
“Tidak ada, mba.” Devi membuka dompetnya mengeluarkan kartu debit dan menyodorkan pada Kinara.
Kinara menerima itu sembari tersenyum, tangannya cekatan mulai memasukan satu per satu barang belanjaan milik Devi.
“Maaf mba, tolong kembalikan kartu teman saya.” Dika membuka dompetnya. “Pakai kartu saya saja.” Dia menyodorkan kartu debit tanpa limit kepada Kinara, kartu yang sama yang pernah Dika berikan padanya. Kartu itu tidak pernah Kinara sentuh, teronggok begitu saja kesepian di dalam laci meja belajarnya.
“Oh, iya.” Kinara menyodorkan kembali kartu debit milik Devi.
“Sorry, yah mba.” Devi menerima kartu itu. “Dia memang suka gitu, orangnya gengsian, mba. Tapi baik, kok.”
Kinara hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Devi, tentu saja Kinara tidak percaya jika ucapan Devi adalah kebenaran. Karena dia lebih tahu laki-laki itu dari siapa pun.
Meskipun ada ribuan orang yang mengatakan Dika adalah laki-laki yang baik, tetap tidak akan mengubah kenyataan. Bagi Kinara dia adalah laki-laki paling jahat yang pernah Kinara temui.
“Duh, gengsian amat. Iya deh yang kaya raya mah.” Devi menyikut lengan Dika.
"Ini bukan soal kaya atau miskin, Dev. Lebih pada tanggung jawabku sebagai laki-laki, masa iya aku membiarkan kau membayar belanjaanmu sendiri," ucap Dika.
Cih, tanggung jawab. Kau tidak pernah bertanggung jawab terhadapku, batin Kinara.
“Pada dasarnya semua wanita itu sama, Dev. Suka uang, ‘kan?” Dika melirik memperhatikan Kinara.
“Sembarangan! Tidak semua wanita mata duitan, yah." Devi mendengus kesal dengan stigma yang diberikan Dika. “Jika nanti kau bertemu wanita yang tidak melihat hartamu, fix pertahankan. Itu pasti wanita baik-baik.”
“Sudah,” jawab Dika singkat.
“Siapa? Carissa?” Devi menoleh melihat Dika.
“Kau pikir siapa lagi?” Dika balik bertanya.
“Iya deh, iya. Jadi kapan nih sebar undangan?” Devi menyenggol lengan Dika.
Deg ...!
Bisakah kalian bicara di luar saja? Jangan di sini, dan aku tahu kau sengaja melakukan itu, Dika, batin Kinara.
“Secepatnya.” Dika tersenyum puas.
Kau tidaka akan bisa melakukannya, Dika. Sebelum aku tanda tangani surat percerain kita, batin Kinara.
Entah apa yang ada di kepala Dika, bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depan istrinya sendiri. Kinara hanya bisa menarik napas panjang, dadanya naik turun seiring perasaanya yang mulai berantakan.
“Penasaran deh akan semewah apa pernikahan kalian, keluarga Mahendra dan keluarga Kaylee.” Devi menggelengkan kepala karena takjub. “Kalian benar-benar pasangan yang serasi, yang laki-laki tampan dan yang perempuan cantik. Sudah cantik, pintar, dan berasal dari keluarga terhormat pula," imbuhnya.
Iya, kalian memang serasi. Apalah aku yang hanya anak dari orang biasa, tidak cantik dan tidak pintar, aku hanya debu di sekitarmu. Seharusnya kau lepaskan saja diriku yang hina ini, untuk apa terus mempertahankan aku? batin Kinara.
“Apa kau tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain, Dika?” tanya Devi tiba-tiba.
“Tidak ada yang pantas untuk aku cintai selain Carissa, Dev," jawab Dika mantap.
Sebenarnya kau itu laki-laki atau perempuan, sih? Kok banyak bicara sekali, jika tujuanmu untuk menyakiti hatiku. Selamat kau sudah berhasil, batin Kinara.
“Duh, romantis banget sih. Cinta mati ini mah judulnya," Devi tersipu malu.
“Memang!" Dika tersenyum sinis, dia memperhatikan ekspresi datar Kinara. Ekspresi itu yang membuatnya semakin kesal. “Kau kan tahu sendiri Carissa itu cinta pertamaku, bertahun-tahun aku terus mencintainya. Tidak pernah melupakannya barang semenit pun.”
“Iya deh, iya.”
Nanti ketika kau jatuh cinta padaku, dan karmamu berlaku. Maka kau tidak akan bisa melupakan aku barang sedetik pun. Kita tunggu saja, Dika. Karma selalu ada pada mereka yang semena-mena.
Semua belanjaan itu sudah masuk ke dalam kantung besar berlogo. Kinara menarik napas panjang, dengan selesainya transaksi itu setidaknya dia tidak perlu mendengar ocehan Dika lagi.
