Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Rasa Yang Dititipkan Tuhan


__ADS_3

“Aku minta ma ... af, Agra,” ucap Kinara terbata.


Kinara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, untuk sesaat Agra ikut hanyut dengan diamnya. Tak banyak yang bisa Agra dengar, meskipun saat itu parkiran cukup ramai dengan bunyi klakson dan decitan dari ban mobil yang beradu dengan lantai marmer.


Namun suara yang jelas Agra dengar hanya satu, suara mulut yang kehabisan napas karena tangisnya menimbulkan tarikan napas yang berat.


Saat ini rambut panjang Kinara terurai, jatuh ke samping menutupi seluruh wajahnya. Sekali lagi hanya bahunya yang terlihat naik turun.


“Mau bagaimana lagi, Kinar. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan ini padamu.” Agra menekan dadanya, Kinara melepas dekapan telapak tangan di wajahnya. Sedikit mendongakkan kepala dan menoleh pelan.


“Kau adalah cinta pertamaku. Biarkan aku tetap mencintaimu, jika mencintai istri orang lain adalah sebuah kesalahan dan dosa besar.


Biarkan aku saja yang akan menerima balasan dari Tuhan, karena Tuhan juga yang membangun cinta di hatiku yang begitu megah untukmu.” Agra mendongakan kepala lalu menatap langit.


Langit terlalu cerah sampai tidak peduli dengan derita sepasang manusia yang sedang terjebak dalam pertemuan yang salah.


Keduanya ingin menyalahkan waktu, mengapa dunia berputar disaat mereka berada dalam perahu yang berbeda, tetapi ombak mereka sama. Sama-sama dilautan, sama-sama dalam badai gelombang yang pasang, tapi kapan mereka tenggelam dan kapal siapa yang lebih dulu karam hanyalah diketahui Tuhan.


“Setidaknya aku harus memastikan kau bahagia, Kinara,” ucap Agra pelan.


“Maafkan aku, Agra. Aku tidak bisa meninggalkannya, dia suamiku. Ikatan yang terjalin di antara kami disaksikan langsung oleh para malaikat,” katanya sembari menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


“Aku tahu, karena amanat terakhir ayahmu, bukan? Apa kau yakin ayahmu akan bahagia ketika melihat putrinya mengalami penderitaan bertindih-tindih seperti sekarang ini?”


“Ak—u.” Kinara meremas tas slempangnya. “Aku tidak tahu, hanya ayahku dan Tuhan saja yang tahu.”


“Tanyakan kepada hatimu, Kinara. Apakah hatimu juga bahagia? Apakah ini yang hatimu inginkan? Jika bukan, maka cobalah untuk menyerah.” Agra menarik napas panjang sebelum membuka mulutnya.


“Mengalah bukan berarti kalah, menyerah bukan berarti lemah. Manusia memiliki batas kemampuan untuk bertahan, jika kau sudah mencapai batasmu. Jangan lari terlalu jauh, jangan pergi, berbalik badanlah, karena ada aku. Aku selalu di sini. Tepat di belakangmu untuk menunggu dirimu berbalik dan berlari ke arahku.”


Sayang....


Kalimat sayang itu tak kuasa Agra ucapkan. Pada akhirnya kalimat itu hanya menjadi suara hatinya, entah kapan akan tersampaikan kepada sang pemilik panggilan itu.


“Aku ti—dak bi ....”


“Cukup, Kinar. Aku tidak butuh jawaban darimu, aku hanya menunggumu. Berharap Tuhan mau berbelas kasih padaku dan memberiku kesempatan untuk memilikimu.” Agra membuka ranselnya dan mengeluarkan kantung belanjaan lalu menyodorkannya pada Kinara. “Ambil ini.”


“Apa ini, Agra?” Kinara menerima dan segera membuka kantung belanjaan itu. “Baju?” dahinya berkerut ketika melihat isi di dalam kantung itu.


Baju yang ada di dalam kantung itu adalah baju yang sempat Kinara pilih ketika berada di pusat perbelanjaan, tetapi tidak dia beli karena insiden mengerikan itu.


Agra mengangguk pelan. “Lain kali jika dia melakukan ... Shit!!” Agra memukulkan tangannya ke ransel, dia tak kuasa melanjutkan kalimat yang berhasil menyulut emosi di dalam dirinya.


"Jika dia melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Kau bisa mengenakan pakaian ini untuk menutupi bekasnya.” Agra bangun dari duduknya. "Sudah aku tambahkan beberapa syal."


“Aku tidak bisa menerima ini, Agra.” Kinara memasukkan kembali pakaian itu ke dalam kantung belanjaan.


Kinara takut jika Dika mengetahui hal ini, dia akan kembali menumpahkan kemarahan kepada Kinara. Menjadikan Kinara sebagai target kemarahannya tanpa peduli perasaan Kinara.


Atau bahkan lebih parah dari itu, menjadikan Agra sebagai pelampiasannya. Kinara tentu tidak ingin Agra terluka lebih dari ini.


