Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Mencari Jawaban (Part 2)


__ADS_3

“Sebenarnya, Kakak ....” Kalimat Kinara terputus ketika mendengar namanya dipanggail dibarengi ketukan di kamar Amanda.


“Kinara ....”


“Iya, Bu.” Kinar segera berlari menghampiri ibunya.


“Padahal lagi seru-serunya, kayak acara curhat dong, Dek. Eh malah terganggu.” Amanda tertawa geli membayangkan kalimatnya sendiri. Dia segera membereskan buku-buku yang berserakan dan mengikuti langkah kakaknya. Dia juga penasaran kenapa ibunya sampai berteriak memanggil nama Kinara.


“Kenapa, Bu?” Kinara menghampiri Ibunya yang seketika langsung menggelengkan kepala. “Kenapa sih, Bu?” Kinara mulai cemas.


“Itu, suruh suamimu bersih-bersih.”


“Dika?”


“Mas!” Marni menekankan kalimat ‘Mas’ membuat Kinara menggaruk kepalanya.


“Memangnya kenapa dengan Dik ... Emm ... Mas Dika, Bu? Ha ha ha.” Kinara tertawa dramatis ketika kata 'Mas' lolos dari mulutnya.


“Dia menghancurkan kebunan Ibu.”


“Ah, serius?” Amanda berteriak.


Ken yang mendengar suara Amanda langsung membuka pintu kamarnya. “Kenapa, Bu?” tanya Ken.


“Itu Nak Dika menghancurkan kebun Ibu.”


Dasar, sudah kuperingatkan. Jika ingin mengambil hati mertua, tidak perlu melakukan hal yang tidak bisa, itu hanya akan membuatmu malu Tuan Muda, batin Ken.


“Biar saya lihat, Bu.” Ken bersiap melangkah ke belakang rumah, tetapi Mirna mengedipkan matanya.


Ada apa dengan Bu Mirna, yah? Sakit mata? Atau? Ah aku tahu, batin Ken.


“Aduh. Sepertinya saya sedang banyak kerjaan. Mohon maaf, Nyonya, sebaiknya Anda saja yang menemui Tuan Muda.”


Kinara menarik napas dalam. Sepertinya dia mulai mengerti permainan ibu dan Ken. “Bu.” Kinara menggelengkan kepala.


Mirna melenguh panjang. “Manda, kamu masuk ke kamar dan belajar.”


“Aku sudah belajar, Bu.” Manda mengerucutkan bibirnya.


“Sudahlah. Masuk saja.”


“Baik, Boss.” Amanda memberi hormat pada ibunya.


Ken yang menyaksikan itu hanya bisa memukul-mukul tembok sembari menggaruk-garuk pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Dia sengaja mengintip Amanda dari cela pintu.


“Duduk, yuk.” Mirna menarik tangan Kinara, membimbingnya agar duduk di ruang keluarga. Sementara pintu kamar Ken dan Amanda sudah tertutup sempurna.


“Kenapa, Bu?”

__ADS_1


“Kinara, Ibu tidak bisa mengijinkan Dika tinggal lebih lama lagi di sini. Walaupun warga tahu jika kalian suami istri, tapi faktanya kalian memang sudah bercerai. Dika hanya boleh tinggal selama lima hari, setelah itu Ibu sudah memintanya kembali ke kota, dengan atau tanpa dirimu.”


Kinara nampak menggigit bibir bawahnya.


“Dika adalah laki-laki yang baik, Ibu tahu itu. jika ada yang lebih baik dari Dika, bukan berarti dia bisa lebih cocok untukmu.”


“Lebih cocok?”


“Sandal kalau kiri semua, apa bisa dipakai?”


Kinara menggeleng.


“Didunia kalau semua orang menjadi pedagang, apa akan ada yang beli?”


Kinara menggeleng lagi.


“Kalau semua orang menjadi orang kaya, apa ada yang namanya berbagi?”


Untuk kesekian kalinya Kinara hanya bisa menggelengkan kepala. Menunggu sampai maksud dari kalimat ibunya terlihat jelas.


“Lah iya, begitu juga dengan pernikahan. Kalau kamu buat salah, Dika yang minta maaf. Kalau Dika yang menyakitimu, kamu yang memaafkan. Hidup itu kan saling melengkapi, kamu tidak bisa bermimpi memiliki keluarga yang sempurna tanpa melewati ujian yang Tuhan berikan. Terus menerus mengingat kesalahan orang lain hanya akan membuat hatimu lelah.” Mirna membelai punggung putrinya.


“Aku sudah memaafkannya, Bu, tapi untuk kembali lagi rasanya aku belum siap.”


“Kenapa?”


“Aku tidak mencintainya lagi, Bu.”


“Aku juga tidak yakin, karena kami 'kan dijodohkan. Tapi sepertinya pernah."


“Jika kau tidak yakin, mengapa sekarang kau begitu yakin jika kau tidak mencintainya? Mungkin saja kau mencintai Dika, tetapi kau menolaknya. Hatimu terlalu keras untuk menyadari jika sebenarnya kau sudah jatuh cinta padanya.”


“Aku mencintai pria lain, Bu.” Kinara menggigit bibir bawahnya dan kedua tangannya saling meremas. Dengan sangat terpaksa akhirnya keluar juga sesuatu yang sekian lama dipendamnya. Meskipun saat ini dia sendiri tidak yakin apakah itu benar-benar cinta.


Mirna nampak menghela napas berat. Sejujurnya Mirna sangat menyukai sosok Dika, meskipun Mirna tidak tahu derita apa yang telah dilalui anaknya, tetapi jodoh pilihan suaminya pasti tidak salah. Setidaknya itu yang ada dalam benak Mirna.


