
~Tidak ada yang bisa disalahkan atas takdir yang kejam ini.
Ini bukan salahku, bukan salah Ayah atau Ibuku.
Ini salah Takdir yang mempertemukan Aku dengannya.
Dengan makhluk yang teramat kejam bernama Dika Mahendra~
Kinar mengunci rapat pintu kamar, menarik koper dan meletakkannya di sembarang tempat. Tangannya berusaha meraih pijakkan pada ujung ranjang. Ia duduk terdiam, pandangan matanya melayang jauh.
Bulir bening menetes membasahi pipi Kinar, sesekali ia tersenyum. Kinar mentertawakan takdir yang begitu kejam mempertemukannya dengan Dika.
Kinar bangkit dari duduknya, melangkah perlahan. Matanya berkeliling mencari lemari, setelah menemukan lemari, ia membuka lemari itu. Menarik koper dan meletakannya di atas ranjang. Membuka koper lalu mengeluarkan isinya, memasukkan satu persatu pakaian yang ia bawa. Menata rapi di dalam lemari. Tangannya berhenti ketika menemukan bingkai foto lengkap dengan gambar dirinya, adik dan kedua orang tuanya yang tersenyum bahagia. Tak sanggup memandangi wajah mereka, Kinar meletakan terbalik bingkai itu di atas nakas. membuatnya hanya bisa melihat punggung bingkai, tak ada gambar tak ada senyuman. Seperti hidupnya, yang dulu penuh warna kini hanya memimiliki satu warna, hitam.
Tangannya kembali bergerak mengambil satu-persatu pakaian dan meletakannya di dalam lemari. Tangan Kinar berhenti ketika mendengar suara ketukkan pintu.
Tok tok tok
“Siapa”
“Ini saya Nyonya, Ken”
Ada apa lagi?
Kinar melangkah, segera membuka pintu kamar.
Ceklak..
“Ada apa Ken?”
“Saya hampir lupa Nyonya, Ini barang-barang milik Nyonya yang di siapkan Tuan Dika” Ken menyerahkan beberapa kotak berukuran besar.
“Apa semua ini Ken?” Kinar kembali bertanya.
“Beberapa adalah buku-buku pelajaran dan berkas-berkas yang Nyonya butuhkan. Sebagian lagi adalah pakaian milik Nyonya, sepatu dan bebrapa Heels” Ken menjelaskan dengan sopan.
“Aku sudah memiliki pakaian Ken, untuk apa Tuan memberikan ini padaku?” Kinar bertanya sembari memalingkan pandangan matanya menatap ke arah kotak-kotak yang berada di depannya.
“Anu Nyonya, Tuan bilang Nyonya hanya boleh memakai pakaian yang Tuan siapkan” wajah Ken tertunduk, ia mengerti bagaimana perasaan Kinar. Pakaian yang sudah di persiapkan jauh-jauh hari, yang sudah di pilah-pilih oleh Kinar tiba-tiba tidak berguna begitu saja di mata suaminya.
Haaahhh.. untuk kesekian kalinya Kinar kembali mengeluarkan lenguhan panjang.
“Baiklah Ken, terima kasih” Kinar menerima kotak-kotak itu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia membuka kembali lemari yang sudah setengah terisi dengan beberapa pakaian miliknya.
__ADS_1
Pakaian-pakaian ini dibeli dengan uang ayahku, jerih payahnya tidakkah terlihat di matamu? Dika? Kinar membatin.
Air mata kembali meggenang di kelopak matanya, sekuat tenaga Kinar tahan. sesekali tangannya memegang erat ujung pintu lemarai. Kinar menengadahkan wajahnya ke atas.
Jangan nangis Kinar.. jangan... Gumamnya.
Namun, pada akhirnya air mata mulai menetes di sudut mata Kinar. Segera Kinar menyapu kasar pipinya, berharap tidak ada lagi air mata di sana.
Kinar mengeluarkan tumpukkan pakaian dari dalam lemari, menguatkan hati dan menyusunnya kembali di dalam koper.
Malang benar nasibmu Kinar.
Kinar membatin, mengasihi dirinya sendiri.
Baiklah, kamu kuat Kinar. Kamu pasti bisa menghadapi laki-laki itu. Gumamnya
Setelah semua pakaian miliknya masuk kembali ke dalam koper, Kinar menutup koper dan meletakkan di samping ranjang. Kali ini ia membuka satu-persatu kotak yang diberikan Dika untuknya. Setiap kali membuka kotak-kotak itu Kinar menghela napas panjang, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya bisa pasrah.
Kinar menyusun beberapa gaun yang membuatnya merasa muak ketika membayangkan dirinya harus mengenakan gaun-gaun itu.
Haiiis.. seharusnya dia menikah dengan seorang model, bukan dengan gadis desa sepertiku. Kinar kembali bergumam.
Beberapa kotak sudah kosong, Kinar sudah memindahkan sebagian isinya. Kini hanya tersisa satu kotak, tangannya kembali bergerak membuka kotak terakhir. Ia mendapati beberapa buku pelajaran, dan berkas-berkas kepindahan tempat kuliahnya.
Setelah selesai memindahkan semua isi di dalam kotak itu, Kinar menyusun kembali kotak kosong itu, menumpuknya dan membawa dengan kedua tangannya.