Kinara menyodorkan kartu itu kepada Dika setelah selesai menggunakannya.
“Terima kasih, silakan datang kembali.” Kinara tersenyum yang dibalas anggukan kepala oleh Devi, sementara Dika hanya berlalu begitu saja sembari menenteng dua plastik besar belanjaan milik temannya.
“Bahkan temanmu saja kau perlakukan lebih baik,” Kinara bergumam.
__ADS_1
***
“Selamat datang, Nyonya," ucap para pelayan terputus. Mereka saling memandang satu sama lain dan bergumam pelan.
“Haaah ....” Kinara manarik napas dan mengembuskan kasar. Kinara tahu kecemasan yang sedang dirasakan para pelayan itu.
Kinara berjalan mendekati Bibi Ane. “Apakah nona Carissa sudah datang, Bi?” tanya Kinara, bibi Ane terkejut ternyata Kinara sudah tahu tentang kabar kepulangan Carissa.
Padahal dia dan pelayan yang lain hampir sakit kepala karena memikirkan cara yang tepat untuk memberi tahu Kinara tentang kepulangan Carissa.
“Anu, Nyonya ....” Bibi Ane memutar pelan kepalanya untuk mencari keberadaan Carissa.
Setelah memastikan Carissa tidak berada di sekitar mereka barulah Bibi Ane berani melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus. “Iya, Nyonya. Tadi sore nona datang bersama Ken." Bibi Ane menundukkan kepalanya.
“Baguslah,” ucapnya diikuti senyum getir.
Bibi Ane dan pelayan lain saling bersitatap, tidak mengerti mengapa Kinara bisa bersikap santai.
Aku pun ingin tahu sampai dimana batas kemampuanku, dan sampai dimana batas tanggung jawabmu kepadaku, Dika Mahendra, gerutunya di dalam hati.
“Nyonya, maaf jika saya lancang." Bibi Ane meremas ujung seragam pelayannya.
"Tidak apa-apa, Bi. Katakan saja." Kinara mengelus pelan lengan bibi Ane.
"Anu, apakah anda sudah mengetahui tentang hubungan antara ...." Bibi Ane kembali diam, dia tidak tahu harus memulai kata dari mana. Namun dia juga harus memastikan sebelum Kinara semakin terluka.
Kinara tertawa kecil membuat bibi Ane merasa semakin bersalah. Dia bahkan khawatir jika Kinara mengalami depresi karena tekanan batin.
Seluruh orang di mansion ini tahu bagaimana kejamnya Dika terhadap Kinara, sudah bukan menjadi rahasia lagi.
"Jika yang bibi Ane maksud adalah hubungan kekasih yang saling mencintai antara Dika dan Carissa. Bibi Ane tidak perlu merasa bersalah, karena aku sudah mengetahuinya."
"Tapi, nyonya." Dalam hal ini justru bibi Ane yang terlihat tertekan.
"Aku justru penasaran ingin tahu bagaimana suamiku akan bersandiwara. Sebagus apa aktingnya," ucap Kinara.
“Tenang saja, Bi. Aku baik-baik saja.” Kinara mengelus lengan Bibi Ane. “Jika kalian bingung memanggilku dengan sebutan apa, panggil Kinara saja,” tambahnya.
“Itu tidak mungkin, Nyonya. Anda adalah istri sah tuan. Kami tidak bisa berbuat selancang itu,” Bibi Ane bersikeras.
“Lalu? Apa kalian bisa memanggilku dengan sebutan, Nyonya?” Kinara tertawa kecil. “Di depan nona Carissa? Aku tidak yakin kalian bisa melakukannya, akan lebih mudah jika kalian memanggilku Kinara, bukan?”
Seketika seluruh pelayan termasuk Bibi Ane yang merupakan kepala pelayan di mansion itu menundukkan kepala dalam.
"Hey, ayolah. Ini bukan acara mengheningkan cipta." Kinara tertawa.
Saat ini mereka tidak tahu harus memihak kepada siapa, yang satu adalah istri sah majikan mereka dan yang satu lagi adalah wanita kesayangannya.
“Jangan terlalu dipaksakan, Bi.” Kinara menepuk pelan bahu bibi Ane. “Aku tidak keberatan jika kalian memanggilku demikian,” ucapnya santai. “Jangan menyusahkan diri kalian sendiri. Bagiku panggilan itu tidak berarti apa-apa.”
Sama seperti keberadaanku yang juga tidak berarti apa-apa, batin Kinara.
Kinara berjalan masuk ke dalam rumah. “Ah ... saatnya mandi lalu makan.” Dia mengangkat tangannya ke atas lalu menggeliat seperti orang yang baru bangun tidur.
