Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Kau Terlalu Egois, Dika


__ADS_3

Dika mengernyitkan dahi, memicingkan mata untuk memastikan apakah yang disodorkan Kinara adalah benda persegi panjang dengan deretan pil bulat di dalamnya.


“Kau sudah meminumnya?” menaikkan sedikit alisnya, ekspresi dan gerakkan tubuh Dika lebih seperti seorang polisi yang sedang melakukan interogasi kepada seorang penjahat.


Memangnya salah apa aku ini? Sampai ekspresi wajahmu seperti itu. Batin Kinara.


“Belum, dan tidak akan pernah!” Seru Kinara mantap. Sepahit apapun risiko yang harus Kinara tanggung, dia siap. Dia sudah menyiapkan hatinya beberapa jam yang lalu sebelum akhirnya memutuskan untuk menemui Dika.


“Apa kau tidak mengerti, Kinara?” Dika menggeser tubuhnya, nampaknya akan terjadi perdebatan panjang yang menguras emosi. Setiap berdebat dengan Kinara yang keras kepala, Dika selalu merasa ubun-ubunnya mau meledak.


“Bagaimana jika kau hamil?” lanjutnya.


Loh, kenapa kau harus tanya bagaiamana? Aku ini wanita yang sudah bersuami, dan kau sudah meniduriku secara paksa. Jika aku hamil, ya kau harus bertanggung jawab. Memangnya apa lagi?


Ingin sekali Kinara mengatakan itu, tetapi dia mengurungkannya. Lebih baik menyimpan kalimat itu di dalam hati selamanya. Pikir Kinara.


“Tidak masalah, aku seorang istri. Bukankah wajar jika aku hamil?”


“Aku tahu kau seorang istri. Tapi pernikahan kita atas dasar paksaan, jika kau hamil aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tidak ada cinta di hatiku untukmu, Kinara."


"Meskipun terpaksa, pernikahan kita tetaplah pernikahan yang sah. Dan..." Belum apa-apa saja Kinra harus mendengar kalimat yang maha kejam dari suaminya sendiri.


"Dan jika aku hamil, aku tidak akan menuntut perhatianmu, tidak akan merepotkanmu. Percayalah." Kinara menahan napas, seketika hatinya seperti bunga di musim gugur.


Jatuh terhempas, terbang ke mana arah angin membawanya.


Bagaimana mungkin ada wanita hamil yang tidak butuh kasih dan sayang dari suaminya? tetapi itulah Kinara.


Wanita yang memiliki ketegaran berlapis-lapis, tidak ada yang bisa menguliti lapisan itu sampai habis.


"Dan aku tidak ingin punya anak darimu, Kinara!" Dika mulai menaikkan volume suaranya, benar bukan jika berdebat dengan Kinara emosi di hatinya selalu meluap-luap seperti air mendidih.


“La..lu kenapa kau meniduri a...ku?” suaranya mulai bergetar.


“Aku hanya tidak suka milikku disentuh laki-laki lain.”


Iya, itulah alasan tidak berdasar yang membuat Kinara harus kehilangan kesuciannya. Meskipun di tangan suaminya sendiri, tetapi cara yang dilakukan Dika benar-benar diluar batas kemanusiaan.

__ADS_1


Kau sakit, Dika. Batin Kinara.


Kinara mengela napas, panjang. “Bukankah kau bilang tidak mencintai aku? Lalu jika aku dekat dengan laki-laki lain kenapa kau harus cemburu?”


“Aku ingatkan padamu. Aku tidak cemburu, kau tidak cukup layak untuk aku cemburui!” Dika merendahkan.


*Iya, tapi kau cukup layak untuk menderita seumur hidupmu. Aku sumpahi kau tidak akan mendapatkan cinta sejatimu, seumur hidup*! Kinara menyumpahi Dika di dalam hati.


“Kau tahu, Dika. Seorang anak kecil akan menangis karena boneka miliknya diambil oleh orang lain.


Awalnya anak kecil itu tidak pernah menyangka jika boneka itu memiliki tempat paling penting di hatinya, sampai seseorang datang dan berusaha merebut boneka itu dari tangannya.


Apa yang akan dilakukan anak kecil itu? dia marah? Tentu, dan kemarahannya membuat boneka itu rusak.


Dia tidak bisa membedakan apakah boneka itu berharga atau tidak,


karena dia hanya tidak suka miliknya disentuh orang lain. Perbedaan dua hal itu jaraknya sangat dekat.” Kinara menjelaskan dengan perumpaan, dia yakin Dika bukanlah laki-laki bodoh yang tidak mengerti ke mana perumpamaan itu bermuara.


“Jadi maksudmu kau seperti boneka yang tidak berharga itu?”


Sangat dekat, jadi jika kau sudah merasakan cemburu padaku. Aku sarankan kau untuk bersikap baik padaku, karena aku takut kecemburuanmu padaku tidak akan memiliki tempat lagi dihidupku.”


“Hahahaha....” bahunya berguncang, mulutnya terbuka lebar.


