
“Totalnya 35 ribu, Kak.” Kinara menyodorkan belanjaan milik wanita itu, dan sebaliknya wanita itu menyodorkan selembar uang seratus ribuan.
“Ada uang kecil saja, Kak?”
Saat ini di laci hanya ada pecahan lima puluh dan seratus ribuan. Dia baru saja berganti shift dengan kasir yang satu laginya dan belum banyak pelanggan yang datang.
“Sebentar.” Wanita itu membuka dompetnya dan dahinya terlihat sedikit berkerut, sepertinya tidak ada uang kecil. “Aduh maaf mba. Saya tidak ada uang kecil, sudah ambil saja kembaliannya,” katanya sembari tersenyum tipis. Dan bersiap untuk pergi dari toko.
“Ah, jangan Kak,” ucap Kinara menghentikan langkah kaki wanita itu. “Bisakah kakak tunggu sebentar di sini?” Kinara keluar dari area kasir dan menuntun wanita itu untuk duduk di kursi yang sudah disediakan oleh pemilik toko.
“Saya tukar uang dulu, sebentar kok. Di warung depan sana,” pinta Kinara sembari menunjuk warung nasi yang berada tepat di depan tokonya. Wanita itu mengangguk mengerti.
Dia sudah duduk di kursi tunggu sembari memangku kakinya.
***
Kinara sudah kembali dari perburuannya untuk menukar uang receh. Cukup susah ternyata menukar uang receh tanpa membeli sesuatu, Kinara juga tidak enak hati jika harus menukar tanpa membeli dagangannya. Akhirnya Kinara kembali dengan sebungkus nasi Padang termasuk uang receh untuk wanita itu.
Ketika Kinara tiba di depan toko, dia sempat menghentikan langkahnya. Samar tapi pasti, dari kejauhan sepertinya dia melihat mobil Dika yang biasa dibawa Ken sudah terparkir rapi.
Kinara tidak sabar, dia berjalan mendekat, mengamati mobil itu lalu membaca deretan angka dan huruf pada plat mobil yang terparkir di depan toko.
Ini mobil Dika, apa dia sedang ada di sini? Batin Kinara.
Kinara memutar kepalanya memperhatikan ke dalam toko dan melihat Ken sedang berdiri membelakanginya.
Meskipun hanya terlihat punggung dan tatanan rambut bagian belakangnya. Kinara yakin itu adalah, Ken! Dia sudah hafal dengan perawakan asisten pribadi suaminya itu.
“Ken? Sedang apa dia di sini? Apa Dika juga ada di sini? Tidak! Selama ini Dika tidak pernah peduli aku kerja apa dan di mana. Jika Alisa melihat Ken dan Dika, itu akan sangat berbahaya,” gumamnya.
Kinara panik, dia segera memacu langkahnya ingin segera sampai ke dalam toko dan melihat apakah Dika juga ada di sana.
Klak, pintu terbuka dan Kinara melihat Ken sedang berbincang dengan wanita itu.
“Ken, sedang apa kau di sini?” Kinara langsung menyambar pertanyaan karena terkejut melihat Ken dan wanita itu sedang berbincang. Keduanya nampak mengenal satu sama lain. Dia sampai melupakan keberadaan Alisa.
“Anu,” ucap Ken gugup, terlihat jelas di wajahnya.
“Ken, kau mengenal mbaknya?” tanya wanita itu sopan sembari melepaskan kacamata hitamnya.
Deg ...!!
Kinara menutup mulutnya dengan telapak tangan, uang receh yang dia pegang bersama dengan nasi padang itu terlepas. Jatuh berantakan di lantai, beberapa koin bahkan bergulir entah ke mana.
Carissa ... batin Kinara.
“Mbak, tidak apa-apa?” Carissa meletakan kacamata hitamnya di atas meja lalu berjongkok memungut uang receh dan nasi padang milik Kinara.
Kinara diam, tubuhnya seperti terhipnotis. Kaku, dia tidak bisa bergerak sedikitpun.
“Yah, beberapa uang koinnya mungkin hilang.” Carissa bangun lalu menyodorkan uang receh dan nasi padang itu pada Kinara.
Wajahnya terlihat menyesal karena dia bergerak lambat sampai beberapa uang recehnya itu hilang.
“Ah ... ya, terima kasih.” Kinara meraih apa yang disodorkan Carissa lalu tersenyum sopan.
“Mbaknya lagi sakit yah, wajahnya keliatan pucat. Tubuhnya juga sedikit bergetar." Carissa berjalan mendekati Kinara dan meletakan telapak tangannya di dahi Kinara yang berkeringat.
Persis seperti yang dilakukan Alisa ketika memastikan kesehatan Kinara.
"Tubuhnya sedikit panas, Ken apa di sekitar sini ada klinik kesehatan?" tanya Carissa.
"Sepertinya ada, untuk apa, nona?" jawab Ken sopan.
