
Selepas pertemuan tiga orang tersangka itu, keadaan Carissa semakin memburuk. Dia sampai harus dilarikan ke rumah sakit pribadi keluarga Mahendra untuk mendapatkan perawatan intensif.
Sementara Kinara yang pingsan, Marta lebih memilih merawat menantunya itu di rumah. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Amel, diketahui Kinara sedang dalam keadaan hamil dan usia kandungannya sudah berumur tiga bulan.
Marta memaki Dika habis-habisan, anak semata wayangnya itu sudah mengecewakannya. Marta meminta Ken melepas semua foto Carissa yang ada di kamar utama karena Kinara sedang ada di kamar utama.
Kinara baru sadar setelah pingsan selama satu jam. Dia membuka matanya perlahan, memicingkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelah beberapa menit barulah Kinara bisa menoleh dan melihat tangannya yang sudah terpasang jarum infus.
“Apa yang terjadi, aku ada di mana?” Kinara memutar kepalanya dan mendapati dirinya sedang berbaring di kasur Dika. Kamar utama yang haram dimasuki Kinara, apalagi sampai ditidurinya. Bagaimana ceritanya dia bisa berakhir di atas ranjang laki-laki egois itu.
"Tidak, aku tidak boleh ada di sini! Dika bisa marah jika melihatku tidur di kamarnya,” gumamnya.
Marta terbangun ketika mendengar suara Kinara, selama Kinara pingsan Martalah yang menjaga menantunya itu. “Jangan banyak bergerak, Kinara.” Berjalan mendekat. “Saat ini kau sedang hamil, kau tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran."
Kinara terkejut mendengar ucapan mertuanya, matanya membulat sempurna. “Aku hamil?”
Marta menganggukan kepala.
“Iya, kau hamil, sayang. Ini anak Dika, kau akan segera memberi Mamah cucu, pewaris semua aset keluarga Mahendra."
Tidak! tidak mau! aku tidak ingin kelak anakku berlaku semena-mena seperti ayahnya, aku tidak butuh gelar pewaris tahta itu. Anakku harus tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab! Tidak seperti ayahnya! batin Kinara.
“Kenapa kau menangis, Kinara.” Mengusap air mata yang menetes dari ujung mata Kinara dan berakhir di atas bantal. “Apa kau tidak bahagia? Kau akan menjadi seorang Ibu?”
Pertanyaan Marta kontan membuat Kinara semakin terisak. “Aku bahagia, Mah. Wanita mana yang tidak bahagia jika mengetahui dirinya akan menjadi seorang Ibu, tapi aku tidak bahagia karena Ayah dari anakku adalah Dika.” Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang.
“Nak, jangan berkata seperti itu. Dika tetap ayah dari anakmu.” Marta mengelus lembut lengan Kinara. “Batalkan perceraian kalian, yah," bujuknya.
Kinara menggeleng kuat, memiringkan kepalanya sampai kedua mata basahnya menangkap mata Marta. Manik hitam mereka saling beradu. "Aku tidak mau, Mah! Maafkan aku.”
“Kinara, tolong pikirkan lagi. Demi anakmu, demi cucu Mamah.”
“Aku ....”
Klak! pintu kamar terbuka.
“Kau sudah sadar?” Berjalan mendekati Kinara. “Kau ini alim diluar saja, tapi busuk di dalam yah?!”
“Apa maksudmu, Dika?!” Marta bangun dan berteriak.
“Mamah lihat ini.” Menghamburkan beberapa foto ke udara sampai terjatuh ke atas lantai.
Kinara meraih salah satu foto yang kebetulan jatuh di atas tubuhnya. Dia melihat foto di mana dirinya sedang memeluk Agra.
Deg! bukankah ini fotoku ketika Allen mempermalukan aku di kampus, dari mana dia mendapatkan semua ini? batin Kinara.
Marta membungkuk dan mengambil salah satu foto yang berserakan. “Kinara apa ini, Nak?” Duduk di samping Kinara. “Katakan yang jujur, sayang. Mamah tidak akan percaya begitu saja sebelum mendengar semuanya dengan jelas.”
“Maaah! Apa Mamah tidak bisa melihatnya? Kinara berselingkuh dengan laki-laki lain!” Dika mendekati Marta.
“Diam kau, Dika! Kekuasaanmu bisa saja digunakan untuk memutar balikan fakta, semantara hari ini Mamah sudah melihat sendiri bagaimana kau memperlakukan Kinara.”
“Mah! Laki-laki ini adalah ....”
Marta mengangkat tangannya membuat Dika terpaksa menghentikan kalimatnya.
“Agra Grissham, putra tunggal keluarga Grissham. Mamah pernah melihatnya beberapa kali ketika Papahmu menanda tangani kerja sama dengan Papahnya Agra.”
“Seharusnya Mamah tahu bagaimana kelakuan bocah itu, bukan?!”
“Mamah tahu.”