Apa ini terdengar seperti lelucon di telingamu, Dika? Batin Kinara.


“Kau terlalu berlebihan, Kinara. Cintaku sudah aku habiskan kepada satu wanita, dan kau tidak sebanding dengannya.”


Dada Kinara berdesir, hatinya seperti ditarik paksa. Begitu kejam Dika mengatakan hal itu dengan mata terbuka, mulut tertawa dan tubuh tanpa beban.


Apakah wanita bernama Kinara Amalia itu tidak memiliki arti di hati Dika? Meski sedikit saja, seperti setitik noda pada permukaan kaca.


Walaupun kecil, tetapi tetap memiliki tempat dan arti tersendiri.


Kinara membeku untuk beberapa saat, meremas telapak tangannya sendiri. Berusaha mengatur tarikan napasnya, menahan air mata yang sedari tadi meronta meminta keluar.


“Aku yang tidak sebanding ini, bisa jadi sebanding untuk laki-laki lain.” Menepuk-nepuk dadanya. “Aku yang kau hinakan ini, bisa jadi mulia di mata laki-laki lain, hiks... Aku yang tidak istimewa di matamu, bisa jadi teramat istimewa di mata laki-laki lain. Jika kau bisa melihat bintang bersinar di mata wanita lain, maka laki-laki lain juga bisa melihat hangatnya rembulan di mata istrimu, ini. Hiks...” Kinara sesenggukan, sudahlah tidak ada pertahanan yang kokoh ketika dirinya berhadapan dengan makhluk Tuhan yang satu itu.

__ADS_1


“Jika aku tidak berharga dihidupmu, mungkin saja aku berharga dihidup laki-laki lain. Aku mengatakannya bukan karena aku terlalu percaya diri, bukan... hiks... aku hanya sedang memperingatkanmu, selama aku masih bisa berdiri di sampingmu. Tolong, hargailah aku. Hikss...”


“Aku tidak bisa, Kinara. Cintaku, perhatianku, semua yang ada di dalam hatiku hanya berpusat padanya. Dia adalah cinta pertamaku, tidak bisa terganti dan tidak akan pernah berubah posisinya. Selalu yang pertama, dan tertinggi di hatiku.” Dika merendahkan suaranya.


“Aku tidak peduli, Dika. Itu hatimu, bukan hatiku. Aku hanya memberimu peringatan, bukan permintaan. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, tidak. salah jika kau pikir aku mengharapkan cintamu, aku hanya mengharapkan perlakuanmu kepadaku. Perlakukan aku selayaknya wanita yang butuh dihargai, tidak lebih dari itu. hiks...”


Kinara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dadanya semakin terasa sesak. Berat sekali untuk menarik napas saja, bahkan sesekali dia melakukan tarikan napas dari mulutnya.


“Lalu apa maumu?”


Akhirnya kalimat negosiasi itu keluar juga, kalimat pertukaran kesepakatan. Seperti biasanya, ada kesepakatan dan ada pertanggung jawaban. Seperti itulah hidup Kinara dimulai ketika dia pertama kali menginjakkan kaki di mansion suaminya.


“Aku tidak akan menyentuh pil terkutuk itu, satu butir pun!"


Inilah tujuan perdebatan panjang itu.


“Jika kau hamil bagaimana, Kinara? Kau tidak hamil saja aku pusing setengah mati memikirkan cara berpisah darimu, apalagi kau hamil. Bagaimana jika Carissa datang?”


Cih, nama wanita itu disebut lagi. Tidak, Kinara tidak menyalahkan wanita itu, tidak ada yang salah darinya. Kinara yang masuk ke tempatnya, Kinara yang datang. Jadi satu-satunya manusia yang paling bersalah disituasi ini sudah pasti Dika Mahendra.


“Itu urusanmu, Dika. Aku sudah melakukan kewajibanku sebagai seorang istri, sekalipun kau melakukannya dengan cara paksa.” Kinara bangkit dari sofa. “Tetapi untuk memiliki anak adalah keinginanku"


Aku tidak ingin melibatkan yang tidak berdosa. Dosa kita berdua sudah lebih dari cukup untuk membuat kita menderita, tolong jangan ditambah dosa lain lagi. Batin Kinara.


"kau berdoa saja siang dan malam semoga aku tidak hamil. Tetapi aku tidak akan meminum itu.” melirik pil penunda kehamilan yang tergeletak di atas meja.


\=\=\=\=\=> Bersambung......


Tinggalkan jejak cinta kalian.. KLIK LIKE, FAVORIT, RATE BINTANG 5 DAN VOTE YANG BANYAK.... 😊❤️


Terimakasih atas dukungan dan tips dari kalia n sangat berarti bagi Author.


Jangan lupa Mampir di novel Romance Fantasi..


REINKARNASI DUA BINTANG... karya AGUS PRIATNA.. DIJAMIN SERU.... 🙏❤️


salam Author A.L

__ADS_1


__ADS_2