Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Biarkan Tuhan Yang Membalasnya


__ADS_3

“Ah, sangat tidak nyaman.” Kinara menggerutu begitu helm besar milik Agra itu terpasang sempurna di kepalanya.


“Tahan sebentar, lain kali aku akan membeli helm khusus wanita. Sekarang cepat naik.” Agra menepuk-nepuk jok penumpang, memberi isyarat agar Kinara berhenti menggerutu dan segera naik.


Kinara menurut.


Begitu Kinara duduk di belakangnya, Agra tidak melepaskan kesempatan yang datang padanya.


“Peluk aku, jika tidak kau akan jatuh.” Agra menyeringai licik.


“Tidak mau, lebih baik aku turun dan bertanya pada seseorang di mana halte busnya.” Kinara menggeleng, mengerti jika Agra sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Memang wanita yang keras kepala. Batin Agra.


Agra menggeram kesal. “Setidaknya kau harus tetap berpegangan padaku, bukan?”


Benar juga, motor ini cukup tinggi. setidaknya aku harus tetap berpegangan.


Kinara membatin, mencoba menimbang-nimbang keputusannya.


Kinara mengangkat alisnya dan tersenyum licik. “Aku bisa memegang pundakmu.” Kinara bersikeras.


“Terserah.” Agra pasrah.


Motor mulai melaju kencang menembus jalanan kota. Pagi itu jalanan cukup lenggang, Agra bisa bebas salip sana salip sini.


Kinara ketakutan bukan main, motor itu melaju lebih cepat dari bayangannya. Dia seperti sedang berada di arena balap MotoGp yang sesekali dilihat Kinara di televisi.


Kinara mencengkram kuat-kuat pundak Agra. Yang di cengkram bukannya menurunkan kecepatan laju motor, tetapi semakin menjadi-jadi.


Lima menit setelah Kinara dan Agra pergi, Dika kembali ke tempat di mana terakhir kali dirinya menurunkan Kinara.


Namun Kinara tidak ada di sana, bahkan ketika Dika mengendarai pelan mobilnya dan memperhatikan kiri kanan, Dika tidak mendapati sosok Kinara.


Entah kemana perginya Kinara. Bukankah dia belum tahu jalanan di sekitar sini? memangnya dia bisa naik apa? Pikir Dika.


Sepersekian menit mata Dika berkeliling, nemun belum juga terlihat tanda-tanda keberadaan Kinara.


Akhirnya Dika menyerah juga, dia memacu mobilnya ke kampus Kinara, mengeluarkan handphone miliknya dan mengaktifkan Gps untuk melacak keberadaan Kinara.


Titik Gps itu menunjukkan lokasi Kinara yang tidak terlalu jauh, satu meter dari posisi Dika saat ini.


Dika mengernyitkan alis, jelas titik itu tertuju pada motor gede berwarna merah yang sedang melaju di depannya. Dika mencoba mengingat kembali warna baju yang dikenakan Kinara, setelah berpikir cukup keras ternyata benar itu adalah Kinara, tetapi dengan siapa Kinara saat ini? Dika hanya bisa menebak-nebak.

__ADS_1


“Dengan siapa wanita itu? Berani-beraninya dia berboncengan dengan laki-laki lain. Sudah bosan hidup rupanya!!” Dika menggerutu, ia mencari kontak nama Ken, lalu menempelkan handphone itu di telinganya.


“Selamat pagi, Tuan.” Sapa Ken di ujung telepon.


“Apa kau sudah berhasil mendapatkan informasi siapa pemilik nomor telepon itu?” Dika langsung ke inti, tidak ingin basa-basi.


“Data dari pemilik nomor telepon itu dilindungi, tuan. Ini sedikit menyulitkan saya, tapi saya akan tetap berusaha.” Suara Ken sedikit tertahan. “Biasanya data yang di lindungi adalah data dari orang-orang berpengaruh atau orang penting, tuan.” Ken menghela napas.


“Aku tidak peduli, Ken! Tugasmu hanya mencari tahu secepat mungkin, siapa pemilik nomor telepon itu. Satu lagi, cari tahu pemilik plat motor xx234ss. Kabari segera!” Dika memutskan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban dari Ken.


Di tempat Ken


“Sebenarnya ada apa dengan, Tuan? untuk pertama kalinya aku diberikan tugas mencuri data pribadi seperti ini, bukankah selama ini perusahaan miliknya selalu aman dan tidak memiliki saingan yang berat. Kecuai perusahaan-perusahaan kelas teri yang mencoba merangkak naik.” Ken menggerutu.


Di mobil


Dika memukul setir mobil. “Lihat saja, Kinara Amalia. Aku akan memberimu pelajaran, berani sekali kau sebagai seorang istri bermain api di belakang suamimu!!”


Mobil Dika masih mengekor di belakang membuntuti motor Agra. Sampai motor milik Agra menghilang di balik gerbang kampus. Dika memilih untuk kembali dan menunggu hasil penyelidikkan Ken.


