
Sementara itu di kamar utama ketika Kinara dan Agra berbicara.
“Tuan Muda, apa Anda yakin memberikan mereka waktu untuk berbicara?” tanya Ken yang sudah berdiri di ambang pintu kamar.
“Yakin tidak yakin Ken.” Tersenyum tipis. “Aku tetap harus memberi Kinara kesempatan untuk membuat keputusan. Agra juga berhak mendapat keadilan.”
“Jika keputusan Nyonya justru ....” Ken menghentikan kalimatnya. Dika diam, tanpa Ken menjelaskan lebih rinci pun dia tahu ke mana arah ucapan Ken. “Maaf Tuan Muda.” Membungkuk sopan. Ken tidak bermaksud ikut campur, dia hanya khawatir usaha yang Dika lakukan akan berakhir percuma.
“Jika Tuhan menakdirkan Kinara untukku, jangankan satu Agra yang datang. Seribu Agra pun hatinya tidak akan goyah.” Menutup pintu kamar.
Dika terduduk. Bersandar di daun pintu, menekuk kedua kakinya dan menjadikan tempurung lutut sebagai tumpuan kepala. Dia hanya pura-pura kuat, sejujurnya di hatinya juga terselip perasaan takut kehilangan Kinara. “Apa aku mengambil langkah yang salah? Haruskah aku mempersiapkan diri jika memang keputusanmu kembali padanya?” gumamnya sembari memijat kasar kepala bagian belakang. “Aku hanya percaya padamu, Kinara. Semoga kau tidak mengecewakan aku.”
Beberapa saat kemudian.
“Tuan ... Tuan ....” Ken mengetuk pintu kamar Dika dengan tergesa.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu pada Kinara?” tanya Dika begitu membuka pintu.
“Tuan Muda Agra sudah pulang, tetapi Nyonya ....”
“Kinara kenapa?” Dika berlari menuruni anak tangga. Dia melihat Kinara sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sedangkan bahunya terlihat berguncang.
“Arrrgggh ....” tangis Kinara pecah. Diremasnya ujung kerudung berwarna biru muda itu.
Mendekati Kinara. “Sayang ....” Dika duduk di samping Kinara. “Hey, jangan menangis.” Memeluk Kinara. “Menangis seperti itu tidak baik untukmu dan anak kita, ingat kau sedang hamil. Katakan padaku, ada apa?” Membelai puncak kepala Kinara.
“Aku mengatakannya, Mas ...,” ucap Kinara dengan suara rendah. Bercampur antara tarikan napas yang berat dan isak tangis yang belum mereda.
Melepaskan pelukannya. “Hey, tenang dulu, Sayang. Sekarang tarik napas dan buang perlahan.”
Kinara menurut, dia melakukannya. Sepersekian detik kondisinya mulai membaik.
“Jadi, kenapa kau sampai menangis seperti ini? Apa Agra menolakmu?” Hanya itu ‘kan kemungkinannya, mungkin Agra marah ketika melihat kemesraan kami. Pikir Dika.
“Aku bingung siapa yang menolak siapa, tetapi aku bilang aku tidak bisa meninggalkanmu, Mas.” Mendongakan kepala. Begitu melihat wajah Dika tangis Kinara semakin pecah. “Aku bilang aku sangat mencintaimu. Akhirnya aku membuatnya terluka.” Kinara memukul dadanya.
“Jangan lakukan itu, Sayang. Pukul aku saja.” Meraih kedua tangan Kinara agar melingkar di pingganggnya. “Pukul aku sepuasmu.” Memeluk erat tubuh Kinara.
Terima kasih, Sayang, karena kau percaya padaku dan memilih bertahan dengan laki-laki sepertiku. Demi Tuhan aku tidak akan mengecewakanmu lagi, batin Dika. Dia mendaratkan ciuman di puncak kepala Kinara.
Kinara menumpahkan segala lara di dalam pelukan Dika, tak terhitung berapa jumlah pukulan yang dilakukan Kinara di punggung suaminya. Dika tidak marah, dia justru bahagia. Padahal beberapa menit yang lalu dia sudah menyiapkan hati jika saja Kinara mau berbalik meninggalkannya dan memilih Agra, dia akan mencoba menerima. Namun, Kinara tetap memilih bersamanya.