"Bawa mbaknya ke klinik, sepertinya mbaknya sedang sakit." Carissa meraih dompet di atas meja. Mengapit lengan Kinara.
“Ah, tidak perlu, sungguh aku baik-baik saja." Kinara melepaskan tangan Carissa dari lengannya. "Mungkin aku hanya kelelahan saja.” Kinara mundur dua langkah, dia tidak ingin Carissa melihat dirinya yang menyedihkan itu.
Kinara memalingkan wajahnya, mengusap sudut matanya yang mulai berair. Tidak, siapa pun tidak boleh melihat air mata itu!
__ADS_1
"Kau yakin?" Carissa menatap lekat wajah Kinara, dilihat berapa kalipun wajahnya memang pucat.
"Iya." Kinara menganggukan kepalanya. "Aku yakin."
"Baiklah." Carissa mengulurkan tangannya. "Carissa," ucapnya sambil tersenyum.
Glek ... susah payah Kinara menelan salivanya.
"Ki ... Kinara." Kinara menjabat uluran tangan Carissa.
"Nice to meet you, Kinara." Senyum mengembang di bibir Carissa.
"Nice to meet you too, Carissa."
Tuhan, apa ini juga bagian dari takdirku? Bertemu dengannya, berjabat tangan dan saling menyapa. Padahal dia adalah kekasih suamiku, jika ini takdirku. Tak apa, aku cukup kuat menjalaninya, batin Kinara pedih ketika mengingat kenyataan siapa wanita yang berdiri di depannya.
“Ah, iya hampir lupa." Suara Carissa sedikit meninggi lalu melemparkan tatapan tajam kepada Ken. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Ken. Apa kau mengenal Kinara?” Carissa menarik kursi dan duduk kembali sembari memangku kakinya.
Dia istri kekasihmu, bagaimana mungkin aku tidak mengenalnya, batin Ken.
"Ken?" Carissa mengetuk-ngetuk meja untuk mengembalikan kesadaran Ken.
“Hmmm ....” Ken menoleh melihat ke arah Kinara, dan dia mendapati Kinara menggeleng pelan.
Beruntung Carissa tidak melihat bahasa tubuh yang dilakukan mereka berdua.
***
Situasi ini diluar dugaannya, Ken yang sedang melakukan pekerjaan tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah telepon masuk dari nomor yang tidak dia kenal.
Siapa sangka nomor itu milik Carissa, yang lebih mengejutkan lagi Carissa meminta Ken untuk menjemputnya dan mengatakan jika dirinya sudah kembali dari Inggris, dan akan memberikan kejutan kepada calon suaminya yang tak lain adalah Dika.
Dan kejutannya tidak berhenti sampai di situ, setelah mendapat lokasi dari Carissa ternyata dia sedang berada di minimarket tempat Kinara bekerja.
Takdir gila macam apa yang mempertemukan kekasih dan istri sah tuannya dalam satu waktu yang tidak terduga.
Dia tidak tahu harus memperkenalkan satu sama lain sebagai apa, mungkin Kinara sudah tahu tentang Carissa. Wanita kuat itu mungkin tidak akan menyusahkannya, tetapi tentu tidak dengan Carissa.
Sungguh sudah jatuh tertimpa tangga pula, pikir Ken.
Selamat datang Carissa, akhirnya aku sampai pada titik ini. Sekian lama aku penasaran seperti apa rupamu. Ternyata kau memang secantik ini, pantas saja jika suamiku masih menempatkanmu di hatinya, batin Kinara.
“Siapa, Ken?” seruan itu terdengar tidak sabar, rupanya Carissa juga penasaran siapa Kinara sebenarnya sampai membuat Ken panik seperti itu.
“Ini ....” Ken menatap ragu, dia benar-benar tidak tahu harus mengenalkan Kinara sebagai apa. Salah sedikit saja Dika akan memarahinya habis-habisan.
Kinara melirik ke arah Ken, melihat Ken yang terpojok akhirnya Kinara berinisiatif. “Ah, ini kembaliannya, Carissa. Maaf lama.” Kinara meyodorkan kembalian uang belanja pada Carissa dan berlalu pergi begitu saja.
Dengan begitu Kinara tidak perlu membuat Ken bingung. Biarlah semua terserah Ken mau memperkenalkan dirinya sebagai apa, dikenalkan sebagai pelayan rumah Dika pun tidak jadi masalah baginya.
Beberapa kali Carissa memanggil nama Kinara, tetapi Kinara tidak peduli. Dia terus berjalan menjauh.
Ken dan Carissa sudah keluar dari toko. Beberapa kali Kinara melihat Carissa menarik tangan Ken, sepertinya Carissa ingin mendengar penjelasan dari Ken.
Terserah Kinara tidak peduli, beban yang diberikan Dika padanya sudah terlalu banyak, dia tidak mau menambah beban lagi.