“Terimalah, Kinara. Jika suamimu bertanya tentang pakaian itu, katakan saja jika itu dariku. Dan jika dia marah padamu, bilang padanya untuk datang menemuiku," ucap Agra dengan suara datar.


"Katakan padanya untuk tidak melibatkan dirimu dan menumpahkan kemarahan padamu, itupun jika dia masih seorang laki-laki sejati!!" Agra sedikit menaikan suaranya.


Jika dilihat dari bekas luka di tubuh Kinara jelas sekali Dika sudah bermain fisik padanya.


"Pantang bagi laki-laki untuk menyakiti wanita yang dicintainya, kecuali dia seorang pengecut! Katakan juga pada suamimu jika aku tidak takut padanya.” Agra turun dari kursi.


“Dan satu lagi, Kinara. Ada hal yang perlu kau ingat, aku tidak butuh jawaban darimu. Tidak peduli kau mencintaiku atau tidak.” Agra menoleh menatap Kinara yang masih duduk di sudut sana.


“Kau harus tahu, Kinara. Tuhan sendiri yang menitipkan perasaan cinta ini padaku.


Jika Tuhan yang menitipkannya, maka hanya Dia yang berhak merenggutnya kembali, bukan dirimu, suamimu, atau ratusan orang diluar sana," ucapnya diiringi senyuman getir.

__ADS_1


"Biarkan Tuhan saja yang merenggutnya, entah dengan cara tidak bisa memilikimu di sisiku atau sampai kematian menjemput kita berdua, hal itu baru bisa membuatku menyerah untuk melepaskanmu.” Agra mengayun kakinya mengambil langkah lebar untuk meninggalkan Kinara tanpa perlu mendengarkan pendapat Kinara.


Hari ini Kinara selamat karena pertolongan Agra, tidak tahu hari-hari berikutnya apakah dia akan seberuntung itu.


Meskipun dengan drama air mata yang menguras emosi antara Kinara dan Agra.


***


Siang itu cuaca cukup terik, matahari sudah naik sampai di puncak. Sudah satu minggu sejak kejadian yang menggemparkan seluruh penghuni kampus itu terjadi.


Kali ini tidak ada yang berani menyentuh Kinara seujung kuku pun, bahkan untuk bergunjing tentangnya saja mereka harus berpikir ribuan kali.


Salah-salah, selain mendapatkan kesenangan karena menjadikan Kinara sebagai bahan cacian, merekalah yang akan menghadapi masalah besar. Bisa saja Agra langsung mengeluarkan mereka dari kampus itu.


Dikeluarkan secara tidak hormat dari kampus Royal adalah bencana besar, itu artinya peluang untuk bekerja dan menjadi bagian dari perusahaan ternama tertutup rapat.


Kinara dan Alisa memacu sepeda motor mereka menuju mini market tempat mereka bekerja paruh waktu.


Kinara tidak bisa beralasan lagi, sudah beberapa hari Kinara bolos kerja dengan alasan sakit. Dia juga tidak enak hati dengan Alisa yang begitu baik, pasalnya karena Alisa yang begitu gigih meyakinkan pemilik mini market untuk menerima Kinara sebagai pekerja paruh waktu di sana.


“Kinara.” Alisa melepas helm dan meletakan di kaca spion. “Kau terlihat pucat, kau sakit lagi? Jika kau sakit lebih baik istirahat. Aku bisa menjelaskan pada bos.” Alisa berjalan mendekati Kinara yang sudah melepas helmnya.


“Aku baik-baik saja, Lis.” Kinara menepuk lembut lengan Alisa. “Masuk yuk, kalau tidak bekerja lagi gajiku bisa dipotong banyak.”


“Aku cek dulu.” Alisa menarik pergelangan tangan Kinara, lalu meletakan tangan satunya lagi di dahi temannya untuk memastikan apakah Kinara benar sakit atau tidak.


“Bagaimana?” Kinara berkacak pinggang.


“Hehehe ... normal,” ucap Alisa sembari tersenyum lebar. "Tapi kenapa kau terlihat pucat."


“Mungkin hanya kelelahan saja, Lis. Yaudah, masuk, yuk.”


Alisa mengangguk dia mengekor dari belakang mengikuti langkah Kinara.


“Astaga aku hampir lupa.” Alisa menepak dahinya sendiri.


“Aku 'kan sudah menyalin materi selama kau bolos kuliah, aku lupa memberikannya padamu.”


“Dasar.” Kinara menurunkan kacamata Alisa.


“Hentikan,” ucapnya menahan tangan Kinara. Dia tahu Kinara selalu ingin Alisa mengganti kacamata lebarnya dengan softlens. Entahlah, Alisa belum terpikirkan untuk itu.


“Nih.” Alisa menyodorkan buku sembari membetulkan letak kacamatanya. “Semoga membantu, yah.”


Keduanya sudah berada di dalam toko.


“Sangat membantu, kau yang terbaik, Alisa.” Kinara memeluk Alisa dari belakang. “Terima kasih,” lirihnya.