Setelah menangis cukup lama, kondisi Kinara semakin membaik. Dika melepaskan pelukannya. “Aduh, kemejaku jadi basah.” Meraba bahunya. “Apa ini? Lengket-lengket begini, apa ini ingusmu?”
Kinara menganggukkan kepala. Dia menarik lengan bajunya, berniat menggunakan itu untuk membersihkan kemeja Dika. “Bi-biar aku bersihkan,” katanya dengan suara putus-putus.
Dika meraih tangan Kinara. Alih-alih mengizinkannya membersihkan sisa ingus, dia justru menarik tangan Kinara lalu mencium punggung tangannya. “Aku tidak keberatan jika seluruh tubuhku dipenuhi dengan ingusmu. Apalagi kalau dipenuhi dengan keringatmu,” bisik Dika di telinga Kinara.
“Terima kasih. Tunggu, kau bilang apa? Keringatku? Maksudmu? Dasar mesum!” Memukul dada Dika.
“Hey, apa salahnya kita berkeringat bersama, jika tidak begitu bagaimana mungkin ada Dika junior di sini.” Mengelus perut Kinara. “Apa kabar jagoan, Ayah?” Mencium perut Kinara.
__ADS_1
Kinara tersenyum. Dia tidak menyangka Dika akan bersikap dewasa, jauh dari dirinya yang dulu. Mungkin Dika benar-benar sudah berubah.
“Kau lelah, ‘kan? Mau istrirahat di kamar?”
“Emm ....” Mengangguk.
“Ok, saatnya olah raga tangan.” Dika bangun dan melakukan peregangan pada bagian tangannya.
"Apa aku segemuk itu?" Mengerucutkan bibirnya.
"Emmm ...." Bola matanya berputar. "Kau bukan gemuk, kau hanya berisi." Dia membungkuk dan menggendong tubuh Kinara dalam pelukannya.
"Bukankah artinya sama saja?"
"Aku rasa tidak." Dika mencoba menahan tawanya. “Tutup matamu, Sayang.”
“Kenapa?”
“Lakukan saja.”
Kinara sedang tidak ingin berdebat. Dia memilih menutup matanya sembari mengerucutkan bibir.
Dika berjalan melewati satu per satu ruangan di mansionnya. Seharusnya aku membuat rumah yang lebih kecil, kenapa dari ruang tamu ke kamar harus sejauh ini? gerutunya di dalam hati.
“Ok, aku akan naik tangga. Berpegangan yang kuat.”
Kinara langsung melingkarkan tangannya di leher Dika dan bertanya dengan suara tergagap. “Ke-kenapa kau menakuti aku? Apa aku turun saja, aku bisa jalan sendiri.” Membuka mata.
“Tutup matamu. Kau pikir aku tidak kuat menggendongmu, hah? Bahkan jika aku harus menggendongmu berkeliling mansion pun aku kuat,” ucap Dika dengan napas memburu.
Ken yang masih berdiri di depan pintu kamar Dika, dengan sigap membuka pintu dan mempersilakan dua orang itu masuk.
🍃Di dalam kamar🍃
Dika menurunkan tubuh Kinara perlahan. “Sekarang buka matamu.”
Kinara menelan salivanya sebelum membuka mata, kamar Dika dipenuhi foto Carissa. Haruskah aku membuka mataku? Jika bayangan tentang hari itu datang lagi, bagaimana?
Dika memperhatikan, Kinara belum membuka matanya. Tangan Kinara sedikit bergetar. “Haaaah ....” Dika melenguh panjang sekali, berdiri di belakang Kinara dan memeluknya dari belakang. Meraih jemari Kinara, membelai lembut di sana. “Kau takut?” desisinya.
Kinara berjingkat merasakan embusan napas Dika di lehernya. “Iya.” Mengangguk.
Wajar jika Kinara ketakutan. Ada begitu banyak kenangan buruk yang dia alami di kamar ini. tidak mudah baginya untuk melupakan semua itu.
“Percaya padaku, Sayang. Kau hanya perlu membuka matamu.”
“Tapi ... aku ....”
Dika meletakan telapak tangannya di mata Kinara. “Ketika aku menurunkan tanganku kau harus membuka matamu, bagaiamana?”