Alisa yang memperhatikan dari kejauhan karena tahu sopan santun untuk tidak ikut campur urusan orang lain tiba-tiba menarik lengan Kinara.
“Kinara? Kau mengenal dua orang tadi?” tanya Alisa.
“Tidak. aku tidak mengenal mereka,” jawab Kinara tanpa melihat ke manik hitam milik Alisa.
Jelas-jelas tadi kau bicara dengan mereka ‘kan? Bahkan kau tidak mau menatapku, kau sedang berbohong padaku, Kinara, batin Alisa.
Kinara kembali ke area kasir. Meletakan sembarang nasi padang yang beberapa saat lalu bisa menggugah selera makannya. Kinara memilih duduk, melipat tangan di atas meja kasir dan membenamkan wajahnya di sana.
Klak ...!!
Pintu minimarket terbuka lagi. Itu artinya ada pelanggan yang datang, Kinara segera memasang senyum terbaiknya mengangkat kepala dan melihat ke pintu masuk untuk menyapa. “Selamat da—tang.”
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Kinara ketika mendapati pengunjung toko kali ini adalah suaminya sendiri, bersama seorang perempuan cantik.
Dika memang mengetahui jika Kinara bekerja paruh waktu di sebuah minimarket, tetapi tidak pernah bertanya kepada Ken di minimarket mana tepatnya Kinara bekerja.
“Selamat datang.” Alisa menimpali, dia menghampiri Kinara. “Kenapa, Kinar? Kau sakit?”
“Tidak.” Kinara menggelengkan kepala. “Aku hanya terkejut, ternyata dunia ini benar-benar sempit.”
Alisa mengernyitkan dahi sampai kedua alisnya bertaut. “Apa maksudmu?”
“Tidak ada. Lupakan, mungkin aku belum terlalu sehat.” Kinara memaksakan diri untuk tersenyum.
“Kau duduk saja, aku balik beres-beres, yah.” Alisa mengelus pundak Kinara.
“Heem, ya...," jawab Kinara datar.
Apa-apaan ini Tuhan? Memangnya toko ini
ada di pusat kota sampai aku harus bertemu dengan dua orang yang akan menyumbang banyak air mata dihidupku, batin Kinara.
***
“Bagaimana kabar Carissa?”
“Baik, Dev, belum lama ini dia menghubungiku.”
Kinara membuka tasnya, mencari earphone untuk menutupi telinganya. Agar percakapan Dika dan temannya itu tidak terdengar olehnya.
Sayang, sepertinya Tuhan ingin mempertontonkan adegan berharga yang diperankan suaminya.
Buktinya meskipun Kinara mengeluarkan semua isi di dalam tasnya, Kinara tidak bisa menemukan earphone miliknya, entah ke mana perginya benda mungil berwarna biru muda itu.
“Kapan dia kembali, Dika?” tanya Devi antusias.
Kinara heran sebenarnya Dika akan menikah dengan siapa? Dengan Carissa atau dengan Devi, kenapa justru Devi yang terlihat bersemangat.
“Mungkin bulan depan,” jawab Dika sembari tersenyum. Matanya sempat mencari keberadaan Kinara.
Cih, dia sudah kembali. Kau tidak tahu itu? bahkan aku yang tahu lebih dulu, lucu kan aku baru saja bertemu dan berjabat tangan dengan wanita yang akan masuk ke dalam rumah suamiku sendiri, batin Kinara.
“Langsung nikah dong?” Devi menyikut lengan Dika, sepertinya keduanya cukup akrab.
“Sudahlah, kenapa malah bahas Carissa.” Dika mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Cih, kaukan yang tergila-gila padanya. Kau ingat tidak waktu kau mengenalkan Alisa pada teman-teman kantor, kau bilang dia adalah gadismu," ucap Devi.
“Sudahlah, Devi. Jangan dibahas lagi, ok?”
“Kenapa sih, Dik? Jangan bilang kau sudah punya kekasih lain?” menatap penuh selidik, wanita yang dipanggil Devi adalah salah satu rekan kerjanya.
Perusahaan keduanya sering melakukan kerja sama. Mereka juga lulusan universitas yang sama. Wajar jika Devi begitu berani terhadap Dika.
“Mana mungkin, tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisi Carissa. Dia satu-satunya cintaku." suaranya terdengar sangat kencang sampai Alisa yang sedang berdiri di sudut rak saja bisa mendengarnya.
“Cih, najis. Dasar budak cinta.” Devi memukul lengan Dika.
Dika dan Devi mendekati kasir, meletakan beberapa barang belanjaan di meja kasir. “Selamat siang, ada tambahan lagi, kak?” Kinara tersenyum sopan.
"Ini saja." Dika menaikan sudut bibirnya.
Kinara paham, Dika sedang mencemoohnya.
\=\=\=> Bersambung.....
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan VOTE yah, Ayo semangat mulungnya nakanak, bantu naikin rank novelnya ❤️❤️