__ADS_1
“Dia hanya laki-laki brengsek yang suka mempermainkan wanita, setiap bulannya dia akan berganti kekasih untuk ditiduri. Mungkin saja termasuk ....” Melirik Kianara dengan tatapan merendahkan.
Kinara menangkap tatapan mata suaminya. “Cukup, Dika! Sudah cukup kau menyakiti hati dan tubuhku!
Jika saja aku tidak kuat iman, mungkin saat ini aku sudah berakhir di rumah sakit jiwa karena siksaan batin yang kau berikan padaku!” Bangun dari posisinya.
“Biar Mamah bantu.” Marta memapah tubuh Kinara dan membuatnya bersandar di kepala ranjang.
“Terima kasih, Mah. Maukah Mamah mendengar penjelasan dariku?” Menatap dalam wajah Marta, mertuanya itu mengangguk sembari tersenyum. “Aku pikir, aku akan berakhir seperti istri dalam film-film itu! Selain mendapat kekejaman dari suami, mendapat hinaan dari mertua pula. Namun Tuhan masih mengasihi diriku ini karena memiliki Mamah, mertua yang baik hati.”
Marta mengangguk. “Katakan apa yang ingin kau katakan, Nak.” Membelai kepala Kinara.
“Apakah Mamah akan percaya jika aku bicara jujur?”
“Tentu saja, Mamah bukan orang bodoh. Jika kau takut karena kekuasaan Dika, kau tidak perlu mencemaskan itu. Meskipun semua aset keluarga Mahendra sudah beralih atas namanya, tapi Mamah masih bisa melindungi dirimu.” Mengelus bahu Kinara.
“Mah, jangan menguji kesabaranku terlalu dalam!” Dika mulai berteriak.
“Lakukan jika kau ingin menjadi anak durhaka!” Marta balik mengancam disertai tatapan tajam.
“Katakan, Nak. Kau tidak perlu takut.” Membelai kepala Kinara.
Kinara menarik napas dalam. “Aku dan Agra berada dalam satu fakultas, Mah. Kami hanya berteman, adapun semua foto yang Mamah lihat barusan, semuanya memiliki alasan yang kuat, tapi aku tidak punya bukti untuk menyertai ucapanku ini." Menundukkan kepala.
Kinara menjelaskan semuanya, kenapa dia memeluk Agra hari itu, termasuk tindakan pemerkosa*n Dika padanya. Marta hanya diam, seperti sedang menimbang baik buruknya, termasuk perkataan siapa yang harus dia percaya. Pernyataan Dika sebagai anaknya atau Kinara sebagai menantunya.
Kinara menyesal, seharusnya dia memiliki bukti lebih. Kinara tidak pernah menyangka jika Dika juga ternyata membuntutinya dan mengambil bukti untuk menyerang balik.
“Apa Mamah tidak percaya padaku?” tanya Kinara dengan suara lemah.
“Bukan, sayang. Mamah akan mencari tahu lebih dulu.” Tersenyum. “Karena Mamah yakin kau wanita baik-baik, pilihan Papahnya Dika tidak mungkin salah."
“Terima kasih, Mah.”
Kinara terkejut, air mata langsung mengalir seperti hujan yang sangat deras. Kepalanya menunduk dalam. “Apa kau sudah puas?!” tanya Kinara dengan bibir bergetar, bulir bening terus menetes.
“Apa yang kau katakan pada Kinara, Dika?! Kau jangan keterlaluan! Kinara sedang hamil, dia tidak boleh banyak pikiran.”
“Apa Mamah tidak ragu?!" Dika tersenyum sinis.
“Apa maksudmu?”
“Menurut Mamah, kira-kira anak siapa yang ada di dalam perut Kinara?!" Kali ini berganti menatap tajam ke arah Kinara.
“Cukup, Dika Mahendra! Cukup! Aku bilang cukup!” Melepas paksa jarum infus itu sampai darahnya tercecer di sprai dan selimut.
Melihat darah yang keluar dari punggung tangan menantunya, Marta panik bukan main. “Ameeeel!" Marta bangun keluar dari kamar untuk mencari keberadaan dokter Amel.
“Wallahi, Dika. Anak dalam perutku ini adalah anakmu.” Menunjuk perutnya. “Aku tidak pernah naik ke ranjang siapa pun selain ranjangmu, demi Allah ini adalah anakmu,Apa kau pikir aku semurahan itu?!” Semakin terisak.
“Cukup sandiwaramu, Kinara. Aku perlu tahu anak siapa itu, kita akan mengetahuinya setelah dia lahir. Mari kita lakukan tes DNA.”
"Tidak perlu, meskipun kau tidak mengakui anakku, itu bukan masalah bagiku, Dika. Kau hanya perlu menanda tangani surat cerai yang aku berikan."
"Aku tidak mau! Sebelum kau membuktikan itu anakku atau bukan!"
"Apa kau tidak ingin berpisah denganku, Dika? Jangan katakan jika kau mulai takut kehilangan diriku, karena aku tidak akan pernah memberimu kesempatan."