Kampus


“Ah... aku benar-benar tidak suka dengan helm ini.” Kinara turun dari motor, melepas helm yang membuatnya hampir mati karena sesak napas. Rambut panjangnya ikut terangkat sampai berantakkan.


Kinara yang melihat gelagat tidak beres di wajah Agra segera memberondong pertanyaan. “Kenapa? Ada apa? Ada kotoran di wajahku? Atau ada yang aneh dengan rambutku?”


“Diam, yah, diam. Jangan bergerak.” Agra mendekati Kinara.


Kinara mudur beberapa langkah namun tubuhnya terbentur bagian belakang mobil. “Ma...mau apa kau, Agra?”


“Sttt... bandel. Jangan bergerak.” Agra meletakkan tangannya di kepala Kinara. “Rambutmu berantakan.” Agra mengelus lembut kepala Kinara dan membenarkan tatanan rambut Kinara.


Deg.... Deg.... Deg....


Degup jantung keduanya berdebar kencang ketika saling beradu tatap, pipi keduanya merona. Cepat-cepat Agra mengalihkan pandangan matanya ke samping kiri dan Kinara memalingkan wajahnya ke samping kanan, keduanya benar-benar dibuat salah tingkah.


“Bi..bisa..kah kau mundur se...dikit, Agra.” Pinta Kinara terbata. Mengingat jarak keduanya cukup dekat.


“Ah, tentu saja.” Agra memutar tubuhnya dan menjauh beberapa langkah. Menarik rambutnya, kesal karena tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


Sial... Apa yang aku pikirkan, sih? Jelas-jelas dia sudah menolakku mentah-mentah. Tetapi aku benar-benar jatuh hati padamu Kinara, bagaimana agar aku bisa masuk ke dalam hatimu? Agra membatin.


“Lebih baik kita segera masuk ke kelas.” Kinara mengusulkan.

__ADS_1


Agra mengangkat tangannya dan melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya untuk memastikan pukul berapa saat ini. “Percuma, Kinara. Kita sudah telat, dosen mungkin sedang mengisi materi.”


“Ah, bagaimana ini, Agra? Ini baru hari keduaku? Aku tidak ingin membolos lagi. Masa dalam satu hari aku membolos dua materi.” Kinara panik, melangkah bolak balik seperti setrikaan.


Agra menghentikan Kinara, memegang pundak Kinara dan menatap dalam. “Hey, jangan panik. It’s ok, temanmu itu mahasiswi yang pintar. Kau bisa menyalin materi darinya."


"Maksudmu, Allisa?" Kinara menebak.


Agra mengangguk. "Soal dosen serahkan saja padaku.”


“Tapi... Aku tidak ingin berhutang banyak padamu, Agra.” Kinara menundukkan kepala.


“Naikkan kepalamu, Kinara. Tidak akan ada hutang piutang di antara kita, tidak ada balas budi. Kau tidak perlu mencintaiku hanya karena aku telah banyak membantumu, aku bersumpah padamu. Aku tidak akan meminta balasan apa pun atas semua yang aku lakukan untukmu. Biarlah Tuhan yang melihat ketulusan hatiku dan memberikan balasan yang sepadan.” Agra tersenyum hangat.


Kau terlalu baik padaku, Agra. Sungguh aku tidak ingin berhutang terlalu banyak padamu. Jika saja kau tahu aku adalah wanita yang sudah bersuami, mungkin kau akan membenciku setengah mati. Batin Kinara.


“Yasudah, aku tunggu Allisa di sini saja.” Kinara menyerah, hari ini dia benar-benar membolos.


Semua ini gara-gara aku bangun kesiangan, belum lagi ditambah tingkah Dika yang kekanak-kanakan. Batin Kinara kesal.


“Di sini? Kau yakin? Ini parkiran, Kinara.” Agra mengernyitkan alisnya.


“Lalu aku harus menunggu di mana? Aku belum tahu seluk beluk kampus ini.” Kinara mengangkat kedua bahunya.


kruyuuuk..


"Hahaha.. kau lapar, Kinara?" Agar terbahak begitu mendengar suara perut Kinara.


Pagi ini Kinara bangun kesiangan, dia belum sempat sarapan sesuap nasi pun, bahkan belum meneguk air setetes pun. Sudah pasti perutnya tidak bisa di kompromi.


Kinara hanya tersenyum terpaksa, tidak tahu harus berkata apa ketika suara perutnya terdengar sangat nyaring.


“Ikuti aku.” Agra meraih tangan Kinara.


“Agra, tanganmu.” Kinara memperingatkan.


“Aih, aku lupa. Sorry...” Agra mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, lalu tersenyum lebar ala kuda, menampakkan gigi putihnya yang berbaris rapi di sana.


\=\=\=\=> Bersambung.....


JANGAN LUPA KLIK LIKE... TINGGALKAN KOMENTAR... VOTE YANG BANYAK DAN KASIH RATE BINTANG 5...


INGAAAT.... VOTE.... VOTE... DAN VOTE.... OK 😍😍🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2