
Terkadang seseorang perlu merasakan kehilangan terlebih dahulu agar bisa mengerti seberapa pentingnya memiliki.
Mungkin saat ini Dika sedang merasakan itu, karma yang perlahan-lahan datang menghampirinya seperti tak kenal lelah.
Setelah drama mie instan dan sebotol air mineral berakhir, entah drama apa lagi yang akan dilakukan laki-laki berusia 26 tahun itu.
Semalaman suntuk Ken menemani Dika yang bersikeras menunggu baju basah yang dikenakannya kering. Ken berharap pagi ini bisa menjalani hari-hari normal seperti biasanya.
***
Dika sudah duduk di meja makan, menikmati sarapan pagi yang dibuat pelayan rumah tangga. Tak banyak yang dia katakan, akhir-akhir ini Dika lebih sering diam daripada banyak bicara.
Mansion yang besar itu terasa sangat sepi, tidak ada gelak tawa Kinara yang biasanya bercanda dengan bibi Ane. Atau teriakan Kinara ketika memaki Dika karena kesal.
Ken masih berdiri di samping Dika, bersiap kalau saja ada yang dibutuhkan Tuannya. Dia sudah sarapan pagi tadi, lebih dulu dari Dika.
"Ken ....," ucap Dika tiba-tiba.
"Iya, Tuan." Ken terkesiap, dia sampai sedikit menggeser tubuhnya.
"Apakah rasanya kehilangan harus sesakit ini?" tanya Dika.
Pertanyaan itu kontan membuat Ken harus memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat. Mau bagaimana lagi, Ken belum pernah jatuh cinta dan tidak pernah merasa kehilangan. Tentu Ken tidak tahu akan seperti apa rasa sakitnya kehilangan.
“Mungkin Tuan Muda, tapi saya belum pernah merasakan seperti apa rasa sakitnya kehilangan karena saya belum pernah merasakan seperti apa indahnya memiliki.”
Dika meletakan pisau pemotong daging di atas piring, dia terlihat menarik napas panjang. Tak berapa lama tangannya kembali meraih pisau dan memotong daging lagi lalu mengunyah pelan.
Ken hanya bisa menggaruk kepalanya. “Emmm ... menurut yang saya tahu, kehilangan itu memang menyakitkan. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, semua perasaan bersalah itu seperti membunuh secara perlahan-lahan.”
“Benar apa katamu, Ken.” Kali ini Dika mendorong piring steak itu ke depan. “Aku baru tahu rasanya setelah Kinara pergi.” Meraih segelas air dan meneguk perlahan. “Jika aku tahu rasanya kehilangan akan sesakit ini, mungki aku tidak akan menyia-nyiakan wanita itu.”
“Apa Tuan tidak merasakan hal yang sama ketika Nona Carissa pergi ke Inggris?” tanya Ken memberanikan diri.
“Tidak, memang saat itu aku merasa kehilangan. Namun tidak sesakit ini, dan perasaan itu berangsur-angsur membaik setelah satu minggu kepergian Carissa. Tapi ...,” ucapnya terputus, dia menundukan kepalanya. “Kehilangan Kinara membuatku tersiksa lahir dan bathin, Ken. Perasaan bersalah, kerinduan melihat wajahnya, bahkan aku ingin mendengar suaranya yang lembut itu, sekadar untuk mengobati kerinduanku ini. Kehilangan Kinara membuatku hampir gila, Ken.”
Ken menelan salivanya, dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi curahan hati Dika itu, dia bukan spesialis di bidang percintaan. Ken masih terlalu polos, belum ternoda oleh perasaan cinta.
“Aku pikir perasaan kehilangan itu akan menghilang seiring berjalannya waktu, tetapi aku salah. Semakin hari, tidak* bahkan setiap detiknya perasaan menyesal itu kian bertambah. Tertumpuk seperti batu yang menindih tubuhku, jangankan untuk melepaskan diri, bernapas saja terasa sangat menyakitkan. Apa aku terlihat menyedihkan, Ken?”
“Tidak, Tuan Muda. Mungkin ini proses untuk mendewasakanmu, dengan adanya kejadian ini kau bisa lebih menghargai istrimu kelak,” ucap Ken.
“Istriku kelak?” Dika tertawa kecil. “Aku tidak ingin beristri lagi selain Kinara, Ken. Aku ... aku rindu ingin mendengar suaranya, Ken. Aku ... aku sangat merindukan dia.”
Ken merogoh kantung celana dan mengeluarkan handphone. Dia melakukan panggilan telepon dengan Kinara. begitu tersambung Ken mengaktifkan mode pengeras suara, dan meletakan handphone itu di atas meja, di dekat Dika.
Dika membulatkan matanya, alisnya sedikit terangkat. Ken segera meletakan jari telunjuknya di bibir, Dika mengerti, dia menganggukkan kepala pelan.