“Lalu kenapa kamu tidak bersama dengannya? Dengan orang yang kamu cintai. Apa mungkin nunggu sampai lahiran?”


“Bukan begitu, Bu.” Kinar mengeleng berat. “Karena dia harus bertunangan dengan wanita lain. Dengan sangat terpaksa aku harus melepaskannya. Aku tidak ingin egois, Bu.”


“Sebentar, Kinar. Apa kalian benar-benar saling mencintai?”


Kinara mengangguk.


“Lalu kenapa kalian menyerah? Kamu justru melarikan diri ke kampung. Maksud Ibu begini, seberat apa pun halangan yang kalian hadapi, jika kalian saling mencintai seharusnya kalian bertahan dan tetap melangkah dijalur yang sudah kalian sepakati, ‘kan?”


“Tapi itu akan menyakiti hati wanita lain, Bu. Kinar tidak mau.”


Mirna tersenyum sembari membelai punggung tangan Kinara. “Bukankah cinta memang begitu, Kinar. Egois. Cinta tidak akan pernah peduli apakah kalian menyakiti hati orang lain atau tidak.”

__ADS_1


Deg ...! Kalimat yang diucapkan Mirna sama seperti yang diucapkan Dika. Tidak mungkin ‘kan keduanya janjian? Dari cara penyampaian juga berbeda. Pikir Kinara.


“Tapi, Bu, aku ....”


“Sekarang begini saja. Apa sekarang kamu sedih karena tidak bisa bersama dengan laki-laki itu?”


Kinara mengangguk. “Tentu saja. Siapa yang tidak sedih ketika berpisah dengan orang yang dicintai.”


“Kamu yakin?” Mirna nampak mengerutkan keningnya. Sangat rapat sampai kedua alisnya nyaris bertaut.


Kinara menggangguk lagi untuk meyakinkan ibunya. “Iya, memangnya kenapa, Bu?”


“Karena Ibu hanya melihat kesedihan sesaat di matamu, Kinar. Kamu tidak sesedih orang yang sedang patah hati, Ibu tahu karena Ibu sudah berpengalaman. Ibu hanya takut perasaan yang kamu miliki untuk laki-laki itu sesungguhnya adalah sebuah pelarian semata.”


“Pe-pelarian?” Kinara sedikit membuka matanya. Bagaimana mungkin ibunya bisa mengira jika perasaannya terhadap Agra adalah pelarian. Jelas-jelas itu cinta. Setidaknya itu yang dia percaya, dia mencintai Agra.


“Iya. Kamu melarikan diri dari kenyataan hidup yang pahit. Pernikahanmu dan Dika tidak berjalan seperti mimpimu. Rumah tanggamu seperti di dalam neraka, lalu laki-laki itu membawa surga di depan matamu. Kamu yang lelah dan nyaris putus asa akhirnya memilih untuk melarikan diri daripada bertahan. Padahal kamu tidak mencintainya, kamu hanya butuh pelarian agar hatimu tenang. Ibu takut, kamu sedang membatasi hatimu dan akhirya kamu keliru.”


Deg ... kenapa ucapan Mirna selalu membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Apakah memang perasaannya kepada Agra hanya pelarian semata? Tidakkah itu terdengar sangat kejam?


“Ibu tidak pernah tahu seberapa besar derita yang sudah kamu alami, Kinara. Namun, tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan kedua. Siapa tahu setelah kamu memberinya kesempatan, Dika bisa memberimu surga yang kamu rindukan.”


“Aku ... Dika tidak menghargaiku sebagai istrinya, Bu.”


Sekali lagi Mirna menghela napas panjang.


“Ibu mengerti, Kinar. Rasanya memang sakit ketika kita tidak dihargai, apalagi oleh pasangan kita sendiri. Maka ketika ada kesempatan untuk melarikan diri, kita sebagai manusia yang lemah cenderung memilih melarikan diri alih-alih menarik pedang dan mencoba bertahan. Jika Ibu berada di posisi kamu, mungkin Ibu akan melakukan hal yang lebih gila.” Mirna tersenyum.


“Tapi, ada yang harus kamu tahu. Dalam pernikahan selalu ada ujian, seperti yang pernah Bapak bilang. Pernikahan itu terkadang diuji dengan kekurangan harta, lama untuk mendapat keturunan, mertua dan ipar yang tidak baik, adanya orang ketiga, atau masalah-masalah lainnya. Setiap


keluarga itu memiliki dukanya masing-masing, Kinara. Semua ujian yang datang padamu dan Dika pada dasarnya memiliki waktu kadaluarsa, hanya saja terkadang kalian tidak sabar untuk menunggu waktunya berakhir. Padahal setelah semua kesulitan yang kalian hadapi, kalian akan tahu betapa indahnya perasaan memiliki satu sama lain. Fa-inna ma’al ‘usri yusran.”


“Karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Mata Kinara berkaca-kaca menakala membacakan arti dari QS. Al-Insyirah yang dibacakan Mirna. Dadanya sesak bukan main, semua ucapan Mirna membuat hatinya sakit. Semakin dicermati semakin sakit pula hatinya.


“Sekarang temui, Dika. Bawakan handuk dan minuman untuknya.”


Kinara mengangguk pelan. Air matanya tumpah, menetes di lantai.


Bersambung...


.


.


Ah, bawang. Jangan lupa LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE yah. Bantu TCK masuk 10besar, Ok ❤️


.


.

__ADS_1


Yang mau gabung GC emak, kalian hanya perlu ikutin aturan yang berlaku. Nanti Admin Gc Silver Rosemary bakal komen tentang aturannya. Biar kalian langsung di Acc.


__ADS_2