“Hmmm ....” Alisa memutar tubuhnya. “Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur masalah pribadimu, Kinar. Namun apakah kau dan Agra benar-benar,” ucapnya terputus. Alisa terdiam, dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Sebagai sahabat Alisa khawatir dengan keadaan Kinara saat ini, meski Alisa juga merasakan Agra sudah banyak berubah.


Namun itu belum cukup, Alisa takut mereka berdua melangkah terlalu jauh dan akan menyesal dikemudian hari.


Sudah hampir satu minggu sejak kejadian itu dan Alisa tetap diam, sampai Alisa merasa sekarang waktu yang tepat untuk bertanya pada Kinara.


Setelah kejadian itu kedekatan Agra dan Kinara masih sama seperti dulu, seolah tidak pernah terjadi salah paham di antara keduanya.


Agra tidak berubah, justru semakin perhatian pada Kinara. Lalu bagaiamana dengan Dika? manusia satu itu tetap sama, pergi dan pulang kerja tanpa peduli dengan Kinara. Tidak pernah bertanya apakah Kinara baik-baik saja atau tidak.


“Jika sudah saatnya, aku akan menceritakan semuanya kepadamu, Alisa. Kau sahabat terbaikku, aku mengerti kekhawatiranmu.” Kinara menudukkan kepala.


"Tapi percayalah padaku, Alisa. Aku tidak akan melampaui batasku sebagai seorang wanita," Kinara tersenyum tipis.


Jika yang Alisa khawatirkan adalah bekas merah di tubuhnya karena ulah Dika. Seharusnya Alisa tidak perlu melakukan itu.

__ADS_1


Bagaimana mungkin melayani suami sendiri dianggap melampaui batas, hanya saja keadaan yang tidak menguntungkan ini membuat Kinara dan Agra terjebak dalam situasi yang sulit.


“Baiklah, aku percaya padamu.” Alisa menepuk bahu Kinara sembari tersenyum lembut.


“Aku beresin rak sebelah sana, yah. Kau jaga kasir saja, ingat jangan kelelahan," Alisa berpesan. Kinara mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca.


Dia segera memalingkan wajahnya, jangan sampai air mata bahagia itu jatuh di depan Alisa dan membuatnya semakin khawatir.


Kinara sangat bersyukur memiliki Alisa sebagai temannya.


***


Klak....!!


“Sealamat datang,” sapa Kinara.


Menyambut ramah customer yang datang ke toko adalah peraturan nomor satu yang selalu diingatkan bos mereka.


Seorang wanita berambut pendek sebahu masuk ke dalam toko, tubuhnya yang tinggi dan kulit putihnya sempat membuat Alisa mengucek mata karena kecantikannya.


Tak banyak aksesoris di tubuhnya, dia hanya mengenakan gaun berwarna merah muda pendek di bawah lutut.


Dipadu sepatu hak tinggi berwarna coklat, senada dengan jam tangan dan sabuk kecil yang melilit di pinggangnya.


Kinara menatap lekat, mencoba melihat lebih dalam lagi siapa wanita itu.


Mungkin saja dia adalah kenalan jauh, karena Kinara merasa dia pernah melihat wanita itu.


Seperti pernah lihat, di mana yah, batin Kinara.


Wanita itu berjalan pelan, berkeliling mengambil apa saja yang dia butuhkan.


Kinara bergeser pada komputer satunya untuk melihat wanita itu di cctv.


"Wajahnya tidak asing, di mana aku pernah melihatnya?" Kinara bergumam.


Sepertinya wanita itu sudah selesai berbelanja. Dia berjalan ke arah kasir untuk membayar.


“Ada kartu membernya, kak?” tanya Kinara sopan yang dijawab gelengan kepala dan senyum tipis oleh wanita itu.


Tak banyak yang dia ambil, hanya sepotong roti isi coklat, air mineral, dan keripik kentang.


“Pulsanya sekalian, kak?”


Sekali lagi wanita itu menggelengkan kepala sembari tersenyum. Ini peraturan yang harus Kinara lakukan, menawarkan sebanyak mungkin barang di toko bosnya.


Meskipun tak jarang beberapa pelanggan merasa risih ketika mendengar penawarannya.


Aku yakin pernah melihatnya, tapi di mana, yah? batin Kinara.


Saat ini wanita itu mengenakan kacamata hitam yang cukup besar, sehingga wajahnya tak terlihat sepenuhnya.


Hanya hidung mancung dan bibir tipisnya saja yang terlihat jelas, tetapi mengenali orang tidak bisa hanya dari bibir dan hidungnya saja 'kan?


Kecuali Kinara sudah hidup bertahun-tahun bersama orang itu.


Mungkin dari cara berjalan saja sudah bisa dikenali, tetapi Kinara yakin pernah melihat wanita itu.


\=\=\=>Bersambung....


.


.


.

__ADS_1


Nak anak mohon kerja samanya, emak yang lagi sakit bela2in update demi kalian.


Masa kalian cuma baca tapi nggak mau vote.


__ADS_2