"Apa karena pingsan tadi jadi otakmu bermasalah?! Jangan terlalu percaya diri sampai menganggap dirimu itu penting, Kinara."
Kinara tertawa terbahak. “Nak, maafkan Ibu karena Ibu telah memberimu Ayah yang seperti iblis. Maafkan Ibu, jika kau harus bernasib buruk karena memiliki Ayah sepertinya.” Megelus perutnya. “Ibu janji, Ibu akan membesarkanmu dengan didikan agama yang baik, agar kau tahu jika menyakiti perasaan orang lain itu berdosa. Demi Allah, maafkan Ibu.” Mengusap kasar air matanya.
__ADS_1
“Berhenti drama Kinara.”
Dika memang berhati iblis, melihat kondisi Kinara yang baru sadar dari pingsan dan bahkan saat ini darah mengucur dari bekas jarum infusnya tidak membuat hati Dika luluh.
“Aku tidak akan merawat anak itu sebelum memastikan jati dirinya!” ucap Dika tanpa belas kasih.
"Dikaaa! Apa yang kau katakan!" Marta sudah kembali dengan dokter Amel.
Dokter Amel berjalan mendekati Kinara dan bersiap memasang jarum infus itu lagi. "Tidak perlu, dokter Amel. Kau hanya perlu menutup lukanya saja, jangan pasang jarum infus lagi. Aku sungguh ingin keluar dari ruangan terkutuk ini."
Dokter Amel melirik Marta, dan Marta mengangguk. Menurut Marta, melawan keinginan Kinara bisa membuat emosi menantunya itu berantakan.
Setelah dokter Amel selesai mengobati dan menutup luka di tangan Kinara, dia segera undur diri.
Kinara bangun dari ranjang. "Tanda tangani surat cerai itu, setelah aku melahirkan kita bukan lagi pasangan suami istri." Berjalan mendekati Dika. "Ah, satu lagi. Kau tidak perlu repot-repot memberiku uang untuk mengurus anakku, karena selama ini pun aku tidak pernah menyentuh uangmu. Aku makan dari hasil kerjaku sendiri!" Menepuk bahu Dika. "Kelak, jika kita sudah mati kau akan tahu anak siapa yang ada di dalam perutku! Tuhan akan menunjukannya di depan matamu, dan saat itu penyesalanmu tidak akan ada artinya!"
"Buktikan dulu anak siapa itu, baru aku menceraikanmu!" Mencengkram pergelangan tangan Kinara.
"Jika terbukti ini adalah anakmu, kau mau apa?"
"Aku ...." Cengkraman tangan Dika semakin mengendur.
"Kau tetap tidak akan menceraikan aku, karena pada dasarnya kau takut kehilangan aku." Tersenyum sinis.
Deg! Apa benar seperti itu? Apa benar aku takut kehilangan Kinara? batin Dika.
"Mah, besok pagi aku akan keluar dari rumah ini! Aku akan mengontrak, Mamah boleh mengunjungiku kapanpun Mamah mau. Demi Tuhan ini cucu Mamah." Sudah berada di depan Marta.
"Nak, tolong dipikirkan lagi." Memeluk Kinara.
"Tekadku sudah bulat, Mah. Aku minta maaf, aku sangat tersiksa hidup dengan anak Mamah. Tapi sungguh, aku tidak pernah membenci Mamah." Balas memeluk.
Kinara, Marta, dan Dika berjalan menuruni tangga. Ketiganya sudah berada di ruang keluarga.
"Aku yakin dia akan melarikan diri dengan laki-laki itu, Mah."
"Cukup, Dika! Apa kau masih belum puas."
"Dia benar-benar berhubungan dengan laki-laki itu, Mah. Semua foto yang aku berikan sudah cukup untuk membongkar semua kepolosan menantumu, Mah."
"Itu saja belum cukup, Dika." Tiba-tiba saja Agra datang.
"Agra, kau?" Kinara terkejut.
"Selamat malam, Tante. Ada yang ingin aku sampaikan." Membungkuk sopan. "Oh, perkenalkan aku adalah Agra Grissham." Mengulurkan tangan pada Marta.
"Ah, iya aku sudah tahu. Mamahnya Dika." Menjabat uluran tangan Dika. "Silakan duduk."
Semuanya sudah duduk menunggu apa yang ingin Agra sampaikan.
"Jadi apa yang ingin Nak Agra katakan?" tanya Marta.
"Semua jawaban atas pertanyaan Tante ada di sini." Menyodorkan map besar pada Marta.
"Apa ini?"
"Periksalah, Tante. Setelah itu Tante akan tahu seberapa besar penderitaan menantumu selama hidup dengan anak Tante." Agra bangun. "Hanya itu yang ingin aku sampaikan, oh satu lagi. Jika tante tidak percaya, tante bisa memeriksa keaslian bukti-bukti itu." Membungkuk sopan. "Aku pulang dulu, Kinara."
\=\=\=> Bersambung....
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, vote dan komentar...