari sambungan telepon.


“Kabarku baik, Amanda. Bagaimana dengan sekolahmu?”


“Sekolahku lancar, oh iya, aku ingin berterima kasih padamu Mas Dika.”


“Terima kasih, untuk apa?”


Amanda tersenyum tipis, walaupun Amanda tahu Dika tidak bisa melihat senyuman itu.


“Terima kasih karena sudah memperlakukan Kakaku dengan baik, aku harap Mas Dika bisa sabar menghadapi Kakaku yang keras kepala itu. Sebenarnya Kakaku adalah wanita terbaik setelah Ibuku, dia tidak pernah mengecewakan keluarga kami. Terima kasih karena Mas Dika sudah menjaganya.” Amanda terisak, ada bulir bening yang meluncur bebas dari matanya. Dia menjauhkan telepon itu sampai kedaannya kembali membaik.


“Mas Dika pasti tahu jika kami tidak pernah menggunakan uang yang ada di kartu itu, kartu yang Mas Dika berikan. Semua itu bukan tanpa alasan, alasannya ialah karena kami tidak ingin merepotkanmu dan menambah beban untukmu, selama Mas Dika menerima Kakak dengan baik, memberinya kehidupan yang layak sebagai seorang istri, itu sudah lebih dari cukup. Kami tidak memerlukan apa pun lagi selain kebahagiaan Kakak.”


Amanda menyerahkan hp itu pada Ken, ucapan Amanda itu mengakhiri sambungan telepon keduanya.


Mansion.


Dika meletakan Hp di atas meja dengan tangan bergetar, tatapan mata yang biasanya penuh amarah itu berubah layu seperti bunga yang hampir mati. Ucapan Amanda tak ubahnya petir yang menyambar Dika, sakit bukan main.


Dika menelan salivanya, menekan dada yang tiba-tiba terasa sakit. Bayangan wajah Kinara datang seperti angin yang berembus tanpa permisi, ketika Kinara tersenyum, menangis, kesakitan, dan menderita terlintas bergantian seperti sedang memberi hukuman pada dirinya.


Begitu saja hatinya merasa hampa, dia ingin sekali melihat Kinara. istri yang telah dia sia-siakan.


\=\=\=> Bersambung...


.

__ADS_1


.


Jangan lupa LIKE DAN VOTE.


__ADS_2