Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Amanda, Sang Pengganggu


__ADS_3

Dengan tangan bergetar dan mata yang masih sedikit basah Kinara mendorong pintu belakang. Pintu dapur yang terhubung langsung dengan area kebun. Rumah Kinara memang didesain agar bagian belakang lebih luas dan memiliki ruang untuk bercocok tanam. Saat ini di tangan kiri Kinara sudah ada handuk, sementara tangan kanannya memegang segelas es teh manis.


Begitu pintu terbuka, hamparan kebun terlihat di depan matanya. Sementara di bagian tengah kebun, Dika sedang berjongkok. Entah apa yang sedang dilakukannya. Kinara membiarkan pintunya tetap terbuka lebar.


“Ehem ....” Kinara berdehem sembari meletakan es teh manis di saung yang disediakan khusus untuk menikmati makanan dan minuman ketika selesai berkebun. Tempat kesukaan ayah Kinara semasa beliau masih hidup. Beliau sering menghabiskan waktu di saung sembari menikmati suasana kebun miliknya.


“Oh, Kinara.” Dika bangun. “Lihatlah, aku bisa menanam tomat. Seumur hidup ini kali pertama aku kotor-kotoran.” Dika berteriak dan tertawa lebar sampai deretan gigi putihnya terlihat.


Memangnya bagaimana kau melewati masa kecilmu? Hanya karena berhasil menanam tomat haruskah sesenang itu? Aku dan Amanda bahkan pernah mencuri mangga di kebun tetangga, batin Kinara.


“Sedang apa kau di sini?” Berjalan mendekat. “Kau tidak boleh ke sini, di sini kotor.”


Sebelum menikah denganmu, akulah yang megurus kebun, batin Kinara.


“Aku mengantar air minum dan handuk untukmu.” Kinara melirik tubuh Dika yang kotor. Kedua tangannya dipenuhi tanah. “Bersihkan dulu tangannya. I-itu di situ.” Kinara menunjuk kendi yang sudah diisi air dan diberi lubang.


“Apa itu tempat cuci tangan?” Dika melongo.


Kinara mengangguk.


“Ketika pertama masuk ke kebun aku pikir kendi itu untuk minum. Hahaha ... ternyata ini untuk cuci tangan, untung saja belum kuminum. Padahal tadi haus sekali.” Berjalan ke arah kendi dan segera membasuh tangannya. “Apa ini wastafel tradisional? Ah ... hidup di sini benar-benar menyenangkan.” Dika terus tertawa.


Kinara yang sedari tadi diam akhirnya ikut tersenyum ketika melihat tingkah konyol Dika. Baru kali ini Kinara melihat Dika tertawa begitu lepas, seolah tidak ada beban di pundaknya.


Memangnya bagaimana kau melewati hari-harimu? Bagaimana? Aku juga tidak pernah tahu apa yang dia sukai, bagaimana kesehariannya. Aku ... sepertinya aku juga tidak tahu banyak tentangmu, Dika, batin Kinara.


“Hey, kok malah melamun.” Dika sudah berdiri di depan Kinara, memecah lamunan Kinara.


Kinara mendongakan kepalanya. Karena Dika sangat tinggi, bahkan ketika ingin melihat wajah Dika pun dia harus mendongakan kepala. “Ah, ini handuknya.” Menyodorkan handuk.


“Terima kasih.” Dika tersenyum sembari meraih handuk itu. Tanpa sengaja kedua tangan mereka bersentuhan. “Maaf, Kinara. Aku tidak bermaksud mengambil kesempatan dalam kesempitan,” ucap Dika sembari menarik tangannya.


Kinara hanya mengangguk dan menggigit bibir bawahnya. Deg ... deg! Tiba-tiba dadanya berdebar kencang. Seperti ada sengatan listrik yang menjalari seluruh tubuhnya. Apa ini? Kenapa hatiku berdebar begini? Tidak! Ini tidak mungkin! Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya.


“Hey, kenapa kau jadi sering melamun begitu?” Dika sudah duduk di saung, dia menepuk ruang kosong di sampingnya. “Kemari, duduklah.”


Kinara menurut, tidak banyak bicara. Dia pun duduk di samping Dika, tetapi ada jarak di antara keduanya.


“Apa ini es teh manis buatanmu?”


“Iya.”


“Aku minum, yah.” Dika meraih gelas dan meneguk dengan cepat.

__ADS_1


“Pelan-pelan, kau bisa tersedak.”


“Aku haus sekali, Kinara.” Dia kembali meneguk es teh manis.


“Seharusnya kubawakan minum sejak tadi, kau sampai kehausan begini, maaf.” Kinara menundukan kepala.


“Hahaha ... tidak masalah, jika kau tidak datang aku bisa minum air di kendi.”


Kinara memperhatikan wajah Dika dengan seksama, senyum tipis mengembang di wajahnya. “Itu, di wajahmu,” ucap Kinara terputus.


“Wajahnku? Ada apa dengan wajahku?” Dika segera meletakan gelas yang sudah kosong dan meraba seluruh permukaan wajahnya.


“Wajahmu kotor, ada bekas tanah yang sudah mengering. Apa ketika berkebun kau menyentuh wajahmu?”


“Aku bukan hanya menyentuh wajahku, tetapi sempat jatuh dan mengotori seluruh baju.”


Kinara melirik kaus yang dikenakan Dika. Memang kotor, ada bekas tanah yang sudah mengering di permukaan kausnya.