“Hallo, Ken ...,” sapa Kinara dari seberang sana.
“Hallo, Nyonya,” jawab Ken.
Dika memberi isyarat agar Ken duduk di kursi, tepat di sampingnya. Ken mengangguk.
__ADS_1
“Ada apa, Ken? Kau mau bertanya soal resep masakan lagi, kali ini apa yang ingin kau masak?” cecar Kinara.
“Anu, Nyonya ....”
“Kau ini, aku sudah bukan seorang Nyonya lagi. Panggil Kinara saja, lagipula sebentar lagi aku resmi menjadi seorang janda.”
Ken melirik Dika, yang dilirik bergeming. Tak ada gerakan, tak ada tanggapan, bahkan ekspresi wajah Dika serumit rumus matematika yang berduet dengan rumus kimia. Sangat susah dipecahkan.
“Ah, jangan membahas soal itu, Nyonya. Walau seperti apa pun keadaannya, bolehkah aku tetap memanggilmu dengan sebutan Nyonya?” tanya Ken, dia tidak ingin membahas soal perceraian di depan Dika. Itu hanya akan menambah luka di hatinya.
“Terserah kau saja, Ken. Jadi kenapa sepagi ini kau menghubungiku?”
“Aku ...,” ucap Ken terbata. Ken bingung, haruskah dia berkata jujur jika Dika ingin mendengar suara Kinara. Tidak, itu bukan pilihan yang tepat. “Bolehkah aku minta resep membuat nasi goreng, Nyonya.”
Astaga, memangnya untuk apa? Aku bahkan tidak berniat membuatnya, setelah ini mungkin aku akan beralih profesi menjadi seorang koki, gerutu Ken di dalam hati.
“Kau mau berhenti jadi asisten pribadinya Dika, dan beralih jadi koki?” tanya Kinara yang disambut senyum tipis di wajah Dika.
Kenapa? Kenapa tiba-tiba dia tersenyum, aku jadi takut, batin Ken.
“Tidak, aku hanya ingin belajar masak. Gaji sebagai asisten pribadi Tuan Dika sangat besar, aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan itu.”
“Cih, kau kuat sekali berada di samping Dika. Manusia keras kepala dan jahat seperti Dika itu seharusnya sudah dibumi hanguskan,” ucap Kinara berapi-api.
Kali ini senyum Dika semakin lebar.
Ken megerti, sepertinya Dika ingin mendengar Kinara menyebut tentangnya meskipun itu sebuah makian. Mungkin makian terdengar seperti syair cinta bagi orang yang sedang dilanda perasaan rindu yang mendalam.
“Aku baru tahu kau mata duitan, Ken.”
“Sedikit. “ Ken tertawa kecil. “Hmmm ... apakah Nyonya tidak ingin tahu bagaimana kabar, Tuan?”
“Tidak! Jika kau ingin bertanya padaku soal Dika, aku akan mengakhiri panggilan ini,” ucap Kinara denga nada mengancam.
Ken melirik dan Dika menggelengkan kepala.
“Baiklah, Nyonya. Aku hanya ingin bertanya soal resep,” ucap Ken.
“Nanti aku kirimkan lewat pesan saja, Ken.”
Dika melakukan gerakan orang yang sedang makan, Ken mengangguk.
“Baik, Nyonya. Anda sudah sarapan?”
“Sudah, aku sarapan pagi-pagi sekali. Sejak hamil aku jadi cepat lapar, Ken.”
Dika mengeluarkan handphone dan menulis sesuatu di sana lalu menunjukan pada Ken. Ken tersenyum mengerti.
“Apa kau mengalami ngidam, Nyonya? Biasanya wanita hamil selalu mengalami itu.”
Kinara diam, ada jeda sekitar 30 detik sampai jawaban di seberang sana terdengar.
“Kenapa kau bertanya itu? Apa kau mau membelikan apa yang aku inginkan?” ledek Kinara.
__ADS_1
Sekali lagi Ken melirik Dika dan mendapati anggukan kepala dari Tuannya itu.
“Tentu saja, selama ini aku belum banyak membantumu, Nyonya.”
“Sebenarnya tidak perlu, Ken. Kau tidak perlu repot-repot. Anakku cukup pintar, dia tidak rewel. Mungkin karena dia tahu jika Ayahnya tidak ada di sampingnya, jadi dia tidak ingin menyusahkan Ibunya. Tidak banyak yang dia inginkan.” Nada suara Kinara terdengar sedih dengan embusan napas yang berat.
Dika menundukan kepalanya, mungkin perasaan bersalah sebagai seorang Ayah yang tidak mendampingi calon anknya semakin membuat Dika tersiksa.
“Jadi, apa ada yang kau inginkan, Nyonya?”
“Hmmm ... saat ini sih ....” suara Kinara terputus, sepertinya ada orang lain yang datang. Ketika Ken berniat mematikan sambungan telepon itu, karena menurutnya itu adalah privasi. Namun Dika mengangkat tangannya agar Ken membiarkan panggilan itu tetap berlangsung.
