Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Kecurigaan Allen


__ADS_3

Pagi ini seluruh kekuatan Kinara seperti menghilang, diawali drama malas beranjak dari selimut bahkan kebingungan Kinara untuk memilih pakaian yang harus dia kenakan ke kampus.


Pakaian yang sudah dia pilih ketika di pusat perbelanjaan mungkin masih teronggok di sana.


Setelah berlama-lama di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Dia sudah mematung di depan lemari, handuk yang melilit dari dada sampai lutut itu semakin memperjelas bekas jajahan suaminya.


"Haaah ...." Kinara memijat pangkal hidungnya sampai meninggalkan bekas kemerahan. Tidak ingin membuang waktu dia segera membuka pintu lemari, memilih apa pun yang bisa dipilih.


Pilihannya jatuh pada celana jeans panjang dengan paduan kaus berlengan panjang yang cukup tertutup. Agar seluruh bekas kejahatan Dika tertutup sempurna,


dia melilitkan kain panjang berwarna senada dengan kaus miliknya.


Itu bukan syal, Kinara tidak memilikinya. Hanya kain panjang yang terlihat aneh ketika dikenakan.


"Cih, memangnya ini musim dingin? Orang gila macam apa yang mengenakan kain seperti ini di musim panas?"


Kinara membetulkan posisi kain itu, mau diputar berapa derajat pun itu tetap kain biasa bukan syal.


"Sepertinya hanya aku seorang. Jika hari ini bukan dosen killer yang mengisi materi, aku lebih memilih meringkuk di dalam selimut," gerutunya ketika melihat penampilan dirinya sendiri dari pantulan kaca.


Setelah kesepakatan awal, Dika memang memberi kebebasan untuk Kinara bekerja dan pergi pulang kuliah dengan motor maticnya.


Tentu sesuai protokol yang harus dipatuhi Kinara, melaporkan pukul berapa kuliah selesai, waktu kerja berakhir, bahkan ketika dia pergi dengan Alisa sekadar mencari buku pelajaran Kinara harus melaporkan kepada Ken.


Entah siapa suami Kinara yang sebenarnya? Ken atau Dika?


Sepanjang jalan menuju kampus Kinara terus menggerutu. Dia baru berhenti begitu motornya memasuki area parkir kampus.


Tin tin ...


“Kinara.” Alisa melepas helm dan berhambur mendekati Kinara. Seketika matanya membulat, dia menyapu tubuh sahabatnya. Sedikit menggelengkan kepala tidak percaya lalu membetulkan posisi kacamatanya.


“Berhenti menatap seperti itu, aku sedang tidak enak badan.” Alasan macam apa itu, meskipun sedang tidak enak badan tetapi kain yang melingkar di leher juga terlihat berlebihan, bukan? Pikirnya.


“Itu, kau benar-benar tidak enak badan?” Alisa curiga. Itu sudah pasti, mungkin bukan hanya Alisa. Beberapa pasang mata mulai tertuju padanya.


“Sudahlah, tidak usah pedulikan mereka, Lis."


“Ya, kau terlihat aneh dengan kain itu, Kinar."


“Aku memang sudah aneh sejak lahir.” Kata Kinara asal.


Yang tidak aneh hanya nasibku, nasibku bukannya aneh. Tapi malang! gerutunya di dalam hati.


“Kau sedang melawak, Kinar?”


“Apa melawak bisa menghasilkan uang, Lis?”


Dua wanita pekerja keras yang tidak mau merepotkan siapa pun, keduanya sangat mencintai uang.


Namun dari hasil jerih payah mereka sendiri. Bukan merayu laki-laki hidung belang atau menjual harga diri mereka.


“Mungkin, ayo kita melawak dan menghasilkan uang. Ahaha ...” ucap Alisa, keduanya malah tertawa.

__ADS_1


Begitu Alisa dan Kinara memasuki ruang kelas. Dia hanya bisa menelan ludah. Kinara sadar, penampilannya memang tidak wajar dan bisa mengundang perhatian banyak orang.


Tapi dia tidak peduli.


Tahan Kinara, setidaknya sampai materi dosen killer itu selesai. Setelah itu kau bisa pergi dan melarikan diri lagi. Bersembunyi ke dalam cangkangmu seperti siput yang penakut, batin Kinara.


***


Untuk pertama kalinya Kinara takut masuk ke dalam kelas, keberanian berlapis itu sepertinya mulai terkikis. Kali ini tidak ada Agra di sampingnya, hanya ada Alisa yang sama takutnya. Mungkin lebih penakut dari Kinara, hari ini tidak ada tempat untuk berlindung. Kinara harus mengandalkan kemampuannya sendiri.


Agra sudah duduk di kursinya, menyandarkan tubuh di punggung kursi, matanya terpejam sembari memangku kakinya dan menyelipkan earphone di kedua telinganya.


Kinara melewati Agra begitu saja, biasanya Agra akan berhambur mendekatinya berjalan di belakang Kinara dan berbincang hal-hal receh sebelum dosen datang.


Teman-temannya sudah terbiasa, Agra yang sekarang sudah bukan yang dulu lagi. Dia banyak berubah setelah mengenal Kinara.


Ada banyak mahasiswi yang membenci Kinara, alasan satu-satunya hanya karena Agra menyukainya. Cih, alasan tidak masuk akal, tetapi mereka memilih cari aman,


diam dan tidak berani berurusan dengan si tuan muda Agra. Kecuali Allen dan kawan-kawannya yang selalu mencari cara untuk menyakiti Kinara.