“Di sebelah mana? Coba tunjukkan.” Dika menutup kedua matanya dan mendekatkan wajah ke arah Kinara. Spontan Kinara mudur, mencari jarak. Nyaris saja wajah mereka bertemu. Lagi-lagi jantung Kinara berdegup kencang.


“Yang mana? Ayo tunjukan.” tanya Dika masih dengan mata tertutup.


Kinara menelan salivanya. Baru kali ini Kinara melihat wajah Dika dari dekat, alis mata yang tebal, hidung mancung, rambut yang sedikit berantakan, dan bibirnya yang tersenyum menunggu Kinara menunjukan bekas tanah di wajahnya berhasil membuat Kinara salah tingkah.


Kinara tersenyum tipis. Dia meraih handuk yang tergeletak di sampingnya. “Jangan buka matamu!” Kinara mendekatkan tangannya ke pipi Dika. Mengusap lembut di sana. Tiba-tiba Dika membuka matanya dan kedua manik mereka saling beradu. Ada gelora cinta di manik hitam milik Dika, perasaan menggebu yang hanya bisa dilihat oleh Kinara.


“Tunggu sebentar.” Dika bangun dari duduknya dan berjalan mendekati kebun. Bergerak ke sana kemari, entah apa yang sedang Dika cari. Sepersekian detik Dika sudah kembali, kali ini wajahnya dipenuhi dengan tanah yang masih basah.


“Wajahku kotor. Kau harus membersihkannya.” Dika sudah duduk di depan Kinara. jarak keduanya cukup dekat.


Kinara membuka mulutnya tidak percaya dengan kelakuan Dika. “A-apa sih. Kau be-bersihkan saja sendiri.” Kinara menyodorkan handuk.


“Aku ‘kan tidak bisa melihat disebelah mana yang kotornya.”


“Cih.” Kinara mengerucutkan bibirnya, tetapi akhirnya mengalah juga. Dia meraih handuk itu dan mendekatkan ke wajah Dika. “Apa kau tidak bisa menuntup matamu?”


“Kenapa? Apa ketika aku menutup mataku wajahku terlihat lebih tampan?” Dika tersenyum. “Atau kau ingin menikmati ketampanan wajahku tanpa terganggu?”


Kenapa dia percaya diri begitu? Memangnya siapa yang bilang dia tampan? batin Kinara.


“Sampai kapan aku harus menunggu? Cepat bersihkan.”


“Iya, iya.” Kinara menundukan kepalanya. Tangannya bergerak menyapu permukaan wajah Dika.

__ADS_1


Kau mencintaiku, Kinara. Aku tahu itu, kau hanya tidak mau mengakuinya. Tidak masalah, aku akan membuatmu jatuh ke dalam pelukanku, setiap hari aku akan mendengarmu mengatakan kata cinta padaku, batin Dika.


“Bagiamana wajahku akan bersih jika kau menundukkan kepala begitu? Yang ada malah semakin kotor.”


Aku tidak bisa melihat wajahmu, kau terlalu tampan. Haiss, bicara apa aku ini! Kinara membatin, mengumpati dirinya sendiri.


“Le-leherku sakit. Aku lebih suka menunduk,” ucap Kinara asal. Alasan macam apa itu?


Dika tersenyum. Dia meraih pergelangan tangan Kinara sampai Kinara mendongakan wajahnya karena terkejut.


“Lihat, wajahku jadi semakin kotor”


Kinara tertawa kecil, benar apa yang Dika katakan. Wajahnya semakin kotor karena ulah Kinara.


“Hey, kau malah tertawa. Sekarang bersihkan wajahku.” Dika mendekatkan wajahnya.


“Ja-jangan mendekat. Diam di tempat, a-aku akan membersihkannya.”


Tidak apa-apa, Kinara. Kau pernah hidup dengannya selama lima bulan. Jangan tergoda, selama ini kau bisa bertahan, batin Kinara menyemangati dirinya sendiri.


Ketika Kinara membersihkan wajah Dika. Ketika jarak di antara keduanya semakin Dekat. Ketika itu pula beberapa kali Dika menundukkan pandangan matanya, bahkan dia sampai menelan saliva ketika melihat kecantikan Kinara terpampang jelas di depan matanya.


Sial, jika begini terus aku bisa kehilangan kendali, batin Dika.


“Su-sudahlah. Aku saja yang membersihkan,” ucap Dika.


“Tunggu, ini sedikit lagi selesai.”


Akhirnya mereka kembali bersitatap. Degup jantung keduanya berpacu dengan cepat, Dika menurunkan tangan Kinara dan mendekatkan wajahnya. Kinara seperti terhipnotis. Dia diam, tidak bisa bergerak. Sekarang jarak wajah mereka semakin dekat. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar seseorang berteriak.


“Kak, aku buatkan sing ... kong goreng.” Amanda melongo melihat pemandangan di depan matanya. “Hahaha ....” Amanda terbahak, langkahnya maju mundur tidak jelas. "Seharusnya aku tahu tujuan Ibu menyuruhku untuk menjadi pengganggu di antara mereka berdua," gerutunya.


Semantara Dika dan Kinara salah tingkah, tertangkap basah memang tidak enak. Kepala Dika sampai terbentur ujung saung karena terkejut, dia bergerak cepat menjauh dari Kinara.


Bersambung...


.


.


Duh, Manda ... ganggu aja. Hahaha ...


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komentar posistif, VOTE dan VOTE. Bantu TCK mauk 10 besar. Berapa pun vote dari kalian, emak seneng.


__ADS_2