Perlahan ia menyusuri mansion, sudut demi sudut di lewatinya. Di lihat beberapa kali pun, Kinar tidak salah. Kamar yang disiapkan Dika untuknya terletak di bagian belakang mansion, jarak dari kamarnya dengan ruang utama sangat jauh, jarak dari kamarnya dengan dapur pun sangat jauh. Ia merasa seperti sedang di asingkan di rumah suaminya sendiri, rumah yang seharusnya menjadi surga kini berubah seperti neraka.
Belum lagi ukuran kamar yang jauh lebih kecil dari ukuran ruangan di mansion itu, memang kamarnya saat ini jauh lebih besar dari kamarnya yang dulu. Namun jika di bandingkan dengan ruangan-ruangan lain di mansion ini, kamar Kinar merupakan ruangan terkecil.
Kinar terus berkeliling, matanya waspada mencari sosok Ken yang belum juga ia temui meski sudah berjalan cukup jauh. Beberapa pelayan yang melihat Kinar segera menyapa sopan, sembari sedikit menundukkan badan.
Sebenarnya kalian tidak perlu menghormatiku sampai seperti itu, aku tidak lebih baik dari kalian. Aku rasa kita ini sama. sama-sama haya pelayan. Batin Kinar
oh itu Ken. Gumamnya
“Ken” Kinar berlari kecil mengejar Ken sembari memanggil namanya.
Mendengar Kinar memanggil namanya Ken segera menghentikan langkah, memutar badan dan memberi hormat pada Kinar sembari bertanya sopan “Ada apa Nyonya?”
“Ken, di mana aku bisa meletakkan kotak-kotak ini?” Kinar menurunkan kotak yang sedari tadi ia pegang.
“Astaga Nyonya. Anda tidak perlu repot-repot hanya untuk hal seperti ini, anda bisa memanggil pelayan dan meminta mereka membawa kotak-kotak ini” Ken merasa tidak enak hati
__ADS_1
“Tidak masalah Ken, lagi pula aku yang ingin melakukannya” Kinar tersenyum
Nyonya, kau benar-benar wanita yang baik. Meski Tuan memperlakukanmu dengan sangat kejam, kau tetap tersenyum di depan Asisten sepertiku, aku tau kau tidak ingin membuatku merasa tidak enak hati. Tapi semakin anda tersenyum, aku merasa semakin tidak enak hati Nyonya. Batin Ken
“Hey, mengapa kau melamun Ken?”
“Oh, maafkan saya Nyonya. Kotak-kotak ini biarkan saya yang mengurusnya. Apakah Nyonya lapar? Apa yang ingin Nyonya makan, Biar saya minta koki menyiapkan makanan sesuai selera Nyonya” Ken tersenyum sopan, tangannya melambai meminta beberapa pelayan untuk membawa kotak-kotak itu.
“Tidak perlu Ken. Aku masih kenyang” Kinar kembali tersenyum, ia memutar badan dan meninggalkan Ken.
Aku tidak boleh meminta terlalu banyak pada Dika, bahkan jika itu urusan perutku. Aku harus memikirkan cara agar bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Batin Kinar
Tergesa ia kembali memutar tubuhnya, untunglah Kinar masih mendapati Ken berdiri di tempat yang sama.
“Ken, bisa kita bicara sebentar? Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu?” Kinar berjalan mendekati Ken.
“Tentu Nyonya, silakan bertanya apa pun yang Nyonya ingin tahu. Mari ikuti saya, kita bicara di taman belakang” Ken meminta Kinar mengikutinya.
Cukup lama Kinar berjalan, beberapa ruangan sudah di lewatinya. Dari ruang kerja, ruang baca, sampai ruang musik yang sedikit membangkitkan rasa penasarannya.
“Ken, siapa yang menggunakan ruang musik itu?” Rasa penasaran membuatnya bertanya langsung pada Ken, tanpa basa-basi. Ken menghentikan langkahnya, memperhatikan ruangan dengan beberapa bingkai lukisan tergantung rapi, ada kursi lengkap dengan piano di depannya. Disudut lain ada sofa dengan sudut pandang mengarah langsung ke arah Piano. Di mana ketika Piano dimainkan, maka orang yang duduk di sofa bisa melihat dengan jelas penampilan pemain Piano itu. Ruangan itu lebih terlihat seperti ruang konser mini.
“Ini...” Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kinar menatap penuh selidik, tingkah Ken saat ini sama seperti tingkah Reina ketika tidak bisa mengatakan sebuah kebenaran.
Tak ingin membebani Ken, Kinar menyudahi pertanyaannya.
“Tidak perlu dijawab Ken, kau tidak perlu memaksa untuk memberi jawaban jika kau tidak ingin menjawabnya” Kinar menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Ken kembali melanjutkan langkahnya.
“Nyonya, walaupun saya tidak bisa mengatakan apa pun tentang ruang musik itu. Tapi saya sarankan agar Nyonya tidak pernah memasuki ruangan itu. Ataupun bertanya tentang ruangan itu kepada Tuan” Ken berbicara tanpa mengubah posisi, ia tetap beralan membelakangi Kinar.
“Baiklah Ken” Kinar menjawab sopan.
Aku juga tidak ingin tahu terlalu banyak tentangnya, semakin aku tahu banyak hal tentang laki-laki itu. Maka semakin aku dekat dengan neraka itu sendiri.
\=\=\=>Bersambung 💕💕
Tolong dukung Author yah..
Klik Like 🖒
Tinggalkan komentar 💬
Klik Favorit ❤
__ADS_1
Beri Tip dan Vote 😍😍