Semua pelayan yang melihat tingkah Kinara hanya bisa saling tatap dan berdecak kagum. Entah kagum atau bingung.
Apakah Kinara sekuat itu? Berapa lapis kesabaran yang dia miliki? Memangnya berapa besar kekuatan yang dia simpan? Akankah dia tetap bersikap sesantai itu jika melihat suaminya berbincang dan tersenyum bersama awanita lain.
🍃Sementara itu di kantor Dika🍃
“Jadi tuan, jika kita melihat peluang dan pasar kemungkinan bisnis ini akan sangat menguntungkan kerja sama perusahaan kita. Terlebih lagi lokasi yang kita pilih juga sangat strategis.” Salah seorang sedang menjelaskan tentang proposal mega bangunan yang digadang-gadang akan meraih keuntungan yang besar.
“Berapa persen kemungkinan gagalnya?”
Itulah Dika, dia tidak akan bertanya tentang keberhasilan, tetapi tentang kegagalan. Dia tidak akan mengucurkan dana untuk proyek yang tidak jelas keberhasilannya, alih-alih membicarakan keberhasilan proyek itu Dika lebih senang mengetahui kemungkinan terburuknya.
Jika kemungkinan terburuk itu kecil, dia tidak akan ragu untuk menanda tangani kerja sama dengan perusahaan lain. Karena dana yang dikucurkan pun tidak sedikit, dia harus berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan.
__ADS_1
Bukankah simbiosis mutualisme dalam dunia bisnis menjadi hal yang lumrah?
“Itu, sepertinya kurang dari 20 %, tuan.”
Dika diam, dia mencoba menganalisa semuanya sampai handphone miliknya berbunyi.
Tring ....
Dika menoleh, melihat dari layar depan handphonenya. Sebuah pesan whatsapp dari nomor tidak di kenal berhasil membangkitkan rasa penasarannya.
Segera Dika menggeser layar Hp dan melihat isi pesan itu.
(Sayang, aku pulang)
Dika mengernyitkan dahi sampai kedua alisnya bertaut, Dika mulai menebak. Pikirannya kembali menerawang jauh, apakah itu pesan spam? Namun dari penulisan dan kalimatnya sepertinya pikiran Dika mulai menjurus pada satu nama.
Untuk memastikannya Dika segera menulis pesan balasan.
Dika : Carissa?
Dika mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, dia tidak berharap jawaban dari pesannya adalah 'Iya' karena dia belum mempersiapkan semuanya.
Akan lebih baik jika Carisa pulang setelah pernikahannya dengan Kinara berakhir.
Tring ....
Dika memijat pangkal hidungnya, dia meraih handphone itu, memejamkan mata sejenak berharap jika dugaannya salah.
(Yes, baby, it's me. Aku sudah ada di mansion, kapan pulang, sayang? Aku sudah kangen. *hug 😘)
Deg ...!
Dika bangun dari kursi. “Rapat ditunda.” Hanya sebatas itu, dia segera mengayun langkah lebar menuju parkiran.
Begitu sampai di parkiran Dika segera memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, sepanjang perjalanan Dika memutar otaknya untuk mencari alasan apa yang bisa dia gunakan untuk menutupi status pernikahannya dengan Kinara.
🍃Mansion🍃
Ckiiit ...!!
Mobil Dika masuk ke halaman mansion, beberapa kali Dika membunyikan klakson mobil, terlihat jelas jika dia sangat tidak sabar untuk segera masuk ke dalam mansion.
Dika keluar dari dalam mobil dengan raut wajah tak terbaca, para pelayan yang berbaris hanya bisa menundukan kepala seraya berucap, “Selamat datang, tuan.”
“Di mana, Carissa, Bi? Apa Kinara sudah pulang? Mereka sudah bertemu?” Dika segera mencecar pertanyaan begitu dia melihat Bibi Ane sudah berdiri manyambut kedatangannya.
“Nyonya sudah pulang, tuan, tetapi belum bertemu dengan nona. Sepertinya nona sedang di dalam kamar.”
“Apa Kinara sudah tahu jika Carissa pulang?”
“Sudah, tuan.”
Dika mengedarkan pandangan matanya, dia tidak melihat Carissa, tetapi Dika melihat Kinara yang sedang berjalan. Segera Dika mendekati Kinara.
“Kinara ...!" seruan itu terdengar marah, Kinara heran sebenarnya siapa yang seharusnya marah, bukankah ini sangat lucu.
Well, pemain utama sudah datang, ahhh ... sepertinya drama akan segera di mulai, batin Kinara.
\=\=\=> Bersambung....
.
.
.
Maaf yah emak telat up nya, emak masih belum vit nakanak 😪
__ADS_1
Selalu dukung emak dengan klik Like dan bagi VOTE yah, makasih nakanakku 😘❤️