“Duh, bumil ... sudah sarapan, ‘kan?” suara Alisa yang terdengar di handphone Ken.
“Sudah, dong,” jawab Kinara.
“Sudah siap? Aku bawakan bika ambon untukmu, kau ingin makan bika ambon, ‘kan?”
Deg ... itu suara laki-laki, Dika tidak tahu itu suara siapa. Namun sepertinya dugaan Dika menjurus pada satu orang. Iya, orang itu adalah Agra Grissham, saat ini hanya Agralah yang memiliki kesempatan dan peluang cukup besar untuk mendekati Kinara.
Dika bangun dari kursi, Ken sempat melihat bola mata Dika yang basah. Ken segera mematikan sambungan telepon itu dan berjalan mengikuti Dika dari belakang. Ken pikir Dika akan masuk ke dalam kamarnya, atau bergegas memacu mobilnya untuk pergi ke kantor.
Namun Ken salah, Dika justru berjalan mendekati kamar Kinara dan menghilang di balik pintu kamar istrinya.
🍃Kamar Kinara🍃
Semenjak kepergian Kinara ini kali pertama Dika masuk ke dalam kamar Kinara. Dia memutar kepalanya untuk menyapu tiap sudut ruangan. Dadanya berdesir, tiba-tiba saja napasnya terasa sesak, ruangan itu benar-benar kecil. Bahkan besar ruangan itu tidak ada seperempatnya dari kamar utama.
Dika berjalan mendekati lemari baju yang sebelumnya digunakan istrinya. Lemari itu sama kecilnya, bahkan hanya terbuat dari kayu biasa, di antara semua parabot yang ada di mansion itu lemari Kinara paling murah. Harganya lebih murah daripada harga sandal Dika. Perlahan Dika membuka lemari itu, kosong ... tidak ada apa pun di dalamnya.
Dika bergeser, duduk di ranjang kecil yang hanya bisa ditiduri satu orang karena ukurannya yang memang benar-benar kecil. Kasurnya jauh dari kata empuk. Dia menyentuh ujung ranjang, meraba seprai dan selimut yang menurutnya kasar. Jika di kamar utama seprai dan selimut yang digunakan Dika memiliki tekstur bahan yang halus dan lembut, tentu berbeda dengan yang ada di kamar Kinara.
Dika tidak bisa menahannya lagi, bola matanya yang basah itu mulai meronta mengeluarkan air mata yang tidak dapat ditampung lagi. Tangisnya pecah, Dika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, sementara bahunya berguncang dan napasnya mulai tersengal.
Sepersekian menit, kondisinya mulai membaik. Dia berjalan mendekati kamar mandi, menyalakan keran air dan meletakan telapak tangannya yang terbuka tepat di bawah keran. Air yang mengalir dan menyentuh telapak tangannya itu terasa dingin.
Kau habiskan lima bulanmu untuk menderita di kamar ini, Kinara. Apakah rasanya sangat dingin? Di sini tidak ada bak mandi, tidak ada air hangat, aku ... aku benar-benar menyesal, Kinara.
Setelah selesai dengan kamar mandi yang kecil itu Dika bergerak menuju meja belajar Kinara, dia menyentuh permukaan meja itu, permukaannya terasa kasar. Sudah tidak ada lagi tumpukan buku-buku tebal di atasnya, sudah tidak ada lagi mie instans dan makanan ringan yang biasanya terletak di kardus di bawah meja belajar istrinya.
Dika membuka laci meja belajar itu dan mendapati selembar foto Kinara dan sepucuk surat. Ditatapnya lekat foto wanita yang kini sangat dia rindukan itu, air matanya kembali jatuh melewati kedua pipi dan berakhi di atas meja. Dika mendekatkan foto Kinara ke wajahnya dan mengecup kening istrinya itu.
Aku minta maaf, Kinara. Tuhan sudah menghukumku dengan kerinduan yang luar biasa ini, hukuman apa pun yang Tuhan berikan akan aku terima dengan lapang dada, tetapi jika hukuman itu kehilangan dirimu, aku ... aku sungguh tidak kuat menjalaninya. Aku sungguh minta maaf, Kinara. Pulanglah, sayang. Pulanglah Kinara, jika saja kau pulang, kelak aku tidak akan pernah menyakitimu lagi, bahkan seujung kuku pun. Pulanglah permata hatiku, batin Dika.
Dika meraih selembar surat yang sepetinya ditulis khusus untuk Dika, dia membukanya. Dan isi surat itu adalah ....
Bersambung....
.
.
Jreng jreng jreng... Apakah isi suratnya? vote yang banyak makanya biar tahu isi suratnya apa🤣🤣 Ciie kapal oleng... cieee... 😜
__ADS_1