Kinara mengangguk. Dia tidak mungkin terus melarikan diri, lagi pula mansion ini akan menjadi tempat tinggalnya, dia hanya perlu mengisi mansion dengan kenangan manis. Maka kenangan buruk akan hilang dengan sendirinya.
__ADS_1
Begitu Dika menurunkan tangannya, perlahan Kinara membuka matanya. “Catnya berubah? Kau mengecat ulang?” tanya Kinara begitu melihat dinding di depannya sudah berganti warna. Warnanya lebih hangat.
“Tidak hanya itu, coba lihat ke atas.”
Kinara mendongakkan kepalanya. Tepat di atasnya terpasang foto Kinara yang berukuran besar, di bagian bawah tertulis kata ‘Permata Hatiku’. Kinara tersenyum. Dika memutar tubuh Kinara.
“Di sebelah sana juga ada. Di sana juga." Terus menunjuk beberap sudut. "Memang semua gambarnya terlihat sama, itu karena aku tidak punya fotomu, aku hanya memperbesar dan membuat sketsa dari foto yang kau tinggalkan. Kau tidak akan percaya jika aku mengkopinya dan meletakan fotomu di banyak ruangan.”
Mata Kinara berkaca-kaca. Kamar Dika yang sekarang jauh berbeda dari kamar sebelumnya, selain dicat ulang dan menempatkan beberapa foto Kinara, ada juga benda yang beralih tempat. Bahkan posisi ranjang besar yang menjadi saksi kebrutalan Dika hari itu pun berpindah posisi. Kinara nyaris tidak melihat bayangan tentang hari itu.
“Kapan kau melakukannya?” tanya Kinara.
“Sejak kau bersedia rujuk denganku, aku meminta Ken menghubungi orang rumah dan membereskan semuanya. Tidak hanya kamar yang berubah, seluruh rumah ini berubah, sayang.” Meraih kepala Kinara dan mencium keningnya. “Akan kulakukan apa pun agar kau tetap berada di sampingku, jadi jangan pernah lari lagi.”
Kinara tidak bisa mengeluarkan kalimat apa pun. Bulir bening sudah meluncur bebas dari kedua matanya.
"Duduklah." Meminta Kinara untuk duduk di atas kasur.
Dika berjongkok. Merem*s kedua jemari Kinara. “Karena kau yang memutuskan untuk hidup denganku. Maka kau tidak akan bisa pergi dariku, jika kau melakukannya aku akan mengurungmu di pagar besi dan merantai kedua kaki dan tanganmu.”
Kinara tersenyum.
"Jika kau meminta bantuan laki-laki lain lagi untuk pergi dariku. Maka aku akan membawamu kabur ke pulau tak berpenghuni. Mengurungmu dan membuat tembok yang tinggi dan kuat." Menangkap wajah Kinaram "Aku akan membuat siapa pun yang berani mendekatimu menyesal. Karena kau hanya milikku." Mencium setiap inci wajah Kinara. Menyusuri dengan bibirnya.
Kinara tidak takut sama sekali mendengar ucapan Dika. Baginya kalimat yang Dika ucapkan bukanlah sebuah ancaman, tetapi pernyataan jika dia tidak akan melepaskan Kinara. Akan selalu berada di sisinya.
Sejak rujuk Dika memang sudah menunjukan sifat posesifnya. Namun, Kinara masih bisa menerimanya.
"Sekarang tidur dan berbaring di dekatku." Dika sudah berbaring di kasur.
Kinara mendekat dan menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Dika. Seperti biasanya, menjadikan lengan Dika sebagai sandaran kepala.
Jika pada umumnya wanita hamil tidak suka berdekatan dengan suaminya. Tidak dengan Kinara yang suka mencium aroma tubuh Dika. Mungkin karena putranya teramat rindu dengan ayahnya.
"Jangan pernah lari dariku. Kau tercipta hanya untuk menjadi istriku," ucap Dika sebelum menutup matanya.
Bersambung....
.
.
Bang, kalau Kinara tercipta buat Abang. Terus nasib emak gimana, Bang? 😪😂
.
.
Ayo mana bayaran buat emak? LIKE di tiap bab, KOMENTAR positif, DAN VOTE yang banyak ❤️😘 Masuk 5 besar mah bisa kali 😂 kalau masuk 5 besar sore emak up lagi loh.
.
__ADS_1
.
Salam uwuuuu dari DiKi ❤️