Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Duduk Di Depan, Di Sampingku


__ADS_3

Kriiiing....


Kinara terkesiap manakala bunyi alarm jam weker berdering kencang.


“Jam berapa sekarang? Apa semalam aku ketiduran setelah mendengar kalimat tidak bertanggung jawab dari Agra?" Gerutunya, Kinara mengerjapkan mata beberapa kali. Sepertinya Kinara enggan untuk bangkit dari kasur yang membuainya semalaman, kedua tangannya meraba ke segala arah, sedikit berguling untuk memindahkan tubuhnya. Tetapi tidak terangkat sedikit pun, kasur dan tubuhnya umpama magnet yang saling tarik menarik, tidak mau terpisahkan.


“Aduh, di mana sih? Mataku masih berat untuk terbuka, sejak kapan aku menjadi pemalas seperti ini?” Kinara masih meraba sampai tangannya mendapatkan benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna putih yang semalam dibiarkannya begitu saja. Di raihnya handphone itu, menghidupkan dan melihat pada layarnya pukul berapa sekarang ini.


“Astaga... Sudah jam sembilan, sebenarnya aku ini tidur atau pingsan?” Kinara mendengus, kesal dengan dirinya sendiri. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Rasa kantuk yang sempat menggelayuti matanya seketika hilang bak tertiup angin, musnah begitu saja. Tubuhnya berlari kecil, meraih handuk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


“Seperti orang yang habis minum obat tidur saja, bisa-bisanya kau menjadi gadis seperti ini, Kinara.” Dia memaki dirinya sendiri, menyesali perbuatannya yang terbuai di alam mimpi sampai melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.


“Tunggu, apanya yang kewajiban seorang istri. Aku ini hanya istri dalam buku nikahnya saja, dalam kenyataannya aku ini apa coba? Tidak ada tugas yang harus aku jalankan, bukan?” Kinara sudah menanggalkan seluruh pakaiannya, menggantung rapi di dinding kamar mandi. Dia sedang berjongkok di depan ember yang sudah penuh terisi air, meraih segayung air dan menyiramkan ketubuhnya. Begitu terus berulang-ulang sampai dirinya merasa cukup dan melangkah keluar.


Hari ini tidak ada lagi baju mewah yang harus dikenakan Kinara ke kampus. Baju yang menyusahkannya sampai harus berganti pakaian di toilet umum. Baju yang sesuai selera Dika, hari ini Kinara memilih mengenakan kaus rajut berwarna kuning yang memiliki panjang sampai bagian paha, berlengan panjang, dipadu celana jeans berwarna biru muda, sangat pas di tubuhnya. Rambut panjangnya diikat gaya ekor kuda dan hanya menyisakan sedikit anak rambut di bagian pangkal telinga dan tengkuk lehernya.


Kinara melirik jam kulit yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. “Astaga, kalau begini ceritanya aku pasti telat.” Kinara menepak jidatnya sendiri.


Tergesa, setengah berlari Kinara meraih dan mengenakan sepatu kets berwarna coklat. Benar-benar tabrak warna, tetapi Kinara masa bodoh.


“Ken...! Aduh, di mana dia?” Kinara berteriak memanggil Ken, namun tidak ada jawaban dari Ken.


Kakinya terus terayun sampai tiba di ruang tamu, tidak ada siapa pun di sana.


“Ke mana perginya semua orang?" Gerutunya kesal.


Kinara melangkah semakin jauh, kali ini dia sudah ada di bagian teras mansion. Ada dua mobil terparkir rapi, satu mobil milik Dika yang satu lagi mobil yang kemarin mengantar Kinara ke kampus. Nampak pak Budi berjalan mendekat. Kinara menyambar seperti petasan yang tersulut api, menghujani pak budi dengan banyak pertanyaan. “Ah, Pak Budi. Bisa antarkan saya ke Kampus? Omomg-omong ke mana semua orang? Di mana Ken?”


Pak Budi hanya nyengir, tidak tahu harus menjawab pertanyaan yang mana. “Astaga, kenapa Pak Budi malah nyengir? Sudah, sekarang bapak antarkan saya ke Kampus, sepertinya saya sudah telat.” Kinara setengah mengiba. Pak Budi hanya menggelengkan kepala.


"Apa pak Budi sedang sakit gigi. Ayo pak, antarkan saya." Kinara meminta sekali lagi. Belum sempat pak Budi menjawab, Kinara terkejut begitu mendengar suara yang datang dari arah belakang. “Aku yang akan mengantarmu.”


Seketika Kinara memutar tubuhnya, mencari sumber suara. Matanya terbelalak begitu mendapati sosok suaminya sudah berdiri dengan setelan kemeja tiga potong berwarna abu-abu metalic, tangan kanananya sedang melingkarkan arloji pada pergelangan tangan kirinya. Karena keterkejutan yang tiada tara, Kinara sampai menjatuhkan buku dari genggaman tangannya.


Bruuug....


“Ah, ma..maaf.” Tergesa Kinara berjongkok, meraih dan memasukkan buku itu ke dalam tasnya.