Hanya saja hari ini seluruh orang di ruangan itu sedikit heran. Pemandangan tidak biasa itu membuat seluruh isi kelas saling bersitatap, bahkan Allen menangkap penuh curiga dan menatap dalam ke arah Kinara.


Jangankan menoleh, Agra bahkan tidak membuka matanya, mungkin karena alunan musik yang menggema di telinganya terlalu keras sampai dia tidak menyadari kedatangan Kinara.


Atau, ada alasan lain. Entahlah.


Jika pun dia sedang membuka matanya, dia juga tidak akan peduli padaku. Memangnya laki-laki sebodoh apa yang masih peduli dengan wanita simpanan sepertiku.


Kinara hanya bisa membatin. Dia tidak marah, respon Agra justru masih lebih baik jika dibandingkan dengan luka yang ditorehkan Kinara di hatinya.


Kinara menarik napas dalam, menggenggam erat tangan sahabatnya. “Tidak apa-apa, Lis, semuanya akan baik-baik saja.”


Maafkan aku, Alisa, karena nasib buruk yang ada di dalam diriku kau sampai ikut terseret dalam pusara terkutuk ini, batin Kinara.


Kinara dan Alisa tetap berjalan seperti biasanya sampai keduanya duduk di kursi masing-masing.


“Sepertinya ada yang tidak beres.”


“Iya, yah.”


“Apa sudah dicampakan?”


“Mungkin Agra mulai bosan.”


“Alaaah, aku bilang juga apa. Nggak bakalan bertahan lama. Kebukti ‘kan.”


"Nggak nyangka aja sih, kok bisa secepat itu. Padahal kelihatannya Agra cinta mati padanya."


"Tinta hitam tetap tinta hitam, tidak akan bisa bersatu dengan tinta emas."


Beberapa suara sumbang mulai terdengar, saling bersautan berebut tempat siapa yang lebih dulu menghakimi Kinara. Seolah mereka lebih dari Tuhan yang tahu segalanya.


Kinara menggigit bibir bawahnya, kedua jemarinya saling mencengkram. Tidak peduli lagi rasa sakit yang terasa pada permukaan telapak tangannya karena kuku-kukunya hampir menancap di sana.


Kinara membenamkan wajah di antara tumpukan buku tebal di atas mejanya diikuti helaan napas panjang.

__ADS_1


****


“Sttt ... Allen.” Marry Claire mencolek punggung Allen.


Sejak kapan Marry dan Allen jadi seakrab ini? Tentu saja sejak Agra dekat dengan Kinara. Keduanya bersekutu untuk menghancurkan Kinara.


“Hmmm ...”


“Kayaknya ada yang aneh, deh, coba perhatikan penampilan Kinara. Dia terlihat seperti sedang menutupi sesuatu," ucap Marry.


“Kita satu pemikiran, Mar.” Allen tersenyum sembari mengulurkan tangan kebelakang dan keduanya melakukan adu tos.


Sebenarnya apa yang terbayang di kepala Allen dan Marry saat ini? Beberapa kali Allen berusaha mencelakai Kinara tetapi selalu gagal, Allen bahkan menganggap Kinara seperti kucing yang memiliki cadangan nyawa. Susah sekali untuk mencelakai dan menjebak Kinara.


“Aku penasaran, pasti ada sesuatu yang disembunyikan gadis miskin itu. Ya nggak, sih?”


“Cih ...." Allen mencibir. "Kalau begitu kita tuntaskan rasa penasaran ini, bagaimana?” seringai licik mulai terlihat di wajah Allen.


"Tentu saja, tapi bagaimana dengan Agra?" tanya Marry.


"Kau tidak lihat? Agra bahkan tidak peduli padanya." Allen melipat kedua tangannya di dada.


"Itu karena Agra sedang mendengarkan musik, Len," sanggah Marry.


"Dia tidak sedang mendengarkan musik, Mar. Dia hanya menyumpal telinganya dengan earphone," ucap Allen penuh keyakinan.


"Kau yakin?" Marry menggaruk kepalanya.


"Mau taruhan?" Allen bangkit dari kursinya dan mendekati kursi Agra lalu mencabut sambungn earphone itu.


"Sorry, Gra, Nggak sengaja." Allen mengangkat kedua tangannya diikuti senyum tipis di bibirnya.


Dia pergi begitu saja setelah membuktikan kecurigaannya.


Jelas sekali tidak ada lagu yang sedang di putar, sepertinya kecurigaan Allen benar. Agra sudah tidak peduli dengan Kinara.


Hal ini semakin membuat Allen dan gengnya bersemangat untuk menjatuhkan Kinara. Satu-satunya pahlawan yang selalu membela Kinara toh sudah tidak peduli lagi padanya.


Bersambung...


.


.


.


Holla, jumpa lagi sama emak kece semangatoon 🤣


Udah iyain aja, setelah satu bulan ini fokus di TCTM, ada kabar baik....


TCK akan mulai update lagi... seperti jadwal biasanya Senin-Sabtu, minggu juga mungkin update kalau mood emak lagi bagus 🤣


Jadi, jangan lupa Like dan Vote yah....


Oh ya, Yang belum follow / Ikuti akun author silakan di Ikuti yah, ada di sisi kanan profil Author.

__ADS_1


Follow ig author juga ❤️😍


__ADS_2