“Kau, mau berangkat kerja?” Tanya Kinara basa-basi, telinganya masih sangat sehat. Dia jelas mendengar kalimat yang diucapkan Dika. Namun Kinara harus tetap memastikannya, siapa yang tahu pasti apa yang sedang dipikirkan laki-laki arogan itu.

__ADS_1


“Tidak perlu basa-basi, kau tidak salah dengar. Hari ini aku yang akan mengantarmu ke Kampus.” Dika berjalan mendekat. Kinar mundur, hampir terjatuh jika saja Dika tidak meraih tangannya.


“Kau ceroboh sekali, bagaimana jika kau jatuh.” Dika mendengus kesal, melepaskan kasar genggaman tangannya.


“Tunggu dulu, apa pedulimu jika aku jatuh? Bukankah kau pernah menamparku? Lalu menyiramku dengan segelas air mineral, dan juga menendang kakiku sampai jari kakiku memerah? Lalu apa masalahnya jika aku jatuh?” Kinara penasaran bukan main, laki-laki yang kini berdiri di depannya terlihat jauh berbeda dari laki-laki yang menikahinya.


“Bukankah sudah jelas, aku tidak ingin kau terluka dan akhirnya hanya menyusahkan aku saja. Kau jangan terlalu percaya diri.” Dika berlalu, melewati Kinara begitu saja. Dia masuk ke dalam mobil, Kinara mengangguk yakin.


Ini baru benar-benar dia. Batinnya.


Tiiin...


Suara klakson mobil memecah lamunannya.


Tiiin... tiiin...


Lagi, Dika mengulanginya. Kinara mendekati kaca mobil yang terbuka sempurna, mengernyitkan alisnya dan mengedipkan mata beberapa kali.


“Apa karena hampir terjatuh kau menjadi bodoh, Kinara? Masuklah, bukankah kau harus segera sampai di Kampus? Hari ini aku yang akan mengantarmu.” Dika berbicara tanpa menoleh, tatapan matanya tetap mengarah ke depan.


Kinara mengedipkan matanya berkali-kali, mulutnya menganga, sesekali dia mencubit tangannya untuk memastikan apakah dirinya masih berada di alam mimpi.


Tiiin...


“Iya, iya. Tidak sabaran.” Kinara menggerutu, melangkah ke belakang dan membuka pintu mobil bagian belakang.


Tiiin...


“Apa lagi....?” Kinara menggeram.


“Siapa yang memintamu duduk di belakang?” Kata Dika.


“Ya ampun, lalu aku harus duduk di mana, Dika? Di bagasi?” Kinara melotot.


Tidak mungkin dia memintaku duduk di depan, kan? Jika itu terjadi mungkin Dika sedang mengalami gangguan kejiwaan. Kinara membatin.


“Kecilkan matamau, kau tidak boleh memandang suamimu seperti itu. Masuk!” Dika memerintah.


“Astaga, aku harus masuk ke mana, Dika?” Kinar benar-benar kesal bukan main, dia melirik jam tangannya dan waktu sudah berlalu lima belas menit sejak dirinya berdebat dengan Dika.

__ADS_1


“Duduk di depan...” Suara Dika hampir tidak terdengar. Kinara hanya membatu, masih berdiri di samping mobil.


Oh My God, apa hari ini turun hujan salju? Kinara membatin, menengadahkan wajahnya untuk memastikan apakah di negaranya sedang turun hujan salju.


Tiiin...


"Aduuuh, iya aku dengar." Kinara mendengus.


“Duduk di depan, di sampungku. Apa kau tuli?!” Dika menegaskan sembari berteriak.


“Di depan?” Kinara tidak percaya.


"Apa aku harus mengulanginya, Kinara?" Dika semakin kesal.


"Kau yakin di depan?" Kinara menggeser tubuhnya menunjuk kursi depan, tepat di samping kursi kemudi.


“Hmmm...” Dika hanya berdehem kesal, tidak tahu apakah artinya iya atau tidak. Tetapi karena Kinara sudah kehabisan waktu dia memutuskan untuk membuka pintu mobil bagian depan, duduk manis di samping Dika.


\=\=\=\=> Bersambung.....


Netizen : Thor up lagi dong.


Author : VOTE


Netizen : Thor mana lanjutannya?


Author : VOTE


Nentizen : Thor gak punya jawaban lain yah?


Author : Gak punya, Author cuma minta VOTE tapi kalian gak mau VOTE, lama2 Authornya yang males.


Netizen : Aku mulung dulu yah Thor biar bisa kasih VOTE ke Author.


Author : Ini baru anak emak, mulung yang banyak yah. kasih VOTE yang banyak.


Ingat VOTE... VOTE.... VOTE.. jangan cuma minta up tapi gak kasih VOTE, ok.


Please, Klik Like, Favorite ❤ Tinggalkan Komentar 💬 beri Rate bintang 5, bagi Vote yang banyak yah dan follow author☺

__ADS_1


__ADS_2